
"Sayang kapan aku menyembunyikan sesuatu darimu?"kata Ryan.
"Banyak sekali kamu merahasiakan sesuatu dariku kayak tadi yang aku dengar saat mau memberikan minuman pada kalian berdua."kata Lydia membuat Ryan dan Dayat terdiam.
"Sayang kalau soal itu memang aku sengaja gak memberitaumu karena aku yakin jika kamu tau pasti traumamu akan kambuh lagi."kata Ryan mengatakan kekhawatirannya.
"Tapi walaupun aku punya trauma seharusnya kamu bilang sama aku karena aku yang mengalami trauma itu."kata Lydia.
"Maaf sayang tapi bukannya kamu sekarang sudah tau soal rencana itu?"kata Ryan.
"Iya aku tau karena aku gak sengaja mendengarnya tadi kalau tidak mana mungkin kamu memberitaku."kata Lydia.
Mereka yang ada disana hanya mengelengkan kepalanya saat melihat perdebatan suami istri itu. Bunda Tari yang melihat putranya berdebat dengan istrinya hanya tersenyum karena dia gak menyangka putra dinginnya itu bisa bucin dan berdebat dengan perempuan.
"Kalian ini bisa gak jangan berdebat?"kata ayah Danny.
"Maaf ya kak Ryan yang mulai bukan aku."kata Lydia yang baru sadar jika disana ada orang lain selain mereka berdua.
"Kok aku, bukannya kamu yang mulai sayang tadi?"kata Ryan.
"Sudah, sudah kalian ini ribut terus. Panas telingaku mendengar perdebatan kalian."kata Anton.
"Adikmu itu kak yang mulai."kata Lydia.
"Sudah baikkan nih makanya berani mengadu pada kak Anton?"kata Ryan sambil tersenyum.
"Siapa yang maafin kak Anton? Dengar ya, aku belum maafin dia sampai sekarang."kata Lydia membuat Anton terdiam.
"Dek, bagaimana caranya agar kamu maafin aku?"kata Anton berharap jika Lydia memaafkannya.
"Aku gak tau pikir saja sendiri."kata Lydia membuat semua orang yang ada disana terdiam.
"Oh ya memangnya kalian sudah siap-siap barang yang akan kalian bawa?"kata bunda Airin untuk mengalihkan pembicaraan dan juga agar suasana menjadi cair lagi.
"Sudah bun barang kak Ryan tinggal punyaku saja yang belum."kata Lydia.
"Bawa pakaian sedikit saja nanti kalau kurang bisa beli disana."kata Ryan.
"Boros banget jadi orang mentang-mentang uangnya banyak."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau aku kerja buatmu? Jadi apa masalahnya aku menghabiskan uangku untukmu hmmm?"kata Ryan.
"Iya juga ya kok aku lupa ya?"kata Lydia sambil menggaruk rambutnya yang gak gatal.
"Mau bunda bantuin berkemas?"kata bunda Airin.
"Boleh bun, biar mereka disini ngomongi kerjaan. Aku pusing kalau harus dengerin pekerjaan terus menerus."kata Lydia/
"Ya sudah ayo kalau kayak gitu."kata bunda Airin.
Kedua perempuan itu berjalan meninggalkan keempat pria yang berada diruang tamu sedangkan bunda Airin dan Lydia sampai dikamar Lydia langsung saja mempersiapkan barang apa yang mau dibawa. Baru saja kedua peremuan itu menyelesaikan pekerjaannya Ryan datang menghampiri karena ayah Danny mengajak bunda Airin untuk pulang. Setelah semuanya pulang diapartemen itu hanya tinggal suami istri yang sedang sibuk membersihkan dirinya setelah itu merka berdua berbaring diranjang.
"Kak..."kata Lydia.
"Ada apa sayang apa ada yang kurang barang yang mau dibawa ke Bogor?"kata Ryan.
"Sudah kok hanya saja aku boleh bawa susu darisini kan?"kata Lydia.
"Memangnya susu apa kalau boleh tau?"kata Ryan.
"Susu buat kesehatan boleh ya?"kata Lydia.
