Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan memasak untuk Aziz dan Dion


__ADS_3

Keesokan paginya Ryan yang bangun terlebih dahulu, Ryan membuka matanya lalu mencari ponselnya ternyata disana terlihat Lydia yang tertidur dengan pulas. Ryan tersenyum lalu mengambil ponsel itu untuk membangunkan Lydia yang sedang tidur dengan tenang.


[Ly, Lydia bangun sayang.]kata Ryan tapi tak ada pergerakan dari Lydia sama sekali.


[Sayang bangun ini sudah pagi lo...]kata Ryan untuk yang kesekian kalinya barulah terlihat pergerakan dari Lydia.


[Aku masih nagntuk mau tidur lagi 10menit lagi ya ma.]kata Lydia berbicara sambil memejamkan matanya.


[Ya sudah kalau mau tidur lagi aku matikan panggilannya aku mau siap-siap untuk kerja. Kayaknya anak-anak juga belum bangun.]


[Hmmmm...]kata Lydia yang masih belum sadar kalau dia sedang melakukan panggilan dengan Ryan.


[Ish sakit banget kepalaku.]kata Ryan membuat Lydia membuka mata lalu melihat Ryan yang sedang memegang kepalanya.


[Siapa suruh semalam kamu mabuk?]kata Lydia dengan wajah garangnya membuat Ryan memandang kearah ponselnya.


[Kamu sudah bangun?]kata Ryan sambil tersenyum walaupun terpaksa karena kepalanya masih pusing akibat mabuk semalam.


[Ish aku tanya kenapa semalam kakak minum?]kata Lydia kesal.


[Dion yang ngajak semalam.]kata Ryan sambil nyengir.


[Ya terus kalau Dion yang ngajak bukannya kakak bisa menolaknya?]


[Aku gak enak Ly, lagian kepalaku serasa mau pecah kamu gak ada kabar terus pekerjaanku menumpuk.]kata Ryan mengatakan kegelisahannya.


[Walupun seperti itu bukan berarti kamu bisa minum kak.]


[Maaf aku gak akan ulangi kayak gitu lagi.]


[Kalau kakak ulangi lagi bagaimana?]


[Kamu bisa lakukan apa saja padaku.]


[Benar ya aku bisa minta apa saja sama kakak?]


[Memangnya kalau aku mabuk lagi kamu minta apa?]kata Ryan yang penasaran dengan permintaan Lydia.


[Aku boleh minta kakak buat mengelola perusahaan papa?]kata Lydia sambil memeraskan wajahnya membuat Ryan mengusap wajahnya.


[Nanti aku ambil alih perusahaan papa tapi untuk saat ini aku hanya bisa bantu kamu, aku harus menyelesaikan dulu masalah Hendru dan kak Anton. Gak papakan?]kata Ryan mencoba memberi pengertian pada Lydia agar Lydia gak salah paham.


[Iya, aku tau kok. Sudah sana mandi katanya mau kerja.]kata Lydia sambil tersenyum.


[Mau ikut mandi?]


[Gak mau sudah sana mandi, aku mau masak lapar habis itu mau ke Rumah Sakit lagi.]


[Ngapain ke Rumah Sakit?]kata Ryan membuat Lydia menghera nafasnya.


[Nanti ya kalau aku sudah pulang kesana aku cerita sekarang kakak mandi dulu, jangan lupa bangunin yang lain mereka kerjakan hari ini?]

__ADS_1


[Aku tunggu ceritamu dek, dek.]


[Dek?]


[Emangnya kenapa aku gak boleh panggil dek?]


[Gak aku gak suka dipanggil dek.]kata Lydia sambil tersenyum.


[Tapi Aziz, Hendru sama Dion panggil kamu dek masak aku gak boleh panggil kamu dek?]kata Ryan kesal.


[Kecuali kakak gak boleh panggil aku dek atau pun panggil nama.]


[Lalu aku harus panggil apa?]


[Terserah yang penting bukan itu.]


[Baiklah aku pikirin sambil mandi kamu benaran gak mau ikut aku mandi?]


[Kak...]


[Kenapa sayang?]kata Ryan sambil tersenyum.


[Sudah sana mandi aku gak mau nanti kakak telat masuk kantor.]


[Baiklah, tapi kamu janji satu hal dulu sama aku.]


[Janji apa?]


[Kak, bukannya aku sudah bilang nanti kalau aku pulang kesana aku akan cerita semuanya?]


[Kelamaan sayang, please ya tolong hubungi aku nanti kalau kamu gak melakukan itu nanti aku kerja gak tenang kepikiran terus.]


[Baiklah, sudah sana mandi aku lapar mau makan.]


[Baiklah, baiklah cium dulu.]


