
"Maaf ya gara-gara aku sakit kakak harus mengurus perusahaanku."kata Lydia membuat Ryan memandang kearah Lydia.
"Aku sudah pernah bilang sama kamu suatu saat kalau semua sudah tenang aku akan mengambil alih perusahaanmu."kata Ryan.
"Iya tapi aku kasian kalau kakak kayak gini harus mengurusi perusahaan yang kacau dan juga mengurusi aku yang gak benar ini."kata Lydia.
"Gak benar gimana?"kata Ryan.
"Tau ah."kata Lydia membuat Ryan kesal.
"Sudah kalian berdua ini, kalian sudah siapkan pakaian belum buat dibawa kerumah bukannya kalian mau menginap dirumah bunda dan ayah?"kata bunda Airin.
"Aku gak perlu siap-siap kan pakaianku masih banyak dirumah sana sedangkan Lydia biar nanti aku belikan baju baru saja."kata Ryan.
"Aku gak mau aku pakai baju yang ada dikoperku saja."kata Lydia.
"Tapi sayang maksutku agar kamu gak perlu bawa-bawa pakaian kalau kita mau nginap dirumah bunda."kata Ryan.
"Aku gak mau baju yang kakak beli gak sesuai dengan seleraku."kata Lydia.
"Memangnya kamu belikan baju dimana Lydia, Yan?"kata Jono.
"Dibelikan dimall miliknyalah dimana lagi?"kata Shinta yang menjawab.
"Kamu belikan pakaian dia dipasar aku yakin kalau Lydia pasti mau memakainya."kata Jono yang langsung dilempar majalah oleh Lydia membuat yang lain terkejut.
"Lah kok malah lempar aku sih, bukannya kamu suka beli baju dipasar ya?"kata Jono.
"Kamu mau aku hajar Jon?"kata Lydia kesal.
"Coba saja kalau kamu berani?"kata Jono.
"Beranilah ngapain aku takut sama kamu."kata Lydia yang bangun dari duduknya membuat Shinta, orangtua Ryan dan Ryan terkejut dengan tingkah Lydia.
Tapi mereka bukannya marah tapi malah tersenyum karena Lydia sudah kembali seperti Lydia biasanya. Jono dan Lydia kejar-kejaran diruangan itu membuat mereka semua tersemyum sambil mengelengkan kepalanya. Lydia yang sudah kelelahan menghentikan mengejar Jono memutuskan duduk kembali disamping Ryan.
"Capek?"kata Ryan sambil menyerahkan air dan juga tisu.
"Makasih."kata Lydia.
Lydia lebih dulu menerima air yang dibelikan oleh Ryan lalu dia meminum air itu sedangkan Ryan mengusap keringat dikening Lydia dengan tisu yang dia ambil. Sedangkan Jono tersenyum karena bisa membuat sahabatnya itu lupa dengan traumanya.
"Makasih."kata Shinta berbisik ditelinga Jono membuat Jono memandang kearah istrinya.
"Buat apa?"kata Jono yang bingung kenapa istrinya bilang makasih padanya.
__ADS_1
"Makasih karena buat adik iparku tersenyum dan bisa melupakan traumanya."kata Shinta membuat Jono tersenyum.
"Aku akan melakukan apapun asal sahabatku tersenyum, Lydia orang yang baik aku akan mencari orang yang sudah membuatnya seperti ini."kata Jono yang memiliki dendam dengan orang yang telah membuat Lydia trauma.
"Gak usah, aku yakin Ryan sudah mencaritau, Ryan memang terlihat dingin pada orang lain dan lembut pada keluarga tapi kalau ada yang menyentuh keluarganya dia bisa kejam dan kita gak akan bisa menghentikannya."kata Shinta.
"Kalian sedang ngomongin apa kok bisik-bisik?"kata Lydia.
"Rahasia mau tau saja kamu."kata Jono.
"Ih nyebelin, mbak kok bisa suka sama pria yang nyebelin kayak dia sih?"kata Lydia membuat Shinta tersenyum.
"Lalu apa kabar kamu yang selama 4tahun dikampus dekat sama aku ha?"kata Jono.
"Ya itu beda Jon."kata Lydia.
"Beda bagaimana bukannya sama saja?"kata Jono.
"Ya bedalah kalau kita kan hanya ketemu dikampus saja sedangkan dirumah gak."kata Lydia.
