
Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi Dayat karena hanya dia yang bisa melihat siapa yang memiliki kedua rek itu. Ryan lebih memilih menghubungi Dayat karena bisa dia liat jika Dayat lebih cekatan daripada Dio. Itu menurutnya tapi dia juga tak tau bagaimana Dio bekerja sebab Dio bukan bawahannya. Untung saja Dayat langsung mengangkat panggilan itu karena Dayat takut jika terjadi sesuatu dengan atasannya itu.
[Hallo ada yang bisa aku bantu?]
[Kamu sibuk gak? Aku ada kerjaan buatmu segera selesaikan biar aku cepat menyusul istriku ke Bogor.]
[Kamu dimana kok nyusul nyonya? Memangnya tugas apa?]
[Kamu caritau dua rek bank milik siapa yang no reknya sudah aku kirim ke kamu lewat pesan. Sekarang aku ada diperusahaan Jono membantunya mengurusi korupsi disini.]
[Memangnya Jono kemana kok kamu yang mengurusi masalah itu?]
[Jono menyusul mbak Shinta ke Bandung, dia mau melakukan pengobatan tradisonal untuk penyembuhan kakinya.]
[Baiklah aku kerjakan secepatnya. Eh tunggu nyonya pergi ke Bogor sama siapa?]
[Dia pergi sama Aziz, aku tadi mau menyusul tapi dipertengahan jalan Jono menghubungiku dan minta bantuanku.]
[Kenapa kamu gak menolaknya saja bukannya Lydia lebih penting ya?]
[Lydia memang penting tapi aku juga gak bisa menolak keinginan Jono kasian dia.]
[Kamu ini gak takut apa jika Lydia malah trauma dan gak percaya lagi sama kamu karena kamu selalu saja mengingkari janji dan hanya janji-janji saja gak menepatinya?]
[Aku juga takut, tapi mau bagaimana keadaan yang gak memungkinkan.]
[Seharusnya kamu yang lebih tegas sama mereka jangan terus-terusan mengalah. Aku takut jika suatu saat kamu akan menyesal jika Lydia pergi.]
[Kamu doakan aku Yat, aku juga ingin tegas sama mereka tapi aku gak bisa biar bagaimanapun mereka keluargaku tapi aku juga gak ingin membuat Lydia kecewa.]
[Ya sudah terserahmu saja, aku tutup dulu panggilannya setelah mendapatkan nama pemilik rek itu aku akan kasih tau kamu. Sekarang kamu selesaikan masalahmu disana secepatnya.]
[Iya, aku matikan dulu panggilannya.]
Ryan mematikan panggilan dengan Dayat setelah itu kembali fokus dengan pekerjaannya. Saat Ryan sedang fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba ada seseorang masuk keruangannya sambil berdebat dengan sekertaris Jono.
"Ada apa ini?"kata Ryan dingin.
Perempuan yang berdebat itu memandang kearah Ryan, sekertaris Jono ketakutan sedangkan perempuan tadi terkejut karena yang ada didalam bukannya Jono tapi orang lain.
"Maaf tuan, saya sudah bilang sama perempuan gatal ini tapi dia tetap memaksa masuk."kata sekertaris Jono.
"Jaga mulutmu, aku bukan perempuan gatal ya. Asal kamu tau saja sebentar lagi aku akan menjadi istri kak Jono."kata Sella.
Perkataan Sella itu membuat Ryan memandang tajam kearah perempuan itu tapi Sella tak takut sama sekali. Sella menganggap kalau Ryan itu hanya bawahan Jono membuat sekertaris Jono ketakutan dengan tatapan Ryan.
"Memangnya dia siapa?"kata Ryan bertanya sama sekertaris Jono.
"Bukannya aku sudah bilang kalau aku ini calon istrinya kak Jono. Orangtua kami juga sudah setuju dengan pernikahan kami."kata Sella dengan pedenya.
"Benarkah?"kata Ryan sambil mengangkat alisnya.
"Iya, kalau gak percaya kamu tanyakan saja sama atasanmu. Eh tapi buat apa dia menjelaskan rencana kami dengan bawahan sepertimu?"kata Sella sombong.
