Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia sampai diSurabaya


__ADS_3

"Ish gak usah gombal deh."kata Lydia melepaskan pelukannya dari Ryan.


"Siapa yang gombal aku beneran, maaf ya kalau aku tinggalin kamu saat divilla."kata Ryan.


"Gak papa kok, bagaimana apa masalahnya sudah selesai?"kata Lydia.


"Nanti saja dihotel kita bicara lagi."kata Ryan.


"Ngapain ke hotel kita tinggal dirumah aku saja."kata Lydia.


"Memang kamu masih ada rumah disini?"kata Ryan.


"Masih, kamu kesini sama siapa kak?"kata Lydia.


"Sama Dayat."kata Ryan membuat Lydia berpikir siapa dayat.


"Kak, Dayat siapa?"kata Lydia.


"Nanti saja dimobil aku jelaskan sekarang kita ke mobil dulu ya."kata Ryan sambil mengambil koper Lydia dari tangan istrinya itu.


Mereka berdua berjalan bersama untuk keluar dari bandara dipintu keluar Dayat sudah menunggu, dia berjalan duluan menuju parkiran mobil. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, Lydia mengirim sherlock agar nanti Dayat tak kesasar. Baru saja mereka jalan sudah terjebak macet.


"Ternyata Surabaya sama saja dengan Jakarta yang macet parah."kata Dayat membuat Lydia tersenyum.


"Kamu memangnya gak pernah ke Surabaya selama ini?"kata Lydia.


"Ke Surabaya hanya meeting sebentar setelah itu pulang gak seperti sekarang yang harus jalan-jalan terlebih dahulu."kata Dayat.


"Kak, memangnya masalahmu sudah selesai?"kata Lydia bertanya pada Ryan yang sibuk dengan tabletnya.


"Hmmm apa?"kata Ryan.


"Ish nyebelin banget sih, memangnya dia selalu kayak gini kak?"kata Lydia bertanya pada Dayat.


"Tuan, memang akan fokus sama tabletnya kalau gak nyetir nona."kata Dayat.


"Nyonya bukan nona."kata Ryan sambil tetap fokus sama tabletnya.


"Oh ya maaf nyonya."kata Dayat membuat Lydia menghera nafasnya.


"Kak, aku lapar."kata Lydia sambil memandang kearah Ryan supaya suaminya itu beralih memadangnya.


"Kamu lapar?"kata Ryan memandang kearah Lydia yang hanya dijawab anggukan oleh Lydia.


"Kamu mau makan apa?"kata Ryan lagi.


"Aku boleh beli sate didekat rumah gak nanti?"kata Lydia yang takut jika Ryan tak suka makan dipinggir jalan.


"Boleh, asal makanannya enak aku gak ada masalah. Kamu bilang saja sama Dayat dimana penjual satenya berada."kata Ryan yang kembali fokus dengan tabletnya.

__ADS_1


Lydia memberitau dimana letak penjual satenya, saat sudah sampai Lydia mengajak Ryan turun tapi Ryan tak mendengarkannya dia lebih memilih fokus dengan tabletnya. Lydia menghera nafas dan memilih mengajak Dayat untuk keluar dari mobil. Dayat sendiri yang diajak keluar merasa tidak enak hati pada Ryan.


"Pak, satenya masih?"kata Lydia.


"Masih, eh nduk bapak pikir siapa sudah lama kita gak kesini?"kata penjual sate.


"Aku pindah ke Jakarta pak, ini baru datang. Aku mau 3 porsi ya pak."kata Lydia sambil tersenyum.


"Mau makan disini atau dibungkus nduk?"kata penjual sate.


"Rame gak pak?"kata Lydia sambil melihat kedalam ternyata didalam rame pengunjung.


"Biasalah lah nduk kalau jam segini pasti rame, bagaimana mau dibawa pulang atau dimakan disini?"kata penjual sate.


"Gimana kak?"kaa Lydia bertanya pada Dayat.


"Saya ikut nyonya saja."kata Dayat.


"Bungkus saja pak, didalam mobil ada hantu yang gak mau turun."kata Lydia saking kesalnya tanpa sadar jika Ryan yang ada dibelakangnya. Dayat mau memberitau tapi diberi kode oleh Ryan supaya diam.


"Masak sih Nduk hantu kok ada didalam mobil mana mungkin?"kata penjual sate sambil tersenyum.


"Kalau gak percaya coba bapak sama ibu liat sendiri."kata pejual sate.


