Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Semua kumpul diapartemen


__ADS_3

Kedua perepuan berbeda generasi itu setelah mendapatkan pakaian untuk para pria memutuskan untuk kembali pulang ke apartemen karena takut jika keduluan Ryan. Benar saja baru saja mereka menyeimpan susu untuk Lydia terdengar pintu apartemen itu dibuka dan ternyata memang Ryan yang sudah pulang tapi Ryan tak sendirian karena Dayat juga ikut pulang ke aparteman.


"Asalamualaikum..."kata Ryan.


"Walaikumsalam, loh kok sudah pulang katanya mau lembur kak?"kata Lydia.


"Iya tau kamu pulang cepat bunda pulang saja tadi habis belanja gak usah temani Lydia."kata bunda Airin.


"Gak papa kok bun kalau bunda disini soalnya aku juga mau kerja sama Dayat diruang kerja soalnya tadi mau ke perusahaanku malas jadi hanya ambil berkas saja terus pulang."kata Ryan.


"Ya sudah kalau gitu memangnya mau dimasakin apa untuk makan malam mumpung bunda ada disini atau mau Lydia yang masakin?"kata bunda Airin.


"Aku mau makan masakan bunda saja, bikinin aku makanan kesukaanku ya bun?"kata Ryan.


"Siap, untung saja bunda tadi beli daging kalau gak pasti harus beli dulu."kata bunda Airin.


"Kalian tadi belanja kok aku gak tau?"kata Ryan.


"Iya tadi yang beliin bahan untuk makan malam bunda terus tadi beli baju pakai uangnya kak Anton hehehehe."kata Lydia membuat Ryan terkejut apa istrinya itu sudah baikkan dengan kakaknya.


"Ly, kamu sudah baikkan sama kak Anton?"kata Ryan yang penasaran.


"Belum, aku tadi memang sengaja mau mengerjai Clara karena dia bilang kalau kak Anton itu calon suaminya. Clara masih kerja diperusahaan kak Anton ya?"kata Lydia.


"Iya, kak Anton memang sengaja mendekatinya karena ada sesuatu yang mau kami caritau dari Clara."kata Ryan.


"Memangnya apa yang ingin kalian cari tau soal Clara?"kata Lydia.


"Ada deh, ya sudah kalian lanjut saja ngobrolnya aku mau keruang kerja. Sayang, aku minta tolong sama kamu boleh gak?"kata Ryan.


"Mau minta tolong apa kak?"kata Lydia.


"Bikinin kami berdua minum bisa gak?"kata Ryan.


"Iya mau kopi atau teh nih?"kata Lydia.


"Aku teh hijau kamu saja deh sayang, kalau Dayat gak tau kamu mau apa?"kata Ryan.


"Saya kopi saja nyonya."kata Dayat.


"Baiklah, nanti aku antar kesana."kata Lydia.


Kedua pria itu meninggalkan Lydia dan bunda Airin untuk masuk kedalam ruang kerja sedangkan Lydia dan bunda Airin menyiapkan bahan untuk makan malam tapi sebelum itu Lydia membuatkan kopi setelah itu mengantarkannya ke ruangan Ryan. Saat Lydia mau membuka pintu ruang kerja Ryan itu dia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam saat mendengar pembicaraan kedua orang itu.


"Bagaimana apa kamu sudah menemukan siapa yang sudah membuat istriku punya trauma?"kata Ryan.


"Sudah tuan, salah satu dari pria itu klien kita Yan."kata Dayat membuat Lydia terdiam.


"Siapa?'kata Ryan sambil tersenyum menyeringai membuat Dayat yang melihat senyuman itu bergidik ngeri pasti Ryan akan melakukan sesuatu yang diluar dugaan.


"Tuan Rasit."kata Dayat.


"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan?"kata Ryan sambil tersenyum.


"Kamu yakin kalau sampai Lydia tau apa yang kamu lakukan dan dia marah bagaimana?"kata Dayat.


"Aku hanya mau buat dia sadar kalau yang dia lakukan pada istriku sudah membuatnya menderita."kata Ryan.


"Tapi tuan memangnya dengan menghancurkan perusahaannya itu sudah sepadan dengan apa yang dilakukan oleh tuan Rasit pada nyonya?"kata Dayat.


