Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan dan Anton menjaga Shinta


__ADS_3

"Makasih om, om sama tante mau merestui aku sama Lydia."kata Ryan.


"Om hanya ingin yang terbaik buat putri om itu saja."kata papa Irwan.


"Pa ayo pulang."kata mama Intan yang meyusul papa Irwan keluar untuk mengajak beliau pulang.


"Kok jam segini sudah mau pulang tan?"kata Ryan.


"Iya, kamu jadi ikut gak ke Villa lusa Yan?"kata mama Intan.


"Ikut tan, tapi aku brangkatnya gak barengan tan. Soalnya harus liat mbak Shinta nikah dulu."kata Ryan.


"Iya gak papa, kalau kayak gitu kami pulang dulu ya."kata mama Intan.


"Memangnya mama tadi sudah pamit sama mereka?"kata papa Irwan.


"Sudah ayo sekarang kita pulang."kata mama Intan.


"Ya sudah ayo, kita pulang dulu ya Yan."kata papa Irwan.


"Iya om hati-hati."kata Ryan.


Ryan setelah orangtua Lydia pergi kembali mencoba menghubungi Lydia tapi beberapa kali melakukan panggilan Lydia tetap saja tak mengangkat panggilannya. Anton yang baru kelur kamar dan melihat kalau Ryan sedang kesal langsung saja mendekati adiknya itu untuk mencari tau apa yang mmbuat adiknya itu kesal.


"Kamu itu kenapa Yan? Kok kakak liat kamu uring-uringan sendiri?"kata Anton yang sudah duduk disebelah Ryan.


"Gak papa kak, hanya kesal saja Lydia aku hubungi gak diangkat-angkat."kata Lydia.


"Mungkin dia lagi sibuk, makanya gak angkat waktu kamu hubungi."kata Anton.


"Kok kamu keluar kak, memangnya sudah kelar pembahasan tentang acara nikahan mbak Shinta?"kata Ryan.


"Ijab kaburnya dimajukan besok, biar lusa Shinta bisa langsung pulang ke rumah Jono."kata Anton.


"Memangnya sudah ada rumah Jono itu?"kata Ryan.


"Sudah kayaknya, tapi kakak tetap akan mengawasi sepupu Ryan itu."kata Anton.


"Hati-hati nanti jatuh cinta lagi."kata Ryan.


"Enak saja, gak mungkin itu terjadi."kata Anton.


"Jodoh gak ada yang tau kak."kata Ryan.


"Sudah, aku mau cari kopi sama bunda tadi nitip martabak kamu mau ikut aku gak atau nitip?"kata Anton.


"Aku ikut saja, lagian mau ngapain disini gabut."kata Ryan membuat Anton tersenyum.


Kakak dan adik itu berjalan meninggalkan ruang rawat Shinta untuk membeli kopi. Saat mereka berdua sedang berdua membeli kopi, Lydia terbangun dari tidurnya. Lydia bangun karena badannya sudah kedinginan.


Saat dia sudah memakai baju dan berbaring diranjangnya sambil mengambil ponselnya untuk melihat apa ada yang menghubunginya. Tapi dia terkejut karena ada banyak panggilan masuk dari Lydia. Lydia menghubungi Ryan kembali tapi tak diangkat oleh Ryan. Setelah beberapa kali mencoba tak diangkat panggilannya oleh Ryan, Lydia kesal dan membuang ponselnya sembarangan.


Lydia yang sedang kesal memutuskan untuk tidur kembali tapi gak bisa tidur. Akhirnya dia mengambil laptop dan nonton film. Saat dia nonton film dia melihat cincin yang ada dijari manisnya membuat Lydia tersenyum karena itu adalah cincin pembelian dari Ryan.


Ryan sendiri setelah kembali keruang rawat Shinta ternyata disana hanya tinggal kedua orangtua dan Jono saja.


"Kalian kok lama banget sih?"kata bunda Arina.


"Maaf bun, tadi cari martabaknya jauh makanya lama."kata Anton.


"Bawa sini bunda sudah gak sabar makan martabaknya."kta bunda Arina.


"Bunda gak lagi nyidamkan?"kata Ryan.


