Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Bertemu Tina dan Dahlia diresto


__ADS_3

"Yah padahal kami mau ikut gabung, iya gak mbak?"kata Tina meminta dukungan mama Dahlia.


"Iya."kata mama Dahlia canggung karena disana ada Lydia.


"Maaf kami mau segera pulang, Lydia masih ada yang harus dilakukan buat persiapan acara ultahnya."kata mama Intan.


"Ya sudah kalau kayak gitu, oh ya mbak tumben gak pesan kue di aku?"kata Tina tak tau malu.


"Aku serahkan semuanya ke pihak yang bertanggungjawab mengurus acaranya, aku gak mau ribet."kata mama Intan.


"Ma, ayo katanya mau pergi?"kata Lydia mengajak mamanya pergi daripada mamanya mempermalukan Tina dan Dahla.


"Ya sudah ayo, maaf ya kami permisi dulu."kata mama Intan.


Mereka berempat langsung pergi darisana, didalam mobil Lydia hanya menghera nafasnya. Sedangkan mama Intan kesal karena dia gak bisa membalas perbuatan kedua perempuan itu yang sudah sennaknya mefitnah dan mengolok-olok putrinya.


"Sudah dong ma, Lydia saja sudah gak masalah soal itu."kata papa Irwan mencoba menenangkan istrinya itu agar tak marah-marah.


"Mama gak terima pa."kata mama Intan.


"Sudah dong ma, aku gak papa kok. Memangnya mama mau punya besan seperti tante Dahlia?"kata Lydia.


"Ih ogah Dahlia tu memang pantesnya sama Tina."kata mama Intan.


"Lalu menurut mama besan seperti apa yang pantas sama mama?"kata papa Irwan ingin tau.


"Yang bisa nyambung bicara sama mama dan dia gak sok kaya."kata mama Intan yang membuat papa Irwan dan Lydia tersenyum.


"Kalau kayak gitu sudah gak usah kesal lagi sama mereka, biar saja mereka mau apa yang penting mama gak ikut-ikuutan kayak merek."kata papa Irwan.


"Iya kata papa benar ma, kalau mama balas mereka berarti mama seperti mereka."kata Lydia.


"Tapi mama kesal sama mereka pa."kata mama Intan tetap kekeh dengan pendiriannya.


"Kalau mereka berbuat seperti itu lagi nanti mama bisa balas mereka sekarang kita kasih kesempatan mereka buat memperbaiki diri dulu."kata papa Irwan.


"Baiklah kalau sampai mereka melakukan perbuatan yang seperti kemarin mama akan balas mereka lebih kejam daripada yang mereka lakukan kalian gak bisa lagi menahan mama."kata mama Intan.


"Baiklah nyonya kami patuh pada anda."kata papa Irwan sambil hormat pada istrinya membuat mama Intan tersenyum karena tingkah suaminya itu.


"Maaf kalau saya ganggu, kita mau langsung pulang atau mau kemana?"kata mang Soleh.


"Kita langsung pulang saja mang, aku mau istirahat. Nanti malam mau bertemu sama temanku."kata Lydia.


"Memang kamu mau naik apa? Mobilmu masih dibengkelkan?"kata mama Intan.


"Suruh anterin mang Soleh kalau gak gitu aku pakai mobil papa."kata Lydia.


"Memangnya kalian mau kemana?"kata papa Irwan.


"Aku mau pergi ke warung nasi goreng yang biasa kami datangi saat masih kuliah."kata Lydia.


"Nanti bawain mama 1 bungkus ya."kata mama Intan.


"Mamang mau gak?"kata Lydia.


"Gak usah paling nona pulang malam, nanti mamang pasti sudah tidur."kata mang Soleh.


"Mamang saja yang ditanya papa gak?"kata papa Irwan.


"Memangnya papa mau? Biasanyakan gak mau sama makanan kayak gitu."kata Lydia.


"Enak pa gak? Kalau enak sekali-kali papa mau makan."kata papa Irwan.


"Ya sudah nanti aku bungkusin buat kalian."kata Lydia.


Sampai dirumah Lydia langsung saja naik keatas untuk pergi ke kamarnya, sampai dikamar dia mau mandi setelah itu mau berbaring sebentar agar badannya gak lelah lagi.


Benar saa baru saja dia merebahkan diri diranjang Lydia sudah masuk ke alam mimpi. Beda lagi dengan Ryan yang baru dikantor bukannya fokus kerja tapi dia malah tersenyum-senyum sendiri. Dia baru tersadar dari lamunannya saat pintu ruangannya diketuk seseorang dari luar.


