Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan lupa dengan janjinya


__ADS_3

Lydia dengan wajah kesalnya masuk ke dalam villa langsung menuju meja makan. Sekesal-kesalnya dia pada orang dia tak akan lupa untuk makan. Baginya makan itu adalah satu-satunya cara agar dia bisa melupakan rasa kesal dihatinya. Saat dia baru saja mengamil sarapannya dan menyuapkan makanan baru sesendok tante Tina nyeletuk membuat Lydia gak napsu makan lagi.


"Maksut tante apa?"kata Lydia.


"Ly ini meja makan udah ya."kata mama Intan yang gak enak hati dengan keluarga besannya.


"Kalau gak tau apa-apa tu gak usaha banyak ngomong deh, lagian mau kak Ryan itu ngajak aku pulang atau gak itu memangnya ada urusan sama kamu?"kata Lydia yang kali ini menjawab pekataan Tina karena dia sudah kesal dengan omongannya. Selama ini dia diam karena dia menghormati om Sahrul dan Rima.


"La, memang perkataan tante benarkan? Memangnya tante gak tau kalau kamu menikah kemarin karena orangtuamu melihat kamu berciuman dengan Ryan didepan Vila. Mungkin kamu sudah melakukan lebih dari berciuman didepan Villa atau malah kalian sudah melakukan lebih dari itu secara ciuman kalian berdua kemarin tu terlihat pofesional banget lo?"kata Tina memojokkan Lydia.


"Ma, bisa gak sih mama gak ikut campur masalah orang."kata Rima.


"Kamu belain Lydia, apa kamu gak ingat siapa yang sudah ngerebut Rayyan dulu?"kata Tina.


"Ma, yang ngerebut Rayyan tu bukan Lydia tapi aku yang ngerebut. Lagian itu masalalu gak usah dibahas lagi toh sekarang aku sama Lydia sudah baik."kata Rima.


"Tapi mama gak suka kamu berteman dengan seseorang yang kehidupannya liar kayak dia."kata Tina.


"Cukup tan, tante gak lupakan siapa yang sudah mendanai toko kue tante? Tante juga gak lupakan siapa yang sudah membuat om dan Rima masih bisa bekerja diperusahaan?"kata Lydia.


"Kamu gak usah bawa-bawa itu semua."kata Tina.


"Seharusnya kalau tante gak mau aku bawa-bawa masalah pribadi tante jangan pernah sekali-kali tante ikut campur masalah orang yang sudah membuat tante seperti ini bisa-bisa anda malu sendiri."kata Lydia meninggalkan meja makan.


"Ly, kamu mau kemana sarapannya belum selesai ini?"kata bunda Arina yang melihat sarapan menantunya masih banyak.


"Aku sudah kenyang bun."kata Lydia.


"Biarkan saja Rin, nanti aku antarkan sarapan Lydia kekamarnya kalian lanjut saja sarapannya."kata mama Intan yang sebenarnya kesal dengan Tina tapi dia diam karena suaminya sudah memberi kode untuk melarangnya ikut campur.


Tina yang tak merasa bersalah makan dengan lahap sarapan itu, suami dan anaknya yang melihat hanya geleng-geleng kepala. Mereka berdua malu dengan semua orang yang ada disini. Papa Irwan yang tau jika temannya tak enak hati hanya tersenyum, dia benar-benar gak menyangka kalau temannya bisa mendapatkan istri seperti Tina. Untung saja Rima segera sadar kalau tidak papa Irwan gak akan tau bagaimana nasib Rima nanti.


Lydia yang sudah dibuat kesal oleh Ryan yang pulang sendiri ke Jakarta, dibuat kesal lagi sama tante Tina membuat dia masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan dirinya agar pikirannya tenang. Lydia berendam dikamar mandi lama sampai pikirannya tenang. Saat dia keluar dari kamar mandi dengan mengunakan handuk ternyata dikamarnya sudah ada mamanya yang duduk disofa.


"Mama menungguku?"kata Lydia yang melihat mamanya sedang main ponsel.


"Iya, ini kamu makan dulu dan itu kopermu."kata mama Intan.


"Jadi mama yang sudah sembunyiin koperku?"kata Lydia kesal.


"Maaf sayang, mama hanya ingin cepat punya cucu."kata mama Intan.


"Ma, gak usah aneh-aneh deh. Kami berdua menikah bukan karena ada rasa tapi karena paksaan dari kalian."kata Lydia.