Ryan tak bertanya lagi sama Sella, dia memutuskan untuk mengambil ponselnya lalu menghubungi orangtua Jono untuk mencaritau kebenaran dari ucapan Sella. Orangtua Jono yang sedang berkumpul dengan keluarganya terkejut saat melihat panggilan dari Ryan, mereka khawatir jika terjadi sesuatu dengan menantunya karena mereka tau akhir-akhir ini anak dan menantunya sering berdebat.
[Hallo Asalamualikum...]
[Walaikumsalam... maaf ya om kalau Ryan ganggu liburan om.]
[Gak papa kok Yan, ada apa? Apa ada masalah dengan anak dan menantuku?]
[Apa om dan tante merencanakan pernikahan Jono dengan perempuan yang bernama Sella?]
[Gak, dulu sebelum Jono menikah sama Shinta sempat kami mau menjodohkan dengan Sella. Tapi itu hanya ucapan saja tak ada pertemu atau pembicaraan yang serius tentang pernikahan itu. Memangnya ada apa kok nak Ryan bertanya seperti itu?]
[Ini perempuan yang bernama Sella ada diruangan Jono dan mengaku kalau dia adalah calon istrinya Jono. Memangnya dia gak tau kalau Jono sudah menikah dengan Shinta?]
[Dia tau nak, maafkan kami nak sudah buatmu kerepotan ini salah kami. Kami gak menyangka jika Sella masih berharap padahal orangtuanya juga biasa saja.]
[Ya sudah om, kalau begitu saya tutup dulu panggilannya.]
Ryan mematikan panggilan itu lalu menyimpan kembali ponselnya sambil memandang kearah Sella. Sedangkan Sella hanya biasa saja tak takut sama sekali dengan tatapan itu karena dia masih menganggap kalau Ryan hanya seorang bawahan. Saat mereka saling pandang satu sama lain Dio masuk kedalam ruangan itu karena dia mau memberitau kalau tadi Dayat mengirim pesan ke email Ryan tapi saat dihubungi ponsel Ryan sedang sibuk. Dio terkejut karena disana ada Sella.
"Ngapain kamu kesini?"kata Dio dingin.
"Mana kak Jono?"kata Sella angkuh.
"Dasar perempuan gak tau malu bukannya tuan Jono bilang jauhi dia tapi kamu masih saja datang kemari."kata Dio.
"Kamu itu gak ada hak buat melarangku. Akan aku pastikan kak Jono akan menjadi miliku sebentar lagi."kata Sella.
__ADS_1
"Dasar perempuan tak tau malu."kata Dio.
"Kamu itu hanya seorang bawahan gak ada hak buat mengataiku akan aku pastikan kamu akan kehilangan pekerjaanmu setelah Jono menjadi milikku."kata Sella penuh percaya diri.
"Itu gak akan mungkin terjadi."kata Dio yakin.
"Sebentar lagi pasti kak Jono akan berlutut meminta bantuanku supaya perusahaan ini gak bangkrut."kata Sella membuat Ryan hanya mengelengkan kepala sedangkan Dio malah tersenyum.
"Kamu yakin atau malah kamu dan keluargamu yang akan kehilangan perusahaan. Memangnya aku gak tau kalau perusahaanmu bergantung pada perusahaan RAM corp."kata Dio membuat Ryan memadang Dio
"Memangnya kenapa lagian perusahaan itu percaya penuh sama perusahaan kami. Malah perusahaan ini yang harusnya pusing karena sebentar lagi akan mengalami kebangkrutan."kata Sella dengan tenang.
"Maaf tuan, saya sampai lupa kalau tujuan saya kesini untuk memberitau kalau Dayat mengirimkan pesan ke email tuan."kata Dio membuat Sella terkejut karena Dio memanggil pria yang ada didalam tadi dengan sebutan tuan.
"Makasih, aku akan liat dulu emailnya setelah itu akan mengurusi perusahaan perempuan itu."kata Ryan membuat Sella terdiam tapi kedua bawahan Jono hanya tersenyum karena mereka berdua yakin jika Ryan gak akan membiarkan begitu saja Sella dan keluarganya mengganggu rumahtangga Shinta dan Jono.