"Masuk."kata Ryan dari dalam ruangannya.


"Tante gak ganggu kamu kan Yan?"kata Naya.


"Tante, kok kesini gak bilang sih? Ayo duduk tan, tante gak ganggu kok."kata Ryan.


"Kalau aku bilang mau kesini kamu pasti akan bilang sama Hendru."kata Naya.


"Memangnya apa yang ingin tante sampaikan kok Hendru gak boleh tau?"kata Ryan penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh tante Naya.


"Tante mau minta pendapatmu, bagaimana menurutmu kalau kami langsung menikahkan Hendru?"kata mama Intan yang langsuung membuat Ryan terkejut.


"Memangnya Hendru gak papa tan?"kata Ryan takut jika dia salah memberikan pendapat karena ini menyangkut hidup seseorang.


"Makanya tante mau minta tolong sama kamu, coba kamu tanya bagaiamana perasaan Hendru sama Widya."kata Naya.


"Kalau dia menyukai gadis itu bagaimana tan?"kata Ryan.


"Kalau dia menyukai Widya maka kami akan langsung menikahkan mereka."kata Naya.


"Baiklah memangnya rencananya kapan kalian mau melamar Widya ke kampungnya?"kata Ryan.

__ADS_1


"Dua hari lagi."kata Naya.


"Ya ampun tan itu cepat sekali, nanti coba aku tanya bisa bertemu sama dia gak soalnya akhir-akhir ini dia sibuk dengan kampus dan perusahaan bukannya mau ditinggal buat acara Hendru sama Widya."kata Ryan.


"Iya, tante mohon sama kamu soalnya tante gak tau lagi harus minta tolong sama siapa lagi kamu kan tau kalau Aziz juga sangat sibuk sama perempuan-perempuan gak bener itu.'kata Naya.


"Iya tan, aku akan usahakan."kata Ryan.


"Ya sudah kalau kayak gitu tante mau pamit pulang dulu."kata Naya.


"Iya, hati-hati tan."kata Ryan.


Naya langsung meninggalkan ruangan Ryan, saat dia masuk lift bertepatan dengan Hendru yang keluar dari ruangannya ingin bertemu Ryan. Hendru melihat mamanya tapi kok mamanya gak mencari dirinya tapi tadi dia gak sengaja melihat kalau beliau keluar dari ruangan Ryan. Hendru langsung saja membuka ruangan Ryan membuat pemuda itu terkejut karena baru saja dia foks dengan pekerjaannya.


"Ndru kamu ngagetin aku saja tau gak."kata Ryan kesal karena Hendru masuk begitu saja.


"Memangnya kenapa ini kan perusahaanku jadi aku bebas mau apa?"kata Hendru.


"Iya ini memang perusahaanmu, tapi ini ruanganku. Ada apa kamu kesini?"kata Ryan.


"Nih, kamu baca saja sendiri."kata Hendru sambil menyerahkan dokumen yang dia bawa.


"Apa ini?"kata Ryan.


"Kamu baca saja sendiri, oh ya mamaku ngapain kesini?"kata Hendru.


"Kamu tau kalau tante Naya kemari?"kata Ryan.


"Iya, tadi saat mau kesini aku melihat mama keluar dari ruangan ini, mau aku tanya beliau sudah masuk lift."kata Hendru.


"Dia mau tau apa kamu menyukai Widya atau gak?"kata Ryan.


"Memangnya kenapa gitu?"kata Hendru.


"Tante Naya gak mau jika kamu terpaksa menikah dengan Widya. Kasian dia kalau kamu menikahinya hanya karena perjodohan dari keluarga pasti Widya akan tertekan."kata Ryan.


"Gak ada alasan aku untuk tak menyukainya Yan. Dia baik, sederhana dan polos. Beberapa hari aku mengenalnya rasanya aku sudah nyaman dan selalu ingin melindunginya."kata Hendru.


"Syukurlah kalau begitu."kata Ryan.


"Kamu gak mau bantuin perusahaan oranngtuamu?"kata Hendru.


"Kamu dengar darimana soal ini?"kata Ryan yang gak nyangka kalau Hendru sudah mengetahui semua ini.


"Jadi ini yang buat kamu langsung pergi kemarin."kata Hendru.


"Kamu tau sendirilah bagaimana kak Anton sifatnya, dia kemarin baku hantam sama ayahku."kata Ryan.


"Memangnya apa masalahnya?"kata Hendru.


