Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Menyelesaikan masalah diperusahaan Surabaya


__ADS_3

"Nona bagaimana ini kami meminta penjelasannya?"kata salah satu dewan.


"Saya yang harusnya minta penjelasan dari kalian selama 3bulan ini kalian yang berada diperusahaan sedagkan saya ada diJakarta."kata Lydia tegas membuat semua dewan divisi terdiam.


"Maaf bu kemana pak Suko kok beliau tidak hadir?"kata dewan yang lain.


"Beliau sedang berada diRumah Sakit, putrinya mendapatkan pelecehan seksual."kata Lydia.


"Putrinya pak Suko hanya satu dia menantu dikeluarga pak Hendrakan?"kata dewan pemasaran.


"Iya dia menantunya paka Hendra, kok anda biasa saja gak ada raut khawatirnya sama sekali?"kata dewan yang lain.


"Bagaimana dia khawatir sedangkan yang menyuruh anaknya untuk menjual menantunya adalah dia."kata Lydia sambil memandang pak Hendra sedangkan pak Hendra langsung saja terkejut.


"Nona jangan memfitnah saya."kata pak Hendra yang masih tak mengakui perbuatannya.


"Silahkan saja anda coba hubungi putra bapak apa dia bisa dihubungi atau tidak?"kata Ryan.


Pak Hendra mengambil ponselnya untuk menghubungi putranya tapi tak diangkat-angkat membuat dia menjadi khawatir. Ryan yang melihat kalau pak Hendra sedang khawatir langsung tersenyum menyeringai. Belum habis kekhawatiran pak Hendra pada putranya tiba-tiba Edwin masuk ke dalam ruangan dengan membawa polisi dan juga dibelakangnya ada klien mereka dulu yang sudah tak lagi bekerjasama dengan perusahaan ini karena perusahaan itu melakukan kecurangan.


"Selamat Siang, kami dari kepolisian mencari bapak Hendra."kata polisi.


"Siang pak, saya pak Hendra, ada apa bapak mencari saya?"kata pak Hendra tetap tenang.


"Saya mendapatkan laporan kalau anda telah memalsukan dokumen keuangan dan juga kontrak kerjasama."kata polisi.


"Maksut bapak bagaimana ya saya tak pernah memalsukan kontrak kerjasama dan dokumen keuangan."kata pak Hendra yang tak mengakui perbuatannya.


"Untuk lebih jelasnya silahkan anda jelaskan nanti dikantor polisi saya hanya menjalankan tugas."kata polisi.


"Memangnya ada surat perintah penangkapan?"kata Hendra.


"Ada pak, ini silahkan anda baca."kata polisi menyerahkan surat penangkapan pada pak Hendra.


Pak Hendra menerima surat yang diberikan oleh polisi lalu membacanya. Dia terkejut dengan laporan yang dia dapat ada satu lagi laporan yang membuatnya terkejut karena laporan itu dari pak Suko yang melaporkan tentang ancaman dan juga menjual putrinya.


"Pak ini semua gak benar."kata pak Hendra yang tetap membantah.


"Kalau anda merasa gak bersalah kenapa anda takut?"kata Edwin yang daritadi diam.


"Kamu..."kata pak Hendra.


"Kenapa dengan saya?"kata Edwin.


"Saya gak terima dengan semua ini, saya akan membuat kamu menyesal."kata pak Hendra mengancam Edwn.


"Lakukan sesuka hati anda saya tidak takut."kata Edwin.


"Liat saja apa yang bisa aku lakukan padamu, mungkin setelah ini karirmu akan hancur."kata pak Hendra.


"Kita liat saja siapa yang akan hancur karir nya."kata Edwin sambil tersenyum.


"Kamu masih bau kencur dan gak tau bagaimana liciknya seorang pengusaha."kata pak Hendra.


"Saya sudah belajar dari bapak bagaimana caranya licik dan juga berpikir cerdas dari pak Purnomo."kata Edwin membuat pak Hendra terkejut.


"Jadi kalian sudah bekerjasama selama ini?"kata pak Hendra.


"Saya tak kerjasama dengan mereka, saya mencari tau sendiri apa yang sebenranya bapak ingin lakukan."kata Edwin.


