
"Gak kok sayang bunda yakin jika mereka bisa mengerti kamu tapi untuk saat ini biarkan Ryan menemani Lydia dulu. Toh kamu sudah ada kami yang menemanimu."kata bunda Airin yang gak ingin jika putrinya itu merasa bersalah pada Ryan dan Lydia.
"Iya bun, aku hanya merasa kosong saja karena selama ini ada Ryan yang selalu ada buatku."kata Shinta sambil mengingat saat dia sakit Ryan yang selalu menemaninya karena ayah dan kakaknya selalu sibuk.
"Maafin ayah ya sayang karena ayah selalu sibuk dengan pekerjaan."kata ayah Danny yang sadar dengan kesalahannya.
"Gak papa kok yah, tapi bun apa Ryan besok akan kesini?"kata Shinta yang masih berharap jika adiknya itu bisa menjenguknya.
"Kita liat besok ya."kata ayah Danny.
Ayah Danny akan berusaha untuk membujuk Ryan agar besok bisa datang ke Jakarta biar bagaimanapun kesehatan Shinta lebih penting. Bunda Airin yang tau apa yang ada dipikiran suaminya hanya bisa menghela nafasnya, dia gak rela jika putra satu-satunya selalu mengalah untuk kebahagiaan orang lain. Walaupun Shinta sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri tapi bunda Airin juga gak bisa mengorbankan kebahagiaan putranya apalagi bunda Airin tau jika Shinta teropsesi sama Ryan sejak dulu.
"Yah, janji ya besok Ryan datang kesini."kata Shinta lagi.
"Memangnya kita semua disini gak cukup apa?"kata Jono entah mengapa mulai kesal saat Shinta memaksa mertuanya itu untuk memaksa Ryan datang.
"Aku cuma mau sama adikku memangnya gak boleh?"kata Shinta.
"Boleh tapi kamu juga harus ingat kalau Ryan sudah menikah kamu juga sudah menikah kalian punya kehidupan masing-masing gak mungkin Ryan terus mengutamakan kamu."kata Jono membuat Shinta kesal.
"Jon, jangan ngomong kayak gitu. Lagian Shinta benar sebagai adik seharusnya Ryan tetap memperhatikan Shinta."kata ayah Danny.
"Iya dengan cara membiarkan istrinya sendirian pergi ke Bogor dalam keadaan hatinya yang gak baik, apa gak cukup yang dikorbankan Lydia buat kalian?"kata Jono kesal.
"Apa memangnya yang dikorbankan Lydia, dia hanya buat Ryan susah saja dengan traumanya itu."kata Shinta.
"Jaga mulutmu itu, Lydia mendapatkan trauma ini juga karena keluargamu."kata Jono membuat semua orang terkejut.
"Apa maksutmu?"kata bunda Airin.
"Kalian caritau saja sendiri, kamu Shin kalau kamu tetap saja ingin Ryan datang sebaiknya kita cerai."kata Jono.
"Baiklah, lagian kamu yang minta bukan aku jadi jangan menyesal."kata Shinta.
"Aku gak akan menyesal dan akan aku pastikan kamu gak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Memangnya aku gak tau kalau selama ini kamu terobsesi dengan adik tirimu itu, kamu suka sama aku karena sikapku dan sikap Ryan hampir sama."kata Jono membuat semua orang terkejut kecuali bunda Airin yang sudah tau sejak lama.
"Apa benar yang dikatakan oleh Jono itu Shin?"kata Anton yang kecewa dengan adiknya.
"Kalau iya memangnya kenapa kak gak boleh?"kata Shinta akhirnya mengaku karena sudah kepalang tanggung.
"Kamu gila Ryan itu adikmu Shin mana bisa kamu ingin memilikinya?"kata Anton.
"Kenapa gak bisa dia bukan saudara kandung kita jadi aku bisa menikah dengannya."kata Shinta membuat bunda Airin shock sedangkan ayah Danny hanya terdiam.
"Bagaimana kamu punya pemikiran untuk menikah dengan adikmu sendiri Shin?"kata ayah Danny.
"Yah, apa aku salah jika aku ingin menikah dengan Ryan toh dia bukan saudara kandungku."kata Shinta yang langsung ditampar oleh Anton.
"Buang pikiran itu jauh-jauh dek karena aku gak akan membiarkan itu terjadi. Seharusnya kamu sadar walaupun kita bukan anak kandung ayah sama bunda tapi kita tetap gak bisa nikah sama Ryan. Mama kita itu adik kandung ayah dan pernikahanmu itu gak akan mungkin bisa terjadi."kata Anton.
