Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Pernikahan Lydia dan Ryan


__ADS_3

Saat mereka bertiga turun dari tangga semua orang yang ada disana memandang Lydia kagum. Apalagi Ryan yang terpesona dengan kecantikan Lydia hanya tertegun membuat Anton muncul ide jahilnya.


"Yan, irelnya keluar tu."kata Anton membuat Ryan mengusap mulutnya membuat semua orang disana tertawa.


"Kak..."kata Ryan kesal karena dikerjain kakaknya.


"Siapa suruh natap Lydia sampai segitunya? Dia gak bakal hilang sebentar lagi malah kamu bisa memandanginya saat bangun tidur."kata Ryan.


"Masa sih?"kata Ryan.


"Tau ah tu kamu sudah siap belum sebentar lagi dia duduk disebelahmu nanti malah salah ucap lagi."kata Anton.


"Bun, liat kakak tu, masak doain aku yang gak bener."kata Ryan ngadu sama bundanya.


"Sudah gak usah kamu dengerin kakakmu itu, sekarang kamu siap-siap saja."kata bunda Arina.


"Tu dengerin."kata Ryan.


Lydia duduk disebelah Ryan membuat Ryan gugup sebenarnya tapi berusaha untuk menenangkan dirinya. Ryan ditanya pak penghulu apa dia sudah siap kalau sudah siapa mereka akan segera memulai akad nikahnya acara ijab kabul itu papa Irwan sendiri yang menjadi wali.


"Saya terima nikah dan kawinnya Lydia Emirat binti Irwan Emirat dengan mas kawin emas seberat 10 gram dan juga uang sebesar 200.000 dibayar tunai."kata Ryan.


"Bagaimna para saksi?"kata penghulu.


"Sah."kata mereka semua bersamaan.


"Alhamdulilah sekalian sudah sah menjadi suami istri secara hukum dan agama."kata penghulu membuat Lydia dan Ryan terkejut.


Ternyata kedua keluarga itu sudah mempersiapkan rencana mereka dengan matang. Setelah ijab kabul mereka makan malam bersama divilla itu.


"Wah Ly nanti malam hati-hati sama Ryan ya."kata Anton.


"Memangnya kenapa?"kata Lydia.


"Dia itu kalau malam pasti akan jadi buas."kata Anton.


"Iya apalagi nanti malam pertama kali."kata Kevin.


"Bisa diam gak kalian."kata Ryan.


"Sok cool didepan Lydia padahal biasanya bunda liat kakak jahil."kata Anton.


"Kakak?"kata Lydia bingung.

__ADS_1


"Kamu tanya sama suamimu kalau itu karna dia yang seharusnya menjelaskannya."kata Anton.


Selesai makan malam kedua pasangan pengatin baru itu sudah disuruh masuk kamar. Lydia terkejut karena kamarnya sudah ditata sedemikian lupa. Tas yang dibawa Ryan juga sudah disimpan disana.


"Kamu ganti baju dulu apa aku?"kata Lydia.


"Kamu saja aku mau mandi lengket semua badanku."kata Ryan.


"Oke."kata Lydia.


Lydia masuk ke dalam kamar mandi tapi sebelum itu dia mengambil pakaian ganti membuat Lydia terkejut karena yang ada didalam lemari yang ada hanya baju haram. Baju haram itupun parah hanya menutup bagian sensitifnya saja. Ryan yang melihat kalau Lydia tak mengambil baju ganti mendekati istrinya itu.


"Ada apa?"kata Ryan yang membuat Lydia langsung menutup pintu lemarinya.


"Gak da apa-apa."kata Lydia.


"Gak papa kok ditutup sih?"kata Ryan.


"Yan, kamu punya kaos atau celana pendek gak?"kata Lydia.


"Ya adalah memangnya kenapa?"kata Ryan.


"Aku boleh pinjam gak."kata Lydia.


"Iya, kamu liat sendiri saja."kata Lydia sambil menyingkirkan badannya kesebelahnya.


Ryan membuka lemari Lydia, dia juga terkejut saat melihat baju yang ada didalam lemari itu. Kalau mereka menikah dengan kerelaan Lydia mungkin dia akan senang tapi nyatanya mereka menikah karena terpaksa. Ryan mengambil tasnya untung saja dia membawa 3pasang pakain.