Ryan tak memperdulikan ketiga orang yang ada didalam sana karena dia memilih untuk fokus dengan laptop yang ada didepannya. Ryan membuka email yang dikirim oleh Dayat lalu tersenyum ternyata pemilik rek itu adalah dua karyawan yang ada diperusahaan itu tapi Ryan belum tau siapa mereka.
"Yo, kamu panggilkan pak Koco dan pak Budi."kata Ryan.
Sella yang mendengar nama kedua pria itu terkejut karena Sellalah yang menghasut kedua pria itu untuk melakukan korupsi. Ryan yang melihat wajah terkejut Sella hanya tersenyum, dia juga semakin yakin kalau korupsi ini ada kaitan dengan Sella. Saat Ryan sedang mengamati wajah Sella terdengar kalau ada email masuk lagi ke laptopnya. Ryan langsung saja membuka email yang masuk itu lalu tersenyum karena uang itu ternyata mengalir ke rek Sella juga.
Saat Ryan sedang tersenyum Dio datang dengan kedua pria yang diminta untuk datang oleh Ryan. Kedua pria itu terkejut karena didalam sana ada Sella dan pria yang duduk disofa bukan Jono melainkan orang lain. Pak Budi tau jika itu adalah Ryan asisten pribadi Hendru ada apa dia berada disini.
"Ini tuan orang yang tuan suruh panggil."kata Dio.
"Makasih, kalian tau apa yang membuatku memanggil kalian kesini?"kata Ryan.
"Maaf tuan kami gak tau memangnya ada apa tuan memanggil kami kemari?"kata pak Budi.
"Kalian yakin gak tau apa yang membuatku memanggil kalian kemari?"kata Ryan dingin membuat pak Budi takut sedangkan pak Koco hanya biasa saja.
"Memangnya siapa anda seenaknya saja memanggil kami?"kata pak Koco.
"Pak jaga ucapan anda."kata Dio.
"Dia bukan siapa-siapa disini jadi buat apa saya hormat pada pria muda ini?"kata pak Koco.
"Pak dia..."kata Dio tak jadi meneruskan perkataannya karena Ryan menghentikannya.
"Saya bukan siapa-siapa tapi saya bisa membuat kalian masuk penjara bukan hanya kalian tapi juga anda nona."kata Ryan dingin.
"Kamu siapa gak usah sok berkuasa disini."kata pak Koco.
"Memangnya kamu tau apa? Bukannya perusahaan ini baik-baik saja?"kata pak Koco yang daritadi terus berbicara sedangkan pak Budi hanya diam saja.
"Yakin?"kata Ryan tersenyum.
"Maafkan saya tuan, saya hanya ikut rencana pak Koco dan Sella. Mereka berdua yang membujuk saya supaya memalsukan data agar perusahaan ini bangkrut dengan begitu tuan Jono akan minta bantuan pada perusahaan orangtua Sella dengan syarat supaya Jono menikah dengan Sella."kata pak Budi.
"Pak, awas kamu ya."kata Sella.
"Kamu ini apa-apaan sih Bud."kata pak Koco yang marah dengan pengakuan pak Budi.
"Saya gak mau berurusan dengan tuan Ryan, tuan Ryan bisa melakukan apa saja pada keluarga saya hanya dengan perkataan saja."kata pak Budi.
"Siapa tuan Ryan? Buat apa kamu takut sama dia? Bukannya aku sudah bilang akan melindungi keluargamu?"kata Sella.
"Hanya seorang asisten dari taun Hendru."kata Ryan membuat pak Koco dan Sella terdiam.
"Kenapa kalian berdua terdiam?"kata Ryan.
"Gak papa, kamu tuan Ryan?"kata pak Koco.
"Iya, aku Ryan. Kenapa mendengar namaku kalian seperti ketakutan?"kata Ryan.
"Maafkan saya tuan, saya hanya diminta oleh Sella untuk melakukan korupsi itu."kata pak Koco ketakutan.
"Kamu akan menyesal pak."kata Sella geram.
