
Tari yang melihat kalau Lydia mengeluarkan black card langsung saja terdiam ternyata teman Sandra memang benar-bear orang kaya sedangkan Sandra langsung saja terdiam. Sandra penasaran bagaimana Lydia mendapatkan kartu itu padahal perusahaan orangtuanya bukan dibidang itu. Selesai membayar mereka langsung saja kembali ke mobil.
"Kamu dapat kartu itu darimana?"kata Sandra.
"Dari kak Aziz kemarin."kata Lydia.
"Aku pikir dari siapa kartu itukan pemilik supermarket ini tapi gak ada yang tau siapa orangnya."kata Sandra.
"Maksutmu bagaimana aku gak ngerti?"kata Lydia.
"Supermarket ini pemiliknya sama dengan toserba tempatmu bekerja kemarin."kata Sandra membuat Lydia langsung terkejut.
"Darimana kamu tau soal ini?"kata Lydia.
"Ih kamu gak nonton berita apa selama ini, kartu yang kamu pakai itu yang punya hanya keluarga dan teman dekat pemilik supermarket ini."kata Sandra.
"Kamu yakin gak bohongkan?"kata Lydia.
"Ngapain aku bohong sama kamu."kata Sandra.
"Aku akan tanya sama kak Aziz siapa pemilik toserba itu kalau gak gitu aku akan tanya kak Hendru."kata Lydia.
"Kenapa kak Hendru?"kata Sandra bingung.
"Karena kak Hendru pernah bekerja menjadi audit ditoserba, aku yakin dia tau soal ini."kata Lydia membuat Sandra menganggukan kepalanya.
Mereka berbicara sampai tak sadar jika mereka sampai dirumah yang mereka akan tinggali. Rumahnya terlihat sederhana tapi nyaman untuk ditinggali. Sandra yang melihat rumah itu sudah kagum mungkin bagi sebagian orang rumah itu adalah rumah sederhana tapi bagi Sandra itu adalah rumah impiannya.
"Eh kok malah ngelamun sih?"kata Lydia.
"Ini beneran rumah yang akan kita tinggali?"kata Sandra.
"Beneranlah memangnya kenapa sih?"kata Lydia bingung.
"Katamu kita akan tinggal dirumah yang sederhana?"kata Sandra.
"Memang ini rumah sederhanakan?"kata Lydia.
"Ih kamu itu ini bagiku bukan sederhana tapi mewah karena ini rumah impianku."kata Sandra.
"Seriusan?"kata Lydia.
"Iya kalau kamu pasti rumah ini sederhana karena rumahmu yang disana bagus banget."kata Sandra.
"Sudah gak usah bahas itu ayo kita masuk aku sudah capek banget ini."kata Lydia.
"Iya sudah nanti biar aku saja yang nata belanjaannya saja kamu istirahat."kata Sandra.
"Benerean gak papa?"kata Lydia.
"Gak papalah aku tau kalau kamu kecapekan."kata Sandra.
Mereka akhirnya membawa koper dan juga belanjaan mereka masuk, belanjaannya mereka letakkan dulu dimeja makan setelah itu lanjut naik keatas menuju kamar mereka.
"Kamu mau pilih kamar yang mana?"kata Lydia.
"Aku mau yang diujung itu kayaknya pemandangannya bagus deh."kata Sandra.
"Terserah kamu saja aku dikamar ini kalau mencariku."kata Lydia.
__ADS_1
"Iya kamu istirahat saja jika capek kelihatannya rumah ini sudah dibersihkan sebelum kita datang?"kata Sandra.
"Iya, memang mamaku kemarin nyuruh orang buat beres-beres rumah ini. Kemarin dia juga mau mencarikan kita art tapi aku gak mau."kata Lydia.
"Nanti kita bagi tugas saja gak usah pakai art segara."kata Sandra.
"Siap bu bos, tapi kalau bagian masak kamu saja ya aku gak pandai soal itu nanti biar aku yang bagian nyuci."kata Lydia.
"Iya, sudah sana masuk katanya tadi capek istirahat sana."kata Sandra.