"Bener buat kesehatan bukan susu diet kalau untuk diet aku gak akan izinin?"kata Ryan.
"Bukan kok lagian untuk sekarang aku gak akan diet harus banyak makan kalau bisa."kata Lydia.
"Kok kalau bisa memangnya ada apa?"kata Ryan.
"Katanya aku harus sehat, tapi kalau nanti aku gemuk apa kakak akan tetap mencintaiku?"kata Lydia.
"Kamu ini ngomong apasih? Aku mencintaimu apapun bentukanmu karena aku mencintai ini bukan tubuhmu."kata Ryan sambil memegang dada Lydia sambil tangannya mengelayanginya.
"Kak, tangannya bisa gak gak usah nakal? Aku sedang malas sekarang gak pengen gituan."kata Lydia kesal karena tangannya Ryan gak bisa diam.
"Siapa yang mau gituan aku hanya mau pegang saja kok."kata Ryan.
"Yakin hanya mau pegang awas saja kalau lebih dari ini aku gak akan maafin kamu kak."kata Lydia.
"Gak papa kalau kamu gak mau maafin aku, aku gak jadi mengantarmu ke Bogor bagaimana?"kata Ryan.
"Gak papa aku berangkat sama bunda karena bunda tadi sudah bilang kalau kamu gak mau mengantar bunda yang akan mengantarku sendiri."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Aku senang kamu bisa dekat sama bunda, dulu Tiara yang bisa dekat sama bunda mantan kak Anton hanya dia saja yang dekat sama bunda. Seandainya saja Tiara masih hidup mungkin sekarang mereka sudah menikah."kata Ryan sambil menghela nafasnya.
"Kalau mbak Tiara menikah sama kamu aku gak akan nikah sama kamu, kak."kata Lydia.
"Kenapa gak nikah denganku?"kata Ryan.
"Memangnya boleh kakak menikah dengan aku?"kata Lydia.
"Bolehlah, aku sama kak Anton 'kan bukan anak kandung bunda sama ayah. Kak Anton mbak Shinta anak dari almarhum adiknya papa."kata Ryan.
"Tapi kok kamu panggil mereka kakak kalau mereka anak dari adiknya ayah?"kata Lydia.
__ADS_1
"Karena mereka lebih dewasa dariku dan mereka juga sudah sah jadi anak adopsinya bunda sama ayah."kata Ryan.
"Kalau om Damar itu siapanya kamu?"kata Lydia.
""Dia pakdhenya kak Anton dan mbak Shinta dari pihak mamanya."kata Ryan.
"Lalu kenapa dia ingin memiliki perusahaan ayah?"kata Lydia membuat Ryan terkejut.
"Kamu tau darimana masalah ini? Atau jangan-jangan kecelakaan Tiara ada kaitannya dengan om Damar?"kata Ryan..
"Kakak caritau saja sendiri, sudah ya aku mau tidur ngantuk besok bukannya pagi-pagi harus sarapan?"kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu, ayo tidur tapi peluk ya?"kata Ryan.
"Oke, tapi kakak yang peluk aku."kata Lydia sambil tersenyum.
Ryan memeluk istrinya setelah itu Lydia juga memeluk Ryan, kedua suami istri itu tidur sambil berpelukan. Saat tengah malam Lydia terbangun karena perutnya terasa lapar tapi dia mau makan lalapan membuat dia terpaksa membangunkan Ryan. Tapi saat melihat wajah pulas suaminya membuat Lydia gak tega membangunkannya tapi dia lapar dan ingin makan lalapan kalau gak keturutan takut jika nanti anaknya ileran.
"Kak...kak Ryan bangun...kak bangun."kata Lydia..
"Apa sayang memangnya ini sudah pagi?"kata Ryan bicara sambil tetap memejamkan matanya.
"Belum tapi perutku lapar kak?"kata Lydia.
"Memangnya kamu mau makan apa?"kata Ryan.
"Ayo bangun aku ingin makan lalapan kak."kata Lydia membuat Ryan terpaksa membuka matanya.
