
Keesokan paginya Ryan yang bangun duluan tersenyum karena saat bangun tidur bisa melihat Lydia yang sedang memeluknya erat. Ryan mencium kening Lydia lama membuat tidur Lydia terganggu, saat Lydia bergerak Ryan menelus punggung istrinya itu agar tertidur lagi.
"Ini jam berapa?"kata Lydia sambil masih menutup matanya.
"Masih jam 5 tidur lagi gih."kata Ryan tapi bukannya tidur lagi Lydia malah membuka matanya.
"Kenapa?"kata Ryan.
"Kasian bibi harusnya sudah menunggu dibawah, kuncinya aku bawa pasti gak bisa masuk ke dalam."kata Lydia yang masih berusaha untuk mengumpulkan nyawanya.
"Kamu tidur lagi biar aku yang bukain pintu buat bibi."kata Ryan.
"Memangnya gak papa?"kata Lydia yang gak enak hati.
"Gak papa tidur saja, ya sudah kalau kayak gitu aku turun dulu kamu tidur lagi."kata Ryan yang diangguki oleh Lydia.
Ryan menaikkan selimut Lydia setelah itu keluar untuk membuka pintu, ternyata saat Ryan membuka pintu benar saja ada seorang perempuan yang seumuran bibinya berada didepan rumah dengan memakai jaket. Ryan yang gak enak hati mendekati bibi untuk minta maaf karena lama membuka pintu apalagi pagi ini dingin banget.
"Maaf ya bi,aku lama bukanya."kata Ryan meminta maaf.
"Aden ini..."kata bibi.
"Saya Ryan suaminya Lydia bi."kata Ryan.
"Non, Lydia sudah nikah kok gak bilang sama bibi? Maaf ya den, bibi gak tau soalnya."kata bibi yang gak enak hati.
"Gak papa bi, masuk bi. Bibi bawa apa itu?"kata Ryan.
"Oh ini bibi semalam disuruh beli ayam katanya nona mau dimasakin sup ayam."kata bibi.
"Lydia ngasih uang gak sama bibi kalau gak biar aku ganti uangnya?"kata Ryan.
"Sudah den, kalau begitu bibi ke dapur dulu buat masak ini."kata bibi.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku ke atas lagi bi."kata Ryan.
Ryan kembali ke kamarnya ternyata istrinya itu masih tertidur didalam selimut. Ryan melihat jam sudah 5.30 mendekati istrinya dan masuk lagi ke dalam selimut untuk menjahili Lydia. Ryan memeluk Lydia dari belakang sambil menciumi pundak Lydia membuat istrinya itu berbalik badan sambil membuka matanya.
"Aku masih ngantuk."kata Lydia sambil mendongahkan wajahnya agar bisa melihat wajah suaminya.
"Ini sudah pagi sayang, katanya mau ke perusahaan ayo bangun."kata Ryan.
"Aku tidur sebentar lagi masih ngantuk."kata Lydia.
"Ayo bangun biar aku bisa anterin kamu ke perusahaan habis itu aku mau meeting dengan klien sebentar. Habis meeting aku mau antar Dayat ke bandara."kata Ryan.
"Ngapain nganterin Dayat ke Jakarta?"kata Lydia.
"Biar dia yang gantiin aku sementara diperusahaan selama aku menemanimu disini."kata Ryan.
"Besokkan weekend masak masih kerja?"kata Lydia.
"Dayatkan punya keluarga sayang, pasti dia mau kumpul sama keluarganya. Ayo bangun siapa yang mandi duluan?"kata Ryan.
"Aku masih ngantuk mas saja yang duluan mandi."kata Lydia.
"Kalau kamu masih ngantuk bagaimana kalau kita main dulu?"kata Ryan.
"Main apa?"kata Lydia.
"Main ini?"kata Ryan sambil menciumi bibir Lydia berkali-kali.
"Kak apaan sih?"kata Lydia.
"Memangnya mau cium istri sendiri gak boleh?"kata Ryan.
"Gak boleh."kata Lydia.
"Kalau nempel saja gak boleh berarti kayak gini boleh dong?"kata Ryan.