[Kak...]


[Ish minta cium saja gak boleh, baiklah aku tutup panggilannya.]


[Iya.]


Ryan mematikan panggilan itu lalu mengecas ponselnya setelah itu masuk ke dalam kamar mandi. Saat selesai bersiap dia keluar dari kamarnya dan melihat kalau kedua temannya sedang tertidur. Ryan membangunkan kedua temannya mereka bangun satu persatu, Ryan meninggalkan temannya agar mereka mengumpulkan nyawanya dia memutuskan untuk memasak buat mereka bertiga. Kedua temannya mandi bergantian saat mereka ke dapur ternyata Ryan sudah menyelesaikan masakannya.


"Maaf aku hanya masak sup saja dikulkas hanya ada ini."kata Ryan.


"Gak papa kalau masakan kamu akan kami sikat habis."kata Aziz.


"Beruntungnya Lydia dapat kamu?"kata Dion.


"Beruntung bagaimana?"kata Ryan.

__ADS_1


"Punya suami pintar masak padahal dia sendiri gak bisa masak."kata Dion.


"Siapa bilang dia gak bisa masak, dia masakannya enak banget tau gak."kata Ryan membuat kedua temannya memandang kearah Ryan.


"Lo yakin ya gak bohongkan?"kata Aziz.


"Seriusan, kalau gak percaya tanya sama mbak Shinta aku pernah bawakan masakan Lydia ke Rumah Sakit kemarin."kata Ryan.


"Tapi setau kami lydia gak bisa masak."kata Aziz yang diangguki oleh Dion.


"Orang bisa belajarkan lagian kalian juga sudah lama gak ketemu Lydia."kata Ryan.


"Kamu benar, mungkin dia belajar masak dari Widya. Widyakan pintar masak dia."kata Aziz.


"Sudah ayo makan aku harus segera berangkat."kata Ryan.


Mereka bertiga makan sambil berbicara yang ringan-ringan saja tapi kebanyakan Dion yang menceritakan tentang Cindy membuat kedua temannya tersenyum akhirnya playboy benar-benar jatuh cinta. Selesai makan mereka bertiga berangkat ketempat kerja masing-masing. Ryan menghubungi bibi untuk datang ke apartemennya untuk membersihkan apartemennya dan juga belanja untuk kulkas.


Ryan sampai diperusahaan Hendru langsung berjalan menuju ruangan Hendru ternyata temannya itu sudah ada disana dengan menghera nafasnya terlihat sekali kalau temannya itu sedang kesal. Hendru menghampiri mereka untuk mencari tau apa yang terjadi disana siapa tau dia bisa membantu.


"Ada apa ini?"kata Ryan membuat ketiga orang yang ada didalam memandang kearah Ryan.


"Nih kamu liat sendiri."kata Hendru sambil menyerahkan sebuah berkas pada Ryan.


Ryan mengambil berkas itu lalu duduk disofa yang masih kosong, Ryan membaca berkas itu lalu menghera nafasnya. Ryan meletakkan berkas itu sambil memandang asisten dan sekertaris Hendru.


"Rin, kamu sudah lama kerja disinikan?"kata Ryan.


"Iya Yan, aku tau aku salah karena gak memeriksa berkas itu terlebih dahulu."kata Rina.


"Kamu bagaimana Di?"kata Ryan.


"Saya tau saya juga salah yang percaya begitu saja."kata Adi.


"Maaf maaf kalian tau gak kita sudah rugi besar tau gak."kata Hendru dengan suara kerasnya.


"Ndru sabar, kita bisa memperbaiki ini semua."kata Ryan.


"Memperbaiki bagaimana ini sudah mau tanggalnya Yan?"kata Hendru.


"Ndru biasanya kamu selalu menyelesaikan dengan kepala dingin kenapa hari ini kamu meredak-redak kayak gini?"kata Ryan membuat Hendru menghera nafasnya.


"Gimana aku gak meredak-redak kalau masalah kayak gini saja gak bisa diselesaikan dan lagi masalah mbak Risa aku pusing belum lagi masalah kampus."kata Hendru.


"Aku tau kamu sedang banyak masalah tapi masalah itu gak bisa kita selesaikan kalau tidak dengan kepala dingin."kata Ryan.


"Kamu punya solusi apa?"kata Hendru akhirnya.


"Kita ke pabrik lalu bertanya apa para karyawan bisa mengerjakan pesanan tepat waktu?"kata Ryan.


"Kalau mereka gak bisa?"kata Hendru.

__ADS_1


"Kita bertemu lagi dengan klien dan meminta perpanjangan waktu."kata Ryan membuat Hendru setuju dengan ide Ryan,


__ADS_2