"Sayang ini jam berapa memangnya kok kamu mau makan lalapan?"kata Ryan sambil meraih ponselnya untuk melihat jam ternyata sekarang masih tengah malam.
"Ayo kakak, aku mau makan lalapan sekarang."kata Lydia.
"Ya sudah ayo kalau kayak gitu sekarang ganti baju dulu."kata Ryan menyuruh Lydia untuk ganti baju.
"Gak mau malas kak."kata Lydia.
"Mau lalapan gak? Kalau mau sekarang ganti bajunya itu nerawang sayang aku gak mau kalau ada orang yang melihat tubuhmu hanya aku yang boleh melihat tubuhmu."kata Ryan.
"Baiklah, tapi kakak pakai baju juga ya."kata Lydia.
Suami istri itu berganti pakaian setelah itu mereka keluar apartemen untuk mencari warung lalapan yang masih buka.
"Sayang, kalau makan diwarung pinggir jalan gak papakan? Soalnya malam-malam begini mana ada resto yang buka pasti sudah tutup semua."kata Ryan.
"Gak papa kak, aku juga biasa makan dipinggir jalan dulu tapi sejak pindah kesini aku gak sempat karenakan tinggal sama orangtuaku."kata Lydia.
"Ya baiklah, mau aku ajak ke tempat yang biasa aku datangi saat beli lalapan?"kata Ryan.
"Enaklah kalau gak enak mana mungkin jadi tempat langgananku dan anak-anak yang lain."kata Ryan.
"Ayolah lest's go."kata Lydia.
Ryan melajukan mobilnya menuju warung favoritnya, sampai sana Ryan mencari tempat parkir karena tempat parkir yang ada didekat warung sudah penuh sebab disana banyak yang mengantri mungkin karena rasa makanan disana sangat enak. Ryan mendapat tempat parkir tapi jauh, Ryan bertanya pada Lydia apa istrinya itu mau berjalan kewarung yang jual lalapan..
"Sayang..."kata Ryan.
"Ada apa kak?"kata Lydia.
"Kita parkir disini agak jauh dari warung lalapan soalnya parkiran yang ada didekat sana sudah penuh gak papakan?"kata Ryan.
"Gak papa kok kak, aku mah mana-mana lagian 'kan tempatnya gak terlalu jauh."kata Lydia.
"Ya sudah kalau gitu aku pikirkan dulu setelah itu kita jalan kaki ke warungnya tapi nanti kalau kamu capek bilang ya?"kata Ryan.
"Siap kak."kata Lydia.
Ryan mencari parkiran yang masih kosong setelah mendapatkan tempat untuk parkir dan memarkirkan mobilnya. Ryan megajak Lydia untuk keluar dari mobil lalu berjalan menuju warung lalapan yang mereka mau. Untung saja saat sampai diwarung lalapan tak banyak orang datang sehingga mereka mendapatkan tempat duduk. Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, Ryan mengajak bercanda Lydia. Saat suami istri itu sedang asik bercanda tiba-tiba ada dua orang perempuan yang tiba-tiba duduk disamping mereka.
"Maaf kak, kami duduk disini soalnya gak ada meja lagi yang kosong. Aku Dias kakak siapa namanya?"kata Dias mencari perhatian Ryan.
Lydia yang melihat tingkah perempuan itu muak dan sebenarnya ingin menyela tapi dia diam karena ingin melihat apa yang dilakukan oleh Ryan pada kedua perempuan yang gatal itu.
"Masak kamu gak kenal dia atau pura-pura gak kenal? Dia itu Ryan asisten pribadinya kak Hendru."kata Anggun.
"Kamu kenal sama aku?"kata Ryan.
"Iya kenallah kak, aku Anggun putrinya papa Bahrun."kata Anggun.
"Oalah kamu putrinya tuan Bahrun?"kata Ryan sambil menganggukan kepalanya.
"Iya kak, kakak kok ada disini?"kata Anggun.
"Kalau kesini pasti makanlah masak mau nongkrong."kata Lydia yang sudah gak tahan melihat kedua perempuan itu mengoda suaminya sedangkan Ryan yang mendengar perkataan istrinya hanya tersenyum.