"Jono baik dek, dia perhatian sama mbak."kata Shinta membela suaminya.
"Kalau dia macam-macam bilang sama aku biar aku ajak anak buahku buat ngroyok dia."kata Lydia.
"Wah main kroyokan kalau aku sama ketiga perempuan itu pasti kalah sama kamu saja aku kalah."kata Jono.
"Karena aku melihat adikku didirimu Ly."kata Jono sambil tersenyum tapi Lydia tau dari sorot mata Jono menyimpan kesedihan yang mendalam.
Shinta yang tau jika Jono mengingat adikkan yang sudah meninggal langsung saja mengelus pundak suaminya.
"Maksutmu teringat adikmu bagaimana?"kata bunda Airin.
"Adikku seumuran dengan Lydia sayangnya dia meninggal dalam kecelakaan."kata Jono.
"Makanya dia kuliah lagi ambil jurusan sama kayak aku untuk memenuhi impian adiknya bun."kata Lydia.
"Jadi dia sebenarnya bukan satu angkatan sama kamu?"kata Ryan.
"Dia satu jurusan sama aku karena dia kuliah sama aku tapi sebenarnya dia satu angkatan sama mbak Shinta. Umur mereka kan gak terpaut terlalu jauh."kata Lydia.
"Bener itu mbak?"kata Ryan yang baru tau tentang Jono padahal dia mengira kalau Jono itu seumuran dengan Lydia.
"Iya benar apa kata Lydia."kata Shinta.
"Lalu kenapa mbak gak cerita kalau tau begitu dari awal aku sama kak Anton gak akan melarang hubungan kalian?"kata Ryan.
__ADS_1
"Memangnya kamu tanya kamu 'kan gak tanya sama aku soal itu?"kata Shinta.
"Gak sih mbak, maaf ya sudah buat kamu berjuang terlalu berat."kata Ryan.
"Sudahlah aku tau maksutmu baik, aku pun juga akan melakukan hal seperti itu kalau adikku ada yang mendekatinya."kata Jono.
"Sudah sudah jadi ikut kami pulang gak kalian berdua?"kata bunda Airin.
"Jadi dong bun, kalian menginap dirumah bunda saja biar nanti aku minta kak Anton untuk menginap juga."kata Ryan.
"Boleh juga tuh, tapi mbakmu mau gak?"kata Jono.
"Aku jelas maulah."kata Shinta sambil tersenyum.
"Ayo kalau gitu kita berangkat, aku mau ke toko pakaian biar Lydia pilih baju sendiri."kata Ryan.
"Gak usah buang-buang uang deh, aku bawa baju yang ada dkoper saja."kata Lydia.
"Bukannya baju Lydia sudah ada dilemari kamu?"kata bunda Airin.
"Oh iya ya bun aku lupa."kata Ryan yang teringat jika dia dulu sudah menyiapkan baju untuk Lydia dikamarnya.
Mereka akhirnya pulang kerumah bunda Airin sampai rumah sana ternyata sudah ada Anton yang sedang fokus dengan ponselnya.
"Asalamualikum..."kata bunda Airin.
"Walaikumsalam, kalian kok baru datang sih?"kata Anton.
"Memangnya kamu sudah lama datang sayang?"kata bunda Airin sambil duduk disofa diikuti yang lainnya.
"Sudah hampir 1jam."kata Anton.
"Satu jam apaan orang aku hubungi tadi masih diperusahaan kok satu jam."kata Ryan.
"Kamu ini ya buka rahasia saja."kata Anton.
"Kamu sih suka sekali menjahili bunda, sudah tau bunda gampang panikan."kata Ryan yang disenyumi yang lain.
"Mumpung bisa bercanda sama bunda kalau nanti sudah menikah pasti jarang jahili bunda."kata Anton.
"Kan kamu jatahnya tinggal disini kak."kata Ryan.
"Walaupun tinggal disini memangnya bisa bercanda sama bunda? Memangnya gak malu apa sama istri?"kata Anton.
"Emangnya sudah ketemu dengan perempuan itu kak?"kata Ryan.
__ADS_1
"Belum doakan saja supaya aku cepat menyusul kalian, tinggal aku sendiri ini yang belum mendapatkan pasangan."kata Anton.
"Makanya lupain mantan."kata Ryan membuat Anton tersenyum.