Lydia setelah itu langsung masuk ke kamarnya begitu pun dengan Sandra yang masuk ke kamarnya yang sudah dia pilih tadi. Lydia sampai kamar langsung saja membongkar kopernya untuk mencari handuk dan pakaian dia ingin mandi tapi dia langsung teringat jika peralatan mandinya ada dibawah. Lydia langsung saja pergi ke bawah ternyata disana ada Sandra yang sedang menata belanjaan mereka tadi.
"Katanya tadi mau istirahat kok malah kesini?"kata Sandra yang melihat Lydia mendekatinya.
"Mau ambil peralatan mandiku, aku mau mandi habis itu baru istirahat."kata Lydia.
"Itu alat mandimu, oh ya kamu mau diamasakin apa?"kata Sandra.
"Apa saja yang penting enak, memangnya kamu mau masak sekarang?"kata Lydia.
"Ya gaklah."kata Sandra.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku tinggal keatas gak papa kan?"kata Lydia.
"Iya bawel."kata Sandra membuat Lydia langsung saja tersenyum lalu meninggalkan Sandra sendirian disana.
Lydia selesai mandi langsung saja merebahkan diri diranjang tak lama dia sudah tertidur. Beda lagi dengan Ryan yang sedang sibuk dengan peluncuran produk terbarunya. Untung saja Aziz mau membantunya untuk memberikan sepatah dua patah kata kalau gak mungkin dia akan memaksa Hendru untuk berbicara. Ditengah-tengah acara Kevin datang menghampiri Ryan membuat Ryan terkejut.
"Loh kamu kok ada disini?"kata Ryan yang terkejut karena Kevin menghampirinya.
"Iya aku dapat undangan, bagaimana kalau kita bicara sekarang saja kamu gak lagi sibukkan?"kata Kevin yang ingin segera mendapatkan pekerjaan karena perusahaannya gak bisa ditolong lagi.
"Aku sudah gak punya kerjaan perusahaanku benar-benar bangkrut, aku kesini untuk mencari kerja apakah ada lowongan kerja diperusahaanmu atau Hendru?"kata Kevin.
"Mau aku panggil Hendru bagaimana?"kata Ryan.
"Boleh, tapi apa dia mau bertemu denganku?"kata Kevin.
"Aku yakin dia mau bertemu denganmu, sebentar kamu tunggu disini."kata Ryan yang langsung pergi meninggalkan Kevin sendirian untuk memanggil Hendru.
Saat Ryan sudah didekat teman-temannya dia malah ditanya oleh teman-temannya kenapa Kevin datang. Akhirnya dia lama menjawab dan membuat Kevin menunggu lama. Kevin sudah mau pergi darisana tapi saat melihat Ryan dan Hendru datang kearahnya kevin mengurungkan niatnya.
"Maaf ya buatmu menunggu lama."kata Ryan yang gak enak hati.
"Gak papa kok, apa kabar Ndru?"kata Kevin.
"Kabarku baik, aku sudah mendengar tentangmu dari Ryan. Aku mau memberikanmu pekerjaan asal kamu juga mau membantuku."kata Hendru.
"Apa yang kamu inginkan?"kata Kevin.
"Bantu aku buat jauhi Rima dariku aku gak mau rumahtanggaku hancur karena dia."kata Hendru.
"Aku akan mencobanya tapi aku gak tau apa rencananya padamu, Rima itu licik bisa sewaktu-waktu jebak kamu kalau kamu lenggah sedikit saja."kata Kevin.
"Jangan bilang kamu dulu juga dijebak sama Rima, Vin?"kata Aziz yang datang mendekati mereka bertiga bersama Dion.
"Kalau itu aku saja yang bodoh kemakan rayuan dia dan meninggalkan orang yang benar-benar tulus padaku. Tapi sudahlah nasi sudah menjadi bubur gak bisa diulang lagi."kata Kevin sambil menghera nafas.
"Jadikan itu pelajaran, kayaknya kita harus menjebak Rima deh?"kata Aziz.
__ADS_1
"Aku mah terserah kalian tapi jangan lama-lama bikin rencananya takutnya malah dia duluan yang jebak Hendru."kata Kevin.
"Lalu apa kalian punya ide untuk ini?"kata Hendru.
"Kamu ikuti kemauan Rima."kata Aziz.
"Kamu gila ya gak mungkin aku bisa ikuti kemauan dia."kata Hendru.