"Bukannya sebelum diminta oleh Sella, kamu sudah sering melakukan korupsi itu pak?"kata Ryan memandang pak Koco tajam.
"Tuan bicara apa saya hanya kemarin saja melakukan korupsi itu?"kata pak Koco membuat Ryan tersenyum.
"Benarkah lalu ini apa?"kata Ryan sambil bangun untuk mengambil kertas yang baru dia print lalu Ryan lempar pada pak Koco.
Pak Koco mengambil kertas itu dengan tangan bergetar, pak Koco gak menyangka jika perbuatannya bisa diketahui oleh Ryan dalam waktu sekejab. Pak Budi juga gak menyangka jika Ryan bisa secepat itu mengetahui korupsi itu padahal selama ini Jono saja baru saja mengetahui apa yang mereka lakukan saat perusahaan benar-benar kacau.
"Kalian kembalikan semua yang sudah kalian ambil dari perusahaan ini dan pertanggungjawabkan perbuatan kalian dipenjara. Yo, kamu tau apa yang harus kamu lakukan."kata Ryan.
"Baik tuan, kalian berdua masuk dan ikut aku bawa mereka ke kantor polisi."kata Dio.
__ADS_1
Saat para satpam itu menangkap kedua pria paruhbaya itu Sella diam-diam kabur dari ruangan itu. Ryan yang tau jika Sella pergi hanya tersenyum, saat Dio menyusul Ryan menghentikannya.
"Yo, kamu urus kedua pria itu soal Sella nanti saja dulu."kata Ryan.
"Baik tuan, kalau begitu saya ikut mereka ke kantor polisi."kata Dio.
Dio ikut keluar dari ruangan itu sedangkan sekertaris Jono tak diizinkan oleh Ryan keluar dari ruangan itu karena ada yang mau dia bahas.
"Ada yang bisa saya bantu,tuan?"kata sekertaris Jono.
"Kamu tau siapa yang pantas mengantikan kedua pria tadi?"kata Ryan.
"Maaf tuan saya gak berani mengatakan takut kalau pendapat saya salah. Bagaimana kalau tuan mengadakan rapat pada karyawan yang lain untuk menanyakan pendapat mereka?"kata sekertaris Jono.
"Boleh juga nanti kalau Dio datang kamu suruh masuk kedalam ruangan ini."kata Ryan.
"Baik tuan, apa ada lagi yang bisa saya bantu?"kata sekertaris Jono.
"Sudah gak ada kamu bisa kembali ke tempatmu."kata Ryan.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan."kata sekertaris Jono.
Sepeninggalan sekertaris Jono, Ryan menyandarkan punggungnya sambil menghela nafas. Ryan berharap supaya masalah ini cepat diselesaikan agar dia bisa segera menyusul Lydia ke Bogor. Sedangkan diBogor Lydia dan Aziz sudah sampai dikontrakan. Lydia terkejut dengan keadaan kontrakan yang sudah berubah tak seperti saat dia meninggalkan rumah itu. Bu Narti yang baru keluar dari rumah Lydia membuat perempuan paruhbaya itu tersenyum lalu berjalan menghampiri Lydia dan Aziz.
"Sudah sejak tadi saya tunggu kedatangannya, tadi nak Ryan menghubungi ibu kalau kalian mau datang kesini."kata bu Narti.
"Kak Ryan bicara apa bu?"kata Lydia.
"Dia hanya bilang kalau kamu datang dan menyuruh ibu agar membantumu sampai suamimu datang."kata bu Narti.
"Syukurlah kalau begitu saya bisa tenang meninggalkan Lydia disini."kata Aziz.
"Kakak gak mau menginap disini memangnya gak capek apa?"kata Lydia.
"Capek dek, tapi diJakarta pekerjaanku sudah menunggu. Aku mau istirahat sebentar disini nanti sore baru kembali ke Jakarta."kata Aziz.
"Ya sudah kalau gitu ayo masuk, ibu sudah buatin makanan buat kalian."kata bu Narti mengajak mereka untuk masuk kedalam rumah.
"Ibu rumahnya yang mana ya?"kata Aziz bertanya sambil masuk ke dalam rumah Lydia.