Ryan mencium bibir Lydia sambil merumatnya, Ryan mengigit bibir Lydia agar istrinya itu mau membuka mulutnya. Saat Lydia membuka mulutnya Ryan semakin bersemangat untuk mencium bibir Lydia lebih dalam lagi. Saat nafas mereka sudah memburu terdengar suara pintu kamar diketuk dari luar. Ryan terpaksa melepas ciuman itu dengan kesal dan Lydia melihatnya memiliki ide jahil. Lydia kembali menarik selimutnya untuk tidur lagi sedangkan Ryan yang sudah menetralkan rasa kesalnya melihat kesamping kalau istrinya sedang tidur membangunkan istrinya lagi.
"Sayang bangun mandi nanti gantian biar aku buka pintu buat liat siapa yang ngetuk pintu."kata Ryan.
"Malas aku mau tidur lagi.
"Sayang bangun."kata Ryan dengan suara tinggi membuat Lydia terkejut.
__ADS_1
Baru kali ini Ryan membentahnya biasanya dia akan lembut kalau gak gitu mengoda Lydia, Lydia bangun dari ranjang lalu menuju kamar mandi gak jadi menjahili suaminya. Ryan yang tersadar karena sudah membentak Lydia meraup wajahnya kasar. Ryan akan meminta maaf nanti, dia memutuskan untuk membuka pintu karena pintu kamarnya diketuk lagi. Ryan bangun dari ranjang untuk melihat siapa yang mengetuk pintunya pagi-pagi sekali ternyata Dayat yang ada didepan kamarnya.
"Ada apa Yat?"kata Ryan.
"Maaf tuan menganggu waktu anda bisa bicara sebentar?"kata Dayat.
"Baiklah kita bicara dibawah saja."kata Ryan.
Ryan keluar setelah itu menutup pintu kamarnya lalu mengajak Dayat turun ke bawah, mereka akan berbicara didekat kolam renang saja terlihat nyaman kalau pagi-pagi bicara disana. Lydia yang keluar dari kamar mandi tak melihat suaminya menghera nafasnya tadi disuruh cepat-cepat mandi giliran sudah mandi marah dia yang gak ada. Lydia yang kesal pakai baju lalu membuka koper milik Ryan untuk mengambilkan pakaian suaminya. Lydia bingung apa harus juga mengambilkan ****** ***** milik suaminya, Lydia melihat ****** ***** milik Ryan setelah itu mengambil satu dan meletakkan pakaian Ryan diats ranjang. Saat dia mau keluar kamar balik lagi untuk meletakan ****** ***** milik Ryan yang awalnya diatas sekarang dia letakkan diantara baju dan celana milik Ryan.
Lydia kali ini benar-benar keluar kamar untuk mencari Ryan, saat dia mencari Ryan ke bawah ternyata suaminya itu sedang berbicara dengn Dayat. Lydia yang tadi niatnya mau menghampiri gak jadi, dia memutuskan untuk berbalik arah menuju dapur. Lydia ingin tau apa bibinya benar memasakkannya sup ayam.
"Bi, sudah matang supnya?"kata Lydia.
"Sudah non, tinggal menatanya dimeja. Non kok gak bilang sama bibi semalam kalau non sudah menikah?"kata bibi.
"Memangnya kalau aku bilang sudah menikah memangnya mau apa bi?"kata Lydia.
"Ya bibikan bisa menggandakan kunci agar nona sama aden gak bangun pagi-pagi."kata bibi.
"Memangnya kenapa kayak gitu bi?"kata Lydia.
"Ya siapa tau kalau nona sama aden mau bikin nona atau aden kecil? Kalau bibi pagi-pagi datangkan menganggu."kata bibi.
"Bibi ada-ada saja, bi memangnya malam pertama itu sakit?"kata Lydia membuat bibi terkejut.
"Memang nona belum melakukan momen sakral itu?"kata bibi yang hanya dijawab gelengan oleh Lydia membuat bibi tersenyum.
"Awalnya memang sakit tapi lama-lama enak."kata bibi membuat pipi Lydia merona membayangkan kalau melakukan hubungan itu.
Bibi dan Lydia membicarakan tentang kehidupan pernikahan sedangkan Ryan dan Dayat sedang membicarakan perusahaan Lydia. Ryan menghera nafasnya karena masalah diperusahaan Lydia benar-benar gak bisa diabaikan. Ryan mengambil ponselnya untuk menghubungi papa mertuanya. Sebenarnya dia gak enak menghubungi pagi-pagi begini tapi ini demi perusahaan Ryan terpaksa.
