Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Pergi ke mall


__ADS_3

Setelah Ryan mendapatkan tempat parkir, dia mengajak ketiga perempuan itu untuk keluar dari dalam mobil. Mak Masnah membawa tas yang berisi peralatan Raka tapi diminta oleh Ryan awalnya mak Masnah tak memberikannya tapi karena Ryan terus meminta akhirnya diserahkan pada Ryan. Raka pun saat melihat Ryan juga meronta ingin digendong oleh Ryan yang membuat Lydia mau tidak mau memberikan bayi gembul itu pada Ryan. Lydia tersenyum saat melihat suaminya itu tak perduli dengan tatapan orang yang berada didalam. Ryan mengajak Lydia untuk masuk ke peralatan bayi, dia mau membeli stroler agar nanti kalau Raka diajak jalan-jalan kalau putranya itu tidur bisa ditidurkan distroler itu agar bundanya gak capek. Ryan membelikan stroler yang terbaik buat Raka membuat Lydia mengelengkan kepalanya.


"Kamu yakin gak mau balikan sama Ryan?"kata Dahlia.


"Apasih gak usah kepo."kata Lydia.


"Kamu tau gak Ryan itu paket komplet, aku yakin jika banyak orang perempuan mau menjadi istrinya, aku hanya gak mau kamu nanti menyesal saat Ryan memutuskan untuk menyerah."kata Dahlia.


Lydia yang mendengar perkataan Dahlia hanya terdiam, Ryan setelah membayar storel itu menidurkan Raka distroler. Barang milik Raka pun ditaruh dibawah dorongan. Ryan mendekati ketiga perempuan yang sedang serius berbicara tapi saat hampir saja Ryan dekat dengan ketiga perempuan itu ada seorang pria yang mendekati mereka. Ryan melihat Lydia terlihat bahagia saat bertemu dengan pria itu, Ryan menghela nafasnya setelah itu menghampiri mereka.


"Maaf aku ganggu, kalian mau kemana setelah ini?"kata Ryan.


"Yan, kenalin ini Rafael. El ini..."kata Dahlia belum selesai tapi sudah dipotong oleh Lydia.


"Dia omnya Raka."kata Lydia.


Ryan sebenarnya sakit hati tapi dia berusaha untuk menahan emosinya dia tersenyum sambil bersalaman dengan Rafael. Dahlia gak enak hati saat memandang Ryan bukan hanya Dahlia tapi juga mak Masnah.


"Kalian kemana nih?"kata Rafael.


"Kami mau belanja sepuasnya mumpung ada yang traktir, kamu mau ikut?"kata Lydia tersenyum.


"Kapan-kapan saja deh soalnya aku ada janji sama teman."kata Rafael.


"Ya sudah kalau kayak gitu."kata Lydia.


"Ya sudah aku permisi dulu. Yan, senang berkenalan denganmu."kata Rafael.


"Sama semoga saja nanti bisa bertemu lagi."kata Ryan sambil tersenyum.


Setelah kepergian Rafael, Lydia menarik tangan Dahlia untuk pergi dari toko itu. Mak Masnah memandang wajah kecewa Ryan tapi dia tak bisa berbicara apa-apa. Mereka masuk dari toko satu ke toko yang lain tapi tak ada satu pun yang mereka beli. Dahlia kesal sendiri dengan Lydia, kalau dia mau ngerjain Ryan sebaiknya pergi sendiri kasian mak Masnah yang sudah tua.


"Sebenarnya kamu mau beli apasih? Kalau gak mau beli apa-apa sebaiknya kita pulang."kata Dahlia dengan nada kesal.


"Aku belum nemu apa yang aku cari kalau mak Masnah sudah capek sebaiknya tunggu disini saja itu ada tempat duduk."kata Lydia.

__ADS_1


Ryan yang melihat mak Masnah kasian langsung saja mengambil dompetnya lalu memberikan kartu unlimited pada Lydia.


"Nih, kamu beli apa yang kamu mau. Aku tunggu di food court sama mak Masnah kasian dia kecapekan."kata Ryan sambil memberikan kartu itu.


"Kok satu dua dong?"kata Lydia.


Ryan mengambil kartu dua lagi lalu menyerahkan pada Lydia, Lydia tersenyum lalu membalikkan badannya dan meninggalkan Ryan dan mak Masnah. Ryan sendiri mengajak mak Masnah dan Raka ke food court, Ryan mencari tempat yang diujung agar putranya tak terbangun karena terkejut mendengar para pengunjung datang. Ryan meninggalkan Raka dan mak Masnah untuk membelikan minuman dan camilan untuknya dan mak Masnah.


"Tuan, maafin nyonya yah."kata mak Masnah membuat Ryan tersenyum.