"Aku gak perduli, sebaiknya kalian pergi dari sini dan kamu jangan pernah menampak diri lagi. Aku akan menyuruh pak Marno untuk mengurus surat cerai kita."kata Shinta.
"Silahkan."kata Jono.
Jono meninggalkan ruang rawat Shinta disusul oleh Anton yang gak mau jika adiknya bercerai dengan Jono karena itu akan menganggu pernikahan Ryan dan Lydia. Anton gak mau menghancurkan kebahagiaan Ryan sudah cukup selama ini adiknya itu menderita karenanya.
"Jon tunggu..."kata Anton membuat Jono berhenti lalu berbalik badan.
"Ada apa?"kata Jono.
"Aku mohon tolong pertahankan pernikahanmu dengan Shinta karena aku gak mau dia nekat."kata Anton.
"Aku akan menjaga Shinta dengan caraku Ton."kata Jono membuat Anton terdiam.
"Apa kamu benar-benar mencintai adikku?"kata Anton.
"Kalau aku gak mencintai adikmu untuk apa aku menerima pernikahan ini?"kata Jono.
"Makasih karena kamu mencintai adikku tapi bagaimana caranya agar Shinta sadar?"kata Anton sambil menghela nafasnya.
"Kamu caritau orang yang sudah mempengaruhi Shinta tentang perasaannya pada Ryan. Setelah kita tau maka kita akan tau bagaimana caranya untuk menyadarkan Shinta kalau perasaan sayangnya pada Ryan itu salah."kata Jono.
__ADS_1
"Aku akan mencaritau kalau sudah ketemu akan aku kasih tau kamu secepatnya."kata Anton.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku pergi dulu."kata Jono.
Jono setelah berkata begitu meninggalkan Anton sendirian, Anton berpikir keras siapa yang telah menghasut adiknya itu sedangkan diruang rawat Shinta. Shinta meminta ayahnya untuk menghubungi Ryan, ayah Danny bingung apa yang harus dia lakukan.
"Yah tolong hubungi Ryan supaya dia mau ke Jakarta supaya dia bisa merawatku."kata Shinta memohon.
Bunda Airin yang sudah terlanjur kecewa dengan Shinta hanya diam saja, ayah Danny memandang kearah istrinya tapi istrinya itu hanya diam saja. Ayah Danny tau jika istrinya itu sudah terlanjur kecewa tapi dia juga gak mungkin bisa menolak dengan keinginan putrinya itu. Ayah Danny mengambil ponselnya untuk menghubungi Ryan, panggilan itu tersambung tapi beberapa kali melakukan panggilan tak pernah Ryan jawab membuat Shinta kesal.
"Yah, kita ke Bogor saja yuk biar aku dirawat disana saja."kata Shinta.
"Gak, kamu tetap disini."kata Anton.
"Kamu gak ada hak untuk mengaturku kak."kata Shinta.
"Ada aku ini kakakmu, kakak kandungmu jadi kamu harus patuh sama aku atau aku akan membuat Ryan menjauhimu."kata Anton tegas kali ini karena dia gak mau jika Shinta salah jalan seperti dirinya dulu.
"Kakak tega sama aku?"kata Shinta.
"Tega gak tega aku harus tegas sama kamu agar kamu sadar kalau Ryan itu adik kita sampai kapanpun dia tetap adik kita."kata Anton.
"Terserah kamu mau ngomong apa aku gak perduli, kalau besok Ryan gak kesini aku yang akan ke Bogor sendiri."kata Shinta.
Shinta sudah gak perduli dengan perasaan orangtuanya karena baginya perasaan ke Ryan yang paling penting. Shinta gak akan rela jika Ryan jadi milik Lydia sebab yang berhak memiliki Ryan itu adalah dirinya. DiJakarta keluarga itu berusaha untuk menyadarkan Shinta beda halnya diBogor. Bu Narti yang masuk rumah bingung karena tak ada tanda-tanda kehidupan disana sedangkann mobil Ryan ada didepan rumah gak mungkin suami istri itu keluar. Bu Narti memutuskan untuk memanaskan makanan tadi setelah itu mencoba mengetuk pintu kamar Lydia siapa tau suami istri itu sedang tertidur.
Tok tok tok
Lydia yang mendengar kalau pintu kamarnya diketuk dari luar membuka matanya lalu membangunkan Ryan supaya suaminya itu bangun tapi bukannya bangun Ryan malah memeluk erat istrinya. Ryan merasa bahagia karena tak ada yang menganggu kebersamaan Ryan dengan Lydia. Lydia yang kesal karena Ryan bukannya bangun tapi malah memeluknya erat membuat perempuan itu mengigit leher Ryan membuat Ryan kesakitan terpaksa membuka matanya.
