Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan mencari Lydia


__ADS_3

Ryan meninggalkan kedua orangtuanya untuk mencari keberadaan Lydia. Ryan pertama-tama pergi ke supermarket atau toserba terdekat tapi tak bertemu dengan Lydia. Ryan menyesal kenapa dia tadi tak sadar kalau dia mengunci pintu kamarnya, Ryan berharap Lydia sekarang berada diapartemen. Tapi saat diapartemen ternyata istrinya gak ada Ryan melanjutkan pergi kerumah orangtua Lydia tapi sampai dipintu gerbang ternyata rumah itu sudah gelap. Ryan keluar dari dalam mobil lalu berjalan menemui satpam, jika Lydia berada dirumah itu Ryan akan menunggu diluar sampai besok pagi.


"Pak..."kata Ryan teriak pada satpam yang menjaga rumah itu.


"Eh tuan muda kok ada disini mau saya bukakan pintu gerbangnya?"kata satpam.


"Gak usah pak, saya hanya mau tanya apa istri saya ada didalam?"kata Ryan.


"Gak ada tuan muda, nona Lydia gak kesini daritadi."kata satpam.


"Ya sudah kalau begitu makasih pak, saya permisi dulu pak."kata Ryan.


Ryan kembali masuk kedalam mobil, dia bingung mau kemana lagi mencari istrinya. Ryan memukul setirnya sambil memikirkan kemana istrinya pergi. Ryan mau menghubungi Hendru tapi dia urungkan karena dia yakin jika Hendru tau Lydia gak bersamanya pasti temannya itu akan memukulinya habis-habisan.


"Ly, kamu dimana sayang?"kata Ryan.


Saat Ryan sedang putus asa Ryan teringat dengan Sandra kemungkinan besar istrinya itu ada dikontrakan milik Sandra. Ryan menjalankan mobilnya menuju kontrakan Sandra, dia berharap menemukan istrinya itu disana karena hanya itu satu-satunya harapan Ryan. Saat Ryan sampai rumah Sandra ternyata rumahnya sudah sepi membuat Ryan menghela nafasnya pasti sahabat istrinya itu sudah tidur. Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi Sandra untung saja dia sempat meminta no ponsel asisten istrinya. Tak menunggu waktu lama Sandra sudah mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualikum kak...]


[Walaikumsalam, maaf kalau aku malam-malam begini menganggumu.]


[Gak papa kok kak, aku juga belum tidur ada apa tumben menghubungiku?]


[Aku hanya mau tanya apa Lydia ada bersamamu?]


[Lydia gak ada dirumahku kak, memangnya Lydia gak sama kakak?]


[Dia pergi dari rumah dan aku gak tau kemana harus cai dia lagi. Kamu tau gak dimana biasanya Lydia kalau sedang ada masalah?]


[Maaf ya kak aku gak tau soalnya Lydia itu anaknya tertutup kalau ada masalah. Tapi coba kakak tanya sama kak Aziz atau kak Hendru pasti mereka tau dimana Lydia kalau sedang ada masalah.]


[Aku gak berani San, kamu tau sendiri kalau sampai mereka tau Lydia gak ada sama aku pasti mereka berdua akan menghajarku.]


[Ya sudah kalau gitu biar aku tanya sama mereka nanti aku kasih tau kamu kak.]


[Makasih ya San, aku gak tau lagi mau minta tolong sama siapa lagi selain sama kamu.]


[Oh ya kakak sudah coba tanya sama Rima belum siapa tau dia tau dimana Lydia?]


[Belum, ya sudah kalau gitu aku coba hubungi dia dulu. Aku matikan panggilannya kalau kayak gitu.]


Ryan mengakhiri panggilan dengan Sandra, Ryan mencari no ponsel milik Rima dia berharap Rima tau keberadaan istrinya karena hanya Rima lah yang bisa dia mintai pertolongan.


[Hallo Asalamualikum...]


[Walaikumsalam, maaf ya Rim kalau aku ganggu kamu?]


[Ada apa menghubungiku?]


[Aku hanya mau tanya apa kamu tau dimana keberadaan Lydia?]


[Dia ada diapartemenku tenang saja mungkn dia sedang tidur.]


[Makasih ya Rim, aku boleh ke apartemenmu gak sekarang? Aku takut kalau Lydia gak bisa tidur.]


[Yang gak bisa tidur itu kamu atau Lydia?]


