
Aziz menghampiri Ryan yang sedang termenung lalu duduk disamping temannya itu, saat melihat laptop diatas meja Aziz menghera nafasnya karena temannya itu sedang memeriksa pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh asistennya Hendru.
"Kamu ini kenapa masih saja memeriksa pekerjaan itu?"kata Aziz.
"Lalu aku harus bagaimana aku gak mungkin bisa menolak keinginan Hendru kasian dia pasti juga sangat sibuk."kata Ryan.
"Tapi kamu sendiri juga lebih sibuk kamu harus memeriksa pekerjaanmu sendiri dan perusahaan milik Hendru kadang kamu juga harus membantu kak Anton buat mengerjakan pekerjaannya. Kamu memangnya gak pusing dengan semua kesibukan kamu ini?"kata Aziz.
"Pusing tapi mau bagaimana lagi aku harus bisa menerimanya sudah jadi resikoku. Oh ya Dion mana?"kata Ryan yang tak melihat temannya itu.
"Aku disini, nih minuman kita datang."kata Dion sambil menunjukan minuman yang dia pesan tadi.
"Wah sudah datang kayaknya hari ini kita pesta sampai pagi?"kata Aziz.
"Kayaknya gak bisa soalnya besok papa Irwan meminta tolong padaku untuk menghadiri meeting dengan klien."kata Ryan.
"Om Irwan kemana kok bukan dia sendiri yang menghadiri meeting?"kata Aziz.
"Dibaru saja berangkat keluar negeri tadi dia juga ada meeting disana, Lydia juga gak tau dimana keberadaannya."kata Ryan menghera nafasnya.
"Ziz, kayaknya kamu tau dimana Lydia tolong katakan sama kita?"kata Dion.
"Dia ada diBogor menenangkan diri."kata Aziz membuat Ryan memandang Aziz.
"Menenangkan diri buat apa bukan kah seharusnya aku yang menenangkan diri?"kata Ryan.
"Kamu mau mendengar sesuatu?"kata Aziz.
"Mendengar apa?"kata Ryan.
"Tentang traumanya Lydia."kata Aziz membuat Ryan dan Dion terkejut karena baru tau jika Lydia ada trauma.
"Trauma?"kata Dion.
"Apa yang terjadi sama Lydia?"kata Ryan semakin khawatir dengan Lydia.
"Waktu hari wisuda bagi Ita, Aku sibuk dengan Ita sehingga aku tak melihat kalau Lydia diculik orang. Aku baru sadar saat Cindy mencarinya, aku mencari Lydia lewat gps yang ada diponsel Lydia. Saat aku datang ketempat Lydia disekap keadaan Lydia sudah hampir tak memakai baju mereka mau melecehkan Lydia untung saja aku datang dengan cepat kalau tidak aku gak tau apa yang akan terjadi dengan Lydia. Walaupun Lydia tak sampai dilecehkan mereka tapi kejadian itu membuat dia trauma, sudah lama traumanya sembuh tapi aku gak tau kemarin malam dia menghubungiku sambil menangis katanya obatnya habis dan dia terlihat ketakutan. Sekarang aku mau tanya sama kamu apa yang kamu katakan sama Lydia, Yan?"kata Aziz membuat Ryan mengusap wajahnya.
"Semalam aku hanya bilang mau menuruti keinginannya untuk tidur terpisah dan mengurusi hidup kita masing-masing saat dia bilang kalau dia belum siap. Setelah aku berkata begitu aku meninggalkannya begitu saja."kata Ryan membuat Aziz langsung memukul Ryan.
Ryan yang dipukul oleh Aziz hanya diam saja gak mau membalas karena dia sadar jika dia salah menilai Lydia. Dion yang melihat Aziz memukuli Ryan berusaha untuk menahan Aziz agar tidak memukul Ryan lagi.
"Ziz sudah kasian Ryan, dia sudah babak belur."kata Dion.
"Itu pantas dia terima."kata Aziz.
"Aku tau tapi gak kayak gini caranya, sudah hentikan kita bicarakan ini baik-baik."kata Dion membuat Aziz berhenti memukul Ryan lalu duduk dikarpet sambil mengusap wajahnya.
"Kamu tau kenapa dia meminta waktu padamu?"kata Aziz setelah terdiam lama.
"Kenapa?"kata Ryan.