"Lalu kenapa kamu gak mau bantu mereka?"kata Hendru.


"Biar saja mereka menyelesaikannya sendiri, aku gak mau ikut campur. Kamu tau kalau sampai aku datang ke perusahaan dan membantu apa yang akan dilakukan kak Anton."kata Ryan.


"Bukannya kamu yang berhak atas perusahaan itu karena kamu anak kandung orangtuamu?"kata Hendru.


"Sudahlah gak usah bahas soal itu, bagaimana perasaan kamu mau menikah?"kata Ryan.


"Ada rasa takut dan gugup. Takut kalau aku gak bisa buat dia bahagia."kata Hendru.


"Aku yakin kamu bisa, hanya saja yang gak aku yakin tu waktu buat bersama dia pasti akan susah secara kamu sibuk megang perusahaan dan kampus."kata Ryan.


"Bagaimana kalau persahaan ini kamu saja yang pegang?"kata Hendru.


'Ogah, perusahaanku sendiri saja terbengkalai malah aku megang perusahaan ini."kata Ryan yang langsung membuat Hendru tersenyum.


"Untung banget yang jadi istrimu nanti.'kata Hendru.


"Beruntung bagaimana?"kata Ryan yang gak mengerti dengan perkataan Hendru.


"Karena kamu bisa membangun kerajaan bisnis kamu sendiri tak seperti aku yang hanya tinggal menikamti."kata Hendru.


"Mempertahankan itu lebih susah daripada merintis tau gak?"kata Ryan.


"Baiklah tuan muda, tapi setidaknya kamu bantu mereka."kata Hendru setelah berkata begitu dia langsung keluar dari ruangan Ryan.


Ryan sendiri setelah kepergian Hendru langsung berpikir benar apa yang dikatakn Hendru. Bukannya dia bisa membantu diam-diam lagian perusahaan yang dia rintis juga sudah berkembang dan mereka gak tau kalau itu adalah perusahaan miliknya. Ryan langsung saja mengambil ponselnya untuk menghubungi Dayat. Untung saja hanya sekali panggilan Dayat langsung menangkat panggilan dari Ryan.


[Hallo ada apa tuan menghubungi saya?]


[Kamu bisa bantu perusahaan ayahku ajak mereka kerjasama dan jangan sampai mereka tau jika itu perusahaan milikku.]


[Baik tuan saya akan coba untuk menghubungi perusahaan milik orangtua anda, apa ada lagi yang ingin tuan lakukan?]


[Nanti saja saat pulang kerja kita bertemu untuk membahas soal masalah ini.]


[Oh ya tuan ada masalah dengan toserba kita, saya sudah kirim laporan keuangan ke email anda. Saya juga sudah menyelidiki dan memang ada salah satu manager kita yang sudah melakukan penggelapan dan juga sudah curang.]


[Curang bagaimana maksutmu?]


[Dia memasukan produk lain tanpa sepengetahuan kita dan parahnya lagi itu masuk kantongnya sendiri keuntungnnya.]

__ADS_1


[Baiklah nanti kita bahas lagi soal ini saat kita bertemu karena lebih leluasa membahas semuanya daripada lewat panggilan.]


[Baiklah kalau begitu mau bertemu dimana tuan?]


[Ditempat biasanya saja.]


[Baik tuan, apa ada lagi yang bisa saya kerjakan tuan?]


[Kamu cari tau perusahaan yang sudah menipu kakakku itu, sudah itu saja aku tutup panggilannya aku masih ada pekerjaan lain.]


[Baik tuan.]


Ryan setelah mengakhiri panggilan dengan Dayat langsung saja fokus dengan pekerjaannya. Saat dia melihat ada email masuk dia hanya membiarkannya saja, dia akan melihat email itu setelah menyelesaikan pekerjaannya disini. Saat waktunya pulang kerja dia langsung saja membereskan pekerjaannya dan langsung saja keluar dari ruangannya. Dia keluar ruangan bersamaan dengan Hendru yang keluar dari ruangannya.


"Kamu mau kemana setelah ini Yan?"kata Hendru.


"Aku mau ketemu sama Dayat ada masalah ditoserbaku ada apa?"kata Ryan.


"Aku mau ajak kamu kumpul dengan yang lain mumpung aku belum cuti."kata Hendru.


"Maaf ya aku gak bisa soalnya sudah ada janji sama Dayat. Kamu sih tadi gak bilang saat masuk keruanganku."kata Ryan.


"Orang Aziz ngajaknya barusan."kata Hendru.


