
"Memangnya gak papa mbok?"kata Lydia yang gak enak hati.
"Gak papa non, sudah sana istirahat dikamar. Oh ya tadi tuan menghubungi mbok, tuan tanya nona kemana kok gak bisa dihubungi?"kata mbok Marni.
Lydia mengambil ponselnya yang berada didalam sakunya ternyata benar apa kata si mbok kalau sejak tadi Ryan menguhubunginya. Lydia merasa bersalah pada Ryan pasti suaminya itu khawatir padanya, Lydia mengucapkan terimakasih pada si mbok setelah itu berjalan menuju kamarnya sambil berusaha untuk menghubungi Ryan. Benar saja saat Lydia hampir saja ketiduran ponselnya berbunyi, Lydia mengambil ponselnya dengan semangat karena mengira itu panggilan dari Ryan ternyata bukan yang menghubunginya adalah papanya.
[Hallo asalamualikum pa?]
[Walaikumsalam kamu kemana saja kok Ryan malah menghubungi papa bertanya soal perusahaan diSurabaya?]
[Maaf pa, tadi aku ke bawah membeli barang kebutuhanku dan ponselku aku silent jadi gak dengar saat kak Ryan menghubungiku.]
[Kamu ini, untung saja papa tadi baru selesai meeting kalau belum bagaimana?]
[Maaf pa, aku juga gak sengaja kok jadi aku yang disalahin sih?]
[Memang kamu harus disalahin karena kamu yang salah.]
[Iya deh iya aku yang salah maaf.]
[Minta maaf sama Ryan sudah dibantuin dihubungi malah gak diangkat.]
[Kak Ryan aku hubungi gak dia angkat pa.]
[Mungkin dia sedang meeting tadi katanya dia mau meeting sama karyawan kita. Ya sudah kalau kayak gitu papa tutup panggilannya.]
Lydia menghera nafasnya kesal karena sebelum dia berbicara panggilannya sudah ditutup duluan, Lydia berpikir apa kayak gini perasaan Ryan saat dia tutup duluan. Lydia menghera nafas lalu memejamkan matanya kembali setelah menyimpan ponselnya. Beda lagi dengan Ryan yang ada diruangan meeting dibuat pusing dengan karyawan diperusahaan istrinya. Baru kali ini dia masuk sudah dibuat pusing dengan penolakan ide yang dia berikan kepada para anggota dewan karena menurutnya keputusannya salah dan dia gak ada hak diperusahaan itu. Ryan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri meeting itu tanpa ada hasil.
Ryan memutuskan kembali keruangan yang dulu ditempati oleh Lydia diikuti oleh pak Purnomo dan Dayat. Ryan duduk disofa sambil menyandarkan punggungnya sambil menutup matanya. Pak Purnomo merasa kasian dengan Ryan pasti dia sekarang bebannya sangat berat memikirkan perusahaan ini belum lagi perusahaannya sendiri yang belum selesai masalahnya.
"Maaf tuan kalau saya tidak bisa membantu banyak?"kata pak Purnomo membuat Ryan membuka matanya.
"Pak, apa saya boleh tanya?"kata Ryan.
"Boleh tuan, silahkan saja tuan mau bertanya apa pada saya?"kata pak Purnomo.
"Selama Lydia tak disini siapa yang menjadi panutan para anggota dewan?"kata Ryan.
"Pak Hendra tuan anggota dewan yang paling lama disini tapi saya curiga pada beliau kalau kasus kebocoran produk perusahaan ada kaitannya dengannya."kata pak Purnomo mengatakan kecurigaannya.
"Bapak punya bukti gak kita gak bisa asal tuduh begitu saja takutnya malah salah orang nanti?"kata Ryan.
__ADS_1
"Saya belum punya karena saya mau punya bukti tapi saya akan menyelidikinya tuan."kata pak Purnomo.
"Sambil menunggu bukti kita juga harus menyelesaikan masalah ini segera gak bisa menunda lagi semakin lama akan bertambah besar masalahnya."kata Ryan.
"Coba tuan menghubungi nona Lydia siapa tau dia punya ide."kata pak Purnomo.
"Sebentar."kata Ryan sambil mengambil ponselnya.
Ryan menghubungi video call karena dia pikir bisa sekalian bicara sama pak Purnomo. Tapi dia malah dikejutkan dengan keadaan Lydia yang sedang mandi.
[Ada apa kak?]
[Kamu sudah selesai belum? Aku mau bicara sama kamu.]
[Inikan sudah bicara bicara saja kenapa sih?]
[Ada pak Pur juga disini.]
[Apa?]
Ryan tersenyum saat melihat wajah terkejut Lydia yang menurutnya imut, Lydia menutup ponselnya dan bangun dari bak mandi. Lydia menyalakan kran untuk membersihkan sabun dari badannya. Ryan yang mendengar suara gemericik air menghera nafasnya karena pikiarannya sudah berpikir kemana-mana. Untung saja Ryan langsung memakai handset saat melihat Lydia mandi jadi pak Purnomo dan Dayat tak mendengar. Lydia memakai handuknya setelah itu mengambil ponselnya yang dia letakkan diwastafer.