[Aku sih.]


[Boleh tapi jangan bangunin dia kasian kayaknya dia capek banget.]


[Ya sudah kalau gitu aku ke apartemenmu sekarang, kamu bisa sherlock alamatmu gak?]


[Oke, aku matikan dulu panggilannya.]


Rima berharap dengan kedatangan Ryan ke apartemennya bisa menyelesaikan masalah diantara suami istri itu. Rima tau walaupun Lydia kelihatan bahagia tapi dapat diliat dari sorot mata Lydia jika dia sedang sedih. Rima berharap kebahagiaan Lydia sudah cukup Lydia menderita dan berharap agar rumahtangga temannya itu tak ada yang menganggu. Ryan sendiri setelah mengakiri pangilan dengan Rima dan mendapatkan alamat apartemen Rima menjalankan mobilnya menuju apartemen Rima. Sampai diapartemen Rima, Rima membuka pintu dan memberitau dimana kamar Lydia. Ryan masuk kedalam kamar itu dan melihat istrinya sedang tertidur. Ryan duduk disamping Lydia sedangkan Rima kembali masuk ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


Ryan sepeninggalan Rima hanya memperhatikan wajah Lydia yang tertidur pulas, Ryan mencium kening Lydia lama untuk mengungkapkan rasa bersalahnya karena tanpa sadar sudah membuat istrinya kecewa.


"Maafin aku karena sudah membuatmu kecewa sayang, kita pulang ya?"kata Ryan.


Ryan mengendong istrinya pelan-pelan agar Lydia gak bangun setelah itu berjalan keluar dari apartemen Rima. Sampai dimobil setelah merasa Lydia nyaman tidurnya dia berlari masuk kebagian mengemudi sebelum menjalankan mobilnya dia mengirim pesan pada Rima jika dia membawa Lydia pulang. Ryan membawa Lydia pulang ke apartemennya karena disana lebih dekat. Bukannya Ryan gak mau menginap dirumah Rima tapi takut jika nanti istrinya bangun malah menganggu istirahat Rima jika mereka berdua bertengkar. Sampai diapartemenpun Lydia juga gak bangun membuat Ryan mengerutkan keningnya karena gak biasanya istrinya itu tidur mati. Biasanya Lydia akan bangun saat terkena sentuhan saja tapi malam ini Lydia tak bangun sama sekali.


"Sayang..."kata Ryan mencoba membangunkan Lydia tapi istrinya itu tak bergerak membuat Ryan khawatir.


"Sayang bangun jangan bikin aku takut sayang bangun."kata Ryan.


Ryan berusaha membangunkan Lydia berkali-kali tapi Lydia tak bangun juga akhirnya memutuskan untuk membiarkannya. Ryan berpikir mungkin istrinya itu tadi minum obat tidur makannya dibangunin gak bangun-bangun. Benar saja keesokan paginya Lydia bangun dengan badan yang sakit semua tapi saat dia membuka mata dia terkejut sebab dia sdah berada dikamar apartemennya. Dia bingung bagaimana bisa tiba-tiba berada diapartemennya tapi kemudian dia melihat keperutnya ada tangan yang melingkar membuatnya menghela nafas lalu memandang kesamping dan melihat suaminya itu tertidur pulas. Lydia bisa melihat lingkaran hitam dimata suaminya dan wajah kelelahan Ryan. Lydia mengelus wajah Ryan membuat suaminya itu terganggu tidurnya lalu pelan-pelan membuka matanya.


"Pagi sayang."kata Ryan sambil memeluk erat Lydia dan mencium kening Lydia lama.


Tapi mendapat perlakuan seperti itu Lydia hanya diam saja tak merespon Ryan membuat Ryan menghela nafasnya sadar jika istrinya masih marah dengannya.


"Maaf sayang, kalau aku buatmu kecewa."kata Ryan sambil mengelus pipi istrinya.


"Memangnya kamu salah apa?"kata Lydia dingin.


"Maaf sudah cuek sama kamu saat aku pulang kerja, maaf sudah dingin sama kamu dimeja makan dan maaf tanpa sengaja aku mengunci kamar dari dalam. Aku gak sengaja mengunci kamar sayang, saat aku sadar aku bingung cari kamu karena kamu gak ada dimana-mana."kata Ryan.


"Apa salahku sama kamu kak?"kata Lydia.


