Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Teman-teman Ryan berkumpul diapartemen Ryan


__ADS_3

Benar saja malam ini diapartemen Ryan semua teman-temannya ngumpul tak ketinggalan kakaknya juga ngumpul disana. Mereka semua menikmati malam itu dengan bercanda dan main ps bersama.


"Loh kok Hendru belum datang?"kata Anton.


"Biasalah kak dia kan sudah berumahtangga pasti masih ngumpul sama anak istri tapi tadi dia bilang akan datang kok."kata Aziz.


"Nanti kalau kalian menikah juga akan kayak gitu?"kata Anton.


"Semoga saja kita punya istri yang baik kayak Widya."kata Dion.


"Semoga saja."kata Aziz.


"Kalau aku doain kamu supaya kamu dapat istri yang cemburuan biar kamu gak keluar malam terus."kata Ryan.


"Ish kamu itu kok doain aku yang jelek-jelek sih."kata Aziz.


"Eh katanya kamu mau menikah? Kamu mau menikah sama siapa sih kok aku gak pernah liat kamu bawa perempuan atau jangan-jangan kamu dijodohkan lagi?"kata Dion.


"Iya, memangnya Ryan dijodohkan kak?"kata Aziz bertanya sama Anton


"Gak, lagian mama mana mau jodohin anak-anaknya itu pilihannya sendiri. Nanti kalau sudah saatnya kamu akan tau siapa perempuan yang menjadi istri Ryan."kata Anton.


"Ish kalian ini suka sekali main rahasia-rahasiaan."kata Dion.


"Kamu itu, sudah ayo tanding sama aku."kata Anton.


"Ayo tapi gak seru kalau gak ada taruhannya."kata Aziz.


"Mau taruhan apa?"kata Anton.


"Biasalah kak kita minum hari ini kalau kalah, lagian besok kita libur jadi bisa bangun siang."kata Aziz.


"Memangnya ada minumannya?"kata Anton.


"Aku turun kebawah dulu sama Ryan kalian berdua tanding saja. Bagaimana Yan sekalian kita beli camilan atau makanan kita belum makan malam lo?"kata Dion.


"Baiklah ayo kalau kayak gitu ayo. Kalian mau makan apa mumpung kita ke bawah nih?"kata Ryan.


"Kamu beli makanan dimana?"kata Anton.


"Cafe bawah kak kenapa?"kata Ryan.


"Beliin aku makanan kayak biasanya saja, kamu apa Ziz?"kata Anton.

__ADS_1


"Aku samain saja sama kak Anton biar mudah."kata Aziz.


"Baiklah, kami ke bawah dulu."kata Ryan.


Ryan dan Dion kebawah saat sampai lobby mereka berpapasan dengan Hendru. Hendru tersenyum dan menghampiri kedua temannya itu.


"Kalian mau kemana?"kata Hendru.


"Kami mau membeli minuman dan camilan sekalian beli untuk makan malam."kata Ryan.


"Gak usah beli makanan, nih aku bawa banyak makanan. Maaf lama datangnya soalnya nidurin Dara dulu."kata Hendru.


"Kami tau kok, kamu mau nitip minum apa soalnya kita mau beli bir gak mungkin kamu minum malam ini nanti bisa-bisa perang dunia saat pulang ke rumah."kata Ryan.


"Kamu tau saja, beliin aku kopi saja dua sekalian."kata Hendru.


"Banyak banget?"kata Dion.


"Aku sekalian memeriksa tugas mahasiswaku, Yan aku pinjam laptopmu ya?"kata Hendru.


"Ambil saja ada dikamarku, kalau gitu kami pergi dulu."kata Ryan.


"Oke kalian hati-hati."kata Hendru.


Hendru naik keatas sedangkan Ryan dan Dion melanjutkan untuk pergi ke supermarket. Ryan mengambil semua minuman dan camilan yang kesukaan teman-temannya. Mereka tak jadi memesan makanan karena Hendru sudah membawa makanan dari rumah. Saat dia sedang berbelanja tak sengaja bertemu dengan Digo.


"Aku yang harusnya tanya kok kamu ada disini bukannya apartemenmu jauh disana."kata Ryan.


"Hehehe iya tuan, saya kesini karena kekasih saya bekerja disini."kata Digo sambil mengaruk kepalanya.


"Memangnya dia kerja dibagai apa?"kata Ryan yang penasaran dengan kekasih Digo.


"Sebenarnya belum jadi kekasih sih, saya masih berusaha untuk mendapatkannya."kata Digo.