"Itu belum sepadan karena istriku sudah menderita selama bertahun-tahun, sebenarnya aku mau melakukan sesuatu yang lebih dari itu tapi tunggu semua temannya berkumpul baru aku akan balas mereka dengan kejam."kata Ryan membuat Lydia terdiam.


Tok tok tok


"Masuk."kata Ryan.


Lydia masuk sambil membawakan minuman yang diminta oleh Ryan dan Dayat tapi Ryan terkejut karena istrinya itu malah bikin kopi untuknya padahal dia minta teh hijau milik istrinya.


"Sayang, kok kamu bikinin aku kopi tadikan aku minta teh hijau?"kata Ryan.


'Teh hijaunya habis aku lupa beli tadi, lagian nanti kamu ngiri saat liat kak Dayat minum kopi."kata Lydia membuat Ryan tersenyum karena istrinya itu tau saja apa yang ada dipikirannya.


"Kamu tau saja kalau aku bakalan iri sama Dayat, tapi aku lebih takut kalau kamu marah sama aku."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.


"Memangnya nyonya marah kenapa sama kamu?"kata Dayat ingin tau.

__ADS_1


"Dia melarangku untuk minum kopi terlalu banyak, katanya baaya buat kesehatan."kata Ryan.


"Bukannya aku melarang minum kopi tapi usahakan kalau minum kopi sedikit dikurangi."kata Lydia.


"Oke, siap. Kamu sama bunda masak apa?"kata Ryan.


"Katanya suruh masak rica-rica daging kesukaanmu?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Kak..."kata Lydia bertanya tapi tak meneruskan perkataannya membuat Ryan bingung apa yang mau ditanyakan oleh istrinya itu. Bukan hanya Ryan tapi Dayat juga ingin tau apa yang ditanyakan oleh Lydia.


"Kamu mau tanya apa sayang katakan?"kata Ryan.


"Apa benar kamu mau mencari orang-orang yang membuatku punya trauma?"kata Lydia pelan takut kalau Ryan marah.


Ryan yang mendengar perkataan Lydia terdiam lalu menghela nafasnya sambil menarik tangan istrinya. Lydia yang ditarik tangannya oleh Ryan membuat dia terduduk disamping Ryan.


"Memangnya aku gak boleh membalas mereka?"kata Ryan.


"Tapi apa itu gak akan bahaya ya kak? Aku gak mau kalau nantinya akan saling balas-balasan dan aku gak mau itu. Aku hanya mau hidup tenang kak."kata Lydia.


"Aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan kalau kamu gak mau aku membalas mereka maka aku akan melaporkan mereka ke pihak yang berwajib bolehkan?"kata Ryan.


"Tunggu aku siap ya karena kalau kakak melaporkan mereka ke pihak yang berwajib pastinya polisi akan menjadikan aku sebagai saksi. Kalau untuk sekarang aku belum siap dengan melihat wajah mereka saja aku masih ketakutan."kata Lydia membuat Ryan terdiam.


"Kalau gitu serahkan saja semua sama aku jadi kamu gak perlu memikirkan masalah ini yang harus kamu fokus saja dengan kesembuhanmu saja."kata Ryan.


"Hmmm baiklah, tapi janji sama aku satu hal. Jangan melakukan sesuatu yang berlebih karena aku mau hanya sampai sini saja jangan sampai nanti saling balas membalas karena itu gak akan ada habisnya."kata Lydia.


"Siap sayang, oh ya mumpung kamu ada disini sekalian aku mau minta pendapat sama kamu."kata Ryan.


"Memangnya mau minta pendapat so apa kalau aku bisa bantu akan aku bantu?"kata Lydia.


"Aku mau tanya sama kamu, apa kamu punya pandangan siapa yang pantas menggantikan ketiga orang yang melakukan korupsi itu?"kata Ryan.


"Kalian memangnya sudah punya kandidat belum? Biar aku gampang memilihnya gak perlu mengingat-ingat lagi bagaimana cara kerja mereka."kata Lydia membuat Dayat tersenyum dengan perkataan Lydia.


"Memang istriku ini mau enaknya saja ya sekarang padahal dulu mandiri banget apa-apa pasti akan diputuskan sendiri."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.


