Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Mengetahui kebusukan pak Hendra


__ADS_3

"Apa saja yang sudah kalian lakukan?"kata Ryan.


"Selama tiga bulan ini memang perusahaan mengalami kerugian yang tak siknifikan tapi kalau dibiarkan lama-lama masalah ini akan semain besar dan bisa buat perusahaan bangkrut."kata manager keuangan.


"Apa anda punya bukti tentang ini?"kata Dion.


"Punya anda bisa membuka cctv dan ini pesan dari pak Hendra."kata manager keuangan sambil menunjukan pesan antara dirinya dan pak Hendra.


Ryan menerima ponsel manager keuangan untuk melihat isi pesan itu. Tapi Ryan baru saja menerima ponsel manager itu berbunyi, Ryan memberikan lagi ponselnya ke manager. Saat manager itu menerima kembali ponselnya alisnya berkerut karena itu panggila dari putrinya. Manager itu menghera nafasnya lalu mengangkat panggilan itu sambil menyalakan lousspeker agar yang ada disana semua mendengarnya.


[Hallo Asalamualaikum Yah...]


[Walaikumsalam, kamu kenapa?]


[Yah tolog aku yah aku mohon.]


[Kamu kenapa nak, katakan sama ayah kamu kenapa?]


[Yah, aku mohon tolong aku...]


[Kamu kenapa katakan sama ayah? Sekarang kamu dimana?]


"Ahhhh...."terdengar suara minta tolong dan teriakan dari putri manager keuangan membuat beliau panik.


Ryan mengambil ponsel manager itu dan mengambil laptop milik Lydia. Ryan mngotak-atik laptopnya dan akhirnya bisa mendapatkan dimana keberadaan putri manager. Ryan mengambil ponselnya lalu agak menjauh agar suaranya tak terdengar diseberang sana. Ryan menghubungi polisi untuk membantu putri manager itu. Setelah melapor Ryan kembali ke tempat duduknya tadi, Ryan memberi kode pada manager keuangan untuk tetap mengajak putrinya itu berbicara. 30menit kemudian terdengar suara polisi yang menangkap mereka yang ada disana.


[Yah, tolong...] suara putri manager keuangan terdengar sangat lemah.


[Ayah akan menjemputmu sekarang.]


[Tolong kamu kasih ponselnya ke salah satu anggota polisi.] Ryan menyuruh putri manager untuk memberikan ponselnya kesalah satu polisi yang ada didekatnya.


"Bu, ada yang mau berbicara dengan anda."kata perempuan itu pada polisi.


[Hallo ada yang bisa saya bantu?]


[Bu, tolong antarkan korban ke Rumah Sakit terdekat habis ini kami akan pergi menemuinya.]


[Baik,kalau begitu saya tutup dulu panggilannya.]


Ryan menghera nafas lega seenggaknya perempuan itu bisa ditangani dengan cepat, manager keuangan itu wajahnya sudah sangat khawatir.


"Pak Pur tolong antarkan beliau ke Rumah Sakit tempat anaknya dirawat masalah disini biar kami yang mengurus."kata Ryan.


"Baik tuan, bagaimana dengan bukti yang ada diponsel? Saya takutnya nanti diperjalanan pasti akan ada bahaya yang menunggu."kata pak Purnomo yang memiliki firasat gak enak.


"Gak usah dipikirkan semuanya sudah aman."kata Ryan.


"Baik tuan kalau begitu kami pergi dahulu."kata pak Purnomo.


Pak Hendra yang berpkir kalau rencananya akan berhasil hanya tersenyum tanpa disadari kalau Ryan sudah mengagalkan rencananya. Sekarang putra pak Hendra sedang menjadi buronan karena setelah menjual istrinya ada pria hidung belang. Sedangkan menantunya sekarang suda berada diRumah Sakit, anak pak Hendra yang tak terima dengan keadaannya yang menjadi buronan mencoba untuk melarikan diri jauh dari kota ini tapi dia tak kepikiran untuk menghubungi papanya.