"Rumah ibu ada disebelah ini, ibu hanya tinggal sendiri karena kedua anak ibu gak dirumah yang satu sudah menetap diSurabaya sedangkan yang satu kuliah diluar negeri alhamdulilah dapat beasiswa."kata bu Narti.
"Walah hebat anak-anak ibu, tenang saja sekarang ada aku yang akan menemani disini selama aku melakukan pengobatan."kata Lydia sambil tersenyum.
"Iya, ibu senang kalau butuh apa-apa kamu bisa bilang sama ibu kalau ibu bisa akan membantu."kata bu Narti.
"Makasih bu, saya senang kalau ibu mau membantu saya disini sebab saya tak kenal siapapun disini."kata Lydia.
"Saya titip adik saya bu, jika dia nakal ingatkan atau cubit saja dia."kata Aziz.
"Kamu ini memang ya mana aku nakal."kata Lydia.
"Kamu memang gak nakal tapi dibilangin susah sekali."kata Aziz membuat bu Narti tersenyum.
Bu Narti tersenyum karena teringat dengan kedua anaknya yang saat dirumah selalu bertengkar satu sama lain. Lydia yang melihat bu Narti tersenyum sendiri mengerutkan keningnya.
"Ibu, kok senyum-senyum sendiri ada apa?"kata Lydia bertanya pada bu Narti.
"Ibu teringat dengan kedua anak ibu dulu saat berada dirumah dia sama seperti kalian yang selalu berdebat kalau bersama tapi kalau jauh mereka akan mencari satu sama lain."kata bu Narti.
"Ah ibu bisa saja kami tak sedekat itu."kata Lydia.
"Ya sudah nanti lagi bicaranya sekarang kita makan dulu saja ayo."kata bu Narti.
Mereka berdua berjalan menuju meja makan untuk makan bertiga sambil bercanda tawa. Bu Narti juga sedikit-sedikit mengetahui apa yang dialami Lydia sehingga bu Narti bisa menjaga dan mengingatkan Lydia. Setelah istirahat sejenak dan hari sudah mulai sore Aziz berpamitan pada kedua perempuan itu. Saat diperjalanan Aziz mencoba menghubungi Ryan karena temannya itu bilang kalau akan datang saat sore tiba. Setelah beberapa kali Aziz menghubungi tapi Ryan tak mengangkat hingga saat Aziz sudah putus asa Ryan baru mengangkat panggilan itu.
[Hallo Asalamualiku...]
[Walaikumsalam... Kamu ada dimana?]
[Aku ada diruang pertemuan setelah ini baru melakukan perjalanan ke Bogor.]
[Kamu ingkar janji lagi Yan, jangan sampai malam ini kamu gak datang kasian Lydia sendirian. Kalau kamu gak janji untuk datang mungkin dia gak berharap jika kamu gak datang rasa sakit dan luka itu pasti ada dan lama-lama akan meledak.]
[Doakan saja setelah ini aku bisa kesana, aku juga gak mau menyakiti istriku tapi kamu tau sendiri aku gak bisa menolak kalau ada yang meminta pertolonganku.]
[Aku tau tapi sekarang kamu sudah menjadi seorang suami, seharusnya kamu tau siapa yang lebih dahulu kamu utamakan.]
[Iya maaf, aku akan mencoba apa yang kamu nasehatkan ini. Makasih sudah mau mengingatkanku.]
[Gak perlu terimkasih sama aku, aku hanya mau yang terbaik buat kalian berdua. Ya sudah kalau kayak gitu aku tutup panggilannya aku ada diperjalanan ke Jakarta ini.]
__ADS_1
[Ya sudah hati-hati dijalan.]
Ryan setelah mematikan panggilan itu kembali fokus dengan pekerjaannya mengurusi masalah yang ada diperusahaan Jono. Untung saja masalah itu bisa diselesaikan saat itu juga tapi Ryan baru bisa menyelesaikan pekerjaan diperusahaan itu walaupun sampai malam. Malam itu juga Ryan berangkat ke Bogor, tapi sebelum itu dia memberi kopi dan juga camilan agar dia tak mengantuk dijalan.