Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia makan malam diresto pinggiran


__ADS_3

Ryan meninggalkan rumah orangtuanya untuk bertemu dengan Jono, dia ingin tau apa yang sebenarnya masalah yang dihadapi oleh Jono dan juga mbaknya. Ryan hanya ingin melihat kebahagiaan kakaknya saja gak lebih dari itu. Sedang Ryan pergi ketiga perempuan itu berbicara satu sama lain mengenai kegiatan mereka masing-masing.


"Shin, apa kamu ada masalah dengan Jono?"kata bunda Aisha tiba-tiba.


Lydia yang mendengar perkataan bunda Airin hanya diam saja, dia gak mau ikut campur masalah rumahtangga kakak iparnya itu karena dia hanya orang luar. Shinta sendiri yang mendengar perkataan bundanya hanya terdiam karena dia bingung mau cerita pada bundanya atau gak soal perubahan Jono.


"Aku gak papa kok bun."kata Shinta berbohong akhirnya.


"Bunda yakin kamu ada masalah Shin, gak mungkin kalau gak ada masalah kamu menyuruh adikmu untuk menjemputmu. Kamu gak menganggap bunda lagi sebagai bundamu apa?"kata bunda Airin.


"Bun bukan begitu, aku hanya ingin menyelesaikan masalahku sendiri."kata Shinta.


"Baiklah kalau begitu tapi janji sama bunda kalau kamu gak bisa menyelesaikan masalah kalian atau butuh nasihat orang lain cerita sama bunda, kamu pun juga boleh bercerita pada bunda kalau ada masalah sama Ryan, Ly."kata bunda Airin.


"Iya bun."kata Lydia.


"Makasih ya bun, bunda sudah jadi bunda terbaik untukku. Kalau gak ada bunda aku gak tau lagi apakah aku bisa menjadi seperti sekarang."kata Shinta.


"Kamu ini ngomong apasih, kalian sudah makan malam belum?"kata bunda Airin.


"Belum bun, tapi gak tau Lydia sudah makan apa belum?"kata Shinta.


"Ly, kamu sudah makan belum nak?"bunda Airin.


"Belum bun tapi aku sedang ingin makan ikan bakar yang dijual diresto pinggiran."kata Lydia.


"Ya sudah kalau kayak gitu kita kesana saja bunda belum masak juga untuk makan malam."kata bunda Airin.


"Iya, aku juga sudah lama gak kesana."kata Shinta.


"Memangnya gak papa kalau kita kesana bun?"kata Lydia yang gak pada mertua dan kakak iparnya itu.


"Gak papa sekali-kali kita makan diluar bertiga tanpa para pria. Bentar bunda suruh sopir bunda buat siapain mobil."kata bunda Airin.


Bunda Airin mengajak kedua putrinya untuk berangkat ke resto pinggiran yang diinginkan oleh Lydia. Didalam mobil Shinta untuk mengalihkan pikirannya mengenai masalah yang sedang dihadapi dia memilih untuk menjahili adik iparnya.


"Ly, kamu pengen banget ya makan diresto pinggiran itu?"kata Shinta.

__ADS_1


"Iya mbak memangnya kenapa?"kata Lydia.


"Aku kok merasa kamu sedang hamil ya?"kata Shinta.


"Mana ada mbak gak usah bikin orang takut deh."kata Lydia.


"Kamu takut kenapa memangnya Ly? Bukannya setiap orang yang sudah menikah itu pasti ingin segera punya momongan ya?"kata bunda Airin.


"Iya sih bun, tapi aku belum siap bun."kata Lydia membuat kedua perempuan itu terkejut dengan ucapan Lydia.


"Kamu belum siap karena apa memangnya?"kata bunda Airin.


"Bunda 'kan tau sendiri kalau aku ada trauma dan kalau traumaku kambuh pasti aku akan menyakiti diriku sendiri. Aku takut jika aku hamil maka aku akan menyakitinya saat traumaku kambuh."kata Lydia.


"Kalau kamu benaran hamil apa kamu akan mengugurkannya jika traumamu belum sembuh?"kata Shinta khawatir jika tebakannya itu benar.


"Aku gak tau mbak, tapi yang pasti untuk sekarang aku belum ingin hamil."kata Lydia.


"Tapi kalau Allah berkata lain, kamu hamil sekarang bagaimana?"kata bunda Airin.