Diruangan Lydia ketiga orang itu meretas cctv milik pak Hendra ternyata dia masih duduk santai sambil tersenyum. Lydia yang melihat itu menjadi geram apalagi saat dia mengetahui kalau putri manager keuangan dijual. Ryan yang tau ada api kemarahan dimata Lydia mengusap punggung istrinya agar Lydia bisa tenang. Lydia yang mendapat perlakuan seperti itu oleh Ryan memandang kearah suaminya.


"Sabar mereka pasti akan dapat balasannya."kata Ryan.


"Tapi...."kata Lydia.


"Sebentar lagi, sekarang kamu kumpulkan kita meeting."kata Ryan yang diangguki oleh Lydia.


Lydia berjalan keluar ruangannya, dia menemui sekertarisnya untuk menyiapkan ruangan meeting sebentar lagi dia mau mengadakan meeting. Saat dia mau kembali masuk ke dalam ruangannya Edwin memanggilnya, Edwin baru saja mendapatkan berkas yang dia cari. Lydia yang mendengar ada yang memanggil membalikkan badannya.


"Ada apa?"kata Lydia.


"Ada yang mau aku tunjukan sama kamu."kata Edwin.


"Kita masuk ke dalam saja."kata Lydia sambil mendorong pintu ruangannya.


Mereka berdua masuk ke dalam ruangan, Edwin terkejut karena didalam ruangan Lydia ada dua pria yang mengaku utusan dari Jakarta kemarin. Edwin yang penasaran mengikuti Lydia menghampiri kedua pria itu, Lydia duduk disamping Ryan yang sedang sibuk dengan ponselnya tapi saat dia tau kalau Lydia duduk disampingnya tangan Ryan yang satu lagi mengelus kepala Lydia membuat Edwin terkejut.


"Ly, bisa jelasin sama aku?"kata Edwin membuat Ryan mengalihkan pandangannya yang awalnya fokus dengan ponselnya sekarang beralih memandang Edwin.


"Dia suamiku."kata Lydia membuat Edwin terkejut karena gak ada angin gak ada hujan Lydia bilang pria disebelahnya adalah suaminya.


"Kamu gak usah ngarang deh, kalau kamu menikah pasti aku tau."kata Edwin yang gak percaya dengan ucapan sepupunya itu.

__ADS_1


"Kalau kamu gak percaya tanya saja sama papaku, memang kami sudah menikah tapi belum mengadakan resepsi."kata Lydia.


"Kamu ga sedang hamilkan?"kata Edwin yang langsung ditabok bahunya oleh Lydia.


"Enak saja, aku masih segel."kata Lydia kesal karena sepupunya itu bilang kalau dia menikah kalau hamil duluan.


"Ya siapa tau, lagian kalian nikahnya gak langsung mengadakan respsi sih."kata Edwin.


"Emang aku perempuan apaan?"kata Lydia kesal.


"Kamukan cabe-cabean."kata Edwin yang langsung dipukuli oleh Lydia.


"Ngomong apa kamu tadi?"kata Lydia sambil memukuli sepupunya yang paling reseh itu.


"Ampun Ly, sakit tau udah hentikan mukulnya."kata Edwin sambil menutupi mukanya agar tak terkena pukulan dari sepupunya itu.


"Minta maaf gak/"kata Lydia sambil tetap memukuli Edwin sedangkan Ryan dan Dayat tak menyangka jika Lydia bisa sebarbar ini pada sepupunya sendiri.


"Iya, iya maaf sudah mukulnya sakit semua badanku."kata Edwin.


"Biarin kamu ulangi lagi gak kata-katamu itu?"kata Lydia.


"Oke aku gak akan berkata kayak gitu lagi tapi ada syaratnya."kata Edwin yang membuat Lydia menghentikan pukulannya pada badan Edwin.


"Apa sayratnya?"kata Lydia sambil duduk kembali disamping Ryan, Ryan memberika tisu dan air minum pada Lydia. Lydia meminum air itu hingga habis membuat Ryan dan Dayat geleng-geleng kepala.


"Haus ya?"kata Ryan.


"Iya, haus banget gara-gara sepupu yang nyebelin ini."kata Lydia.


"Tapi sepupumu ini yang selalu buatmu tesenyum."kata Edwin.


"Terseyum apa nyebelin iya. Tadi apa syaratnya?"kata Lydia.


"Syarat apa?"kata Edwin yang pura-pura lupa.


