Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia mengobati luka Ryan


__ADS_3

"Sini biar aku obati lukamu."kata Lydia.


"Nih tapi pelan-pelan ya."kata Ryan.


"Iya, kalau berantem saja berani tapi kalau diobati kesakitan bagaimana sih?"kata Lydia samil membuka kotak p3k untuk mengambil obat.


Lydia menyuruh Ryan untuk menghadapnya agar dia mudah untuk mengobati luka Ryan. Lydia pelan-pelan mngolesi obat ke luka Ryan, Ryan sendiri memandang Lydia tak berkedip membuat Lydia juga terdiam merela saling menatap satusama lain. Tak ada yang tau siapa yang mendekat membuat mereka berciuman dibibir. Lydia hanya diam karena dia gak tau bagaimana caranya berciuman Ryan yang ciumannya tak dibalas oleh Lydia melepaskan ciuman itu.


"Maaf..."kata Ryan.


Lydia tak menjawab dia hanya terdiam membuat Ryan menghera nafasnya. Ryan mengira jika Lydia marah karena menciumnya padahal Lydia berusaha untuk menenangkan hatinya. Lydia tak menyangka jika Ryan akan menciumnya tapi saat dia teringat perkataan maaf Ryan tadi membuat hatinya nyeri karena Lydia pikir Ryan menyesal menciumnya.


"Kita mampir buat makan sebentar ya?"kata Ryan memulai berbicara duluan.


"Memangnya kamu gak papa meninggalkan Shinta lama?"kata Lydia.


"Kenapa sih kamu selalu sebut Shinta lagi Shinta lagi bisa gak gak usah sebut nama itu kalau kita sedang berduaan?"kata Ryan dengan suara kesalnya.


"Oke maaf, aku gak akan menyebut namanya lagi. Memangnya mau makan dimana?"kata Lydia yang tau kalau Ryan kesal. Ryan meraub wajahnya emosinya hilang.


"Kamu mau makan apa?"kata Ryan.


"Apa saja asal enak."kata Lydia.


"Bagaimana kalau kamu masak saja diapartemenku kalau kayak gitu?"kata Ryan.


"Aku gak bisa masak, memangnya kamu mau makan masakanku yang gak enak?"kata Lydia.


"Selama makanan itu bisa dimakan aku akan memakannya."kata Ryan sambil tersenyum.


Ryan tanpa persetujuan Lydia menjalankan mobilnya menuju apartemennya membuat Ryan terkejut. Lydia gak menyangka kalau Ryan benar-benar mengajaknya untuk pulang ke apartemennya.


"Kita beli bahan makanan dulu ya."kata Ryan saat mereka sudah sampai parkiran.


"Memangnya kamu mau makan apa? Tapi jangan yang susah aku gak bisa masak yang susah-susah."kata Lydia.


"Memangnya kamu bisa masak apa?"kata Ryan.


"Makanan rumahan gak papakan?"kata Lydia.


"Baiklah, kalau kayak gitu ayo kita beli bahannya dulu."kata Ryan.


Mereka berdua turun dari mobil menuju supermarket. Saat mereka sampai didepan toko perhiasaan tempat Ziva bekerja Ziva tersenyum licik karena dia tau kalau Ryan hanya bekerja jadi seorang asisten. Ziva berpikir inilah saatnya mempermalukan Lydia.


"Aduh kalian berdua itu pasangan yang serasi tapi sayang banget kalau yang perempuan tak memakai perhiasan."kata Ziva berbicara dengan lantang membuat semua orang yang lewat sana memandang kearah mereka.


"Apa maksutmu?"kata Lydia yang menahan emosinya.


"Iya kamu ini cantik tapi sayang hanya dapat seorang asisten padahal kamu bisa lo dapat CEO. Jadi kamu gak perlu nahan untuk berbelanja perhiasan kamu tau gak perhiasan ditokoku bagus-bagus kemarin Lydia masuk tapi hanya melihat-lihat saja tak membelinya ternyata ada kekasihnya hanya seoarang asisten pantas saja dia gak bisa membelinya."kata Ziva.


"Kamu..."kata Lydia tak jadi melanjutkan perkataannya karena Ryan sudah memegang lengannya.


"Apa kamu mau melihat-lihat ke dalam?"kata Ryan.


"Gak usah kalau aku ingin bisa beli sendiri kok."kata Lydia.


Ryan tak mau mendapat penolakan akhirnya dia menarik tangan Lydia dan memaksanya untuk masuk ke dalam toko perhiasaan itu. Ryan mengatakan pada karyawan itu untuk mengambilkan sepasang cincin untuk mereka berdua.


"Kak apa-apaan sih?"kata Lydia yang gak suka jika Ryan menghambur-hamburkan uang.


