
"Aku masih belum percaya diri Yan, kamu maukan bantu aku?"kata Anton membuat Ryan menghela nafasnya.
"kali ini aku bantuin kakak tapi lain kali kakak coba mengambil keputusan sendiri kalau gak yakin boleh tanya pendapat saja tapi kalau ikut campur dalam mengambil keputusan aku gak ikut."kata Ryan yang ingin pelan-pelan melepas kakaknya agar bisa mengelola perusahaan ayah Danny sendiri.
"Aku janji kali ini saja minta kamu ikut campur diperusahaan."kata Anton yang tau jika Ryan ingin lepas dia agar bisa mengambil keputusan sendiri.
"Baiklah, nanti setelah Lydia tidur aku ke kamar kakak sekarang aku mau kembali ke kamar dulu."kata Ryan.
"Memangnya Lydia gak bisa tidur kalau gak ada kamu disampingnya Yan?"kata bunda Airin.
"Biasanya kalau traumanya kambuh dia akan minum obat yang dikasih oleh dokter tapi kemarin kami lupa membawa obat karena buru-buru."kata Ryan.
"Ya sudah kalau kayak gitu kamu cepat susul ke kamar gih takutnya Lydia gak bisa istirahat."kata bunda Airin.
"Iya bun, kalau kayak gitu aku naik keatas dulu."kata Ryan.
Ryan bangun lalu meninggalkan keluarganya untuk kembali ke kamarnya. Saat dikamarnya ternyata istrinya sedang berbaring diranjang sambil main ponsel. Ryan menyusul Lydia berbaring diranjang membuat istrinya itu memandang kesamping saat melihat itu Ryan dia tersenyum.
"Kenapa lama nyusulnya?"kata Lydia manja membuat Ryan tersenyum.
"Maaf ya tadi bicara sama kak Anton katanya ada yang mau dia bicarakan tentang perusahaan. Kamu kan tau sejak ditipu dulu kak Anton kalau mau ambil keputusan selalu tanya sama aku dulu takut kalau dia salah lagi."kata Ryan menjelaskan panjang lebar.
"Sampai kapan kak Anton selalu tergantung padamu kak? Kalau dia bergantung terus sama kamu nanti kalau kamu ambil alih perusahaan bukannya malah tambah sibuk gak ada waktu lagi buatku."kata Lydia.
"Insyaallah waktu buatmu akan selalu ada gak berkurang sayang."kata Ryan sambil memeluk istrinya erat.
"Kalau misalnya aku sembuh dan gak kerja lagi diperusahaan papa bagaimana? Aku mau jadi ibu rumahtangga saja apa kamu izinin kak?"kata Lydia membuat Ryan terdiam.
Lydia tau jika Ryan terdiam membuatnya mengerti kalau Ryan sedang bingung mau mengizinkan dia berhenti kerja tapi untuk saat ini pekerjaan Ryan sendiri masih banyak gak bisa ditinggal.
"Kalau kamu gak izinin gak papa kok kak, aku bisa ngerti untuk saat ini pekerjaanmu masih banyak dan gak bisa mengelola perusahaan papaku."kata Lydia sambil tersenyum membuat Ryan memandang istrinya gak percaya.
__ADS_1
"Makasih sayang kamu ngertiin aku, aku janji setelah mereka bisa aku lepas kamu bisa jadi ibu rumahtangga saja yang saat aku pulang menyambutku dengan senyumanmu."kata Ryan sambil mempererat pelukkannya pada Lydia.
"Aku tunggu saat itu datang kak, aku ngantuk kak mau tidur."kata Lydia.
"Ya sudah tidur tapi setelah kamu tidur aku tinggal kamu sebentar gak papa ya? Aku mau bicara sama kak Anton soal perusahaan."kata Ryan yang diangguki oleh Lydia.
Lydia berbaring mencari tempat yang nyaman untuk tidur, Lydia selalu nyaman jika tidur dipeluk oleh Ryan dan wajahnya dia sembunyikan didada bidang suaminya itu. Lydia memeluk erat Ryan dan tak lama kemudian dia sudah tertidur membuat Ryan tersenyum. Ryan mencium kening Lydia lama sambil membisikkan "I love you" ditelinga istrinya yang sedang tertidur pulas. Ryan beruntung bisa mendapatkan Lydia yang baik, pengertian dan mandiri. Ryan melepaskan pelukan Lydia dan mengantikan tubuhnya dengan guling saat dirasa Lydia sudah terlelap. Ryan keluar kamar menuju ruang keluarga ternyata disana hanya ada papa dan kakaknya, Ryan duduk disamping Anton.
