Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Hari terakhir bersama Ryan


__ADS_3

Ryan yang melihat istrinya semangat mengelilingi pasar malam dan membeli semua jajanan yang ada disana tersenyum. Ryan berharap senyuman itu akan terus diliatnya sampai kapanpun, walau Ryan tau pasti apa yang menjadi keputusan orangtuanya untuk menikahkannya lagi dengan Shinta akan melukai istrinya itu tapi Ryan tidak bisa berbuat apa-apa. Ryan sudah menolak tapi ayahnya tetap kekeh untuk menikahkannya dengan Shinta. Lydia yang melihat suaminya tertinggal jauh kembali menghampiri Ryan dan Lydia bisa melihat tatapan kosong Ryan membuat Lydia menghela nafasnya.


"Kak..."kata Lydia sambil memegang bahu suaminya membuat Ryan terkejut.


"Ada apa sayang?"kata Ryan setelah sadar dari lamunannya.


"Kakak kenapa? Kalau kakak ada masalah bagaimana kalau kita pulang saja?"kata Lydia yang tau jika suaminya itu pasti ada masalah. Lydia tau pasti ini mengenai Shinta tapi Lydia bingung karena gak biasanya suaminya itu memikirkan masalah Shinta sampai seperti ini.


"Kita lanjut lagi ya, maaf aku tadi mikirin soal pekerjaan yang belum aku selesaikan."kata Ryan sambil berusaha tersenyum tapi Shinta tau jika senyuman Ryan itu senyuman terpaksa.


"Kak, kalau kakak masih banyak pekerjaan gak papa kok kalau kakak kembali ke Jakarta. Aku disini akan jaga diri sendiri tenang saja."kata Lydia sambil tersenyum membuat Ryan menangkup kedua pipinya.


"Aku gak akan meninggalkanmu sendirian disini karena kamu yang paling penting buatku."kata Ryan.


"Tapi kak, aku gak mau gara-gara aku hubungan kakak sama keluarga kakak renggang. Apalagi sekarang mbak Shinta sedang sakit."kata Lydia sambil tersenyum walaupun hatinya sakit.


"Biarkan saja lagian Shinta ada yang menemaninya apa keluargaku disana kurang?"kata Ryan.


"Ya sudah deh terserahmu kak, sekarang kita keliling lagi yuk."kata Lydia.


"Ya sudah ayo, kamu mau beli apalagi itu sudah banyak lo makanannya memangnya kuat habisin semuanya?"kata Ryan.


"Kalau gak habiskan ada suami aku ini yang akan habiskan makanannya."kata Lydia sambil tersenyum.


"Ya sudah ayo jalan lagi."kata Ryan.


"Peluk."kata Lydia manja.


Ryan tersenyum lalu memeluk Lydia setelah itu mereka berjalan menyusuri pasar malam itu lagi. Ryan dan Lydia benar-benar menikmati jalan-jalan itu dengan pemikiran masing-masing. Lydia yang ingin menjadikan malam itu adalah kenangan terindah sedangkan Ryan berharap kenangan seperti ini bisa dia ulang lagi dengan Lydia. Setelah lelah berkeliling Lydia mengajak pulang tapi saat dipertengahan jalan Lydia melihat sebuah toko perhiasan. Ryan yang melihat kalau istrinya itu sedang memandangi toko perhiasan itu menarik tangannya Lydia masuk kedalam toko.


"Ada yang bisa saya bantu?"kata karyawan toko.


"Mbak mau liat kalung yang itu."kata Ryan sambil menujuk kalung yang daritadi diliat oleh Lydia.


"Kak..."kata Lydia saat karywan toko itu pergi mengambil kalung yang diinginkan oleh Ryan.


"Ada apa sayang?"kata Ryan sambil tersenyum.


"Itu buat apa kalungnya?"katta Lydia.


"Kalung itu untukmu."kata Ryan.

__ADS_1


"Tapi kak..."kata Lydia yang gak enak hati sama Ryan.


"Selama kita menikah aku belum pernah memberikan sesuatu untukmu dan ini hadiah pertama buatmu dan nanti aku akan sering memberikanmu hadiah yang banyak."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.


Mereka berdua menghentikan pembicaraan saat karyawan toko datangg sambil memberikan kalung yang diinginkan oleh Ryan. Ryan memakaikan kalau itu pada Lydia lalu setelah itu tersenyum.


"Cantik."kata Ryan membuat Lydia tersipu malu.


"Mbak kami ambil yang ini."kata Ryan.


"Mau kalungnya saja atau mau satu set?"kata karyawan toko.


"Coba liat bagaimana perhiasannya kalau satu set."kata Ryan.


"Tunggu sebentar saya ambilkan dulu."kata karyawan toko.


Karyawan toko itu pergi lagi untuk mengambilkan apa yang diinginkan oleh Ryan.