[Hallo Asalamualikum Yan...]
[Walaikumsalam pa, maaf kala aku ganggu papa.]
[Gak papa kok ini mamamu yang lagi nyiapin makan ada apa tumben kamu menghubungi papa?]
[Pa, aku mau minta izin sama papa untuk merombak besar-besaran perusahaan papa boleh?]
[Memangnya ada apa kok kamu mau merombak perusahaan yang ada disana apa masalahnya berat?]
[Papa ikut kamu saja mana yang terbaik lakukan saja.]
[Baik pa makasih kalau kayak gitu aku tutup dulu. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah menganggu.]
[Gak papa kayak sama siapa saja, papa serahin urusan disana sama kamu. Salam buat putri papa bilangin sama dia sudah punya suami lupa sama mama papanya.]
[Maaf pa, aku gak sempat ngajak Lydia pulang ke rumah mama sama papa soalnya kemarin pagi saja saat Lydia pulang saya sudah berangkat ke Surabaya.]
[Gak papa nanti kalau ada waktu luang kamu bisa datang sama Lydia.]
Ryan setelah mematikan panggilan itu langsung saja menghera nafasnya gak menyangka kalau mertuanya begitu mempercayainya. Ryan meletakkan ponselnya dimeja yang ada didepannya, Dayat yang melihat atasannya menghera nafas penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"Ada apa tuan kalau saya boleh tau?"kata Dayat.
"Aku gak menyangka kalau mertuaku percaya banget sama aku padahal kita baru kenal."kata Ryan.
"Mungkin karena orangtua kalian sudah saling kenal sejak dulu."kata Dayat.
"Mungin, Yat kamu pulang besok saja bisa gak hari ini bantuin aku buat nyelesaiin semuanya?"kata Ryan.
"Baik tuan kalau kayak gitu aku siapkan semuanya."kata Dayat.
Saat Ryan dan Dayat sedang membahas tentang masalah perusahaan Lydia, Lydia datang menghampiri. Dayat yang melihat Lydia mendekat tersenyum pada istri atasannya itu. Dayat merasa pernah melihat Lydia sebelum ini tapi dimana Dayat lupa.
"Ada apa melihat aku kayak gitu?"kata Lydia saat sudah dekat dengan kedua pria itu.
"Maaf nyonya apa kita sebelumnya pernah bertemu? Saya merasa kalau wajah nyonya itu familiar buat saya."kata Dayat.
"Karyawan ditoserba yang dimanageri bu Rosa."kata Lydia.
"Iya aku ingat, nyonya karyawan yang dirundung oleh temannya itukan?"kata Dayat membuat Ryan terkejut karena Lydia pernah diolok oleh temannya.
"Iya, makasih waktu itu sudah membantuku."kata Lydia sambil duduk dikursi yang kosong.
"Sama-sama nyonya itu sudah jadi tugas saya."kata Dayat.
__ADS_1
"Kakak gk mau mandi? Atau mau kerja pakai baju tidur?"kata Lydia menyindir Ryan membuat Dayat tersenyum.
"Kalau begitu saya pergi dulu nyonya."kata Dayat yang mau kembali ke kamarnya untuk mandi dan siap-siap.
Ryan setelah kepergian Dayat memadang kearah Lydia tanpa berkedip membuat istrinya itu salah tingkah. Ryan tersenyum melihat istrinya salah tingkah menjadi gemas sendiri. Lydia yang salah tingkah memutuuskan untuk bangun dari duduknya tapi tangannya ditarik oleh Ryan sehingga membuatnya terduduk dipangkuan Ryan.
"Lepasin."kata Lydia.
"Seperti ini dulu sebentar saja."kata Ryan sambil menyembunyikan wajahnya dileher Lydia.
"Kamu kenapa?"kata Lydia.
"Aku minta maaf sama kamu."kata Ryan sambil meletakkan dagunya dipundak istrinya.
"Minta maaf buat apa?"kata Lydia.
"Minta maaf sudah membentakmu tadi."kata Ryan.
"Iya sudah gak papa kok."kata Lydia.
"Ly..."kata Ryan.
"Apa?"kata Lydia.