"Biarkan saja mak, dia bisa memilih apa yang dia mau lagian aku sadar kalau aku sudah banyak menyakiti hatinya. Bagiku aku akan berjuang untuknya jika dia mau kembali ya aku terima tapi kalau sudah ada pria lain aku rela asal dia bahagia. Asal dia tetap mengizinkan aku untuk bertemu dengan Raka itu sudah cukup bagiku."kata Ryan sambil tersenyu,


Kedua orang berbeda umur itu membicarakan perkembangan Raka sedangka Lydia dan Dahlia pergi ke sebuah butik. Dahlia terkejut karena Lydia bukannya memilih baju untuk perempuan tapi pakaian untuk Pria bukan hanya pakaian kerja tapi pakaian santai juga.


"Ly, kamu mau belikan pakaian itu buat siapa?"kata Lydia.


"Aku beli buat Ryan memangnya kenapa?"kata Lydia.


"Pantas saja tau ukuran ****** ********, aku pikir kamu mau beli ke pria lain kok bisa tau ukurannya."kata Dahlia.


"Kamu gak mau beli pakaian gitu?"kata Dahlia.


"Gak ah pakaianku juga masih banyak, mungkin habis ini mau beli pakaian buat Raka sama mak Masnah. Kalau kamu ada yang disuka ambil saja biar aku yang bayar."kata Lydia.


"Oke deh tapi gak usah disini mahal kasian suamimu nanti tekor."kata Dahlia.


"Dia gak akan bangkrut usahanya Ryan tu banyak hanya saja gak banyak orang tau."kata Lydia.


Lydia membayar belanjaan itu setelah itu keluar dari butik itu lalu mencari baju untuk Raka karena putranya itu semakin besar banyak pakaiannya gak muat. Lydia membeli baju untuk Raka yang besar-besar agar tak sering membeli membuat Dahlia geleng-geleng kepala karena temannya itu suka sekali menghemat padahal tadi bilang kalau suaminya orang kaya. Setelah membeli pakaian untuk mak Masnah dan Dahlia kedua perempuan itu menuju food court untuk bergabung dengan Ryan dan mak Masnah. Tapi saat sampai food court disana hanya ada mak Masnah dan juga Raka, Ryan tak berada disana.


"Mak, kak Ryan kemana?"kata Lydia sambil duduk didepan mak Masnah yang sedang memangku Raka.


"Kalau gak ada saja dicari tadi ada orangnya cuek, tu tuan lagi melakukan panggilan."kata mak Masnah sambil menujuk kearah Ryan.


Lydia memandang kearah Ryan, Lydia melihat kalau suaminya itu sedang menahan kemarahan.

__ADS_1


"Kayaknya Ryan ada masalah deh Ly?"kata Dahlia.


"Iya, biar nanti aku tanyakan saat dia kembali. Aku mau pesan minuman kamu mau pesan apa?"kata Lydia.


"Biar aku saja yang pesan kamu mau apa?"kata Dahlia.


"Aku kayak biasanya saja."kata Lydia.


Lydia mengambil alih Raka, saat dia sedang bermain dengan Raka suaminya duduk disampingnya sambil meminum-minumannya. Mak Masnah yang melihat wajah dingin Ryan tak berani bertanya.


"Ada apa?"kata Lydia membuat Ryan memandang ke samping lalu tersenyum.


"Gak papa kok hanya masalah kerjaan, kamu tadi beli apa?"kata Ryan.


"Tu banyakkan? Aku tadikan bilang mau buat kamu bangkrut."kata Lydia.


"Gak papa nanti aku akan dapat uang yang lebih banyak lagi, kamu sudah pesan minum?"kata Ryan.


"Sudah tu Dahlia yang ngantri."kata Lydia.


"Kamu sudahkan belanjanya? Setelah ini aku harus kembali ke hotel mau istirahat bentar."kata Ryan bohong.


"Bukannya istirahat bisa dirumah kami saja?"kata Lydia.


"Gak baik mereka 'kan gak tau kalau kamu punya suami."kata Ryan.


"Kalau gitu aku ikut kamu ke hotel."kata Lydia yang tau jika suaminya itu pasti ada masalah tapi tak ingin mengatakan padanya karena tak mau membuat dia khawatir.


"Raka bagaimana masak mau kamu tinggal lagi? Kasian dia."kata Ryan.


"Gak papa tuan biar Raka sama mak sama nona Dahlia, dia anaknya anteng kok asalkan kenyang perutnya."kata mak Masnah.


"Makasih ya mak, maaf ngrepotin mak sama Dahlia lagi?"kata Lydia.


"Gak papa, lagian Raka juga anak yanggak rewel jadi siapa saja yang merawatnya pasti senang."kata mak Masnah.

__ADS_1


__ADS_2