"Kalau kamu beneran mau menyembuhkan traumamu bunda akan antarkan kamu ke Bogor jika Ryan gak bisa mengantarkanmu."kata bunda Airin.


"Tapi belum tentu aku hamil bun."kata Lydia.


"Besok kita periksa ke dokter kandungan bagaiamana?"kata Shinta.


"Gak usah deh mbak, lebih baik dicek dirumah saja dulu pakai testpack."kata Lydia yang takut jika hasilnya negatif mertua dan kakak iparnya itu akan kecewa.


"Baiklah kalau kayak gitu nanti pulang makan kita mampir ke apotik dulu, aku sudah gak sabar mendengar kabar baik."kata Shinta tersenyum.


"Mbak seandainya hasilnya aku gak hamil jangan kecewa ya nanti."kata Lydia yang gak ingin kakaknya terlalu berharap.


"Siap dan."kata Shinta sambil hormat membuat Lydia tersenyum.


Ketiga perempuan itu berhenti berbicara saat mereka sudah sampai diresto yang mereka tuju. Mereka juga mengajak sopir bunda Airin untuk iku makan diidalam. Saat ketiga perempuan iti bercanda sambil menunggu makanan mereka datang berbeda dengan kedua pria yang sedang bertemu dengan wajah tegang masing-masing.


"Kamu ngapain ngajak aku bertemu disini?"kata Jono.

__ADS_1


"Aku hanya mau tanya apa masalahmu sama mbak Shinta sampai dia ingin aku jemput?"kata Ryan.


"Kenapa kamu gak tanya sama mbakmu sendiri saja?"kata Jono.


"Kamu tau bagaimana mbakku. Percuma aku tanya sama dia karena gak akan pernah ada jawaban darinya."kata Ryan.


"Kami gak ada masalah kok hanya salahpaham saja."kata Jono.


"Kalau hanya salahpaham gak mungkin mbak Shinta meminta aku untuk menjemputnya."kata Ryan membuat Jono menghela nafasnya.


"Mbakmu itu terlalu cemburu sama aku dan menuduhku yang gak-gak, bukannya kamu tau sendiri bagaimana aku hidupku hanya untuk kerja setelah itu pulang mana ada waktu untuk bertemu dengan perempuan lain."kata Jono.


"Memangnya mbak Shinta cemburu sama perempuan mana?"kata Ryan.


"Semua klien perempuanku, lagian mana mungkin aku bisa memilih perwakilan dari perusahaan yang bekerjasama denganku. Jika aku pulang telat pasti mbakmu itu akan menuduhku yang gak-gak. Jika kamu pulang kerja capek-capek terus dituduh macam-macam bagaimana menurutmu?"kata Jono.


"Kamu bisa jelaskan baik-baik dengan mbak Shinta kan?"kata Ryan.


"Sudah tapi aku yakin kamu lebih tau bagaimana mbakmu itu."kata Jono.


"Nanti aku akan coba untuk menjelaskan padanya, tapi setelah emosimu reda tolong kamu jemput mbak dirumah bunda."kata Ryan.


"Baiklah, kamu mau makan disini atau mau pulang?"kata Jono.


"Aku makan disini saja mereka bertiga makan diresto pinggiran."kata Ryan.


"Bagaimana kalau kita menyusul mereka biar rame?"kata Jono.


"Boleh, ayo kalau kayak gitu kita kesana saja."kata Ryan.


"Baiklah, mbak."kata Jono sambil memanggil pelayan untuk membayar minuman mereka.


Mereka berdua keluar dari cafe untuk menuju resto pinggiran yang tak jauh dari cafe itu, saat mereka masuk kedalam banyak perempuan yang memandang mereka ada yang terang-terangan mencari perhatian mereka. Kedua pria itu bertanya pada pelayan untuk mencaritau dimana keberadaan ketiga perempuan itu duduk. Mereka berdua diantar menuju tempat ketiga perempuan dan sopir bunda Airin duduk. Ketiga perempuan itu terkejut saat melihat kedua pria itu sudah berdiri disamping mereka apalagi Shinta yang melihat suaminya juga ikut dengan adiknya.


"Jangan terkejut kayak gitu, aku yang ajak Jono kesini daripada dia makan sendirian."kata Ryan.


"Oalah, ayo duduk."kata Lydia.

__ADS_1


__ADS_2