"Ya sekarang sama dulu beda kak."kata Lydia.


"Ya bedalah dulukan aku belum nikah jadi harus mandiri kalau sekarang ada suami yang bisa memikirkan semuanya jadi aku bisa agak bersantai sedikit."kata Lydia sambil tersenyum.


"Mana ada kamu sedikit santai kamu terlalu santai sekarang sayang."kata Ryan.


"Ohhh oke kalau gitu aku kerja lagi saja nanti."kata Lydia sambil bangun dari duduknya tapi tanggannya ditahan oleh Ryan.


"Masak gitu saja marah, aku 'kan hanya bercanda saja sayang. Katanya kamu mau berhenti kerja?"kata Ryan.


"La tadi bilang katanya aku santai banget jadi biar aku kembali kerja saja gak papa kok."kata Lydia.


"Kamu boleh tapi nanti setelah kamu sembuh kalau untuk sekarang aku gak akan izinkan kamu untuk kerja dulu."kata Ryan.


"Iya, iya ya sudah mana kandidat yang akan kamu jadikan pengganti untuk mereka?"kata Lydia.


"Nanti sekarang kami masih mau menyeleksinya dulu."kata Ryan.


"Ya sudah kalau gitu aku ke dapur dulu mau bantuin bunda masak kasian bunda sendirian."kata Lydia.


"Baiklah, aku juga mau menyelesaikan pekerjaanku. Oh ya nanti bilang sama bunda biar ayah suruh kesini saja daripada dia makan sendirian dirumah."kata Ryan.


"Iya, nanti aku suruh bunda hubungi ayah. Kalau kayak gitu aku pergi dulu ya."kata Lydia.


Lydia setelah berkata begitu keluar dari ruangan Ryan untuk kembali ke dapur membantu bunda Airin. Sedangkan Ryan sendiri setelah kepergian istrinya kembali fokus dengan pekerjaannya dibantu oleh Dayat. Lydia berjalan menuju dapur saat sampai dapur ternyata bunda Airin sedang memotong daging padahal tadi saat Lydia tinggal mengantar minuman ke Ryan daging itu masih direbus.


"Bun, ada yang bisa aku bantu?"kata Lydia membuat bunda Airin terkejut.


"Kamu Ly, bikin bunda kaget saja untung saja bunda gak jantungan."kata bunda Airin membuat Lydia tak enak hati.


"Maafin aku bun, aku gak maksut buat bunda kaget. Ada yang bisa aku bantu gak?"kata Lydia.


"Kamu mau bantuin bunda untuk ngupas bumbu sayang?"kata bunda Airin.


"Boleh bun, memangnya bumbunya apa saja?"kata Lydia.


"Itu bunda sudah siapin tinggal kamu bersihin saja, memangnya gak papa Ly?"kata bunda Airin.

__ADS_1


"Gak papa bun, biar sekalian aku belajar. Nantikan kalau sewaktu-waktu kak Ryan suruh masakin rica-rica daging gak usah ngereptin bunda lagi."kata Lydia sambil berjalan untuk mengambil bumbu yang sudah disiapkan bunda Airin.


"Ryan beruntung dapat kamu Ly."kata bunda Airin.


"Ah bunda bisa saja, aku yang beruntung dapatin kak Ryan karena dia bisa sabar menghadapiku."kata Lydia.


"Kamu itu selalu merendah."kata bunda Airin.


"Oh ya aku sampai lupa tadi kak Ryan bilang katanya bunda disuruh hubungin ayah supaya beliau pulang kerja langsung kesini daripada makan dirumah sendirian."kata Lydia.


"Ya sudah kalau gitu bentar bunda hubungi ayahmu."kata bunda Airin mengambil ponselnya.


"Kak Anton dia pulang kerumah sana gak bun? Kalau dia pulang kesana suruh kesini saja sekalian."kata Lydia.


"Memangnya gak papa kalau Anton kesini?"kata bunda Airin yang gak enak kalau nanti susana makan malamnya jadi canggung kayak dulu saat makan malam dirumahnya.


"Gak papa kok bun, aku mau belajar buat menerima semua yang terjadi kasian dia nanti."kata Lydia sambil mengerus perutnya.


