
Lydia agak menyingkir untuk memberikan tempat untuk Jono agar dekat dengan mbak Shinta. Ryan yang melihat itu tersenyum lalu tiba-tiba mencium pipi istrinya.
"Makasih sayang."kata Ryan membuat Lydia memandang kearah Ryan.
"Maksih buat apa memangnya?"kata Lydia.
"Makasih sudah memberikan tempat untuk mereka."kata Ryan sambil memandang kearah Jono dan Shinta.
"Oalah gak masalah buatku karena aku mau duduk dekat denganmu masak aku duduk dekat Jono?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Kayaknya bunda jadi obat nyamuk nih disini?"kata bunda Airin membuat yang ada disana memandang kearahnya.
"Bunda ini bicara apasih, maaf ya kalau barusan kami mendiamkan bunda."kata Lydia.
"Gak papa sayang bunda paham kok, lagian bunda juga pernah muda tenang saja."kata bunda Airin membuat yang lain ikut tersenyum.
"Bunda bisa saja, kenapa bunda gak hubungi ayah saja suruh kesini biar kita triple date?"kata Ryan.
"Iya juga ya biar mamang ada temannya daripada dia makan sendirian."kata bunda Airin.
"Loh, mamang ada disini maaf ya mang aku gak liat tadi."kata Revan.
"Gak papa den, lagian kalau saya dan pak Ali bukannya date den tapi hanya makan malam."kata mamang.
"Dibilang ngedate juga gak papa kok mang."kata Lydia.
"Ya gak mau lah saya non, masak jeruk makan jeruk."kata mamang membuat semua tertawa.
"Ya kalau mamang mau tongkat sama tongkat juga gak papa mang."kata Jono.
"Gak den mamang masih normal, kasian nanti anak sama istri mamang yang ada dikampung."kata mamang.
"Baiklah. Bagaimana bun, ayah bisa nyusul kesini?"kata Ryan saat melihat bunda Airin sudah mengakhiri panggilannya dengan ayah Danny.
"Iya ayahmu bisa kesini."kata bunda Airin.
Mereka menghentikan pembicaraan saat makanan pesanan mamang dan ketiga perempuan itu datang, tapi milik Jono dan Ran belum datang karena mereka baru saja memesan makanannya. Daritadi Shinta hanya diam saja tanpa mau berbicara sedikitpun sejak Jono dan Ryan datang.
"Kak, ayo makan bersama."kata Lydia setelah pelayan pergi.
"Kamu makan saja dulu sayang."kata Ryan.
"Tapi aku ingin makan bareng kamu kak."kata Lydia.
"Tapi sayang nanti kalau kamu kurang bagaimana? Aku 'kan memesan makanan lain"kata Ryan.
"Nantikan bisa memesan lagi ikan bakarnya, ayo makan sama-sama."kata Lydia.
"Ya sudah ayo kalau kaya gitu."kata Ryan.
Mereka makan berdua satu piring sedangkan Shinta makan dengan diam. Jono yang melihat itu hanya menghela nafasnya dia tau jika istrinya pasti marah karena dia tinggalkan begitu saja tapi kalau dia gak pergi dari rumah tadi pasti emosinya akan meledak.
"Kamu gak mau ajak aku makan?"kata Jono akhirnya memulai pembicaraan.
"Memangnya mau makan satu piring berdua?"kata Shinta.
"Kalau boleh kenapa gak tapi suapin boleh?"kata Jono.
__ADS_1
"Makan sendiri."kata Shinta.
"Mana bisa makan sendiri sendoknya 'kan hanya satu nanti kalau aku makan sendiri baru suap makanan sudah kamu minta. Jadi lebih enak kalau kamu yang menyuapi bagaimana?"kata Jono.
"Baiklah, tapi jangan nyesal."kata Shinta.
"Kalau kamu gak menyendok banyak aku gak akan menyesal."kata Jono sambil tersenyum.
Bunda Airin yang melihat cara membujuk Jono pada Shinta yakin jika keduanya hanya salahpaham apalagi bunda Airin tau bagaimana putrinya yang maunya menang sendiri karena dia selalu dimanjakan oleh kakak dan adiknya sebab dia anak perempuan sendiri.
"Jon.."kata bunda Airin membuat Jono memandang kearah bunda Airin sedangkan Ryan dan Lydia memilih untuk menikamati makananya.
"Iya ada apa bun?"kata Jono.
"Kamu yang sabar menghadapi putri bunda ya karena saat dirumah dia selalu dimanja sebab hanya dia anak perempuan dirumah kami."kata bunda Airin.
"Iya bun, tapi kadang juga masih berusaha menahan emosi."kata Jono sambil tersenyum.
"Kalau mbak Shinta dibilangin ngeyel kamu masukan saja dia dalam bak mandi."kata Ryan.
"Janganlah kasian dia nanti kedinginan bagaimana?"kata Jono.
"Kalau kedinginan langsung dipeluk saja den nanti pasti gak akan marah-marah lagi."kata mamang.
"Benar apa kata mamang tu karena kata ayah sifat mbak Shinta itu sama dengan bunda suka ngeyelan."kata Ryan.
"Kamu nyamain bunda sama mbakmu Yan, kalau gitu kamu gak boleh pulang kerumah."kata bunda Airin.
"Tu samakan sama bunda."kata Ryan.
"Yah, liat putramu tu."kata bunda Airin yang melihat kedatangan ayah Danny.