[Hehehe maaf ya lama nunggunya.]
[Ish siapa yang mau mengoda orang aku baru selesai mandi makanya gak pakai baju, lagian kalau aku goda suamiku sendiri memangnya gak boleh?]
[Ly, awas saja kamu ya kalau aku sudah pulang.]
[Memangnya mau apa?]
[Nanti saja sekarang kamu pakai baju dulu kasian pak Purnomo sedang menunggu.]
[Baiklah, tunggu sebentar 15menit ya?]
[5menit.]
[Ish 5menit gak cukup buat aku dandan emangnya kamu mau aku hanya pakai baju rumahan bicara sama karyawan?]
[Itu lebih baik.]
[Ish pokoknya 15 menit lagi.]
__ADS_1
Lydia meletakkan ponselnya diatas ranjang membuat Ryan menghera nafasnya, Ryan menatap pak Purnomo dan Dayat yang sedang fokus memperhatikannya. Ryan tau kalau mereka pasti sedang kebingungan kalau Dayat sudah tau kalau dia dan Lydia sudah menikah. Sedangkan pak Purnomo belum tau dengan pernkahan mereka berdua.
"Maaf ya pak menunggu lama Lydianya baru selesai mandi."kata Ryan.
"Maaf tuan kalau saya boleh tau anda dan nona Lydia ada hubungan apa sebenarnya?"kata pak Purnomo penasaran.
"Saya suaminya Lydia pak tapi yang tau pernikahan itu hanya orangtua saya dan orangtua Lydia saja. Kami akan mengumumkan pernikahan kami saat ulang tahun Lydia nanti."kata Ryan.
"Oalah, selamat ya tuan maaf saya tidak tau sebelumnya. Pantas saja anda mau mengurus perusahaan ini padahal anda sendiri harus mengurus perusahaan anda."kata pak Purnomo.
"Itu sudah biasa pak, lagian walaupun tuan punya usaha sendiri selama ini dia lebih memilih menjadi asisten pribadi temannya."kata Dayat.
"Benar itu tuan?"kata pak Purnomo yang gak habis pikir dengan Ryan yang sudah punya usaha sendiri tapi tetap mau bekerja diperusahaan orang lain
"Buat nambah pengalaman saja pak."kata Ryan sambil tersenyum.
"Kalau semua anak muda seperti tuan pasti negara kita akan maju."kata pak Purnomo.
"Kalau semuanya seperti saya nanti orangtuanya bingung pak. Soalnya gak tau mana anaknya karena semuanya sama."kata Rya.
"Tuan ini bercanda saja."kata pak Purnomo.
Saat mereka sedang asik mengobrol Ryan terkejut dengan suara cempleng milik istrinya, membuat Dayat dan pak Purnomo tersenyum karena Ryan mengambil ponselnya sambil mengelus dadanya.
[Ish kakak tu ngapain sih aku panggil panggil gak dengar?]
[Maaf sayang, aku lagi ngobrol sama pak Purnomo.]
[Kakak mau bahas apa tadi?]
[Oh ya tunggu sebentar aku louspeker biar pak purnomo juga bisa dengar suaramu.]
Ryan melepas hansetnya dari telinga setelah itu melouspeker panggilan itu supaya pak Purnomo dan Dayat mendengar suara Lydia.
[Sudah sayang.]
"Pak Purnomo bisa bicara sendiri dengan Lydia."kata Ryan sambil meletakkan ponselnya didepan pak Purnomo dia juga pindah duduk disebelah beliau.
"Maaf nona kalau saya menganggu anda?"kata pak Purnomo.
[Gak papa kok pak, bapak bisa bicara dengan saya apa masalahnya?]
__ADS_1
Pak Purnomo menjelaskan semua masalah yang terjadi membuat Lydia terkejut, Lydia meminta pendapat Ryan. Ryan memberikan ide bagaimana kalau Lydia datang keSurabaya karena dugaan Ryan salah kalau dia bisa menangani perusahaan milik Lydia tapi nyatanya malah terjadi banyak perdebatan. Lydia memutuskan untuk ke Surabaya tapi Ryan harus jemput dia dibandara dan Ryan menyetujuinya.
Lydia setelah mengakhiri panggilannya setelah dapat izin dari suaminya kalau dia bisa ke Surabaya. Lydia mengambil tasnya setelah memesan taksi online, Lydia keluar kamar untuk minta izin sama mbok Marni kalau dia akan menyusul Ryan. Awalnya mbok Marni terkejut tapi saat tau kalau tuannya sudah mengizinkan nonanya menyusul dia gak bisa berbuat apa-apa.