"Apa maksutmu?"kata pak Hendra.


"Aku tau bapak ingin aku nurut denganmu setelah aku mengelola perusahaan anda ingin memanfaatkanku untuk menghancurkan perusahaan ini."kata Edwin yang membuat semua dewan yang ada disana terkejut tak menyangka kalau pak Hendra selicik itu.


"Kamu salah aku gak pernah berpikir seperti itu."kata pak Hendra.


"Benarkah lalu kalau anda tak berpikiran seperti itu, bagaimana anda bisa menjelaskan tentang pemalsuan keuangan yang anda bikin dengan mengancam pak Suko?"kata Edwin.


"Aku tak pernah mengancamnya."kata pak Hendra yang gak mau mengaku.

__ADS_1


"Sebaiknya anda jelaskan semua ini dikantor polisi, pak anda bisa bawa pak Hendra sekarang."kata Ryan meminta polisi untuk membawa pak Hendra pergi dari ruangan itu.


"Saya akan pastikan kalau kalian semua akan hancur."kata pak Hendra.


Setelah kepergian pak Hendra para dewan yang ada disana saling berbisik-bisik satu sama lain. Ryan mulai berbicara yang membuat para anggota dewan itu terdiam. Pertama-tama dia menyuruh Dayat untuk membagikan nama-nama yang bekerjasama dengan pak Hendra membuat orang-orang yang ikut terlibat langsung terkejut. Mereka gak menyangka dalam sehari saja Ryan bisa menemukan semua kejahatan mereka.


"Bagaimana ada yang bisa kalian jelaskan pada kami?"kata Ryan dengan santai sedangkan Edwin tak menyangka jika Ryan bisa dengan mudahnya mengetahui orang-orang yang berbuat curang sedangkan dia yang sudah lama berada disana tak mengetahui soal ini.


"Ampuni kami nona, kami hirap."kata salah satu dewan.


"Hilap kata kalian, hilap kok bertahun-tahun."kata Ryan.


"Ada siapa kenapa anda ikut campur masalah perusahaan ini?"kata dewan pemasaran.


"Dia suami saya, dia yang nantinya akan mengelola semua perusahaan karena saya hanya ingin jadi ibu rumahtangga."kata Lydia membuat Ryan terkejut.


Ryan terkejut bukan karena suka tapi dia pusing sebab kalau perusahaan milik istrinya dia pegang juga maka tanggungjawabnya akan semakin besar padahal dia masih harus mengurusi perusahaan ayahnya dan juga punya Hendru belum lagi perusahaannya sendiri.


"Sayang kamu serius dengan ucapan kamu ini?"kata Ryan.


"Iya, papa sama mama juga sudah setuju. Memangnya kenapa kamu gak mau ya?"kata Lydia.


"Aku kalau untuk mengawasi saja aku mau tapi kalau kamu suruh aku buat mengelola aku gak janji sayang."kata Ryan.


"Kita bahas itu nanti saja, sekarang apa yang ingin kamu lakukan?"kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.


"Untuk yang pertama saya mau merombak semua dewan direksi karena saya sudah gak percaya denngan kalian sekali melakukan kesalahan maka kalian tak bisa dimaafkan apalagi ini sudah bertahun-tahun terjadi. Saya mau kalian mengembalikan semua uang yang sudah klaian ambil dari perusahaan setelah itu kalian bisa angkat kaki dari sini. Kalau kalian tak mengembalikan uang yang sudah kalian ambil saya akan melaporkan kalian ke pihak yang berwajib."kata Ryan panjang lebar.


"Kalau kamu memecat kami semua bagaimana dengan posisi yang kosong itu gak akan menguntungkan bagi perusahaan."kata dewan yang tetap sombong walaupun tidaknya sudah diketahui.


"Kalau soal itu anda gak perlu khawatir karena saya sudah ada kandidat untuk mengantikan kalian."kata Ryan.


"Anda gak akan bisa memecat kami seenaknya karena tuan Irwan gak akan setuju, apalagi kami sudah bertahun-tahun bekerja disini."kata dewan lagi.