"Aku gak buat apa-apa kok yah."kata Ryan.
"Gak buat apa-apa gimana masak dia samakan aku kayak Shinta sih pa?"kata bunda Airin.
"Memang samakan yah bunda sama mbak Shinta mudah marah dan kalau sudah marah gak mau mendengar penjelasan dari orang lain."kata Ryan.
"Benar apa katamu untung saja menantu ayah gak kayak mereka kalau sampai sama pasti kamu pusing karena sudah menghadapi dua perempuan yang susah dibilangin ditambah lagi dengan istri."kata ayah Danny.
"Ish ayah kok malah belain Ryan sih?"kata bunda Airin kesal.
"Memangnya apa yang ayah katakan salah apa bukannya benar ya?"kata ayah Danny.
"Iya tapi jangan bicara seperti itu didepan menantu kita kenapa?"kata bunda Airin.
"Kenapa malu ya?"kata ayah Danny.
"Sudah sana pesan makanan tinggal ayah sama pak Ali yang belum pesan."kata bunda Airin mengalihkan pembicaraan.
"Tu liat mengalihkan pembicaraankan kalau tersudutkan."kata Ryan.
"Kalau ada Anton pasti dia akan bela kami."kata bunda Airin.
"Gak yakin kalau kak Anton akan bela kalian?"kata Ryan.
"Ya gak usah mulai deh."kata Shinta.
__ADS_1
"Oke, aku diam sekarang sayang enak banget ikan bakarnya kamu mau tambah lagi gak?"kata Ryan.
"Mau tapi nungguin pesananmu dulu kak, nanti kalau enak aku mau makan itu saja."kata Lydia.
"Baiklah nyonya Ryan."kata Ryan.
Bertepatan dengan perkataan Ryan pelayan resto itu datang membawakan pesanan Ryan dan Jono.
"Sayang kamu mau makan ini gak?"kata Ryan sambil melihatkan makanan pesanannya.
"Mau tapi suapin boleh?"kata Lydia.
"Boleh dong."kata Ryan.
"Bun, kayaknya anak dan menantu kita bucin semua deh?"kata ayah Danny.
"Iya yah, tapi ada yang lagi berantem yah."kata bunda Airin.
"Siapa bun, aku liat mereka berdua baik-baik saja?"kata ayah Danny yang melihat Ryan dan Lydia baik-baik saja tanpa melihat Shinta dan Jono yang sedang berdiam satu sama lain.
"Tu putri dan menantumu."kata bunda Airin.
"Kamu sedang ada masalah apa kalau ayah boleh tau?"kata ayah Danny bertanya paa Shinta dan Jono.
"Mas Jono yang mulai duluan."kata Shinta.
"Memangnya kamu ngapain Jon?"kata ayah Danny bertanya tanpa emosi membuat Jono sungkan sendiri karena mertua kakaknya semua kalau ada masalah pasti bertanya dengan emosi dan membela anaknya sendiri padahal yang salah anaknya.
"Hanya salahpaham yah karena aku sering pulang telat dan Shinta mendengar kalau aku sering ke cafe bertemu dengan perempuan padahal dia klienku."kata Jono.
"Klien kok sering ketemu? Aku tau kok kalau aku gak bisa melakukan kewajibanku sebagai seorang istri makanya kamu diluar mencari kesenangan."kata Shinta.
"Bagaimana aku gak sering ketemu sama perempuan itu kalau kami sedang membahas soal pekerjaan yang mau kami mulai. Kalau kamu gak percaya nanti kalau aku bertemu dengannya aku ajak kamu bagaimana? Kalau soal kewajibanmu itu aku gak mikirin kamu bisa melakukannya atau gak yang terpenting kamu ada disisiku saat aku ada dirumah menjadi penghibur rasa lelahku."kata Jono.
"Gombal kamu bilang kayak gitu karena ada keluargaku coba mereka gak ada."kata Shinta membuat Jono menghela nafasnya.
"Mbak, aku boleh tanya sama kamu?"kata Ryan yang mulai berbicara setelah tadi hanya diam saja.
"Kamu mau tanya apa?"kata Shinta.
"Selama ini Jono memperlakukan mbak seperti apa?"kata Ryan.
"Dia memperlakukan mbak dengan baik tapi itu yang membuat mbak curiga."kata Shinta.
"Lalu kamu mau aku bagaimana?"kata Jono.
"Aku mau ikut kemanapun kamu pergi bagaimana boleh gak?"kata Shinta.
"Boleh kalau kamu mau dan gak bosan kalau diperusahaanku?"kata Jono.
"Oke besok aku mulai ikut kamu kekantor, aku ingin melihat bagaimana sekertaris ganjenmu itu."kata Shinta membuat Jono tersenyum.
"Aku suka kamu cemburu padaku karena itu tandanya kamu sayang sama aku dan takut kehilanganku."kata Jono.
"Ish besar kepala sekali kamu."kata Shinta.
"Besar kepala karena istri sendiri memangnya gak boleh?"kata Jono.
__ADS_1
"Sudah, sudah sekarang masalahnya sudah selesaikan kita makan lagi yuk."kata bunda Airin.
Mereka menikmati makan malam itu setelah itu mereka pulang kerumah masing-masing tapi sebelum pulang bunda Airin bilang akan mampir ke apotik dulu karena dia yang mau membeli testpack untuk Lydia gunakan test kehamilanya besok.