"Kalau ibu liat hantnunya ganteng pasti betah nduk."kata penjual sate.


"Jadi aku hantu ya?"kata Ryan berbisik ditelinga Lydia membuat istrinya itu berbalik dan mencium bibirnya membuat ketiga orang yang ada disana tersenyum sedangkan Lydia terkejut.


"Kak..."kata Lydia.


"Apa sayang?"kata Ryan.


"Ish nyebelin banget, bu aku tunggu didalam mobil saja ya satenya."kata Lydia.


"Iya nduk, nanti ibu antar."kata penjual sate.


"Gak usah bu, biar aku saja yang nunggu kalau ikutan nanti aku jadi obat nyamuk."kata Dayat.


Lydia tak menanggapi perkataan Dayat, dia memilih untuk masuk ke dalam mobil. Ryan juga mengikuti istrinya dari belakang, didalam mobil mereka hanya diam saja. Lydia yang kesal dengan Ryan memutuskan untuk memegang tangan istrinya supaya dia memadang kearahnya.


"Kamu kenapa?"kata Ryan.


"Gak papa."kata Lydia ketus.


"Kalau bicara tu liat yang diajak bicara?"kata Ryan.


"Buat apa orang yang diajak bicara saja sibuk dengan tabletnya."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.


"Maaf aku sedang memeriksa pekerjaan tadi."kata Ryan.

__ADS_1


"Bisa gak kalau sama aku gak usah ngerjain kerjaan?"kata Lydia.


"Maaf aku gak akan ulangi lagi."kata Ryan membuat Lydia memadang kearah Ryan.


"Benar, gak akan mengulanginya lagi. Kalau berbuat kayak gitu lagi bagaimana kalau dikasih hukuman?"kata Lydia.


"Memangnya mau hukuman apa?"kata Ryan tersenyum.


"Apa ya enaknya, kakak ada ide gak?"kata Lydia malah bertanya pada Ryan.


"Bagaimana kalau kayak gini?"kata Ryan sambil mencium bibir Lydia membuat Lydia terkejut.


Tapi lama kelamaan Lydia menutup matanya membuat Ryan tersenyum dan semakin memperdalam ciumannya. Ryan melepaskan ciuman mereka saat ada ketukan dikaca mobilnya. Lydia kesal tapi mau bagaimana lagi dia juga menikmati jadi dia gak bisa marah. Ryan kesal karena kegiatannya diganggu, Ryan membuka kaca mobilnya ternyata Dayat yang mengetuk kaca mobilnya.


"Ada apa?"kata Ryan dingin.


"Maaf tuan, saya hanya mau tanya sama nyonya bumbunya mau dicampur atau dipisah?"kata Dayat.


"Dicampur saja, bilang sama ibu punyaku dikasih bawang merah yang banyak."kata Ryan.


"Siap nyonya, tuan bagaimana?"kata Dayat.


"Aku kayak biasanya saja."kata Ryan.


Dayat pergi darisana, Ryan menutup pintunya lalu memandang Lydia. Lydia tak berani menatap Ryan membuat Ryan menghera nafasnya.


"Sayang, liat aku."kata Ryan.


"Apa?"kata Lydia sambil cemberut.


"Kamu kenapa sayang?"kata Ryan.


"Kenapa hukumannya kayak gitu keenakan kamu dong?"kata Lydia sambil memukul dada Ryan.


"Kamu juga menikmatinya."kata Ryan.


"Mana ada.."kata Lydia.


"Mau coba lagi nanti biar aku rekam kamu bisa liat sendiri."kata Ryan.


"Gak mau enak saja."kata Lydia.


Ryan tetap memaksa Lydia padahal dia hanya bercanda sedangkan Lydia sendiri tetap saja memberontak. Saat Ryan sedan mengelitik Lydia, Dayat masuk tiba-tiba. Saat dia melihat ke belakang terkejut lalu keluar kembali sedangkan Lydia malah memukul dada Ryan.


"Kamu sih kak, kasian kak Dayat."kata Lydia sambil tetap memukul dada Ryan.


"Ya sudah kamu suruh Dayat masuk gih."kata Ryan.


Lydia membuka kaca mobil lalu menyuruhnya masuk. Dayat menjalankan mobilnya menuju rumah Lydia, Lydia turun dari mobil bukannya masuk ke rumah tapi berjalan ke samping rumah ada gang kecil untuk mengambil kunci rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2