"Kamu gak salah sayang, aku yang salah disini."kata Ryan.


"Hmmmm sudahlah aku mau mandi setelah itu mau masak."kata Lydia mau bangun tapi pelukan Ryan semakin erat membuat Lydia gak bisa bangun.


"Lepas."kata Lydia.


"Gak mau, aku gak mau lepasin kamu sebelum kamu maafin aku."kata Ryan.


"Aku sudah maafin kamu sekarang lepasin peluakannya boleh?"kata Lydia.


"Gak mau."kata Ryan sambil menyembunyikan wajahnya didada Lydia.


"Biarin memangnya aku gak boleh manja sama istriku sendiri?"kata Ryan.


"Ini sudah siang kamu gak mau berangkat kerja memangnya?"kata Lydia.


"Gak mau, kamu ikut aku seharian ini bekerja ya."kata Ryan.


Ryan gak mau jika Lydia bertemu dengan seseorang yang dia panggil kakak ditelepon kemarin apalagi kemarin Ryan juga dengar kalau Lydia bilang kangen. Ryan takut jika Lydia akan meninggalkannya, Ryan gak mau kehilangan Lydia karena hatinya benar-benar sudah terikat dengan perempuan yang sudah bergelar menjadi istrinya.


"Gak bisa, aku sudah janji mau bertemu dengan seseorang nanti."kata Lydia.


"Baiklah, kalau gak mau ikut ya sudah."kata Ryan sambil melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya.


Lydia bukannya membujuk suaminya tapi dia memilih untuk masuk kedalam kamar mandi setelah itu keluar kamar untuk masak. Bukannya Lydia gak mau membujuk suaminya tapi tadi Lydia gak sengaja melihat pesan diponsel Ryan dari Dayat jika hari ini ada meeting pagi dengan dewan direksi diperusahaan mertuanya. Ryan yang diabaikan hanya diam lalu menghela nafasnya, dia gak tau bagaimana caranya membujuk istrinya. Ryan mencari ponselnya niat awalnya untuk meliaht internet untuk mencari cara membujuk istrinya tapi saat melihat pesan dari Dayat dia terkejut setelah itu buru-buru masuk kedalam kamar mandi. Saat Ryan mau berangkat ternyata Lydia sudah selesai menyiapkan makanannya.


"Makan dulu sebelum berangkat."kata Lydia.


Ryan tak menjawab dia langsung duduk lalu memakan makanan yang disiapkan oleh Lydia tanpa banyak bicara. Lydia tau jika suaminya sedang marah tapi dia gak mungkin membatalkan janjinya dengan Kevin karena ini juga berkaitan dengan hubungan Rima dan Kevin. Lydia gak mau jika Rima dan Kevin tak jadi menikah hanya karena mantan istrinya Kevin yang gak tau diri itu.


"Aku sudah berangkat."kata Ryan sambil bangun lalu mencium kening Lydia lama.


"Kak.."kata Lydia membuat Ryan membalikkan badannya.


"Ada apa?"kata Ryan.


"Aku boleh pergi menemui temanku kan?"kata Lydia.


"Pergilah tapi jangan pulang malam-malam."kata Ryan terpaksa memberikan izin pada Lydia agar istrinya itu gak marah.


"Iya, tapi aku boleh pulangnya kesini saja ya?"kata Lydia.


"Kenapa?"kata Ryan sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku pengen disini saja boleh ya?"kata Lydia padahal Lydia gak mau jika kedua mertuanya tau jika mereka berdua masih belum baikkan.


"Aku ikut kamu saja pulang kemana asal jangan pulang ke Bogor dulu, nanti kabarin saja pulang kemana. Aku berangkat dulu takut kesiangan."kata Ryan.


"Makasih kak."kata Lydia sambil tersenyum.


"Iya."kata Ryan.


Ryan sebenarnya gak rela jika Lydia pergi tapi dia gak bisa apa-apa, saat meeting Ryan gak fokus sama sekali membuat Dayat sering menyenggol lengan atasannya itu agar Ryan sadar dari lamunannya untung saja meeting itu berjalan lancar karena Dayat bisa menghendelnya.


"Yan, keruangan kakak bentar sebelum kamu pergi."kata Anton yang tau kalau adiknya itu dari tadi gak fokus.


"Iya kak."kata Ryan.


