
"Maaf tuan saya kesini buat mencari pak Bowo ada laporan kalau dia sudah melanggar perjanjian kerjasama yang membuat perusahaan pelapor mengalami kerugian."kata polisi.
"Maaf pak kalau boleh saya tau siapa yang sudah melaporkan kepolisi?"kata Ryan yang tau pasti itu pemilik perusahaan Senja grup karena dia paling tak suka jika mengalami kerugian.
"Tuan Tian yang melaporkan pak Bowo."kata polisi membuat pak Bowo terkejut kenapa tuan Tian melaporkan dirinya kepolisi karena yang membatalkan kerjasama antara perusahaan milik tuan Tian dan perusahaan ini bukan dirinya.
"Silahkan bawa pak, sekarang bapak tau kan kalau anda salah bekerjasama sama orang jadikan ini pelajaran buat bapak. Oh ya satu lagi mungkin setelah ini akan ada tuntutan juga dari perusahaan ini."kata Ryan membuat semua orang terkejut.
"Kamu ngomong apa aku gak pernah melakukan kecurangan diperusahaan ini."kata pak Bowo yang gak terima karena dituduh oleh Ryan.
Saat Ryan berbicara seperti itu bertepatan dengan Rima yang masuk kedalam dengan membawa berkas bukti korupsi yang selama ini dilakukan oleh pak Bowo. Kalau semalam Ryan tak menghubunginya mungkin dia tak akan tau apa yang sudah dilakukan oleh pak Bowo selama ini. Dia memang tak mengambil untung dari perusahaan tapi dari klien yang mau bekerjasama dengan perusahaan ini jika perjanjian kerjasama dengan perusahaan ini berhasil maka dia akan mendapatkan keuntungan 10%. Pak Bowo beberapa bulan ini juga mengambil keuntungan dari perusahaan makanya ada dana yang transaksinya tak diketahui.
"Kamu kenapa masuk kesini?"kata Sahrul.
"Maaf kalau aku ganggu kalian, pa aku mau menyerahkan ini."kata Rima sambil menyerahkan laporan itu pada papanya.
Sahrul menerima laporan yang diserahkan oleh Rima saat dia membaca laporan itu membuat dia terkejut lalu memandang tajam pada Bowo dia gak menyangka jika Bowo bisa melakukan perbuatan keji itu padahal selama ini dia selalu mendapatkan perhatian lebih dari Irwan selain dirinya.
"Aku gak nyangka jika kamu bisa melakukan perbuatan keji ini?"kata Sahrul.
"Aku terpaksa melakukan itu karena kalian gak pernah melakukan aku dengan adil padahal aku yang selalu membantu perusahaan ini gak salah dong kalau aku mengambil sedikit keuntungan?"kata Bowo membuat Sahrul menghera nafasnya.
"Ini pak silahkan bawa pak Bowo ke kantor polisi."kata Sahrul.
"Baik, mari pak Bowo ikut saya dan saya minta tolong buat pak Sahrul buat melakukan laporan tambahan tentang berkas ini."kata polisi.
"Baik pak."kata Sahrul.
Saat Sahrul ikut kekantor polisi agar menjelaskan lebih rinci lagi semua dewan direksi kembali keruangan mereka masing-masing. Ryan yang masuk keruangan Lydia diikuti oleh Cindy dan Rima. Ryan duduk dikursi milik Lydia sedangkan kedua temannya duduk didepan meja itu.
"Makasih Rim kamu sudah mau membantuku."kata Ryan.
"Aku yang harusnya berterimakasih sama kamu, kalau kamu gak menghubungiku tadi malam mungkin sampai sekarang kita gak akan tau apa yang sudah dilakukan oleh pak Bowo."kata Rima.
"Kamu menghubungi Rima, kak?"kata Cindy.
"Iya, kalau aku hubungi kamu pasti kamu akan bicara sama Lydia. Aku gak mau dia banyak pikiran dulu biarkan saja dia tenang liburannya."kata Ryan membuat Cindy terkejut karena tadi saat perjalanan ke perusahaan dia mengirim pesan pada Lydia.
"Kamu kenapa melamun jangan bilang kalau kamu sudah kasih tau Lydia?"kata Rima yang tau kalau Cindy gak bisa menyembunyikan sesuatu dari Lydia.
"Maaf, aku tadi mengirim pesan pada Lydia."kata Cindy membuat Ryan menghera nafasnya.
"Lain kali bisa gak tanya dulu sama aku atau Ryan, kamu memang asisten sekaligus teman Lydia tapi ada saatnya kamu menceritakan dan ada saatnya gak."kata Rima.
"Iya lain kali aku akan tanyakan dulu pada kalian."kata Cindy.
"Sudahlah sudah terjadi juga, ada yang mau kalian bicarakan lagi?"kata Ryan.
__ADS_1
"Sudah gak ada, aku kembali ke ruanganku dulu."kata Rima.
"Baiklah, Cin ada kerjaan yang mendesak untuk diperkisa gak?"kata Ryan bertanya pada Cindy.
"Itu diatas meja dekat komputer."kata Cindy.
"Ya sudah kalau kayak gitu makasih habis ini aku periksa, apa ada lagi?"kata Ryan.
"Sudah gak ada kalau ada nanti aku kasih tau lagi."kata Cindy.
"Kayaknya habis ini kamu letakkan saja berkasnya diatas meja soalnya setelah memeriksa berkas aku harus ke perusahaan ayahku."kata Ryan.
