
Hendru, Ryan dan Adi beragkat untuk ke pabrik saat ditengah perjalanan ponsel Ryan berbunyi, Ryan sambil menyetir melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari suaminya. Ryan tersenyum lalu mengangkat panggilan video itu, Lydia yang melihat kalau suaminya sedang didalam mobil mengerutkan keningnya.
[Kak, kamu ada mau kemana?]
[Aku ada diperjalan mau menuju ke pabrik Hendru mau menyelesaikan masalah.]
[Memangnya masalah apa kak kalau aku boleh tau?]
[Itu asisten pribadinya Hendru menandatangani perjanjian buat mengirim stok tapi tak melihat tanggalnya dan waktu kirimnya 2hari lagi padahal perjanjian awal 2minggu lagi.]
[Loh kok bisa gitu memangnya saat menandatangani perjanjian itu tak dibaca dulu?]
[Aku juga gak tau, Rina juga sama. Aku pusing kalau kayak gini kapan aku bisa lepas tangan dari perusahaan Hendru padahal aku pengen pelan-pelan melepas perusahaan Hendru dan perusahaan ayah. Aku mau fokus dengan perusahaanku dan nanti kalau kamu gak mau kerja lagi aku akan mengambil alih perusahaan papa.]
[Kak selesaikan saja dulu perusahaan itu aku gak papa kok masih bekerja asal kamu bantu aku, aku gak mungkin bisa membuat keputusan sendiri kalau dalam keadaan sulit.]
[Iya, kamu mau kemana kok jalan kaki?]
[Hehehe kontrakan aku 15menit dari Rumah Sakit, nanti saat sampai diRumah Sakit aku matikan saja panggilannya ya kalau kakak sedang sibuk?]
[Gak aku mau tau bagaimana keadaanmu, aku mau memastikan kalau kamu baik-baik saja.]
[Kak, aku gak papa kok. Aku hanya mau menenangkan diri saja.]
[Kalau mau menenangkan diri kenapa kamu harus ke Rumah Sakit, bukannya kita bisa liburan ya?]
[Sekarang gini deh, kakak ada waktu buat kita liburan memangnya?]
[Maaf ya kalau akhir-akhir ini aku gak bisa ngajak kamu liburan.]
[Sudah gak usah janji, selesain dulu kerjaanmu.]
[Sayang, jangan marah dong doain aku supaya aku bisa cepat menyelesaikan masalah perusahaan.]
[Iya sudah ya aku matiin sekarang aku sudah ada diRumah Sakit.]
[Gak, aku gak mau kamu matikan panggilannya. Kita ubah panggilan video jadi panggilan suara saja.]
[Baiklah, kalau gitu aku masuk dulu.]
Lydia mengganti panggilan itu menjadi panggilan suara lalu dia berbicara dengan suster untung saja pasien tak banyak jadi Lydia bisa langsung masuk ke dalam ruangan dokter Sari.
__ADS_1
"Pagi setengah siang dok."kata Lydia.
"Pagi Ly, ayo duduk tumben kamu pakai hanset apa sedang melakukan panggilan dengan seseorang?"kata dokter Sari.
"Iya dok, ada yang gak mau aku matikan panggilannya takut kalau terjadi apa-apa pada saya."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.
"Apa itu suamimu Ly?"kata dokter Sari yang diangguki oleh Lydia membuat dokter Sari tersenyum.
"Baiklah kalau kayak gitu mari kita mulai konsultasinya kamu sudah siapkan?"kata dokter Sari.
"Sudah dok."kata Lydia sambil menarik nafasnya.
Kedua perempuan itu memulai konsultasinya bertepatan dengan Ryan yang baru saja sampai pabrik Hendru. Ryan memarkirkan mobilnya lalu setelah itu dia keluar dari dalam mobil untuk menghampiri Hendru dan Adi yang sudah datang lebih dahulu. Mereka bertiga masuk ke dalam pabrik untuk mencari kepala pabrik untuk membicarakan masalah yang sedang dihadapi. Saat Hendru sedang serius menjelaskan masalah mereka yang dikejar date line Ryan malah fokus mendengarkan pembicaraan antara Lydia dan dokter Sari.
Ryan tak menyangka jika istrinya itu banyak tekanan bukan hanya tentang pekerjaan saja tapi juga dengan lingkungan sekitarnya. Ryan akan mencari orang-orang yang sudah membully istrinya lalu dia akan membalas perbuatan mereka satu persatu tanpa sepengetahuan Lydia. Hendru yang tak sengaja memandang Ryan mengerutkan alisnya karena terlihat kalau Ryan sedang banyak pikiran. Hendru yang tak suka menebak-nebak memutuskan untuk bertanya langsung.
"Yan, ada apa denganmu?"kata Hendru membuat Ryan tersadar dari lamunannya.
"Aku tak ada apa-apa memangnya kenapa?"kata Ryan.
"Aku liat kamu gak fokus dengan pembicaraan kita ini, aku yakin kamu sedang memikirkan apa memangnya?"kata Hendru.