"Mas..."kata Lydia membuat Edwin tersenyum.


"Gitu dong panggil aku mas jangan nama doang, aku mau kamu traktir dicafe hot and cool."kata Edwin.


"Kalau bisa dua-duanya kenapa gak dilakuin, ketemu dengan pujaan hati sekaligus dapat makan gratis."kata Edwin.


"Memang ya, kamu tadi bilang ada hal penting yang mau kamu bicarakan?"kata Lydia.


"Nih kamu liat sendiri"kata Edwim sambil menyerahkan berkas yang dia bawa.


Lydia menerima berkas itu lalu membuka berkas yang diserahkan oleh Edwin. Lydia terkejut karena itu laporan kerjasama dengan perusahaan yang kemarin dia batalkan tapi diberkas itu mereka melakukan kerjasama lagi. Lydia memberikan berka itu pada Ryan, Ryan menerima dan setela itu memandang kearah Lydia dan Edwin.


"Bisa jelaskan apa maksutnya ini?"kata Ryan.


"Kami sudah tak bekerjasama dengan perusahaan ini sudah lama."kata Lydia.


"Lalu bagaimana ada kontrak perjanjian ini, ini ditandatangani 3bulan yang lalu."kata Ryan.


"Aku gak pernah merasa menandatangani surat kontrak ini."kata Lydia.


"Kamu dapat kontrak ini darimana?"kata Ryan.


"Asistenku yang menemukannya diruangan pak Hendra saat beliau tak ada diruangan."kata Edwin.


"Kalian ada yang punya no kontak pemilik perusahaan ini?"kata Ryan.


"Aku masih punya, bagaiamana kalau aku menghubunginya untuk menanyakan kontrak kerajasama ini karena kami gak merasa menandatangani kerjasama ini?"kata Edwin.


"Boleh, tapi aku sama Lydia gak bisa menemanimu sebab sebentar lagi akan meeting. Aku juga mau merombak semua devisi karyawan disini sudah gak sehat semuanya."kata Ryan.


"Baiklah, itu sebelahmu gak ada kerjaankan biar dia ikut aku."kata Edwin menunjuk Dayat.


"Oke, Yat kamu ikut Edwin."kata Ryan.


"Baik tuan."kata Dayat.


"Bukannya kamu punya asisten kenapa ngajak asisten orang lain."kata Lydia.


"Aku memang punya asisten sendiri tapi dengan mengajak dia aku bisa terlepas dari tuduhan nanti."kata Edwin.

__ADS_1


"Emang tuduhan apa?"kata Lydia.


"Kamukan tau kalau sebelum ini aku percaya banget sama pak Hendra, takutnya aku dituduh bersengkongkol padahal aku gak tau apa-apa."kata Edwin.


"Okelah, cepat berangkat lalu kembali lagi."kata Lydia.


"Memangnya kenapa?"kata Edwin.


"Kami akan mengunakan pengakuan itu sebagai bukti juga."kata Ryan.


"Kalian sudah lapor polisi belum masalah ini?"kata Edwin.


"Sudah kalau soal itu serahkan sama kami, sekarang kamu cepat berangkat sana."kata Lydia yang mengusir Edwin.


"Iya iya kami berangkat sekarang, awas saja kalian buat macam-macam disini ada cctv."kata Edwin sambil menunjuk kearah cctv yang ada diruangan itu.


"Gampang kalau cctv mah bisa dimatikan dari sini."kata Ryan sambil memandang kearah Lydia.


"Sudah sana pergi daripada kalian ngomong gak jelas."kata Lydia.


Edwin dan Dayat keluar dari ruangan Lydia saat mereka berdua sampai bawah bertemu dengan pak Hendra yang mau masuk lift. Pak Hendra yang melihat Edwin dan Dayat mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift, dia memilih untuk mendekati Edwin dan Dayat.


"Kalian mau kemana?"kata pak Hendra yan sudah berada didekat Edwin.


"Eh bapak, saya mau ajak Dayat buat cari makanan lapar soalnya sekalian jalan-jalan."kata Edwin.


"Bukannya sebentar lagi ada meeting ya?"kata pak Hendra.


