Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Berebut menjaga Ita


__ADS_3

"Wah mau cari gara-gara ini orang."kata Roni.


"Dengerin aku dulu aku gak bermaksut bicara seperti itu."kata Jono.


"Sudah sudah sekarang sudah malam siapa yang mau jaga disini?"kata Dion yang tau jika teman-temannya punya kesibukan masing-masing.


"Aku ikut mereka saja bagaimana, siapa yang mau menginap disini?"kata Roni bertanya pada para perempuan.


"Kalian pulang saja besok kerjakan aku gak papa kok sendirian lagian orangtuaku pasti besok pagi sudah datang."kata Ita yang gak mau menganggu teman-temannya.


"Kalian pulang saja biar aku yang jaga Ita disini?"kata Aziz.


"Yakin mau jaga Ita disini?"kata Lydia.


"Dek, kamu masih gak percaya sama aku?"kata Aziz.


"Bukannya aku gak percaya cuma aku gak mau saja kamu ngelakukan sesuatu yang dilarang kalau kalian hanya berdua."kata Lydia.


"Aku bukan Ryan ya."kata Aziz.


"Kenapa ngait-ngaitin ini semua sama kak Ryan? Orang aku sedang bicarain soal kalian berdua."kata Lydia.


"Lydia benar kak, kalau hanya berdua pasti yang ketiga adalah setan."kata Cindy.


"Cindy benar sebaiknya kakak juga ikut pulang saja."kata Ita.


"Bagaimana kalau aku sama kak Ryan saja yang nungguin kamu disini?"kata Lydia.


"Gak aku gak mau ganggu pengantin baru."kata Ita.


"Sudah biar aku saja yang jaga besok kalau aku telat berangkat kerjanya harap maklum ya Ly?"kata Cindy.


"Biar aku ikut kamu jaga disini Cin."kata Aziz.


"Ya sudah kalau gitu besok pagi biar aku yang gantian jaga kamu sehabis mengantar anak-anak sekolah dan menitipkan sama mertuaku."kata Rani.


"Gak usah Ran, besok orangtuaku sudah datang kok, aku gak mau ngerepotin kamu kasian anak-anakmu."kata Ita.


"Ya sudah kalau gitu aku sama mas Roni pulang dulu."kata Rani.


"Iya, hati-hati."kata Ita.


Setelah Rani dan Roni pergi Dion dan Jono juga ikut pamit pulang dan tak lama kemudian Lydia dan Ryan juga pamit pulang. Mereka berdua kembali pulang kerumah orangtua Lydia karena barng-barang Lydia masih berada disana. Saat didalam mobil tak ada yang berbicara satu sama lain jadi suasana dimobil itu jadi sepi seperti kuburan.


"Ya ampun bajuku."kata Lydia membuat Ryan terkejut karena tiba-tiba istrinya bicara padahal daritadi mereka diam.


"Ada apa?"kata Ryan.


"Maaf ya buat kamu terkejut kak, aku lupa bawa pakaianku tadi."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Kamu ini buat aku terkejut saja, sudah gak papa besokkan masih mau jenguk kesana lagi."kata Ryan.


"Memangnya gak papa kalau besok aku pergi ke Rumah Sakit?"kata Lydia.


"Gak papa biar besok aku yang nganter kamu ke Rumah Sakit setelah pulang kerja."kata Ryan.


"Bukannya kakak besok banyak kerjaan?"kata Lydia.


"Banyak kerjaan bagaimana?"kata Ryan.

__ADS_1


"Katanya mau bantu kak Hendru sama kak Anton."kata Lydia.


"Iya aku usahain buat nyelesaiin secepatnya."kata Ryan.


"Kak, aku gak mau ngerepotin kamu biar besok aku ke Rumah sakit saja sendiri kakak cepat selesaiin masalah perusahaannya kak Hendru dan kak Anton."kata Lydia.