"Memang perempuan yang kamu dekati itu susah?"kata Dion yang baru saja datang karena tadi dia mencari kopi untuk Hendru.


"Eh tuan Dion juga ada disini?"kata Digo.


"Iya, mumpung kamu ada disini bagaimana kalau kamu ikut kita ngumpul diapartemen Ryan sekalian?"kata Dion.


"Gak usah tuan, saya mau segera pulang."kata Digo.


"Ya sudah kalau kayak gitu, kami duluan Go."kata Ryan.

__ADS_1


"Baik tuan."kata Digo.


Kedua pria itu meninggalkan Digo sendirian disana, Digo sendiri kembali mendatangi perempuan yang dia incar itu. Ryan dan Dion setelah membayar belanjaannya langsung kembali ke apartemen milik Ryan. Saat dia keluar mereka mendengar suara perempuan yang sedang minta tolong.


"Yan, itu Lydia bukan?"kata Dion menunjuk pada perempuan yang minta tolong itu.


"Iya dia Lydia."kata Ryan sambil berlari menghampiri Lydia. Barang-barang yang dia bawa dikasih ke Dion membuat pria itu keteteran untung saja berdirinya seimbang kalau gak mungkin dia sudah jatuh dan barang-barang itu berserakan.


"Lepasin dia."kata Ryan saat sudah dekat dengan Lydia dan para preman itu.


"Siapa kamu, sebaiknya kamu pergi ini bukan urusanmu."kata preman.


"Ini urusanku karena dia calon istriku."kata Ryan membuat Lydia memandang Ryan tak percaya karena pria itu mengaku sebagai tunangannya.


"Memangnya kami perduli, kami hanya mau perempuan itu jadi kamu gak usah ikut campur."kata preman.


"Ly, kamu pergi ke Dion dia ada didepan supermarket biar aku yang menangani mereka."kata Ryan.


"Tapi mereka membawa senjata tajam Yan."kata Lydia yang gak mau pergi dari sana karena dia takut jika terjadi sesuatu dengan Ryan.


"Tenang saja aku gak akan apa-apa kok, sekarang kamu pergi kesana ya."kata Ryan.


"Baiklah, kamu hati-hati ya."kata Lydia.


Lydia pergi meninggalkan Ryan, saat Lydia pergi preman itu mau mengejarnya tapi dihadang oleh Ryan hingga terjadilah perkelahian. Lydia bukannya datang ke Dion tapi dia mencari satpam untuk melaporkan kejadian itu. Dua orang satpam langsung saja mengikuti Lydia untuk membantu Ryan. Ternyata saat sampai sana Ryan tak bertarung sendiri karena Dion dan Digo membantunya sehingga para preman itu bisa mereka sergap. Satpam langsung membawa mereka berempat menuju kantor polisi. Ryan dan Lydia terpaksa ikut ke kantor polisi karena Lydia harus menjadi saksi mata. Ryan dan Lydia ke kantor polisi pakai mobil Lydia, sedangkan Dion kembali ke apartemen ditemani Digo.


"Makasih ya sudah mau menolongku."kata Lydia saat mereka sudah mau pulang.


"Sama-sama itu sudah jadi tugasku, kamu gak ada yang terlukakan?"kata Ryan.


"Aku gak papa kok, tapi kamu yang terluka."kata Lydia yang melihat luka lebam wajah Ryan.


"Oh ini, gak papa kok hanya luka kecil. Kamu tadi kok bisa bertemu dengan para preman itu bagaimana ceritanya? Lagian malam-malam begini kenapa pergi keluar sendirian sih?"kata Ryan.


"Aku tadi baru dari rumah Ita sudah lama aku gak bertemu dengannya. Terus karena mama nitip untuk ngambil pesanan dibutik sebelah sana tadi jadi aku pergi kesana dulu. Belum sempat aku sampai butik aku dihadang sama mereka."kata Lydia.


"Kenapa parkir mobilnya jauh sekali bukannya dibutik ada tempat parkir?"kata Ryan yang membuat Lydia tepuk jidat.


"Ya ampun aku tadi pesan makanan dicafe sebelah supermarket tadi belum aku ambil gimana dong ini?"kata Lydia.


"Mau aku ambilin terus nanti aku bawain ke rumah kamu?"kata Ryan.


"Gak usah deh, makanannya buat kamu saja. Lagian ini sudah malam, tapi sebelum pulang aku mau obati luka kamu dulu."kata Lydia.

__ADS_1


"Ya sudah mau obatin dimana?"kata Ryan.


"Didalam mobilku saja gimana gak papa kan?"kata Lydia.


__ADS_2