"Iya, tadi saya sudah bilang sama Lydia kalau agak terlambat datang. Kalau begitu saya permisi dulu pak, takutnya nanti lama ngantrinya."kata Edwin.


Edwin tanpa menunggu jawaban dari pak Hendra langsung saja mengajak Dayat untuk pergi darisana. Pak Hendra tak menaruh curiga pada Edwin dan Dayat. Sampai diatas dia langsung berjalan menuju ruang meeting ternyata sudah ada banyak para anggota Devisi hanya dirinya dan juga Lydia yang belum datang. Pak Hendra dengan percaya diri duduk didepan pak Purnomo. Lydia dan Ryan masuk ke dalam membuat para karyawan yang ada disana terkejut. Pria yang kemarin mereka tolak mentah-mentah ternyata benar utusan dari Jakarta.


"Selamat siang semuanya."kata Lydia dan dijawab oleh semua yang ada disana.


"Kalian pasti tau apa maksut saya mengadakan meeting kali ini?"kata Lydia.


"Bukannya masalah perusahaan sudah mulai membaik ya nona?"kata salah satu karyawan.


"Benarkah kalian tau darimana kalau perusahaan sudah mulai membaik?"kata Lydia yang membuat mereka semua terkejut.


"Bukannya pak Hendra sudah menyelesaikan masalah ini, apa beliau tak memberitau nona?" karyawan lain.


"Saya malah gak tau, apa benar itu pak Hendra kok saya tidak tau masalah ini?"kata Lydia santai.


"Saya sudah memberitau Edwin apa dia tak mengatakan tentang ini?"kata pak Hendra.


"Gak ada tu, kalau saya boleh tau apa yang sudah anda lakukan?"kata Lydia.


Pak Hendra memberikan berkas yang sudah dia bagikan pada karyawan lain pada Lydia, Lydia yang menerima berkas itu langsung membacanya. Dia tersenyum setelah itu melemparkan lembaran kertas ke depan meja.


"Kalau begitu bisa jelaskan ini semua?"kata Lydia.


Semua dewan divisi mengambil satu-satu kertas yang dilempar oleh Lydia, mereka semua terkejut saat melihat kertas yang dilempar oleh Lydia ternyata itu adalah data kerugian perusahaan kemarin.


"Jadi menurut kalian mana yang benar?"kata Lydia.


"Nona kenapa ini ada dua laporan yang berbeda?"kata salh satu karyawan.


"Ya satu saya dapat dari devisi keuangan dan satu lagi dari pak Hendra, sekarang kalian bisa tanyakan pada pak Hendra mana yang benar?"kata Lydia sambil memandang kearah pak Hendra.


"Pak, tolong jelaskan semua ini?"kata karyawan.


"Punyaku yang benar yang punya nona Lydia dapat tak benar itu."kata pak Hendra.


"Jadi anda menuduh saya, saya mau tanya pada kalian bagaimana caranya dalam waktu semalam kita bisa mendapatkan keuntungan yang begitu besar?"kata Lydia.


"Maaf nona saya juga gak tau? Tapi setau saya kita tidak bisa membuat keuntungan naik siknifikan karena kerugian yang kita alami sangat besar."kata dewan pemasaran.


"Bapak sudah taukan lalu sekarang bapak bisa menilai mana yang benar?"kata Lydia.


Semua dewan devisi sekarang bingung mana yang benar satu sama lain, pak Hendra sendiri sudah mulai gelisah duduknya. Tanpa dia sadari kalau Ryan melihat gerak-geriknya membuat Ryan tersenyum. Lydia yang melihat suaminya tersenyum mulai curiga.


"Kak, kamu kenapa kak?"kata Lydia yang membuat pak Purnomo juga ikut memandang kearah Lydia.


"Gak papa kok, aku hanya melihat seserang yang duduknya tak tenang seperti takut ketahuan."kata Ryan yang perkataannya dikeraskan agar pak Hendra mendengar.

__ADS_1


Pak Hendra sendiri saat mendengar perkataan dari Ryan langsung memandang kearah Ryan sinis. Ryan bukannya takut dia malah tersenyum dan lebih memilihh bicara dengan Lydia dan pak Purnomo karena para anggota devisi yang ada disana sedang memeriksa dua berkas yang berbeda itu.


__ADS_2