"Aduh sayang sakit tau gak?"kata Ryan sambil mengusap lehernya.
"Siapa suruh gak bangun-bangun dibangunin."kata Lydia kesal sedangkan Ryan tersenyum.
"Ada apa sayang?"kata Ryan.
"Itu pintunya diketuk mungkin bu Narti aku malas mau bangun."kata Lydia.
"Ya sudah tunggu sebentar."kata Ryan.
"Maaf ya kalau ibu ganggu kalian."kata bu Narti.
"Gak papa kok bu, ada apa ya?"kata Ryan.
"Ini sudah waktunya makan siang, mau makan bareng atau ibu makan duluan?"kata bu Narti.
"Tunggu bentar ya bu, biar kami bersih-bersih bentar baru saja bangun tidur soalnya tapi kalau ibu sudah lapar makan duluan saja gak papa kok."kata Ryan sambil tersenyum.
"Ibu tunggu kalian dimeja makan saja kalau kayak gitu."kata bu Narti.
Bu Narti meninggalkan Ryan untuk menuju meja makan sedangkan Ryan kembali menutup pintu kamarnya lalu berjalan menghampiri istrinya. Saat sampai didekat ranjang ternyata Lydia malah menutup matanya lagi membuat Ryan tersenyum lalu mencubit hidung istrinya itu.
"Ih kakak kok cubit hidungku sih sakit tau gak?"kata Lydia sambil mengelus hidungnya.
"Siapa suruh tidur lagi, ayo bangun mandi kasian bu Narti menunggu buat makan siang."kata Ryan.
Lydia yang mendengar kalau bu Narti sudah menunggu dimeja makan membuka matanya sambil bangun tapi dia lupa kalau masih belum memakai bajunya kembali membuat Ryan tersenyum. Lydia melihat suaminya tersenyum bingung kenapa suaminya itu tersenyum mesum.
"Kak, kenapa liatin aku kayak gitu?"kata Lydia.
"Siapa suruh gak pakai baju."kata Ryan membuat Lydia memandang kebawah saat melihat dirinya masih gak memakai baju langsung saja menarik selimutnya.
"Kenapa kok ditutupi 'kan aku gak bisa melihat pemadangan yang indah?"kata Ryan sambil memegang tangan Lydia agar istrinya itu tak menarik selimutnya keatas.
"Kakak apaan sih sudah sana mandi setelah itu gantian kasian kalau bu Narti menunggu."kata Lydia.
"Mandi bersama saja yuk."kata Ryan.
"Gak, gak mau sudah sana mandi duluan."kata Lydia.
Ryan terpaksa bangun dari ranjang lalu masuk kedalam kamar mandi saat Ryan masuk kedalam kamar mandi Lydia melihat kesamping dan melihat kalau ponsel Ryan berkedip. Lydia mengambil ponsel Ryan untuk melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari ayah Danny. Saat Lydia mau mengangkat panggilan itu terdengar pintu kamar mandi terbuka membuat Lydia membalikkan badannya.
__ADS_1
"Kak ini ada panggilan dari ayah Danny berkali-kali lo."kata Lydia sambil memperlihatkan ponsel Ryan pada pemiliknya.
"Biarkan saja nanti kalau sudah capek pasti berhenti sendiri, kamu mandi sana katanya gak mau kalau bu Narti menunggu lama."kata Ryan.
"Ya sudah aku mandi dulu tapi angkat panggilannya siapa tau penting."kata Lydia.
"Ya mandi gih."kata Ryan sambil tersenyum.
Lydia masuk kedalam kamar mandi sedangkan Ryan memandangi ponselnya yang berkedip terus menerus membuatnya kesal dan akhirnya mengangkat panggilan itu. Saat Ryan baru saja mengangkat panggilan itu sudah terdengar suara ayah Danny yang marah sama Ryan tapi tak dihiraukan oleh Ryan dia hanya mendengarkannya.
[Sudah yah?]
[Kamu ini kenapa gak angkat panggilan ayah sih?]
[Buat apa, buat ganggu Ryan sama Lydia. Ayah mau nyuruh Ryan pulang keJakarta karena putri kesayangan ayah itu sakit? Yah, aku tanya sama ayah yang anak ayah itu aku atau Shinta?]
[Jaga ucapanmu, bisa-bisanya kamu manggil mbakmu pakai nama.]
[Dia bukan mbakku, kalau dia mbakku gak mungkin jika dia suka sama aku dan ingin memilikiku. Yah, biarkan aku bahagia dengan istriku karena aku sangat mencintai Lydia.]