"Kamu ini mana ada bunda hamil seharusnya kalian itu yang bikinin bunda cucu."kata bunda Arina sambil melempar buah jeruk ke kepala Ryan membuat Shinta dan Anton tertawa.


"Kalian berdua ini malah tertawa, Ton kapan kamu mau nikah sebentar lagi kedua adikmu sudah mau nikah itu lo?"kata bunda Arina.


"Lah bun, kok jadi aku juga yang kena?"kata Anton.


"Kamu itu anak sulung mama harusnya kamu yang menikah duluan bukan Shinta."kata bunda Arina.


"Kamu mau cari sendiri atau bunda jodohkan sama anak teman bunda mereka banyak yang mau kamu jadi menantunya?"kata bunda Arina.


"Bun, aku cari sendiri saja, sudah gak usah bahas itu. Bunda sama ayah habis ini pulang biar aku sama Ryan yang jaga Shinta disini."kata Anton.


"Gak bunda mau disini saja."kata bunda Arina.


"Bun, benar apa kata Ryan. Bunda sama ayah pulang dulu biar aku yang jaga Shinta. Besok pagi bunda sama ayah datang kesini gantiin kami."kata Anton.


"Benar apa kata kakak sama Ryan bun, bunda sama ayah pulang saja malam ini. Jono juga pulang kok malam ini iya kan Jon?"kata Shinta.


"Iya tante saya pulang habis ini."kata Jono.


"Tu dengar gak ada yang perlu bunda khawatirin."kata Anton yang takut terjadi sesuatu kalau Jono ada disana.


"Baiklah bunda sama ayah pulang."kata bunda Arina akhirnya.


Ryan minum kopi sambil duduk disofa bersama dengan ayah dan Anton. Sedangkan bunda Arina duduk disamping ranjang. Jono sendiri pamit pulang karena dia tau sebenarnya dia masih belum bisa diterima oleh keluarga calon istrinya itu.


"Bagaimana apa kamu sudah bisa yakinin Lydia?"kata ayah Dany.


"Gimana dia bisa yakin kalau Lydia taunya Ryan ada hubungan sama Shinta yah?"kata Anton.


"Benar itu Yan, kamu mau sampai kapan bohong sama Lydia? Perempuan itu kalau dia perempuan baik-baik dia gak akan mau mengganggu hubungan orang lain."kata ayah Dany.


"Aku masih mau mencobanya."kata Ryan.

__ADS_1


"Jangan kelamaan mencoba nanti kalau dia marah sama kamu bagaimana?"kata ayah Dany.


"Dia gak akan marah tenang saja, lagian aku yakin sebentar lagi dia akan menjadi istriku."kata Ryan.


"Yakin banget kamu Yan?"kata Anton.


"Yakinlah, kita liat saja nanti."kata Ryan.


"Baiklah, aku tunggu kabar darimu."kata Anton.


Saat mereka sedang menggobrol bunda Arina mendekati ketiga pria kesayangannya itu.


"Yah, jadi pulang gak?"kata bunda Arina.


"Jadi dong memangnya bunda sudah selesai bicara sama Shintanya?"kata ayah Dany.


"Sudah, besok tinggal ambil kebaya dibutik langganan bunda. Ton, bunda bisa minta tolong sama kamu gak?"kata bunda Arina.


"Bunda mau minta tolong apa?"kata Anton.


"Tolong kamu besok urus berkas-berkas ke KUA bisakan agar sorenya mereka bisa langsung ijab kabul?"kata bunda Arina.


"Siap laksanakan nyonya Dany."kata Anton.


"Ya sudah kalau kayak gitu bunda sama ayah pulang dulu, kalian jagain Shinta."kata bunda Arina.


"Iya, kalian hati-hati dijalan."kata Anton.


Setelah kepergian orangtuanya mereka bertiga sibuk dengan ponsel masing-masing. Ryan yang baru saja melihat ponslnya langsung terkejut karena ada banyak panggilan dari Lydia. Ryan memutuskan untuk menghubungi Lydia tapi beberapa kali tak diangkat oleh Lydia. Saat Ryan mau nyerah Lydia mengangkat panggilan itu dengan suara kas orang bangun tidur membuat Ryan tersenyum.