"Aku mau permenku."kata Ryan.
"Ambillah."kata Lydia.
"Ini permenku yang menjadi canduku."kata Ryan sambil mencium bibir Lydia yang langsung dipukul oleh Lydia.
"Ini bukan permen tapi bibirku."kata Lydia yang cemberut.
"Tapi ini kenyal kayak pereman dan sudah menjadi canduku. Boleh ya aku untuk meminta peremenku disini?"kata Ryan.
"Gak, sana mandi nanti kamu telat bertemu klien."kata Lydia.
"Kalau kamu gak kasih aku gak mau mandi."kata Ryan.
"Terserahmu orang yang rugi juga kamu bukan aku."kata Lydia yang mau bangun tapi Ryan malah memeluknya erat sehingga Lydia gak bisa bergerak.
Ryan tak menyia-nyiakan kesempatannya dia mencium bibir Lydia, awalnya hanya menempel saja tapi lama-lama Ryan **********. Awalnya Lydia diam saja tapi akhirnya membalas ciuman itu dan mengalungkan tangannya dileher Ryan semakin membuat Ryan tersenyum. Mereka berciuman mesra tanpa perduli dengan sekitarnya, bibi yang tadinya mau memanggil keduanya untuk makan tak jadi menemui mereka setelah melihat kegiatan yang dilakukan keduanya. Ryan melepaskan ciuman itu saat dirasa nafas mereka sama-sama habis, baru kali ini ciuman mereka ganas membuat lipstik milik Lydia berantakan. Ryan tersenyum dan mengusap bagian bibir Lydia yang terkena lipstik.
"Nyebelin banget sih."kata Lydia sambil memukul dada Ryan.
"Nyebelin tapi kamu menikamtinyakan sayang."kata Ryan.
"Siapa yang menikmati gak ada."kata Lydia tapi pipinya sudah merona.
"Masak sih, tapi kok pipimu jadi merah kayak tomat."kata Ryan.
"Sudah ah sana mandi, aku sudah siapin baju sama air."kata Lydia.
"Ikut aku naik buat benerin riasan kamu."kata Ryan sambil bangun sambil mengendong Ryan.
"Kak turunin aku bisa jalan sendiri."kata Lydia.
"Diam atau aku cium kamu sambil jalan?"kata Ryan mengancam Lydia.
"Ih nyebelin banget sih."kata Lydia.
Ryan tersenyum karena Lydia terdiam saja setelah Ryan mengancamnya, sampai dikamar Ryan bukannya menurunkan Lydia tapi dia membawa Lydia masuk ke dalam kamar mandi membuat Lydia meronta.
"Kak, ngapain masuk ke dalam kamar mandi?"kata Lydia.
"Mau ini."kata Ryan mendudukan Lydia didekat wastafer dan menciumnya kembali.
Lydia kali ini tak memberontak dia memilih untuk mengalungkan tangannya dileher Ryan. Ryan tersenyum dan semakin bersemangat untuk mencium istrinya tangannya juga tak tinggal diam. Tangan Ryan masuk ke dalam baju Lydia dan memegang dua bukit kembar istrinya membuat Lydia mendesah. Ryan semakin nakal memainkan tangannya sambil tangan yang satu lagi membuka kancing baju milik istrinya. Saat mereka berdua sedang menikmati kegiatan itu ponsel Lydia berbunyi awalnya Lydia membiarkan saja tapi lama-lama dia risih karena panggilan itu terus menerus.
"Kak, hentikan."kata Lydia.
"Ada apa sayang?"kata Ryan.
"Aku harus mengangkat ponselnya, sekarang kakak mandi ya."kata Lydia turun dari wastafer membuat Ryan kecewa.
Ryan yang sudah naik terpaksa melakukan kegiatan solo lagi. Lydia yang sudah mengakhiri panggilannya dengan pak Purnomo gelisah karena Ryan tak kunjung-kunjung datang. Lydia mengedor pintunya, Ryan yang berusaha untuk menidurkan juniornya merasa terganggu dengan gedoran itu tapi dia mendiamkannya.
"Kak, kakak gak papakan?"kata Lydia.
__ADS_1
"Aku gak papa kamu duluan saja turun."kata Ryan.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku tinggal ke bawah duluan."kata Lydia.