"Baiklah kalau kayak gitu, aku keluar dulu ada yang kamu butuhkan gak?"kata Cindy.
"Sudah gak ada nanti kalau Lydia hubungi kamu bilang kalau aku sudah menyelesaikan masalahnya."kata Ryan.
"Baiklah, kalau kayak gitu aku permisi dulu."kata Cindy lalu berjalan keluar.
Ryan menghera nafasnya lalu melihat ponselnya siapa tau ada panggilan dari istrinya ternyata tak ada. Ryan memutuskan untuk meyelesaikan pekerjaan disana setelah itu pergi ke perusahaan ayahnya karena daritadi kak Anton sudah bertanya dimana dia berada. Ryan memeriksa berkas itu tak ada yang mencurigakan setelah memeriksanya dia meletakkan berkas itu ditengah meja agar nanti saat Cindy masuk dia bisa mengambil berkas itu. Ryan keluar dari ruangan Lydia dan melihat kalau Cindy sedang mengerutkan keningnya membuat Ryan penasaran apa yang terjadi dengan Cindy.
"Kamu kenapa?"kata Ryan membuat Cindy terkejut lalu menjatuhkan ponselnya.
Ryan mengambil ponsel itu lalu terkejut saat membaca apa yang dilihat oleh Cindy itu, Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi Dayat. Untung saja orang kepercayaannya itu langsung mengangkat panggilan itu.
[Hallo tuan, ada apa padahal saya mau menghubungi tuan tapi tuan sudah menghubungi saya duluan?]
[Baik tuan akan saya lakukan apa yang anda perintahkan.]
[Baiklah, aku tunggu kabar baiknya sekarang aku mau ke perusahaan ayah.]
[Saat anda sampai perusahaan tuan Dany masalah anda akan selesai.]
Ryan menyimpan ponselnya lalu memandang kearah Cindy yang terdiam saat mendengar perkataan Ryan membuat Ryan tersenyum melihat wajah Cindy yang ketakutan.
"Kamu kenapa?"kata Ryan sambil menepuk pundak Cindy membuat perempuan itu sadar dari lamuanannya.
"Aku gak nyangka kalau kamu kejam."kata Cindy membuat Ryan tersenyum.
"Aku akan kejam pada orang yang sudah menganggu aku ataupun keluarga dan teman dekatku."kata Ryan.
"Apa kamu gak kasian mereka berbuat begitu karena mencari uang?"kata Cindy berharap kalau Ryan hanya memperingatkan mereka bukan menghancurkan usaha.
"Aku sudah mengingatkan mereka tapi mereka masih mau melakukan perbuatan itu lagi tak perduli dengan ancamanku jadi bukan salahku menghancurkan mereka karena aku sudah mengingatkan sebelumnya. Aku juga gak mau karena hal ini Lydia menjauh lagi dariku."kata Ryan.
"Menjauh bagaimana?"kata Cindy.
'Kalau kamu mau tau, kamu tanya saja sama Lydia. Sekarang aku harus pergi dulu."kata Ryan yang diangguki oleh Cindy.
__ADS_1
Ryan pergi dari perusahaan Lydia untuk pergi ke perusahaan ayahnya, saat dipertengahan jalan terdengar ponselnya berbunyi ternyata itu panggilan dari Lydia. Ryan tersenyum lalu mengangkat panggilan itu cepat saat menerima panggilan video itu terlihat wajah Lydia masam membuat Ryan mengerutkan keningnya.
[Sayang kok mukanya ditekuk gitu ada apa?]
[Kak, aku baru dua hari gak ada dirumah kakak kok bisa hamilin orang sih?]
[Kamu ini bukannya aku sudah bilang kalau aku gak hamilin Erika.]
[Lalu gosip yang beredar itu bagaimana?]
[Kamu gak percaya sama aku sayang?]
[Bagaimana aku percaya kalau gosipnya sudah menyebar kemana-mana?]
[Sayang, kalau aku melakukan kenapa aku menikah denganmu?]
[Siapa tau hanya ingin balas dendam?]
[Balas dendam karena apa?]
[Mana aku tau.]
[Aku memang mau balas dendam tapi bukan balas dendam soal itu.]
[Lalu?]
[Balas dendan nanti saat kamu pulang karena berani-beraninya bikin aku kerepotan cari kamu dan ngurusin perusahaan papa sedangkan pekerjaanku sendiri terbengkalai.]
[Memangnya kamu mau lakukan apa?]
[Nanti aku akan kurung kamu dirumah selama satu minggu atau mungkin untuk selamanya.]
[Kalau kamu mengurungku dirumah nanti aku gak bisa kerja dong? Eh gak papa sih kalau kakak mau repot ngurusin perusahaan papa.]
[Ish maunya, kamu dimana?]
[Aku baru sampai kontrakan. Kak selesain masalah itu aku gak mau oangtua kita kepikiran.]
[Aku gak ada masalah kalau orangtua kita tau, yang aku masalahin kamu, aku takut kamu kepikiran dan semakin lama berada disana.]
[Bukannya malah senang ya kalau aku disini kamu bisa bebas mau kemana-mana.]
[Ish aku menikah itu karena aku ingin pulang kerja disambut sama istri dimanja sama dia eh kalau kamu disana terus gak ada yang manja aku dong.]
[Jadi menikah karena itu alasannya?]
[Memang salah ya kalau aku mempunyai pikiran kayak gitu?]
__ADS_1
[Salah kalau kamu pikirannya hanya untuk dimanja memangnya aku juga gak mau dimanja?]