"Baiklah."kata Ryan membuat Lydia tersenyum saat melihat suaminya memasamkan wajahnya.


Lydia yang melihat wajah kecewa suaminya membuka seatbeltnya lalu mencium pipi Ryan membuat Ryan terkejut lalu mengrem mendadak untung saja saat itu tangan Ryan sigap kalau tidak mungkin kepala Lydia sudah terbentul setang. Jantung Lyida berdetak kencang apalagi sekarang wajah merek berdua sangat dekat membuat Lydia susah untuk mengendalikan jantungnya.


"Kak, bisa gak sih nyetirnya yang benar?"kata Lydia sambil kembali duduk dan memasang seatbeltnya.


"Siapa yang suruh cium pipiku mendadak kayak gitu tadi?"kata Ryan.


"Memangnya ga boleh cium suamiku sendiri?"kata Lydia.


"Boleh tapi jangan saat aku nyetir kayak gini apalagi tadi ciumnya tiba-tiba aku jadi kaget."kata Ryan.


"alu aku boleh cium saat dimana?"kata Lydia.


"Saat ada dikamar atau saat berada dirumah saat kita sedang berduaan."kata Ryan.


"Gak mau itu mah keenakan nanti kakaknya."kata Lydia.


"Keenakan gimana?"kata Ryan.


"Siapa tau kakak melakukan yang lebih dari itu?"kata Lydia.


"Bukankah kita sudah menikah dan kalau aku ingin meminta hakku bukannya itu gak ada masalah?"kata Ryan.


"Tapi aku belum siap kak."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.


"Aku gak akan maksa kamu tenang saja tapi tolong sebelum kamu siap menjauhlah dariku."kata Ryan membuat Lydia terkejut.


"Aku pria normal Ly, aku takut kalau aku akan memaksa kamu saat kamu belum siap. Oh ya aku akan penuhi permintaanmu untuk kita tidur dikamar yang berbeda kamu bisa tidur dikamarku dan aku akan suruh Dayat buat beliin kasur agar diletakkan diruang kerjaku."kata Ryan memutuskan agar dia gak kecewa lagi.


"Kak, kakak yakin dengan keputusan kakak ini?"kata Lydia.


"Aku yakin, kita sudah sampai ayo turun."kata Ryan.


Mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah bersamaan, saat mereka mau naik tangga berpapasan dengan mama Intan.


"Kalian darimana malam-malam begini?"kata mama Intan.


"Kami baru dari Rumah Sakit ma, Ita kecelakaan."kata Lydia.


"Kok kamu gak bilang kalau Ita kecelakaan lalu bagaimana keadaannya sekarang?"kata mama Intan.


"Alhamdulilah Ita sudah siuman tapi kakinya lumpuh ma."kata Lydia.


"Ya Allah, ya sudah besok mama ajk papa kamu buat ke Rumah Sakit, kalian cepat naik gih pasti capek apalagi kamu Yan tadi baru saja nyetir dari Surabaya."kata mama Intan.


"Iya ma, memangnya mama mau kemana ko belum tidur?"kata Ryan.


"Mama mau ambil air minum."kata mama Intan.


"Ya sudah kalau kayak gitu kami naik keatas dulu ma."kata Ryan.


"Iya ya sudah sana naik."kata mama Intan.

__ADS_1


Pasangan pengantin baru itu naik keatas untuk ke kamar Lydia, Ryan sampai kamar Lydia memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk ganti baju dan bersih-bersih. Lydia selesai Ryan dari kamar mandi baru dia masuk ke kamar mandi saat dikamar mandi Lydia menghera nafasnya, dia tau jika Ryan marah dengannya tapi untuk saat ini Lydia belum bisa memberikan hak Ryan karena dia masih belum yakin dengan perasaan Ryan apalagi saat menerima panggilan dari mantan Ryan yang namanya Vina itu. Saat Lydia keluar dari kamar mandi terlihat kalau Ryan sedang membuka laptopnya dia terlihat fokus dengan pekerjaannya. Lydia menghampiri suaminya lalu duduk disampingnya.