"Nih kau coba aku hanya bawa baju sedikit."kata Ryan.


"Gak papa yang penting aku masih bisa ganti baju."kata Lydia.


"Ya sudah buruan gih gantian aku."kata Ryan.


"Kamu maih hutang satu hal sama aku Yan."kata Lydia sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Aku memangnya hutang apa sama kamu? Seingatku aku gak janji apa-apa sama kamu."kata Ryan.


"Kamu janji buat jelasin ke aku tentang orangtuamu dan Anton."kata Lydia.


"Oh oke nanti kalau senggang aku jelasin."kata Ryan.


"Aku pegang janjimu."kata Lydia.

__ADS_1


"Iya sudah sana masuk atau mau aku duluan?"kata Ryan.


"Aku duluan kamu nanti saja."kata Lydia yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Ryan sendiri sambil menunggu Lydia selesai dari kamar mandi memutuskan untuk mengambil tablet. Ryan fokus mempelajari berkas yang dikirim oleh Dayat untuk bahan presentasi lusa pada klien sampai dia gak sadar kalau Lydia sudah selesai mandi. Lydia yang melihat kalau Ryan sedang fokus dengan tabletnya kesal padahal tadi menyuruhnya untuk cepat-cepat mandi sekarang malah Ryan sibuk dengan pekerjaannya.


"Yan..."kata Lydia tapi Ryan tak mendengar dia lebih fokus dengan tabletnya dan tak mendengar kalau Lydia memanggilnya.


Lydia menghampiri Ryan sambil merebut tablet yang ada ditangan suaminya itu. Ryan yang tabletnya diambil oleh Lydia langsung memandang tajam Lydia membuat istrinya itu takut. Ryan yang sadar kalau Lydia takut langsung saja mengusap wajahnya.


"Ada apa?"kata Ryan.


"Katanya mau mandi tapi malah sibuk dengan tabletmu."kata Lydia.


"Aku sedang memeriksa pekerjaan Ly."kata Ryan.


"Nanti saja lagi sekarang mandi dulu sana."kata Lydia.


"Iya nyonya Ryan."kata Ryan sambil bangun dari duduknya.


"Siapa yang nyonya Ryan?"kata Lydia.


"Bukannya kamu, apa kamu lupa kalau aku beberapa jam yang lalu mengucapkan janji suci denganmu dihadapan pak penghulu dan keluarga kita?"kata Ryan.


"Iya aku gak lupa, tapi aku gak mau disebut nyonya Ryan."kata Lydia.


"Kalau gak mau disebut nyonya Ryan maunya apa?"kata Ryan.


"Ya namakulah, sudah sana kamu mandi aku pinjam tabletnya."kata Lydia.


"Buat apa?"kata Ryan.


"Terserah akulah mau buat apa."kata Lydia.


"Pakai saja asal jangan buka yang macam-macam."kata Ryan.


"Aku buka galeri ya?"kata Lydia.


"Buka saja."kata Ryan.


Ryan mengambil pakaiannya setelahh itu masuk ke kamar mandi. Lydia duduk diranjang untuk melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Ryan. Lydia terkejut karena berkas yang sedang Ryan buka itu adalah berkas milik mall yang terbesar disana dan juga toserba yang Lydia pernah kerja disana. Lydia akan bertanya siapa Ryan sebenarnya, dia memutuskan menutup jendela itu dan memilih untuk menonton drakor kesukaannya.


Baru saja Lydia berbaring sambil menonton drakor matanya sudah tak bisa dibuka lagi. Akhirnya Lydia menyerah memilih untuk tidur, saat Ryan selesai mandi dia tersenyum melihat istrinya tertidur pulas padahal tabletnya masih menyala.

__ADS_1


Ryan meletakan handuknya ditempatnya setelah itu menyusul istrinya ke ranjang Ryan duduk disamping Lydia sambil memandang wajah Lydia yang tertidur pulas. Ryan memindahkan tabletnya lalu mencium kening Lydia lama. Setelah itu Ryan berbaring disamping istrinya itu. Mereka berdua tertidur sambil berpelukan.


__ADS_2