"Memangnya dia gak sibuk apa?"kata Ryan.


"Gak kayaknya, nanti kalau selesai cepat nyusul saja dicafe Dion."kata Hendru.


"Siplah kalau kayak gitu."kata Ryan.


Mereka berdua berpisah masuk ke dalam mobil masing-masing dan pergi ketempat yang mereka tuju. Saat Ryan sampai ditempat janjianya dengan Dayat ternyata Dayat sudah datang tapi dia tak sendirian.


"Maaf kalian nunggu lama ya tadi jalanan macet."kata Ryan.


"Gak papa tuan, oh ya tuan kenalkan ini Zen asistennya tuan Anton."kata Dayat.


"Kamu kenal dia darimana?"kata Ryan yang takut kalau Zen gak bisa jaga kepercayaannya dan akan membocorkan tentang semua ini.


"Tenang saja tuan dia teman saya masa kuliah, dialah orang yang saya bicarakan waktu itu."kata Dayat.


"Jadi dia yang akan bantu kita?"kata Ryan.


"Iya tuan saya akan bantu sebisa saya."kata Zen.


"Lalu soal perusahaan yang menipu kakakku itu bagaimana?"kata Ryan.


"Waktu itu saya sudah memperingatkan pak Anton tapi dia malah memaki-maki saya. Dia bilang kalau sampai dia berhasil maka ayah anda akan memujinya."kata Zen.


"Kamu beritau kak Anton dengan cara apa?"kata Ryan.


Zen bukannya menjawab dia malah mengambil sesuatu didalam tasnya dan langsung memberikan sebuah berkas pada Ryan. Ryan langsung menerimanya dan membaca berkas itu, dia terkejut karena itu dibuat oleh perusahaan saingan ayahnya.


"Apa yang akan kita lakukan tuan?"kata Zen.


"Kita selesaikan masalah perusahaan dulu baru setelah itu kita balas mereka."kata Ryan.


"Apa gak sebaiknya kita balas mereka sekarang tuan?"kata Zen.


'Maksutmu Zen?"kata Ryan.


Zen langsung mengambil laptopnya dan memasukkan alamat ip disana langsung saja terbuka website milik perusahaan saingan mereka. Dayat yang melihat itu langsung mengambil alih dan mereka menemukan jika perusahaan itu mengelapkan pajak.


"Baiklah lakukan apa yang menurut kalian benar."kata Ryan.


"Oh ya tuan saya boleh tanya sesuatu?"kata Zen.


"Tanya saja gak usah takut."kata Ryan.


"Kenapa tuan tidak bekerja diperusahaan tapi malah kerja diperusahaan lain? Kalau tuan tidak kecelakaan waktu itu mungkin tuan yang akan jadi atasan saya."kata Zen.


"Itu sudah jadi keputusanku, aku lebih suka bekerja ditempat orang lain lebih bebas daripada diperusahaan sendiri."kata Ryan.


"Oh ya apa anda mengenal pak Damar?"kata Zen yang langsung membuat Ryan terkejut.


"Aku tau dia adik dari mamanya kak Anton kamu tau darimana dia?"kata Ryan.


"Beliau sering datang dan meminta uang pada pak Anton, beliau juga yang banyak mengambil keputusan diperusahaan. Bu Sinta yang sering bertengkar dengan beliau makanya bu Sinta gak betah bekerja diperusahaan karena pak Anton dan pak Damar seenaknya sendiri."kata Zen.


"Kamu awasi terus om Damar, aku yakin perubahan sikap kak Anton ada campurtangannya om Damar. Bagaimana Yat sudah?"kata Ryan.


"Sudah tuan, saya juga sudah menghapus jejak agar tidak bisa dilacak dan saya yakin jika sebentar lagi akan ada bom meledak."kata Dayat.


"Baiklah aku percaya dengan kalian berdua, Zen tugas kamu berat sekarang awasi om Damar dan lindungi mbak Sinta."kata Ryan.


"Baiklah kalau gitu aku pergi dulu, aku ada janji buat kumpul sama Hendru dan yang lain."kata Ryan.


"Baik tuan kami akan mengurus ini semua."kata Dayat.


Ryan langsung meninggalkan tempat itu dan langsung menuju cafe milik Dion sudah lama mereka tak kumpul sama-sama karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Tuan Ryan baik ya."kata Zen.

__ADS_1


"Iya tapi dia bisa kejam kalau ada orang yang mengkhianatinya."kata Dayat.


"Aku tau bisa terlihat dari sorot matanya."kata Zen.


__ADS_2