Mereka bertiga berjalan menuju ruangan Anton, saat mereka hampir sampai ada seorang perempuan yang sengaja menumpahkan minumannya pada Ryan. Ryan yang sudah tidak ada muat itu kesal dan menyuruh Dayat untuk mengurus perempuan itu.


"Yat, urus perempuan ini aku gak mau liat dia disini."kata Ryan membuat kedua pria dan perempuan itu terkejut karena Ryan gak biasa berkata seperti itu.


"Kamu yakin Yan?"kata Anton memastikan karena perempuan itu yang memasukkan ke perusahaan adalah Ryan sendiri.


"Aku yakin perempuan yang hanya mencari kesempatan bukan bekerja dengan benar gak pantas berada dikantor ini."kata Ryan sambil pergi gitu saja.


"Tuan saya mohon jangan pecat saya, saya gak sengaja tadi."kata perempuan itu memohon pada Anton.


"Jangan pikir aku gak tau kamu sengajakan menumpahkan minuman tadi, perempuan kayak kamu itu banyak aku temui. Kalau bukan karena Ryan yang minta kamu dulu gak mungkin bekerja disini. Zain kamu urus perempuan ini, Yat kamu ikut aku saja."kata Anton.


"Baik tuan, ayo kamu ikut aku."kata Zain.


Anton dan Dayat menyusul Ryan masuk kedalam ruangan Anton, Ryan yang kesal melampiaskan kepada kedua pria itu membuat Anton mengerutkan keningnya kenapa adiknya itu uring-uringan gak biasanya Ryan seperti ini. Ryan biasanya selalu tenang kalau sedang ada masalah.


"Kamu ini kenapa?"kata Anton.


"Aku gak papa kok."kata Ryan.


"Kalau gak papa kenapa uring-uringan kayak gitu? Kamu ada masalah sama Lydia?"kata Anton.


"Gak ada, sudah kakak tadi ngapain suruh aku kesini?"kata Ryan yang gak mau buang-buang waktu.


"Aku mau tau kenapa saat meeting tadi kamu gak fokus gak biasanya kamu kayak gini."kata Anton.


"Aku hanya pusing dengan masalah diperusahaan yang gak selesai-selesai, apalagi aku ingin Lydia cepat sembuh dari traumanya. Tapi kalau masalah ini disini gak selesai bagaimana aku bisa mengantar Lydia kembali ke Bogor?"kata Ryan berbohong padahal hatinya sebenarnya khawatir kalau Lydia bertemu dengan pria yang dia telpon kemarin.


"Kalau soal itu kamu gak usah khawatir disini masalahnya sudah selesai kalau soal perusahaanmu kan bisa dihandel oleh Dayat untuk sementara. Soal perusahaan mertuamu memangnya kamu gak punya orang yang bisa dipercaya?"kata Anton.


"Belum ada, nanti aku tanya sama Sandra atau Rima. Kalau kayak gitu ayo kita pergi kembali ke perusahaan Lydia ada banyak pekerjaan yang banyak dikerjakan."kata Ryan mengajak Dayat ke perusahaan Emirat.


Lydia yang bertemu dengan Kevin dan Rima awalnya mereka biasa saja tapi saat kesalahpahaman selesai Lydia seperti obat nyamuk apalagi sekarang mereka bertiga melakukan perjalanan jauh. Lydia mengambil ponselnya lalu tersenyum, dia memutuskan untuk menghubungi Ryan. Ryan yang awalnya kesal saat menerima panggilan dari Lydia langsung tersenyum tapi dia menjawab dengan nada dinginnya.


[Hallo Asalamualikum...]


[Walaikumsalam kakak sedang sibuk gak?]


[Ini ada diperjalanan mau ke perusahaanmu, kenapa?]


[Gak papa aku hanya mau cari teman gabut didalam mobil.]


"Gabut gimana?"kata Kevin mengerutkan keningnya mendengar perkataan Lydia.


"Gimana gak gabut kalau mataku melihat orang bermesraan didepanku daritadi mentang-mentang sudah baikan."kata Lydia membuat Kevin dan Rima tersenyum.


"Siapa suruh gak ajak Ryan?"kata Kevin.


"Mau perang dunia apa?"kata Lydia.


[Perang dunia apa?]


[Gak ada kak, kakak dengerin saja dulu ya.]

__ADS_1


"Wah ada yang takut suami ni Rim."kata kevin.


__ADS_2