"Kami tau tapi kenapa makan disini bukannya kak Ryan orang kaya?"kata Anggun.
"Gak liat jam apa memangnya jam segini ada resto yang buka?"kata Lydia.
"Kak dia siapa sih kok ngomongnya nyorot?"kata Dias.
"Dia istri saya."kata Lydia membuat kedua perempuan itu terkejut.
"Kok kakak mau sih punya istri yang kayak gini?"kata Dias.
__ADS_1
"Memangnya aku kenapa?"kata Lydia.
"Istri galak kok bisa kak Ryan tahan ya."kata Dias sedangkan Anggun diam setelah mendengar kalau wanita yang ada disebelahnya adalah istrinya Ryan pria yang dia sukai.
Lydia tak menanggapi lagi perkataan Dias karena makanan yang dia inginkan sudah datang, Ryan yang melihat istrinya makan dengan lahap tersenyum lalu mengelengkan kepalanya saat melihat Lydia menikmati makannya.
"Hati-hati sayang makannya nanti kesedak."kata Ryan mengingatkan istrinya agar makan makanan itu pelan-pelan.
"Ini enak makananya lagian aku juga lapar, nanti boleh aku nambah lagi?"kata Lydia.
"Habisin itu dulu nanti kalau mau nambah ini makan punyaku biar aku pesan lagi."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.
"Makasih."kata Lydia sambil tetap memakan makannya.
Dias melihat kalau temannya terdiam dari tadi hanya menghela nafasnya karena Dias tau jika Anggun menyimpan perasaan pada kak Ryan sudah lama sejak pertama kali mereka bertemu. Ryan sendiri bukannya memakan makanan yang dia pesan tapi malah memandang istrinya yang sedang menikmati makanannya untung saja tadi dia memesan makanan yang sama dengan istrinya kalau gak pasti mereka akan menunggu lama lagi jika Lydia mau makan lagi. Lydia yang merasa diperhatikan memandang kearah suaminya lalu mengerutkan keningnya sebab suaminya memandangnya sambil tersenyum.
"Kak, kenapa liatin aku kayak gitu?"kata Lydia.
"Gak papa kok hanya saja aku bahagia saat melihat istriku makan dengan lahap tapi pelan-pelan makannya nanti kesedak."kata Ryan.
"Gombal banget sih."kata Lydia.
"Seriusan, tapi kalau makan jangan sampai belepotan kayak gini juga sayang."kata Ryan sambil mengusap pipi Lydia yang ada sisa makanan.
"Kak, malu diliatin banyak orang tau gak."kata Lydia yang malu kalau ada yang melihat.
"Ngapain malu lagian kita bebas mau lakuin apapun 'kan sudah sah."kata Ryan.
"Terserahmulah kak, itu makanannya kenapa gak dimakan?"kata Lydia yang melihat kalau makanan yang dipesan oleh Ryan gak berkurang sama sekali.
"Aku menunggu kamu makan saja nanti kalau mau nambah makan ini saja agar nanti gak lama menunggu."kata Ryan untung saja dia memesan makanan yang sama dengan Lydia.
"Kakak makan saja makanannya nanti kalau aku mau nambah makanannya dibawa pulang saja biar cepat."kata Lydia.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku pesan dulu sebentar."kata Ryan.
Ryan meninggalkan meja itu untuk memesan makanan sedangkan Lydia menikmati makanannya lagi. Dias yang melihat ada kesempatan untuk mengejek Lydia tersenyum.
"Aku gak nyangka kalau kak Ryan mau menikah dengan perempuan yang doyan makan. Kalau aku jadi kak Ryan aku mah ogah."kata Dias.
Lydia hanya diam saja tanpa menanggapi perkataan Dias, Dias yang tak mendapatkan respon dari Lydia merasa kesal. Sedangkan Anggun yang melihat temannya sebenarnya juga gak enak sama istrinya kak Ryan tapi dia juga kesal karena bukan dia yang menikah sama kak Ryan sehingga dia memilih untuk diam.
"Kamu itu gak pantas menikah sama kak Ryan, udah jelek makannya banyak lagi. Masih cantik Anggun kemana-mana mungkin mata kak Ryan buta kali ya."kata Dias.