"Ly, duduk sini."kata mama Intan sambil menepuk sofa disebelahnya.


"Ada apa?"kata Lydia.


"Sayang, mama yakin pasti kamu bisa membuka hati satu sama lain apalagi Ryan baik. Berusahalah untuk jadi istri yang patuh dan jalankan kewajibanmu sebagai seorang istri mama yakin jika kalian berdua akan saling mencintai satu sama lain."kata mama Intan.


"Liat nanti sajalah ma."kata Lydia.


"Ya sudah kamu pakai baju habis itu habisin makanannya. Mama keluar dulu."kata mama Intan.

__ADS_1


"Makasih ya ma."kata Lydia.


Mama Intan pergi dari kamar Lydia, Lydia sendiri bangun untuk pakai baju setelah itu menikmati sarapannya sambil membuka ponselnya. Lydia selesai sarapan memilih untuk tak keluar dia memutuskan untuk nonton drakor dan menunggu kabar dari Ryan. Ryan sendiri yang baru sampai ditempat kejadian langsung menemui Dayat yang sudah berada disana untuk mencaritau apa yang sebenarnya terjadi.


"Yat..."kata Ryan.


"Anda sudah datang tuan? Kenalkan dia pak Zainal yang bertanggungjawab digudang kita."kata Nuno memperkenalkan pak Zainal.


"Oke, bapak bisa jelaskan ada masalah apa?"kata Ryan.


"Gini pak, satu truk barang yang membawa barang kita untuk menyalurkan ke daerah plosok hilang tak tau dimana keberadaannya dan sopir kita sekarang berada diRumah Sakit dengan luka yang serius."kata Zainal.


"Iya tuan untung saja ada warga yang mau menolong."kata Dayat.


"Lalu apa masalahnya kalian bisa kirim ulang barang itu lagi."kata Ryan.


"Masalahnya stok barang kita berkurang banyak tak sesuai dengan yang ad didata."kata Zainal membuat Ryan terkejut.


"Apa bapak yakin?"kata Ryan.


"Yakin tuan, saya sudah bertanya juga dibagian produksi kalau mereka memproduksi barang sesuai dengan catatan. Tapi saat aku bagi-bagi stok kita banyak yang kurang."kata Zainal.


"Untuk sementara waktu kita produksi sebanyak stok yang kurang itu apa bisa pak?"kata Ryan.


"Bisa pak tapi kita butuh waktu lebih lama apalagi satu truk dan barang yang hilang harus segera kita kirim."kata Zainal.


"Dulukan yang penting dulu baru setelah itu yang lain."kata Ryan.


"Bukannya kita akan rugi tuan kalau seperti ini?"kata Zainal.


"Baik tuan tunggu sebentar."kata Zainal.


Ryan setelah mendapatkan nama-nama klien yang belum dapat dia kirimin barang baru langsung saja menemui klien itu untuk meminta perpanjangan waktu. Untung saja para klien mau memberikan perpanjangan waktu. Jadi karyawannya tak terlalu terburu-buru. Ryan saking sibuknya lupa untuk makan, untung saja Dayat cepat tanggap. Dayat membelikan makan siang untuk Ryan walaupun makan siang mereka sudah telat sebenarnya.


"Tuan makan dulu, habis ini baru bekerja lagi."kata Dayat.


"Makasih Yat."kata Ryan yang masih fokus dengan laptopnya.


Benar apa yang dikatakan oleh pak Zainal saat digudang tadi mereka banyak mengalami kerugian, Ryan harus memutar otaknya bagaimana caranya untuk mengcover semua kerugian itu tapi tidak mengubah kualitas bahan. Ryan terpaksa menghentikan pekerjaannya karena Dayat memberikan kotak makanan padanya. Ryan memakan makanan itu sambil tetap fokus dengan laptopnya membuat Dayat geleng-geleng kepala. Saat dia sedang fokus dengan pekerjaannya ponselnya berbunyi.


[Hallo Asalamualaikum....]


[Walaikumsalam kamu sudah pulang ke Jakarta belum?]


[Sudah ada apa Ndru?]


[Aku mau kamu ajari asistenku yang baru dengan benar bisa gak? Aku sudah pusing dengannya.]


[Maaf Ndru untuk saat ini aku belum bisa membantumu karena aku sendiri sedang dalam masalah.]