[Kamu baru bangun tidur? Maaf kalau aku ganggu kamu?]


Lydia langsung melihat ponselnya untuk memastikan apa itu benar suara Ryan. Saat Lydia tau kalau itu memang Ryan yang menghubunginya Lydia langsung merasa malu.


[Eh kamu Yan, iya aku baru bangun tadi nonton tapi malah ketiduran. Ada apa kamu menghubungiku?]


[Aku rindu sama kamu.]


[Ish gak usah aneh-aneh deh tadi saja sudah ketemu kok kangen. Gak mempan rayuanmu padaku.]


[Masak sih, aku yakin disana pipi kamu sudah merah.]


[Mana ada, gak ada ya.]


[Oke, bagaimana kalau kita vc saja biar aku bisa liat wajah malu kamu?]


[Gak aku mau lanjut tidur ngantuk.]


[Ya sudah kalau kayak gitu met tidur saja. Besok pagi aku jemput lagi.]


[Gak papa lagian lusa akukan juga mau ikut ke puncak lusa. Hanya beda berangkatnya saja.]


[Maksutnya beda berangkatnya gimana?]


[Aku nyusul ada yang harus aku urus.]


[Oh begitu, ya sudah deh terserah kamu kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya ngatuk banget ini.]


[Ya sudah met tidur.]


Ryan setelah menutup panggilan itu diejek oleh kedua kakaknya membuat Ryan malu. Anton dan Shinta setelah puas menjahili Ryan kembali fokus dengan ponselnya sampai tak terasa kalau mereka tertidur.


Mereka bertiga baru bangun saat orangtua mereka datang. Ryan yang terkejut langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka setelah itu pamitan pada mereka semua kalau Ryan mau beranngkat lebih dahulu.


"Kamu gak sarapan dulu Yan?"kata bunda Arina.


"Gak sempet bun, aku harus jemput Lydia."kata Ryan.


"Kamu ini makanya kalau janji mau ketemu itu bangun lebih awal."kata bunda Arina.


"Maaf bun biasanya aku juga bangun awal hari ini saja aku kesiangan bangunnya."kata Ryan.


"Ya sudah sana berangkat, hati-hati bawa mobilnya jangan ngebut."kata bunda Arina.


"Aku gak janji bun."kata Ryan.


Ryan keluar dari ruang rawat dan langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Lydia. Ternyata saat sampai rumah Lydia, Lydia sudah menunggu didepan rumahnya. Lydia masuk ke dalam mobil saat Ryan berhenti didepan rumahnya.


"Maaf ya kalau aku telat jemputnya soalnya aku bangun kesiangan."kata Ryan.


"Gak papa kok, aku saja yang kepagian nunggunya."kata Lydia.


"Kamu gak ada meeting pentingkan hari ini?"kata Ryan.


"Gak ada kok, hanya saja hari ini aku pulang cepat. Nanti aku naik taksi online saja."kata Lydia.


"Gak usah, aku akan antar kamu pulang nanti. Sekalian antar kamu kalau ada barang yang mau dibeli."kata Ryan.


"Aku gak mau ganggu kerjaanmu, pasti kamu sibukkan?"kata Lydia.


"Aku gak papa kok, nanti aku akan minta izin sama Hendru."kata Ryan.


"Aku gak mau ganggu kerjaan kamu."kata Lydia.


"Kitakan sudah tunangan jadi aku merasa gak dirpotkan tu."kata Ryan .


"Kapan kita tunangan?"kata Lydia.

__ADS_1


"Tu cincin yang meringkar dijari manismu itu buktinya kalau kita sudah tunangan."kata Ryan.


"Kamu itu ada-ada saja, tunangan itu pasti disaksikan sama kedua orangtua kita."kata Lydia.


"Nanti kalau kita menikah orangtua kita akan melihat."kata Ryan.


"Serah kamulah, ya sudah kalau kayak gitu kamu hati-hati dijalan. Aku mau masuk dulu."kata Lydia.


"Semangat kerjanya jangan bayangin aku ya nanti gak konsen malah kerjanya?"kata Ryan.


"Kamu pede banget sih jadi orang."kata Lydia.


"Pede dong."kata Ryan.


"Ya sudah kalau gitu aku keluar dulu."kata Lydia.