"Memangnya kenapa aku gak suka jika kamu diolok olehnya, memangnya dia siapa?"kata Ryan.


"Dia teman sekolahku dulu, dulu memang kami dekat tapi ternyata dia memanfaatkanku saja."kata Lydia.


"Sudah gak perdulikan dia, hari ini kamu mau apa akan aku belikan semua untukmu hari ini."kata Ryan yang malah diejek oleh Ziva.


"Pria sepertimu mana bisa membeli perhiasan disini?"kata Ziva dengan suara sinisnya.


"Kamu jangan mencelanya dia memang seorang asisten tapi apa kamu tau diperusahaan mana dia bekerja?"kata Lydia.


"Aku gak perlu tau dan gak ingin tau, lagian yang namanya asisten tetap saja asiasten dimanapun dia bekerja."kata Ziva.


"Ini tuan cincin yang anda minta."kata karyawan disana.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengeluarkan yang itu mana mungkin dia bisa membelinya itu perhiasaan termahal disini?"kata Ziva yang tau jika cincin itu sangat mahal.


"Kami coba dulu mbak kalau cocok kami ambil cincin ini."kata Ryan sambil tersenyum.


"Palingan juga gak bakalan dibeli."kata Ziva tetap sinis.


"Kamu coba dulu Ly."kata Ryan sambil memasangkan cincin ke jari manis Lydia.


Lydia melihat cincin yang dipasangkan ke jari manisnya itu sangat cantik. Tapi saat mengingat harga cincin itu dia terdiam. Lydia gak mau jika Ryan mengeluarkan uang yang banyak untuknya. Ryan yang melihat Lydia diam saja bingung apakah Lydia suka atau tidak dengan cincin itu.


"Kamu suka apa gak cincin ini?"kata Ryan.


"Aku suka."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Mbak aku ambil ini ya, aku bayar pakai ini bisa."kata Ryan sambil memberikan black card membuat Ziva terkejut.


Lydia yang melihat wajah Ziva terkejut hanya tersenyum saja. Tapi saat itu pula Ziva terseyum karena atasannya datang. Ziva yakin jika kartu yang diberikan kekasih Lydia itu palsu. Tapi saat atasannya itu mendekati Ryan dan membungkukan badannya membuat Ziva terdiam lagi. Saat itu bukan hanya Ziva tapi juga Lydia yang terkejut.


"Tuan, kenapa datang kesini gak kasih tau saya dulu."kata pemilik toko itu.


"Kalau aku kasih tau mau datang, maka aku gak akan tau bagaimana sikap karyawanmu ini."kata Ryan sambil menunjuk Ziva.


"Memangnya dia telah berbuat apa kalau saya tau?"kata pemilik toko.


"Dia telah menghina saya dan juga calon istri saya."kata Ryan.


"Maafkan kami tuan, kamu saya pecat sekarang."kata pemilik toko.


"Tapi pak saya salah apa memang benarkan dia gak akan bisa membeli cincin mahal itu."kata Ziva.


"Kamu terlalu lancang, kamu gak tau siapa dia?"kata pemilik toko.


"Saya hanya tau dia hanya seorang asisten."kata Ziva.


"Kamu salah dia pemilik supermarket dan apartemen yang ada diatas sini."kata karyawan itu membuat Ryan terkejut karena pemilik toko itu mengatakan identitasnya.


Ryan memandang Lydia, sedangkan Lydia memandang Ryan untuk minta penjelasan dari Ryan. Membuat Ryan menghera nafasnya.


"Nanti diapartemen aku akan jelaskan sekarang kita belanja bahan makanan dulu aku lapar."kata Ryan.


"Iya nyonya Ryan."kata Ryan membuat Lydia terseyum karena Ryan memanggilnya begitu.


"Baiklah, tapi cincin ini bagaimana?"kata Lydia menunjukan cincin dijari manisnya.


"Apa bapak sudah memproses pembayaran cincin ini?"kata Ryan.


"Sudah tuan, anda mau kotaknya sekalian atau mau langsung dipakai?"kata pemilik toko.


"Bagaimana kamu mau pakai atau kamu masukkan ke dalam kotak?"kata Ryan.


"Aku pakai saja boleh?"kata Lydia sambil tersenyum.


"Ya sudah gak usah kotaknya pak. Kalau begitu saya permisi dulu, gak usah pecat karyawan bapak ini kasian cari pekerjaan susah bapak beri dia hukuman saja."kata Ryan.


"Baik tuan, ini kartu anda saya kembalikan."kata pemilik toko itu sambil memberikan black card milik Ryan.


Ryan mengajak Lydia keluar dari toko perhiasaan itu untuk menuju supermarket. Lydia mau membuat sup ayam sama sambal terasi itu yang paling mudah dan gampang. Semoga saja nanti hasil masakannya enak jadi dia gak malu sama Ryan.