"Ya sudah bunda hubungi ayahmu dulu setelah itu kak Anton."kata bunda Airin.


"Baik bun."kata Lydia.


Setelah berkata begitu kedua perempuan itu fokus dengan kegiatan masing-masing. Bertepatan dengan selesai masak terdengar pintu apartemen diketuk. Lydia membukakan pintu itu ternyata yang datang ayah dan Anton. Lydia menyuruh kedua pria itu untuk masuk kedalam dan langsung ke ruang kerja Ryan saja. Lydia kembali menemui bunda Airin untuk membantu menyiapkan makan malam mereka.


"Bun, kalau makan dimeja makan kayaknya gak muat deh buat semua orang, bagaimana kalau kita bawa makanan ini keruang tengah?"kata Lydia.


"Boleh tapi kita atur dulu biar bisa lesehan bagaimana?"kata bunda Airin.


"Boleh bun, ayo kalau kayak gitu."kata Lydia.


Bunda Airin dan Lydia berjalan menuju ruang tengah untuk menata ruangan itu agar tempatnya luas untuk makan lesehan. Setelah selesai baru mereka berdua kembali ke dapur untuk mengambil makanan yang mereka masak tadi. Setelah semuanya siap barulah Lydia memanggil para pria yang ada diruang kerja Ryan sedangkan bunda Airin duduk sambil menyalakan tv untuk menonton acara kesukaannya.


Tok tok tok


"Masuk."kata Ryan.


"Makannya sudah siap ayo semuanya makan sekarang."kata Lydia.


"Baiklah, kamu duluan habis ini kami nyusul masih mau nyelesaiin ini dulu."kata Ryan.


"Baiklah kalau kayak gitu."kata Lydia.


Lydia berjalan kembali menuju ruang tengah, saat Lydia sampai diruang tengah terlihat kalau bunda Airin sedang fokus menonton acara kesukaannya. Lydia berjalan menghampiri bunda Airin lalu duduk disamping bunda Airin. Lydia terkejut saat melihat berita yang sedang berlangsung ternyata itu berita tentang mantan kak Kevin membuat Lydia terdiam.


"Kamu kenal sama perempun itu, Ly?"kata bunda Airin.


"Kenal bun, dia mantan istrinya kak Kevin temannya kak Ryan dan kak Hendru."kata Lydia.


"Tapi kok bisa ya dia terlibat perselingkuhan?"kata bunda Airin.


"Gak tau bun, memangnya dia berselingkuh dengan siapa?"kata Lydia.


"Itu sama orang yang punya jabatan tinggi dibank, dia jadi istri kedua pria itu."kata bunda Airin.


"Memangnya siapa yang jadi istri kedua?"kata ayah Dava yang datang kesana dengan diikuti oleh yang lainnya.


"Itulah katanya mantan istrinya Kevin, kamu kenalkan Yan?"kata bunda Airin.


"Hah iya memangnya dia jadi istri keduanya siapa?"kata Ryan yang ikut penasaran.


"Itu loh petinggi sebuah bank swasta, istrinya pertamanya melaporkan perselingkuhan itu jadi suaminya dipecat dari kerjaan dan diceraikan oleh istrinya. Padahal istrinya kaya lo, sekarang dia kehilangan kerjaan, keluarga dan dicemooh orang."kata bunda Airin.


"Sudah biarkan saja sekarang kita makan saja."kata ayah Dava.


"Ayolah aku juga sudah lapar."kata Lydia membuat semua orang tertawa.


Mereka semua bergiliran mengambil makanan setelah itu makan sambil lesehan dan bercanda sambil makan. Saat makan Lydia teringat jika black cardnya Anton ada didirinya.


"Kak, kak Anton black card kakak ada diaku nanti habis makan aku kembalikan."kata Lydia.


"Sudah pakai saja dulu, kalau kamu butuh apa-apa pakai saja."kata Anton.


"Gak mau, kalau aku pakai uang kakak keenakan suamiku uangnya nanti gak habis-habis."kata Lydia membuat yang lain tersenyum.


"Kamu ini ada-ada saja."kata bunda Airin.

__ADS_1


"Lah 'kan benar kak Ryan bekerja buat aku 'kan masak mau buat orang lain?"kata Lydia.


__ADS_2