
"Ya sudah kalau kayak gitu aku kesana dulu ya."kata mama Intan berpamitan dengan bunda Airin.
"Iya."kata bunda Airin sambil tersenyum.
Mereka berempat langsung saja meninggalkan keluarga Ryan, orangtua Ryan hanya menghera nafas setelah itu mengajak kedua anaknya untuk duduk kembali ke mejanya. Anton terus saja memandang kearah Ryan dan Lydia, dia gak suka dengan keakraban mereka berdua. Anton akan berusaha untuk memisahkan mereka agar Lydia bisa jadi miliknya.
"Kenalin ini kekasihnya Lydia yang baru."kata mama Intan saat berada dimeja Sahrul dan besannya.
"Tampan mbak, tapi apa profesinya?"kata Tina.
"Saya hanya seorang asisten pribadi nyonya."kata Ryan sambil tersenyum.
"Tampan sih, tapi sayang pekerjaannya hanya asisten, gak kayak Rayyan yang seorang dokter masa depannya lebih terjamin. Ly harusnya kamu tu kayak Rima cari calon suami yang bisa menjamin masa depannya."kata Tina yang hanya disenyumi oleh Ryan.
"Maaf nyonya walaupun saya hanya seorang asisten tapi saya siap untuk menikahi Lydia sekarang juga, apa calon menantu nyonya itu jika disuruh menikah dengan putri anda sekarang apa berani?"kata Ryan membuat Tina terdiam sedangkan mama Intan langsung tersenyum senang.
Lydia yang mendengar itu langsung memandang Ryan, dia gak mau ucapan Ryan bisa disalah artikan oleh mamanya. Lydia tau bagaimana mamanya kalau sudah punya keinginan. Papa Irwan sendiri sangat senang jika Ryan memang calon putrinya tapi dia tau jika Ryan dan putrinya sedang melakukan sandiwara karena Lydia gak suka dengan Anton.
"Rayyan siap menikah dengan Rima dalam waktu dekat ini."kata mama Dahlia yang gak suka jika keluarganya direndahkan.
"Baiklah kalau begitu mana anak anda nyonya? Biar kami sama-sama menikah diacara ini sekalian."kata Ryan.
"Dengar tu mana anakmu?'kata mama Intan.
"Dia sebentar lagi juga datang tunggu saja."kata mama Dahlia.
"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu kalau Rayyan datang bilang sama kami biar kami bisa menikah sama-sama disini. Ayo sayang kita kembali kesana kasian mereka sedang menunggu. Ma pa kami pergi dulu."kata Ryan.
"Kami juga ikut pergi, ingat kalau Rayyan datang panggil kami."kata mama Intan.
Lydia saat jauh dari orang-orang itu langsung saja melepasakan pegangannya pada Ryan. Dia langsung meninggalkan Ryan begitu saja sedangkan Ryan hanya tersenyum dan berjalan dibelakang Lydia.
"Kamu kenapa datang-datang muka ditekuk gitu."kata Sandra yang melihat jika Lydia duduk disampingnya dengan muka masam.
"Aku sebal sama kak Ryan yang seenaknya sendiri mengambil keputusan."kata Lydia.
"Bukannya sebelum kita melakukan sandiwara tadi aku sama Dion sudah tanya sama kamu apa kamu menyesal atau gak nanti tapi kamu jawab gak."kata Ryan santai.
"Iya aku memang bilang gak akan menyesal tapi bukan berarti kamu bisa berbicara untuk menikah denganku malam ini kalau Rayyan datang."kata Lydia.
__ADS_1
"Kenapa aku kamu masih belum bisa melupakannya?"kata Ryan.
"Aku sudah gak perduli padanya, tapi bukan berarti aku mau menikah denganmu kak."kata Lydia.
"Aku juga gak mau menikah dengan perempuan manja sepertimu."kata Ryan.
"Apa kamu bilang aku manja?"kata Lydia yang gak terima jika dirinya dibilang manja oleh Ryan.
"Iya memang kamu manja 'kan?"kata Ryan sambil tersenyum.
"Aku gak manja ya."kata Lydia.