"Aziz benar Ndru hanya itu yang bisa kita lakukan untuk saat ini sambil mencari tau apa rencana Rima selanjutnya."kata Kevin.
"Tapi kalau dengan itu dia menjebakku duluan bagaimana?"kata Hendru.
"Kalau itu kami akan membantu buat menyelidikinya, tinggal kamu saja bagaimana meyakinkan Widya."kata Aziz sedangkan Ryan dan Dion gak berani berbicara karena mereka berdua tau jika perempuan itu gak bisa ditebak.
"Baiklah kalau kayak gitu aku ikuti kalian berdua tapi kalau sampai Widya meninggalkanku bagaimana?"kata Hendru.
"Kita gak akan tau sebelum mencobanya."kata Kevin.
Ryan setelah selesai dengan teman-temannya langsung saja pulang ke apartemennya. Dia mencoba menghubungi no Lydia tapi no itu sudah tidak aktif lagi. Ryan menghera nafasnya setelah itu memutuskan untuk mandi selesai mandi bukannya dia berbaring tapi dia lebih memilh duduk dimeja kerjanya membuka laptopnya untuk memeriksa perusahaan ayahnya apakah sudah ada kemajuan atau belum ternyata yang terjadi malah penurunan.
Ryan mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Zen. Zen sendiri saat mendapatkan pesan dari Ryan langsung saja menghubunginya Zen tau jika ada yang ingin ditanyakan oleh Ryan makanya dia mengirim pesan.
[Zen kamu sedang sama kak Anton gak?]
[Tidak tuan saya baru saja pulang, ada apa tuan menghubungi saya?]
[Kamu tau kenapa perusahaan mengalami penurunan yang sangat drastis akhir-akhir ini?]
[Tuan Anton dan nona Sinta bertengkar dan tuan Anton memutuskan untuk membatalkan kerjasama dengan tuan Jono. Kalau terus seperti ini perusahaan akan bangkrut apalagi pak Damar terus saja mengambil uang dari perusahaan.]
[Baiklah makasih infonya aku akan segera menyelesaikan masalah ini.]
Ryan langsung saja menutup panggilan itu, dia lalu mencari menghubungi ayahnya. Dany yang sedang pusing memikirkan perusahaan yang sahamnya terus menurun langsung saja mengangkat panggilan dari Ryan.
[Hallo Asalamualaikum Yan, ada apa tumben menghubungi Ayah?]
[Walaikumsalam, ayah sedang dimana sekarang?]
[Ayah ada diruangan kerja ayah sedang memeriksa saham kita yang sedang turun serta pengeluran uang yang tak tau kemana larinya.]
[Ya bisa minta pengacara keluarga kita buat surat kuasa atas namaku agar om Damar gak bisa terus mengambil uang perusahaan?]
[Maksutmu bagaimana om Damar mengambil uang perusahaan?]
[Aku kirim no rek yang ditransfer dari perusahaan ayah liat sendiri.]
Dany langsung membuka email yang dikirimkan oleh Ryan, betapa terkejutnya dia saat tau kalau semua itu masuk ke rek Damar atas izin Anton. Ternyata Dany salah mempercayakan orang.
[Baiklah besok surat itu akan ada ditanganmu, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau.]
[Tapi jangan sampai kak Anton tau dulu, aku takut dia akan menggagalkan semuanya. Satu lagi bukannya saham milik orangtua kak Anton sama mbak Sinta masih jadi satu sama perusahaan kita yah?]
[Iya, sekalian ayah akan pisahkan saham itu jika Anton minta akan ayah kasih perusahaan cabang itu padanya.]
[Aku ikut ayah kalau soal itu, kalau begitu aku tutup dulu panggilannya besok aku akan coba hubungi perusahaan Jono semoga saja dia masih mau bekerjasama dengan perusahaan kita setelah apa yang dilakukan oleh kak Anton.]
[Iya besok ayah suruh om Salim serahkan langsung ke kamu surat kuasanya.]
Ryan setelah selesai melakukan panggilan dengan ayahnya langsung saja memutuskan untuk istirahat karena badan dan pikirannya sudah lelah. Ternyata dengan melakukan pekerjaan membuat dia bisa mengalihkan pikirannya dari Lydia.
__ADS_1