[Memangnya masalah apa yang sedang kamu hadapi?]


[Stok barangku banyak yang hilang, aku harus mengcover itu semua agar tak mengakibatkan aku rugi banyak.]

__ADS_1


[Baiklah kalau kayak gitu aku akan minta tolong Dion saja.]


[Bagaimana kalau kamu minta bantuan Sandra kebetulan dia masih liburkan perusahaannya?]


[Aku gak ada kontaknya.]


[Kamu tanya sama istrimu pasti dia tau merekakan dekat saat diSurabaya kemarin.]


[Baiklah, kalau kayak gitu aku akan tanya sama Widya. Aku tutup dulu panggilannya.]


Ryan setelah mengakhiri panggilannya hanya menghera nafasnya, semoga saja Sandra bisa membantu agar dia tak pusing lagi.Ryan kembali makan setelah itu fokus dengan laptopnya, Ryan melupakan kalau tadi sudah berjanji menghubungi Lydia saat sudah sampai diJakarta. Lydia sendiri yang ada diVilla sudah uring-uringan sendiri karena suaminya tak ada kabar sama sekali. Lydia merasa kalau dirinya tak dianggap sebagai istri dan lagi Lydia bingung besok harus pulang ke rumah orangtuanya atau Ryan sedangkan Ryan sendiri tak mengatakan apapun padanya.


Tok tok tok


"Masuk."kata Lydia.


"Kok kamu belum tidur sayang?"kata mama Intan.


"Lagi nonton ma."kata Lydia.


"Kamu jangan bilang kalau masih nunggu kabar dari Ryan?"kata mama Intan.


"Iya ma, dia nyebelin banget masak gak ada kabar daritadi."kata Lydia.


"Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, kamu kan tau kalau Ryan itu orang kepercayaan Hendru."kata mama Intan.


"Ma, aku bolehh gak nyerahin perusahaan kita ke Ryan?"kata Lydia.


"Kalau bicarakan sama papa sama suamimu ya, kalau mama terserah kalian saja. Soalnya mama gak tau masalah perusahaan."kata mama Intan.


"Ya sudah nanti aku bicarain sama mama papa."kata Lydia.


"Ya sudah cepat tidur ya, besok pagi kita sudah pulang ke Jakarta. Kamu besok mama anterin keapartemen Ryan ya?"kata mama Intan.


"Iya ma."kata Lydia terpaksa mengiyakan karena dia gak tau harus jawab apa.


Lydia menghera nafasnya sambil mngambil ponselnya ini sudah tengah malam tapi Ryan tak menghubunginya. Lydia mau menghubungi Ryan tapi takut kalau ganggu. Lydia mencoba meghubungi Ryan tapi sampai beberapa kali suaminya itu tak mengangkat panggilannya membuat Lydia kesal. Ryan sendiri yang sudah pulang keapartemen fokus dengan laptopnya dan tak melihat kalau ada panggilan dari Lydia karena ponselnya dia silent. Baru saat Ryan mau tidur jam 2 pagi, dia melihat banyak panggilan dari Lydia membuat Ryan menepuk jidatnya. Ryan menghubungi Lydia beberapa kali hingga Ryan memutuskan untuk mau mengakhiri panggilan itu Lydia mengangkat panggilannya.


[Hallo siapa sih pagi-pagi gangguin tidur orang?]


[Maaf ya, kalau aku ganggu tidurmu.]


Lydia mendengar suara Ryan langsung saja membuka matanya, dia melihat ponselnya ternyata itu benar Ryan yang menghubunginya berarti dia gak mimpi.


[Ada apa?]


[Kamu sudah tidur?]


[Sudah tau masih nanya lagi.]


[Ya sudah kamu tidur lagi gih, oh ya besok kalau pulang langsung ke apartemen saja kata sandinya tanggal lahirmu.]


[Iya. Ya sudah aku tidur lagi.]

__ADS_1


Lydia yang kesal dengan Ryan karena menganggu tidurnya langsung mematikan panggilan itu. Ryan yang dimatikan panggilannya hanya menghera nafasnya saja. Dia memutuskan untuk tidur karena nanti pagi-pagi sekali dia harus berangkat ke gudang. Pagi-pagi sekali Dayat datang keapartemen Ryan untuk membangunkan atasannya itu, Ryan yang hanya tidur beberapa jam saja sebenarnya masih mengantuk tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2