"Sudah selesai bicaranya?"kata Lydia.
"Belum aku mau bilang sama kamu supaya kamu segera ceraikan kak Ryan karena kak Ryan pantasnya sama Anggun sudah cantik, kaya lagi sedangkan kamu aku yakin hanya orang miskin yang memanfaatkan kekayaan kak Ryan."kata Dias membuat Lydia tersenyum.
"Memangnya kamu itu siapa bicara seperti itu?"kata Lydia.
"Dias putrinya pak Harun yang punya jabatan tinggi diperusahaan Emirat dan ini Anggun putrinya pak Bahrun pemilik resto Segar dan perusahaan Segar."kata Dias dengan sombongnya.
"Oalah."kata Lydia sambil melanjutkan makannya lagi tapi tiba-tiba dia teringat jika resto Segar itu milik Karina temannya.
"Kamu siapanya Karina?"kata Lydia membuat Anggun terkejut darimana istrinya Ryan tau jika Karina kakak sepupunya.
"Aku adik sepupunya."kata Anggun.
"Adik sepupu?"kata Lydia mengerutkan keningnya.
"Iya sejak orangtua kak Karina meninggal papaku yang mengelola semua bisnis papanya Karina."kata Anggun.
"Hmmm sekarang dia ada dimana kok aku gak pernah melihatnya?"kata Lydia yang membuat Anggun bingung mau jawab bagaimana karena Karina diusir oleh papanya setelah Karina menadatangani surat kuasa pengalihan seluruh harta milik orangtuanya.
"Dia tinggal diluar negeri."kata Anggun.
Mereka menghentikan pembicaraan saat Ryan datang kembali ke meja mereka, Ryan mengerutkan keningnya karena saat dia datang ketiga perempuan itu diam padahal tadi dari jauh Ryan bisa melihat kalau mereka saling berbicara.
"Kalian kok diam saja padahal daritadi saat aku disana kalian terlihat saling berbicara?"kata Ryan.
"Tadi kami bicara soal Karina."kata Lydia membuat Ryan mengerutkan keningnya.
"Karina siapa sayang?"kata Ryan.
"Karina itu temanku dan ternyata dia sepupunya Anggun."kata Lydia.
"Oalah oke kalau gitu, ayo makan lagi sudah hampir pagi ini."kata Ryan.
"Siap tuan."kata Lydia membuat Ryan geleng-geleng kepala.
"Kamu ini memang ya panggil sesuka hatimu, kalau bunda tau marah dia pasti."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.
"Yakin kalau bunda akan marah sama aku?Palingan kamu yang akan kena masalah jika ngadu sama bunda."kata Lydia.
"Iya iya menantu kesayangan bunda sama ayah."kata Ryan membuat Lydia tersenyum sedangkan Anggun hanya terdiam saat Ryan bilang kalau istrinya itu adalah menantu kesayangan orangtuanya.
Suami istri itu terdiam lebih memilih untuk menikmati makanan mereka setelah selesai berpamitan pada kedua perempuan itu setelah itu pergi meninggalkan warung. Saat berada didalam mobil Lydia mencari posisi duduk yang nyaman karena matanya sudah mau terpejam benar saja baru saja Ryan menjalankan mobilnya Lydia sudah tertidur. Ryan yang melihat kalau istrinya sudah tertidur pulas hanya tersenyum lalu menghentikan mobilnya ditepi jalan untuk memperbaiki posisi tidur Lydia agar istrinya itu nyaman. Saat sampai diparkiran barulah Lydia terbangun karena Ryan mengrem mobilnya secara mendadak sebab tiba-tiba ada mobil yang menyelonong gitu saja memmbuat Ryan merasa bersalah pada Lydia.
"Maaf ya aku sudah buatmu terbangun sayang."kata Ryan.
"Kakak kenapa kok berhenti mendadak sih?"kata Lydia.
"Maaf sayang tadi ada mobil yang nyelonong jadi aku terkejut lalu ngerem mendadak."kata Ryan.
__ADS_1