"Oke gak manja tapi apa namanya kalau seseorang itu gak bisa menghadapi masalahnya sendiri tapi dia selalu dibantu oleh orang lain."kata Ryan.
"Aku gak pernah meminta mereka untuk membantuku."kata Lydia kesal.
Saat mereka berdua sedang berdebat si mbak datang mengahampiri mereka berdua. Orangtua Lydia mau Lydia dan Ryan naik ke atas panggung, awalnya papa Irwan tak setuju karena mereka belum tau siapa orangtua dari Ryan tapi karena ancaman dari istrinya jika dia harus tidur diluar selama 1 bulan membuatnya tak akan mendapatkan jatahnya.
"Ma, kenapa panggil kami?"kata Lydia.
"Acaranya mau segera dimulai sayang tiup lilin dan potong kuenya."kata mama Intan.
"Lah harus dong dia kan kekasihmu harusnya dia menemanimu."kata mama Intan.
"Ma, kak Ryan temanku bukan kekasihku."kata Lydia.
"Sudah diam saja, ayo mas kita mulai acaranya."kata mama Intan menuruh mic untuk memulai acara puncaknya.
Lydia kesal dengan sikap mamanya yang seenaknya sendiri apalagi sikap Ryan yang terlalu cuek dan diam saat mamanya bilanh kalau Ryan kekasihnya membuat Lydia naik darah sebenarnya. Untung saja acara ulang tahunnya berjalan dengan lancar walaupun tadi Lydia dibuat kesal oleh Ryan dan mamanya.
Sampai rumah Lydia langsung saja naik ke kamarnya tanpa mengucapkan selamat malam kayak biasanya membuat papa Irwan menghera nafasnya. Lydia langsung saja merebahkan dirinya diranjangnya tanpa berganti pakaian. Baru saja matanya mau terpejam ada pesan masuk ke dalam ponselnya, dia langsung saja mengambil ponselnya dan melihat siapa yang sudah menguhubunginya.
Ryan
[Kalau tidur mandi dulu biar besok badannya gak pegal-pegal.]
Lydia
[Apa urusannya denganmu]
__ADS_1
[Aku gak mau besok kamu sakit dan gak jadi megambil mobilmu.]
Lydia
[Kamu bisa mengantarkannya ke rumah sekalian kasih kado aku, masak dibilang pacar tapi malah gak kasih hadiah.]
Ryan
[Kamu mau apa biar besok aku belikan?]
Ryan
[Kado itu harusnya tak diketahui oleh penerimanya, kalau kamu beliin sesuai permintaan berarti itu bukan hadiah tapi permintaan.]
Ryan
[Baiklah tungguu besok, kalau begitu aku tutup dulu. Cepat tidur, aku masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan.]
Lydia
[Terserahku.]
Lydia langsung saja melemparkan ponselnya kesamping dengan perasaan kesal dan juga sedikit senang karena diperhatikan sama Ryan. Lydia langsung teringat perkataan terakhir Ryan kalau dia sedang ingin menyelesaikan pekerjaannya. Lydia langsung melihat jam diponselnya ini sudah larut malam. Lydia mau mandi setelah itu dia mau menjahili Ryan.
Benar saja apa yanga ada dipikiran Lydia sebelum mandi tadi dilakukan dia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Ryan setelah tersambung langsung mematikannya lagi. Lydia melakukan itu berulang-ulang kali membuat Ryan yang sedag bekerja kesal karena diganggu oleh Lydia. Ryan langsung saja menghubungi gadis itu balik.
[Hallo ada apa aku mau tidur?]
[Kamu yang ada apa? Ngapain kamu ganggu aku malam-malam begini bukannya tidur?]
[Siapa yang gangguin kamu, ponselku terpencet.]
[Sudahlah ada apa? Aku gak ada waktu untuk mengurusi hal sepele apalagi beberapa hari ini aku harus menyelesaikan pekerjaan sendiri karena Hendru sedang cuti menikah.]
[Aku mau nemani kamu bekerja.]
[Gak usah aneh-aneh ini sudah malam sudah sana tidur!]
[Kalau aku gak mau bagaiamana?]
__ADS_1
[Ya sudah aku matikan panggilannya kalau kayak gitu biar kamu tidur.]