"Karena dia ingin memastikan perasaanmu padanya dia gak mau terluka untuk kedua kalinya karena kamu."kata Aziz membuat Ryan bingung.
"Sakit hati 2kali maksutmu bagaimana, aku gak ngerti?"kata Ryan.
"Kamu dulu sebelum Lydia memutuskan untuk menetap diSurabaya bukannya sedang dekat dengannya?"kata Aziz.
"Iya, sebelum dia liburan keluar negeri aku dekat dengannya tapi selama dia disana aku gak mendapatkan kabarnya sama sekali."kata Ryan.
__ADS_1
"Kamu tau apa sebabnya?"kata Aziz.
"Aku gak tau apa sebabnya sampai sekarang pun aku gak tau kenapa dia menjauh."kata Ryan.
"Karena Lydia melihat gosip tentang dirimu dan Shinta."kata Aziz.
'Tapi aku sudah menceritakan semua setelah aku menikah dengannya lalu apalagi yang buat dia ragu padaku?"kata Ryan.
"Seorang perempuan itu bukan hanya membutuhkan perlakuan saja tapi juga dengan pernyataan. Kamu tau kenapa Lydia masih meragukanmu walaupun kamu sudah menceritakan tentang Shinta adalah kakakmu?"kata Aziz.
"Kenapa memangnya?"kata Ryan.
"Bukannya kamu masih hubungan sama Vira dan dia masih gencar-gencarnya menghubungimu untuk tanggungjawab dengan kehamilannya?"kata Aziz.
"Benar apa yang dikatakan oleh Aziz, Yan kalau Vira menuntut tanggungjawabmu memangnya anak yang dikandungnya itu anakmu?"kata Dion.
"Enak saja tu mulut kamu ngomong, anak yang dikandung Vira itu bukan anak aku."kata Ryan.
"Lalu kenapa dia mengejar-ngejar kamu?"kata Dion.
"Karena ayah dari anaknya itu gak mungkin menikah dengannya sebab sudah punya istri dan anak."kata Ryan membuat Dion terkjut sedangkan Aziz menghera nafasnya.
"Lalu kenapa kamu gak jelaskan pada Lydia soal ini?"kata Aziz.
"Aku sudah menjelaskannya, aku pikir dia sudah paham tapi ternyata dia masih meragukanku. Ziz kamu tau sekarang Lydia ada dimana?"kata Ryan.
"Kalau aku tau kamu mau ngapain?"kata Aziz.
"Aku akan menyusulnya dan minta maaf padanya."kata Ryan.
"Biarkan saja dia disana, biar dia tenang dulu kalau nanti dia tenang aku akan bawa kamu kesana untuk menjemputnya."kata Aziz.
"Iya aku janji."kata Aziz.
"Ya sudah sebentar aku ambilin kompres buat kompres lukamu baru setelah itu kita minum sepuasnya."kata Dion.
Dion berjalan menuju dapur untuk mengambil kompres dan obat untuk mengolesi luka Ryan. Setelah mengobti luka Ryan mereka mulai minum hingga teler, Ryan yang melihat temannya tidur memutuskan untuk berjalan masuk ke kamarnya. Ryan tersenyum saat meliat foto Lydia yang jadi wallpapernya. Ryan mencari no ponsel Lydia untuk menghubungi istrinya itu. Lydia yang terbangun terkejut karena mendengar ponselnya berbunyi, Lydia penasaran siapa yang malam-malam begini menghubunginya. Lydia terkejut saat melihat ponselnya ternyata itu panggilan dari Ryan.
[Hallo Asalamualikum...]
[Walaikumsalam, aku kangen sama kamu. Kamu dimana?]
Lydia terkejut saat melihat wajah Ryan babak belur, Lydia menjadi khawatir dengan keadaan suaminya.
[Kak, kenapa itu wajahnya?]
[Kakakmu yang memukulku, pulang Ly aku kangen sama kamu aku minta maaf sudah buatmu kecewa aku janji akan buatmu bahagia dan meyakinkanmu agar kamu percaya kalau aku mencintaimu.]
[Kak, kakak kenapa kok ngomongnya ngelatur gitu?]
[Aku gak papa aku hanya kangen sama istriku apa aku salah jika aku merindukan istriku?]
[Kak...]
Lydia tak meneruskan perkatannya karena terdengar ada orang yang berbicara ternyata yang masuk ke kamar Ryan adalah Dion yang tadi mencari Ryan tapi tak ada.