"Memangnya besok gak bisa ya dikerjakan lagi?"kata Lydia.


"Gak."kata Ryan dingin membuat Lydia menghera nafasnya.


"Kak..."kata Lydia.


"Hmmmm."kata Ryan yang tetap fokus dengan laptopnya.


"Kakak yakin mau tidur terpisah sama aku?"kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya lalu memandang kearah Lydia.


"Kamu maunya apasih ha?"kata Ryan membuat Lydia terdiam.


"Kak, kasih waktu aku sebentar saja."kata Lydia.


"Ly, sebaiknya kamu tidur ini sudah malam."kata Ryan yang gak mau jika nanti kalau tetap membahas tentang ini bisa emosi.


"Baiklah aku tidur dulu kakak jangan tidur malam-malam."kata Lydia.


"Hmmm."kata Ryan.


"Kak..."kata Lydia.


"Apalagi katanya tadi mau tidur?"kata Ryan.


"Gak jadi, selamat malam."kata Lydia.


Lydia berjalan menuju ranjang sedangkan Ryan kembali fokus dengan laptopnya lagi, Lydia berbaring lalu mencoba menutup mata tapi gak bisa malah bayangan kejadian masalalu itu kembali muncul. Lydia membuka matanya lalu berjalan menuju meja rias untuk mencari obat penenangnya sudah lama dia tak minum obat itu tapi malam ini dia membutuhkan obat itu lagi. Lydia membuka laci lalu mencari kotak obat itu, Ryan yang melihat Lydia sedang mencari sesuatu bukannya fokus dengan laptopnya tapi dia memandang istrinya yang sedang mencari sesuatu. Lydia menghera nafasnya karena obat itu sudah habis, Ryan mendekati Lydia untuk bertanya apa yang dicari oleh Lydia.


"Kamu cari apa?"kata Ryan membuat Lydia terkejut lalu mundur satu langkah membuat Ryan mengerutkan keningnya.


"Kamu kenapa Ly?"kata Ryan lagi.


"Tolong jangan mendekat, aku mohon tolong pergi dari sini."kata Lydia membuat Ryan kecewa.


"Kamu mengusirku?"kata Ryan.


"Aku mohon tolong pergi, jangan dekati aku."kata Lydia.


"Baiklah, aku pergi sekarang."kata Ryan pergi dari kamar Lydia.


Ryan mengambil laptopnya dan tas ranselnya dia mau pulang ke rumahnya, Ryan sudah terlanjur kecewa dengan Lydia. Sedangkan Lydia yang ditinggal Ryan sendirian hanya menatap punggung suaminya itu. Lydia tau jika Ryan kecewa padanya tapi biarlah karena Lydia takut jika suaminya akan kecewa jika tau keadaannya yang sebenarnya. Lydia mengambil ponselnya untuk menghubungi Aziz, untung saja pria itu masih terjaga.


[Hallo Asalamualikum Dek..]


[Walaikumsalam kak, kak tolong aku.]


[Kamu kenapa dek?]


[Kak, beliin aku obat penenang yang biasa aku minum bisa? Obat aku habis.]


[Dek, kamu dimana sekarang?]


[Aku ada dirumah orangtuaku.]


[Ya sudah tunggu disana, Ryan ada disana dek?]


[Gak dia pergi kak.]

__ADS_1


[Ya sudah aku tutup dulu aku segera kesana.]


Aziz mengusap wajahnya lalu mengambil jaketnya lalu pergi begitu saja membuat Ita dan Cindy langsung saing pandang ada apa dengan Aziz. Aziz khawatir dengan keadaan Lydia dan mengapa trauma Lydia bisa muncul lagi apa Ryan memaksanya jika iya Aziz akan memberikan pelajaran buat temannya itu.


__ADS_2