"Kak, ini saja sudah cukup tau gak. Buat apasih buang-buang uang segala."kata Lydia.


"Hanya beli satu set perhiasaan gak akan bikin aku bangkrut sayang."kata Ryan.


"Ya sudah terserahmulah."kata Lydia akhirnya pasrah.


"Kak..."kata Lydia saat mereka sedang santai karena kekenyangan.


"Ada apa sayang?"kata Ryan sambil memandang istrinya.


"Apa kakak menyayangiku?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Kenapa kamu bilang kayak gitu? Kalau aku gak sayang buat apa aku langsung mau menikah denganmu waktu itu."kata Ryan.


"Gak papa aku hanya tanya saja, aku gak mau ada kebingungan dihatiku."kata Lydia.


"Aku sayang sama kamu sampai maut memisahkan kita, apapun yang terjadi aku akan mempertahankanmu."kata Ryan.


"Jika aku minta cerai suatu saat nanti bagaimana?"kata Lydia membuat Ryan terkejut lalu memandang Lydia dengan tatapan tajam.


"Kenapa bilang seperti itu? Apa kamu gak bahagia menikah denganku sayang?"kata Ryan.


"Aku bahagia menikah denganmu kak, aku 'kan hanya tanya lagian memangnya salah ya?"kata Lydia.

__ADS_1


"Gak ada yang salah kok, sudah gak usah bahas itu lagi. Kita bahas yang lain saja, misalnya bagaimana kalau kita punya anak."kata Ryan.


"Memangnya kakak beneran kepengin banget punya anak apa?"kata Lydia.


"Setiap orang menikah pasti memiliki keinginan untuk punya momongan, apa kamu gak ingin kita punya anak?"kata Ryan.


"Pengen kak, siapa sih yang gak mau punya momongan. Kak tidur yuk aku ngantuk banget ini."kata Lydia.


"Ya sudah ayo tapi malam ini aku dapat jatah lagi 'kan?"kata Ryan sambil menaik turunkan alisnya.


"Memangnya tadi siang gak cukup apa sudah 3ronde lo kak?"kata Lydia.


"Kalau sama kamu gak ada cukupnya sayang, ya satu ronde saja lagi please."kata Ryan memohon.


"Baiklah, tapi aku mau kakak gendong aku sampai kamar bagaimana?"kata Lydia.


"Baiklah tuan putri."kata Ryan.


Ryan tak menyia-nyiakan waktunya langsung mengendong Lydia, Lydia tersenyum sambil mengoda suaminya dengan menciumi leher suaminya membuat Ryan kegelian.


"Sayang..."kata Ryan.


"Apa sayang?"kata Lydia sambil tersenyum mengoda Ryan.


"Oh mengodaku ya liat saja diranjang aku akan buatmu berteriak minta ampun."kata Ryan.


"Kita liat saja siapa yang akan berteriak."kata Lydia yang memang bertekad akan memberikan kepuasan pada suaminya karena malam ini mungkin malam terakhir buat mereka berdua melakukan hubungan suami istri.


Benar saja Lydia melaksanakan niatnya malam itu Ryan benar-benar kualahan dengan Lydia. Lydia malam ini berani tak seperti malam-malam sebelumnya yang malu-malu saat mereka melakukan hubungan ranjang. Malam itu Ryan langsung tertidur pulas dan saat itulah digunakan oleh Lydia untuk pergi dari rumah itu. Didepan rumah sudah ada Jono yang menunggunya didalam mobil. Lydia masuk kedalam mobil setelah itu Jono menjalankan mobilnya menuju bandara.


"Kamu yakin dengan keputusanmu ini?"kata Jono.


"Aku yakin memangnya kenapa sih kak?"kata Lydia.


"Aku hanya gak mau kamu menyesal dek."kata Jono sambil menghela nafasnya.


"Aku gak akan menyesal apalagi kakak juga tau kalau mbak Shinta mencintai kak Ryan aku gak mau menimbulkan kebencian."kata Lydia.


"Lalu bagaimana dengan perasanmu dan Ryan? Apa kamu yakin jika Ryan akan baik-baik saja kalau kamu pergi meninggalkannya?"kata Jono yang tau bagaimana Ryan sangat mencintai Lydia bisa terlihat saat adiknya itu kambuh traumanya.


"Aku yakin kak Ryan akan baik-baik saja, oh ya kak ini tiketnya kenapa aku ke Jogja, Lalu ini tiket ke Itali dengan nama milik orang lain?"kata Lydia.

__ADS_1


"Kalau aku pakai namamu pasti Ryan akan cepat mengetahui dimana kamu berada, aku memang sengaja mengunakan tiket atas nama orang lain agar bisa menyamarkan keberadaanmu."kata Jono.


"Makasih kak."kata Lydia.


__ADS_2