"Memang kalian sudah bertahun-tahun bekerja disini tapi apa gunanya kami mempertahankan tikus-tikus yang setiap harinya merugikan kami. Kalau anda semua jadi kami apakah kalian akan mempertahankan karyawan yang sudah merugikan perusahaan?"kata Ryan.


"Sudahlah gak usah banyak bicara tinggal mengembalikan uang yang kalian ambil gitu saja kok susah sekali."kata Edwin.


"Aku tau karena aku sudah salah mempercayai orang seperti kalian, tapi dalam masalah keuntungan aku gak pernah mengambil sepeser pun."kata Edwin yang membuat mereka terdiam.


"Sekarang lebih baik kalian serahkan semua apa yang sudah kalian ambil setelah itu silahkan keluar dari perusahaan."kata Ryan.


Mereka semua yang melakukan kesalahan keluar dari ruang meeting, mereka kesal sebenarnya karena dipecat secara tidak terhormat dan parahnya lagi harta yang mereka miliki akan disita oleh perusahaan. Revan setelah para karyawan itu pergi memerintahkan pak Purnomo untuk memanggil orang-orang yang sudah Ryan selidiki kinerjanya dan juga latar belakang mereka.


Saat mereka datang Ryan memberitau maksutnya mengumpulkan mereka semua yang ada disini, mereka semua gak menyangka kalau Ryan akan memberikan jabatan yang penting padanya. Mereka setelah membahas tentang dewan devisi yang baru langsung saja membahas tentang menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi ternyata dari dewan direksi yang baru mendapatkan banyak sekali ide-ide baru membuat pak Purnomo tersenyum senang karena dengan ide-ide itu perusahaan ini akan semakin maju. Selama 3jam mereka melakukan meeting kali ini setelah mendapatkan keputusan meeting itu dibubarkan.


Mereka semua kembali ketempat masing-masing sedangkan Lydia mengajak Ryan untuk makan siang karena tadi mereka tak sempat makan siang. Dayat memilih untuk tinggal dan berbicara dengan Edwin dan pak Purnomo. Pengantin baru itu memilih makan dicafe yang ada disamping perusahaan. Untung saja cafe itu sepi jadi mereka tak harus menunggu lama untuk dilayani. Setelah makan siang Ryan memandang kearah Lydia yang sibuk dengan ponselnya.


"Kamu kenapa memandang aku seperti itu?"kata Lydia yang gak nyaman dilihatin oleh Ryan.


"Memangnya aku gak boleh memandang istriku?"kata Ryan.


"Boleh tapi memandangnya gak kayak gitu juga kali."kata Lydia.


"Ly..."kata Ryan yang tak meneruskan perkataannya membuat Lydia penasaran apa yang mau dikatakan oleh Ryan.


"Kamu mau bicara apa katakan saja?"kata Lydia.


"Aku mau minta hadiah dari kamu karena aku sudah membantumu menyelesaikan masalah diperusahaan."kata Ryan.


"Memangnya kamu mau hadiah apa?"kata Lydia.


"Aku mau kamu."kata Ryan.


"Bukannya kamu sudah memilikiku?"kata Lydia.


"Aku mau memilikimu seutuhnya."kata Ryan.


"Beri aku waktu, aku masih belum siap."kata Lydia.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggumu."kata Ryan.


Lydia melihat jika suaminya itu kecewa tapi memang Lydia belum siap karena dia masih belum tau bagaimana perasaan Ryan padanya. Walaupun Ryan sudah menerima pernikahan mereka tapi dia belum tau apakah dia punya perasaan padanya atau gak. Lydia takut bakalan sakit hati lagi dengan Ryan karena dulu dia sudah pernah menaruh hati tapi baru saja Lydia memantapkan hatinya sudah dipatahkan oleh kabar kalau Ryan menjalin hubungan dengan Shinta. Ryan yang melihat Lydia melamun menghera nafasnya.


"Kamu gak usah pikirkan kata-kataku tadi anggap saja aku gak pernah mengatakannya."kata Ryan.


"Maaf ya..."kata Lydia.


"Maaf buat apa?"kata Ryan.


"Maaf karena aku belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan."kata Lydia.


"Nyantai saja, kamu sudah selesai belum rehatnya? Kalau sudah ayo kita kembalin ke perusahaan."kata Ryan.


"Ayo."kata Lydia.