"Kamu mandi dulu gih, biar aku masak dulu."kata Lydia.


"Memangnya gak papa masak sendirian?"kata Ryan yang gak tega meninggalkan Lydia masak sendirian.


"Gak papa kok, tapi kalau gak enak jangan dimakan nanti."kata Lydia.


"Enak gak enak akan aku makan karena itu masakan calon istriku."kata Ryan.


"Gak usah bicara yang aneh-aneh deh. Memangnya kapan kamu melamarku?"kata Lydia.


"Kalau kamu mau aku ajak menikah aku akan segera membawa orangtuaku ke rumahmu untuk melamarmu."kata Ryan.


"Sudah sana mandi, aku mau masak dulu nanti aku pulang ke malaman lagi."kata Lydia.


"Baiklah, aku mandi dulu."kata Ryan.

__ADS_1


Ryan masuk ke dalam kamarnya untuk mandi sedangkan Lydia memasak makanannya. Saat Ryan kembali ke dapur bertepatan dengan Lydia yang selesai masak dan sedang menghidangkan makanannya dimeja makan.


"Baunya enak nih, aku gak sabar buat makan."kata Ryan.


"Gak usah mengolokku deh, kamu mau minum kopi atau teh?"kata Lydia.


"Bikinin aku kopi ya."kata Ryan.


"Baiklah tunggu sebentar, kamu bisa makan duluan kalau mau."kata Lydia.


"Nanti saja makan bareng kamu."kata Ryan.


Lydia selesai membuatkan minuman buat Ryan dia langsung saja duduk kembali ke meja makan. Dia juga mengambilkan makanan Ryan membuat pria itu tersenyum. Lydia harap-harap cemas dengan masakan pertamanya, Ryan tersenyum saat merasakan masakan itu ternyata masakan Lydia enak banget.


"Bagaimana?"kata Lydia.


"Enak, kalau tiap hari aku dimasakan kayak gini pasti aku akan gemuk."kata Ryan.


"Kamu bohong"kata Lydia yang gak percaya jika makanannya enak.


"Kalau kamu gak percaya coba kamu rasakan."kata Ryan sambil menyuapi Lydia. Membuat Lydia terpaksa menerima suapan dari Ryan.


"Bagaimana enak kan?"kata Ryan.


"Ya sudah makan lagi aku bikin banyak kok."kata Lydia.


Saat mereka sedang menikamti makan malam itu ponsel Ryan berbunyi. Ryan melihat ternyata bundanya yang menghubunginya. Ryan mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualaikum bun...]


[Walaikumsalam kamu dimana sayang?]


[Aku diapartemen ada apa bun?]


[Kamu ke Rumah Sakit sekarang Yan, mbakmu..]


[Mbak kenapa bun?]


[Kamu segera kesini saja Yan, bunda gak bisa katakan diponsel]


[Baiklah aku kesana sekarang.]


Ryan menghera nafasnya saat mengakhiri panggilan itu. Lydia yang melihat kalau Ryan cemas langsung saja bertanya ada apa dengan pria itu.


"Kamu kenapa Yan?"kata Lydia.


"Aku harus ke Rumah Sakit tadi katanya terjadi sesuatu sama Shinta."kata Ryan.


"Ya sudah kamu pergi saja sekarang, kamu bawa sop ya sebentar aku taruh diwadah."kata Lydia bangun dari duduknya menuju dapur.


Saat Lydia menunanggkan sup ayam kedalam wadah, Ryan memeluknya dari belakang membuat Lydia terkejut.


"Yan, kamu kenapa?"kata Lydia khawatir.


"Biarkan seperti ini sebentar saja."kata Ryan.


Lydia saat mendengar perkataan Ryan, mendiamkan apa yang mau Ryan perbuat. Tapi tangannya tetap memasukkan sup itu dalam wadah yang dia siapkan.


"Kamu jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi nanti."kata Ryan sambil mencium bahu Lydia.


"Kamu kenapa?"kata Lydia berbalik badan dan menangkup wajah Ryan.


"Aku gak papa kok."kata Ryan.


"Yan, apa benar yang dikatakan oleh pemilik toko tadi kalau kamu pemilik supermarket dan apartemen ini?"kata Lydia.


"Iya aku pemiliknya."kata Ryan.


"Kalau kamu khawatir aku akan marah karena kamu bohong tentang ini aku gak akan marah tenang saja."kata Lydia.


"Makasih ya."kata Ryan.


"Sudah, katanya tadi mau ke Rumah Sakit."kata Lydia.

__ADS_1


"Aku anterin kamu dulu baru aku ke Rumah Sakit."kata Ryan.


__ADS_2