"Lydia sudah tidur dek?"kata Anton.
"Sudah kak, yang lain kemana memangnya?"kata Ryan yang tak melihat bunda, mbak Shinta dan Jono berada disana.
"Mereka ke kamar duluan katanya sudah ngantuk apalagi besok mbakmu ada terapi pagi."kata ayah Danny.
"Oalah tadi kakak mau aku melihat berkas apa?"kata Ryan.
"Ini kamu baca tadi aku juga sudah tanya sama ayah dan ayah sudah setuju tinggal kamu saja bagaimana?"kata Anton.
"Kamu yang lebih tau perusahaan itu."kata ayah Danny membuat Ryan penasaran memangnya itu perusahaan milik siapa.
Ryan membaca proposal itu dan tersenyum saat itu perusahaan siapa yang mengajak kakaknya kerjasama.
"Kalau ini setuju saja kak, apalagi kalau kakak bisa mendapatkan putrinya pasti akan lebih bahagia lagi."kata Ryan sambil tersenyum.
"Kamu ini memang ya, aku gak mau memiliki hubungan sama rekan bisnis nanti malah jadi gak bener."kata Anton.
"Gak bener bagaimana kak? Gak benar atau kakak masih belum mengikhlaskan kepergian Tiara?"kata Ryan membuat Anton tersenyum.
"Kamu ini ngomong apasih, aku hanya belum menemukan perempuan yang cocok denganku."kata Anton.
"Baiklah, baiklah tapi aku akan senang kalau kamu bisa sama putrinya pak Pras."kata Ryan tersenyum karena Ryan tau jika pak Pras berharap jika Anton bisa jadi menantunya.
__ADS_1
"Kamu ini orang kita saja belum pernah ketemu sama putrinya sudah berharap lebih."kata Anton membuat Ryan tersenyum begitupun ayah Danny.
"Kapan kalian akan meeting membahas soal kerjasama ini?"kata Ryan yang kasian dengan kakaknya jika dia jahili terus.
"Lusa, kamu mau ikut meeting?"kata Anton.
"Maaf kak kalau lusa aku gak bisa ikut soalnya aku ada rencana mau mengantar Lydia ke Bogor. Aku juga sudah menemukan art jadi mau ninggalin Lydia disana sendirian aku bisa tenang."kata Ryan.
"Aku dengar kamu beli rumah disana memangnya benar?"kata ayah Danny.
"Iya yah, kontrakan yang Lydia tempati sudah aku beli tapi Lydia gak tau kalau aku membeli rumah itu."kata Ryan membuat ayah Danny dan Anton tersenyum.
"Aku gak menyangka jika adikku yang terkenal dingin dan cuek bisa bucin sama Lydia."kata Anton sambil tersenyum.
"Aku juga gak tau tapi memang Lydia sudah merubah hidupku menjadi lebih berwarna dan lagi dia juga menyadarkan aku kalau aku harus bisa membagi waktuku untuk keluarga tidak hanya tentang kerja saja."kata Ryan membuat ayah Danny tersenyum.
"Kamu nanti kalau sudah mendapatkan tambatan hati juga sama bucinnya sama Ryan, asalkan saja kamu bisa dapat perempuan yang baik bukan perempuan yang hanya menginginkan hartamu."kata ayah Danny.
Mendengar ayah Danny berkata begitu membuat Ryan teringat tentang Clara perempuan yang sudah mengejek Lydia dan selalu mengolok-olok Lydia.
"Kamu kenapa dek kok diam saja?"kata Anton yang melihat Ryan terdiam.
"Aku mau tanya sama kakak soal Clara."kata Ryan membuat Anton tersenyum.
"Tenang saja perempuan ular itu sudah ada ditanganku, tinggal sebentar lagi kita bisa kerjain tu perempuan."kata Anton.
"Aku bisa minta tolong sama kamu lagi gak kak soal Clara?"kata Ryan.
"Kamu mau minta tolong apa katakan?"kata Anton.
"Kamu caritau apa Clara ada hubungannya juga dengan trauma yang diderita Lydia."kata Ryan membuat kedua pria yang ada didepannya terkejut.
__ADS_1