Mereka berdua kembali ke perusahaan, saat mereka masuk ke perusahaan para karyawan memandang kearah mereka berdua. Mereka kagum melihat Ryan dan Lydia yang terlihat sangat serasi. Saat masuk keruangan Lydia ternyata disana ada Dayat yang sedang berkutat dengan laptopnya. Ryan menghampiri Dayat sedangkan Lydia duduk dikursi kebesarannya.


"Kamu lagi ngapain kok terlihat bingung gitu?"kata Ryan.


"Tuan sudah datang, ini tuan saya melihat laporan keuangan diperusahaan Karya grup."kata Dayat.


"Memang ada apa dengan laporannya?"kata Ryan yang duduk disamping Dayat agar bisa melihat laporan keuangan itu dengan mudah.


Dayat yang melihat kalau tuannya sedang melihat laptopnya langsung memiringkan laptopnya agar Ryan mudah melihat laporan itu. Ryan yang melihat laporan itu terkejut karena ada pengeluaran yang sangat besar tapi tidak tau kemana mengalirnya uang itu. Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi Anton. Anton yang baru saja meeting membahas tentang laporan keuangan yang tak jelas itu mengangkat panggilan adiknya.


[Hallo Asalamualaikum Yan...]


[Walaikumsalam kak, kamu sudah liat laporan keuangan perusahaan kita bulan ini belum?]


[Sudah ini saja aku baru meeting membahas tentang masalah ini. Ada apa memangnya?]


[Kamu sudah menemukan uang itu mengalir kemana belum?]


[Sudah uang itu ditransfer kesebuah rek sekarang aku mau mencaritau siapa yang memiliki rek itu.]


[Kak, aku yakin gak semudah itu.]


[Maksutmu bagaimana Yan?]


[Aku yakin rek itu hanya untuk transit saja, kamu harus menyelidikinya dengan lebih teliti lagi.]


[Iya aku sudah menyuruh Zen untuk menyelidiki masalah ini.]


[Aku dukung apa keputusanmu kak, kalau ada apa-apa hubungi aku.]


[Baiklah, aku tutup dulu panggilannya.]


Ryan setelah menutup panggilan dengan Anton membicarakan masalah ini dengan Dayat, Lydia walaupun matanya fokus dengan berkas tapi telingannya mendengar apa yang dikatakan oleh Ryan dan Dayat. Lydia tersenyum karena pandangan papa soal Ryan gak salah, Ryan tipe pria pekerja keras dan juga sangat bertanggungjawab.


"Coba pinjam laptopnya."kata Ryan.


"Buat apa tuan?"kata Dayat yang sudah mulai curiga dengan tuannya yang akan melakukan tindakan ilegal.


"Nanti kamu juga tau sendiri gak usah banyak tanya."kata Ryan.


Dayat terpaksa memberikan laptopnya pada Ryan, benar dugaannya Ryan meretas bank untuk mencaritau siapa pemilik rek itu dan juga dikirim kemana semua uang itu. Setelah mendapatkan apa yang dia mau Ryan memandang kearah Lydia yang sibuk dengan berkas yang ada didepannya.


"Ly..."kata Ryan membuat Lydia menoleh kearah Ryan.


"Ada apa?"kata Lydia.


"Aku bisa ngprint dimesin printmu gak?"kata Ryan.


"Bisa nyalain sambungannya tunggu sebentar aku kasih kertas."kata Lydia yang mengambil kertas lalu meletakkannya diatas printer.


"Sudah belum?"kata Ryan yang ingin segera menutup apa yang dia buka jika lama-lama dibuka takutnya akan ketahuan jika ada yang meretas bank itu.


"Sudah."kata Lydia.

__ADS_1


Ryan memulai mencetaknya setelah selesai dia menutup apa yang dia buka. Ryan juga tak lupa menghilangkan jejak agar tak diketahui oleh orang-orang. Dayat hanya mengelengkan kepalanya karena tuan mudanya cerdas dalam bidang IT pantas saja perusahaan mereka sangat susah diretas. Ryan yang takut jika Lydia membaca hasil print itu menghampiri Lydia. Tapi ternyata dia terlambat istrinya itu sudah melihatnya.


__ADS_2