"Gak ada kok, aku hanya teringat tadi aku belum pelajari berkas yang dikirimkan oleh papa mertuaku agar aku menemui klien hari ini karena Lydia gak ada diJakarta."kata Ryan membuat Hendru menganggukan kepalanya.
"Kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri kayak gitu?"kata dokter Sari.
"Oh saya tersenyum karena mendengar suami saya sedang berbicara dengan temannya."kata Lydia.
"Saya jadi pengen tau suami kamu atau mungkin saya bisa berbicara dengannya tentang kamu."kata dokter Sari.
"Coba saya tanyakan dulu sama kak Ryan dok."kata Lydia yang dijawab anggukan oleh dokter Sari.
[Kak, sibuk gak?]
[Ada apa?]
Saat Ryan berkata begitu membuat Adi memandang kearah Ryan ingin tau dengan siapa Ryan berbicara. Ryan yang tau kalau Adi sedang melihatnya memberikan kode tangannya menunjuk ke telingannya membuat Adi mengerti lalu menganggukan kepalanya.
[Ada apa sayang?]
[Ini dokter Sari mau bicara sama kamu, kamu bisa gak?]
__ADS_1
[Ya sudah berikan ponselnya pada dokter Sari.]
Ryan berkata seperti itu sambil berjalan menjauh membuat Hendru yang melihat kalau Ryan menjauh memandang Adi. Adi hanya meletakkan tangannya ditelingannya membuat Hendru mengerti kalau Ryan sedang menerima panggilan penting.
[Maaf tuan kalau saya menganggu pekerjaan anda?]
[Tidak menganggu kok dok ada masalah apa anda ingin berbicara dengan saya?]
[Saya hanya berterimakasih pada anda karena sudah bisa membuat Lydia tenang dan juga sudah membuat Lydia semalam mau tidur tak perlu meminum obat penenang terlebih dahulu. Saya berharap kalau tuan bisa membuat Lydia nyaman dan kalau ada apa-apa tolong cerita jangan buat dia berpikir sendirian karena Lydia untuk saat ini belum bisa berpikir keras takutnya traumanya kembali muncul.]
[Baik dok, saya akan berusaha untuk membuat istri saya nyaman dan merasa dibutuhkan. Dok apa ada pantangan lain selain yang dokter jelaskan tadi?]
[Sudah itu saja tapi kalau Lydia tak bisa tidur nanti saat bersama anda tolong cari cara agar Lydia bisa tertidur tanpa meminum obatnya.]
[Baik saya akan praktekan dok, maaf dok saya harus kerja lagi teman saya memanggil saya.]
[Baik kalau gitu say kembalikan lagi ke Lydia.]
[Baik dok, terimaksih sudah membuat istri saya nyaman.]
[Iya tuan itu sudah menjadi tugas saya.]
Dokter Sari memberikan ponsel Lydia ke Lydia lagi sedangkan Ryan kembali menghampiri Hendru dan juga Adi yang sedang memberi penjelasan pada karyawan pabrik tapi banyak yang tak paham membuat Ryan harus menjelaskan apa yang mereka inginkan. Karyawan yang mendengar penjelasan Ryan yang ringkas padat dan jelas akhirnya membuat mereka setuju dengan rencana mereka membuat Hendru menghera nafasnya lega. Lydia sendiri selesai dari ruangan dokter Sari memutuskan untuk berjalan menuju pantai karena pantai tak jauh dari Rumah Sakit dokter Sari.
"Makasih Yan, kalau gak ada kamu aku gak tau apa yang terjadi dengan perusahaanku."kata Hendru.
"Kamu ini ngomong apasih, kamu itu seorang dosen lo harusnya bisa menerangkan mereka."kata Ryan saat sampai didekat mobilnya.
"Bedalah mahasiswa akan menurut sedangkan para karyawan susah memberikan pengertian."kata Hendru.
"Sama saja hanya beda cara berbicara saja, Di kamu harus belajar buat melihat orang-orang disekitarmu agar kamu bisa tau bagaimana sifat mereka dan bisa mengambil sikap bagaimana berbicara dengan mereka."kata Ryan.
"Iya tuan saya akan belajar lebih dalam lagi."kata Adi.
"Jadikan masalah ini sebagai pembelajaran agar kamu bisa lebih terliti lagi. Aku gak mungkin selamanya membantumu karena aku juga punya kesibukan sendiri."kata Ryan.
"Baik tuan, terimakasih atas nasehatnya."kata Adi.
"Kalau ada yang kamu tak mengerti kamu bisa menghubungiku terlebih dahulu. Kalau kayak gitu aku pergi dulu sudah waktunya untuk bertemu klien."kata Ryan.
"Sekali lagi makasih Yan, salam buat Lydia."kata Hendru.
__ADS_1
"Iya, kayaknya dia sedang menikamti liburannya sendiri karena aku gak bisa ikut dengannya."kata Ryan membuat Hendru tersenyum.
Ryan masuk ke dalam mobilnya setelah itu menjalankan menuju tempat pertemuan sambil masih berbicara dengan Lydia. Bukan berbicara lagi sih lebih tepatnya Ryan sedang menjahili Lydia membuat istrinya itu kesal bukan main. Mereka mengakhiri panggilannya saat baterai ponsel Lydia habis.