[Tapi ayah mohon pulanglah karena kalau kamu gak pulang mbakmu akan nekad. Dia juga sudah meminta cerai dari suaminya.]
[Yah, aku mohon sama kamu tolong biarkan aku memilih jalanku sendiri, nasehati mbak Shinta jika perasaannya padaku itu salah gak sepantasnya perasaan itu tumbuh.]
[Kami sudah bertanya pada seorang ustad dan kamu boleh menikah dengan Shinta, kami sudah sepakat kalau kamu akan menikah dengan Shinta setelah masa idahnya berakhir.]
[Ayah gila, lalu bagaimana dengan Lydia. Dia masih istriku yah.]
Saat Ryan berkata begitu bertepatan dengan Lydia yang keluar dari kamar mandi. Lydia mendengar apa yang diucapkan oleh Ryan hanya terdiam, Lydia sudah tau kalau kakak iparnya itu mencintai suaminya sebelum mereka menikah dulu. Lydia menghela nafasnya setelah itu memutuskan untuk mendekati Ryan dan Ryan sendiri mematikan panggilan itu.
"Makan yuk, kasian bu Narti menunggu lama."kata Lydia sambil tersenyum.
Lydia sudah memutuskan akan pergi dari kehidupan suaminya malam ini, hari ini dia ingin menghabiskan waktu bersama suaminya. Suami istri itu berjalan keluar menuju meja makan. Bu Narti yang melihat keduanya tersenyum sedangkan suami istri itu merasa tak enak hati dengan perempuan paruhbaya itu.
"Maaf ya bu, menunggu kami lama. Lydia nih lama mandinya."kata Ryan sambil tersenyum.
"Lah kok aku sih, bukannya kamu yang lama disuruh mandi daritadi gak mau."kata Lydia kesal.
"Sudah, sudah ayo makan memangnya kalian gak lapar?"kata bu Narti.
"Ayo bu, bu nanti kami mau makan diluar sambil jalan-jalan ibu mau ikut gak?"kata Lydia.
"Gak usah kalian berdua saja nanti yang pergi, ibu gak bisa jalan jauh nanti malah menganggu acara kalian lagi."kata bu Nartti.
"Ya sudah kalau kayak gitu."kata Lydia.
Mereka bertiga makan sambil bercanda tawa tanpa Ryan sadari jika Lydia mengirim pesan pada Jono untuk membawanya pergi malam ini tapi mereka sepakat tak akan mengunakan nama Lydia sebab Ryan pasti akan cepat menemukan keberadaannya. Setelah membantu bu Narti membersihkan bekas makanan mereka, Lydia bersiap-siap untuk pergi dengan Ryan sambil mengelus perutnya.
"Sayang, maafin mama ya mungkin ini terakhir kali kita bertemu dengan ayahmu."kata Lydia.
Lydia selesai bersiap melihat suaminya ternyata masih sibuk dengan ponselnya, Lydia tersenyum lalu mengambil kertas dan bolpoin untuk menulis surat pada Ryan.
*Untuk suamiku tercinta,
Maaf kak, mungkin saat kakak membaca surat ini aku sudah tak berada disisimu.
Maaf kak, kalau aku meninggalkanmu tanpa pamit mungkin ini yang terbaik untuk hubungan kita berdua. Aku tau mbak Shinta mencintaimu dan dia gak akan bisa melepaskanmu. Kak, aku bahagia bisa mengenalmu dan aku gak akan menyesal menikah denganmu setelah menerima surat ini aku mohon ceraikan aku dan menikahlah dengan mbak Shinta aku ikhlas.
Aku mencintaimu kak
Lydia istrimu*.
Lydia melipat kertas itu lalu menyimpannya dilaci nanti saat dia mau pergi baru akan dia letakkan disamping suaminya. Ryan juga sudah selesai dengan pekerjaannya memandang kearah istrinya.
"Kamu kenapa?"kata Ryan membuat Lydia terkejut.
"Gak papa, ayo berangkat."kata Lydia.
Suami istri itu pergi keluar rumah untuk jalan-jalan disekitar sana ternyata dilapangan ada pasar malam. Lydia mengajak Ryan untuk melihat pasar malam, Lydia mencoba banyak makanan yang belum pernah dia makan. Ryan yang melihat kebahagiaan istrinya itu tersenyum lalu senyum itu hilang saat mengingat apa yang dikatakan oleh ayahnya untuk menikahi Shinta.
"Kak..."kata Lydia membuat Ryan tersadar dari lamunanya.
__ADS_1
"Ada apa sayang?"kata Ryan.
"Kakak sedang memikirkan apa?"kata Lydia.