"Ternyata kamu ada disini, aku cariin juga."kata Dion.
"Ngapain kamu cariin aku?"kata Ryan.
__ADS_1
"Aku pikir kamu mau minum lagi gak ajak-ajak."kata Dion membuat Ryan hanya mengelengkan kepalanya.
"Mau mati minum lagi besok aku harus ke perusahaan hendru belum lagi nyelesain masalah diperusahaan ayah lalu bertemu klien mewakili papa mertuaku. Kalau aku minum lagi nanti gak bisa bangun memangnya kamu mau tanggungjawab?"kata Ryan.
"Ish pantas saja Lydia ninggalin kamu."kata Dion.
"Memangnya kenapa kamu ngomong kayak gitu?"kata Ryan.
"Ya iyalah sekarang gini deh aku tanya sama kamu yang istri kamu tu Lydia atau pekerjaan?"kata Dion.
"Lydia istri aku tapi pekerjaan adalah tugasku gak mungkin aku hanya menemani Lydia saja setiap hari mana mau dia gak aku kasih makan. Mati anak orang."kata Ryan.
[Hmmm sudah aku matiin kalian ngobrol lagi ya.]
[Jangan sayang, aku masih mau bicara sama kamu.]
[Itu kamu sedang bicara sama kak Dion aku gak mau ganggu.]
[Biar saja dia sedang mabuk.]
"Kamu mau ngapain kesini?"kata Ryan.
"Aku mau numpang ke kamar mandi perutku gak enak banget."kata Dion.
"Sudah sana masuk tidur didalam kamar mandi juga boleh gak ada yang ngelarang."kata Ryan.
"Tega kamu memangnya kalau terjadi apa-apa sama aku nanti bagaimana dengan Cindy?"kata Dion membuat Ryan tersenyum.
"Aku akan suruh Lydia buat carikan Cindy pria yang lebih baik darimu."kata Ryan.
"Kamu tega sama aku Yan?"kata Dion.
"Sudah sana masuk, aku mau pacaran sama istriku."kata Ryan.
"Oke, oke aku masuk."kata Dion.
Dion masuk kedalam kamar mandi lalu memutahkan semua isi perutnya sedangkan Ryan berbicara dengan Lydia. Lydia hanya mendengerkan saja karena suaminya itu bicaranya sudah semakin ngelantur hingga akhirnya Ryan tertidur. Lydia yang tak mendengar suara Ryan membuka matanya dan ternyata Ryan sudah tertidur pulas. Lydia memandang wajah polos suaminya yang sedang tertidur sambil tersenyum. Saat dia sedang memandangi wajah suaminya tiba-tiba berubah menjadi wajah Dion.
[Kamu harus cepat sembuh, kasian Ryan disini gak ada yang jaga.]
[Dia bisa jaga dirinya sendiri kak.]
[Aku tau Ryan bisa menjaga dirinya sendiri tapi bukannya kamu tadi dengar sendiri kesibukan Ryan.]
[Memangnya kenapa dengan itu?]
[Ly, kamu tau gara-gara kesibukannya yang padat Ryan pernah dirawat diRumah Sakit selama beberapa hari karena dia makan tidak teratur dan juga kelelahan.]
[Aku yakin dia bisa jaga diri dia sekarang, sudah ya kak sudah malam aku mau tidur ngantuk.]
[Aku berharap 2hari lagi kamu kembali kesini karena Aziz dan Ita akan melangsungkan pernikahannya.]
[Aku kok gak tau tadi aku melakukan panggilan sama Cindy tapi dia gak cerita sama aku.]
[Dia lupa mungkin karena kalian sibuk membahas tentang kerjaan.]
[Iya kayaknya kak, makasih ya sudah memberitauku kalau gitu aku tidur dulu.]
[Baiklah, aku kembalikan ponselnya agar kamu bisa liat wajah suamimu terserah kamu mau mematikan panggilan atau tidur sambil melihat suamimu.]
__ADS_1
Dion meletakkan kembali ponsel Ryan dikasur sehingga Lydia bisa melihat Ryan lagi, Dion setelah meletakkan ponsel Ryan berjalan kembali keluar kamar. Lydia tak mematikan panggilan itu dia memilih untuk tetap memandangi wajah Ryan membuat dia bisa tertidur tanpa harus minum obat padahal biasanya kalau dia traumanya kumat dia tak akan bisa tidur jika tak minum obat.