"Tunggu kayaknya ada yang ketinggalan deh."kata Ryan,


"Memangnya apa yang ketinggalan?"kata Lydia yang gak jadi membuka pintu mobilnya.


"Kamu tutup mata kamu sebentar."kata Ryan.


"Kamu mau ngapain gak usah macam-macam deh?"kata Lydia.


"Gak macam-macam kok, kamu tutup matamu kalau mau kalau gak mau ya sudah."kata Ryan sambil menghera nafasnya.


Lydia menutup matanya membuat Ryan tersenyum. Ryan tak menyia-nyiakan waktunya dia langsung mencium pipi Lydia membuat Lydia membuka matanya.


"Kamu..."kata Lydia.


"Aku sebenarnya mau lebih dari itu."kata Ryan.


"Maksutmu lebih bagaimana?"kata Lydia.


"Kayak yang diapartemenku kemarin misalnya."kata Ryan.


"Ish gak usah aneh-aneh, sudah aku masuk dulu kamu hati-hati bawa mobilnya."kata Lydia.


Lydia keluar dari mobil Ryan saat dia masuk ke dalam perusahaannya Lydia masuk sambil tersenyum-senyum sendiri. Rima yang melihat Lydia tersenyum penasaran kenapa temannya itu tersenyum memutuskan untuk menghampirinya.


"Eh lagi senang ya kok senyum-senyum sendiri?"kata Rima saat sudah berada didekat Lydia.


"Ish kamu mau tau saja."kata Lydia.


"Ayo dong cerita?"kata Rima.


"Gak ada Rim."kata Lydia.


"Ly, kamu kok bisa kenal sama Ryan sih?"kata Rima.


"Iya kenalah diakan asistennya kak Hendru temannya kak Kevin juga. Memangnya kenapa?"kata Lydia.


"Gak papa, aku tanya saja. Eh tunggu jangan bilang kalau kekasihmu itu Ryan?"kata Rima.


"Ada deh, kamu mau tau saja."kata Lydia.


"Ih kamu nyebelin banget jadi orang."kata Rima.


"Bukannya dari dulu ya aku nyebelinnya?"kata Lydia.


"Tapi bukannya Ryan itu pacaran sama Shinta?"kata Rima.


"Aku gak tau."kata Lydia nyantai padahal hatinya kacau karena mengingat jika Ryan dengan Shinta.


"Kamu ini, sudah aku mau masuk ruanganku."kata Rima yang sudah sampai keruangannya.


"Memangnya kamu mau ikut keruanganku?"kata Lydia.


"Gak aku ganggu kamu nanti dimarahin sama papaku lagi."kata Rima.


Rima masuk ke dalam ruangannya sedangkan Lydia meneruskan jalannya menuju ruangannya sendiri sambil memikirkan apa yang dikatakan oleh Rima tadi.


Lydia sampai diruangannya sudah dinanti sama Sandra. Sandra kesal karena temannya itu tak melihat kalau dirinya ada disana.


"Ly.."kata panggil Sandra yang sudah kesal dengan Lydia karena dia diabaikan.


"Ya ampun, maaf maaf."kata Lydia bangun lagi dan memeluk temannya itu.


"Kamu lagi mikirin apasih sampai aku segede gini gak kelihatan?"kata Sandra.


"Sory aku lagi mikirin kerjaan nu menumpuk, apalagi hari ini harus pulang cepat buat menginap divilla kamu ikutkan?"kata Lydia.


"Maaf aku gak ikut, aku mau istirahat."kata Sandra.


"Kamu kapan datangnya sih?"kata Lydia.


"Tadi pagi jam 5."kata sandra.


"Ya ampun kalau kayak gitu kenapa gak minta izin gak masuk saja sih?"kata Lydia yang gak mau kalau temannya itu kecapekan.


"Aku sudah janji mau kerja hari ini, jadi harus profesional dong."kata Sandra.


"Memang kamu temanku yang sangat rajin kalau kerja."kata Lydia.


"Iya dong harus, aku bacain jadwalmu hari ini ya?"kata Sandra.


"Oke."kata Lydia sambil kembali duduk dikursinya.

__ADS_1


__ADS_2