
"Kakak tumben kesini?"kata Shinta.
"Memangnya aku gak boleh pulang kerumahku sendiri?"kata Anton.
"Boleh sih, kalian sudah baikan ya suyukurlah kalau begitu?"kata Shinta sambil pura-pura tersenyum padahal dalam hatinya sebenarnya dia kesal karena ayah dan Anton mudah sekali berbaikan.
Hardi yang melihat perubahan wajah Shinta hanya menghela nafas dan berharap jika perempuan itu tak akan lagi membuat ayah dan anak iu bertengkar seperti kemarin. Hardi tau jika tuannya itu sangat menyayangi putrinya melebihi kedua anak laki-lakinya. Ayah Danny akan melakukan apapun asal putrinya itu bahagia sayangnya kasih sayang itu dimanfaatkan oleh Shinta untuk melakukan perbuatan yang seharusnya tak dilakukan yaitu menikahkan Shinta dengan Ryan padahal keluarga besar lainnya menentang. Tapi yang membuat bingung Hardi kenapa istri dari tuan Toni malah menyetujui pernikahan itu. Hardi mulai curiga jika ada yang disembunyikan oleh istri tuan Toni itu, dia akan mencaritau soal ini.
"Yah, aku pulang dulu lagian bunda gak dirumah juga."kata Anton yang sudah gak betah tinggal disana.
"Kamu gak makan malam disini saja, Ton?"kata ayah Danny.
"Gak usah yah, aku juga ada janji dengan temanku."kata Anton.
"Teman atau teman? Kapan kamu mengenalkan calonku pada kami, Ton?"kata ayah Danny.
"Nanti saja kalau sudah ketemu aku kenalkan sama ayah dan bunda. Sekarang aku pamit dulu."kata Anton.
"Jangan terlalu sibuk dengan usahamu karena uang bisa dicari sedangkan umur semakin lama akan semakin bertambah."kata ayah Danny.
"Iya yah, makasih nasehatnya."kata Anton.
Anton setelah berpamitan dengan ayah dan Hardi keluar dari rumah itu, saat dia menjalankan mobilnya kembali ke cafenya. Saat dipertengahan jalan terdengar ponselnya berbunyi, Anton menepikan mobilnya dipinggir jalan lalu melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari Hardi asisten pribadi ayahnya. Anton mengerutkan keningnya kenapa om Hardi menghubunginya karena penasaran Anton membuka matanya.
[Hallo Asalamualikum...]
[Walaikumsalam, kamu dimana Ton? Ada yang mau om bicarakan sama kamu bisa gak?]
[Ini lagi dijalan, aku mau kembali ke cafe. Memangnya mau bicara soal apa,om?]
[Ini mengenai tantemu Marsa yang om yakin jika dia punya sesuatu yang dirahasiakan.]
[Baiklah, om bisa ke cafe saja soalnya aku sudah hampir sampai cafe ini?]
[Kalau kayak gitu om kesana sekarang.]
__ADS_1
Anton menghela nafasnya setelah mengakhiri panggilannya dengan om Hardi, Anton juga mulai menjalankan mobilnya menuju cafenya. Sampai disana ternyata cafenya sudah rame karena memang ini bertepatan dengan waktu pulang kuliah dan kerja. Jadi banyak para mahasiswa atau karyawan yang datang ke cafenya untuk sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas maupun pekerjaan yang belum diselesaikan. Anton masuk kedalam ruangannya sambil menunggu om Hardi datang ke cafenya, Anton benar-benar ingin tau apa yang ingin dibicarakan oleh om Hardi.
Anton duduk dikursi kerjanya sambil mengecek pemasukan dan pengeluaran, tapi saat dia sedang fokus mengecek laporan keuangan Anton melihat ada sebuah amplop dan diatasnya tertulis supaya Anton membukanya, kertas itu bertulisan jika amplop itu dari adiknya Ryan. Anton tersenyum karena tau apa yang didalam amplop itu, Anton itu segera membuka amplop ternyata itu adalah korupsi yang dilakukan oleh karywan kantor dan parahnya lagi disana juga ada kertas hasil test DNA milik Shinta dan om Damar disana tertulis jika Shinta adalah anak kandung dari om Damar membuat Anton mengepalkan tangannya gak menyangka jika omnya Itu tega mengkhianati saudaranya sendiri. Pantas saja om Damar ingin sekali Shinta menguasai perusahaan dan selalu membantunya ternyata Shinta adalah putrinya lalu tante Marsa kenapa dia juga selalu membantu Shinta itu yang sekarang jadi tanda tanya besar bagi Anton. Saat Anton sedang melamun tiba-tiba pintu ruangannya dibuka oleh seseorang dari luar membuat Anton memandang kearah pintu ruangannya.
"Maaf pak, ada tamu yang mencari bapak."kata karyawan.
"Siapa?"kata Anton.
"Ini om Hardi, Ton."kata Hardi.
"Iya, masuk om."kata Anton sambil bangun dari kursinya.
Anton mempersilahkan Hardi duduk disofa agar mereka bisa berbicara dengan santai. Anton juga menyuruh karyawannya untuk membuat minuman untuk Hardi. Sambil menunggu minuman itu datang kedua orang itu hanya bernostalgia masa kecil Anton karena mereka berdua takut jika nanti ada yang mengawasi. Setelah minuman diantar barulah mereka berbicara serius.
"Om, mau berbicara apa?"kata Anton.
"Om, penasaran kenapa tante Marsa setuju dengan pernikahan yang dilakukan oleh Shinta dan Ryan walaupun itu melanggar aturan. Om, ingat jika saat kelahiran adikmu bertepatan juga dengan tante Marsa melahirkan dan anaknya itu meninggal dunia."kata Hardi.
"Maksut om, Shinta itu jangan-jangan putri tante Marsa?"kata Anton.
"Om, aku boleh tanya sama om sesuatu gak?"kata Anton.
"Mau tanya apa Ton, kalau om bisa jawab om akan jawab?"kata Hardi.
"Aku penasaran apa benar jika mamaku berselingkuh atau malah orang lain berselingkuh tapi mama yang difitnah?"kata Anton membuat Hardi terkejut.
"Kamu tau soal ini?"kata Hardi.
"Aku tau saat aku mencaritau kebenaran soal Shinta, aku juga mendapatkan hasil test DNA jika om Damarlah ayah kandung Shinta."kata Anton sambil bangun untuk mengambil hasil test DNA yang baru dia terima tadi.
Anton memberikan kertas itu pada Hardi membuat pria paruhbaya itu terkejut saat membaca hasil test DNA itu. Hardi teringat dengan kejadian masalalu, mama Anton ngotot jika dia tak selingkuh sedangakan bukti-bukti itu nyata. Saat itu mama Anton memandang sinis kearah Damar dan Marsa, dia juga berbicara jika kebusukan kedua orang itu akan terbongkar suatu saat nanti walaupun bukan dia yang mebongkarnya.
"Om, kok om malah melamun?"kata Hardi.
"Kita harus cari orang yang sudah menjadi saksi kalau mamamu berselingkuh waktu itu dengan begitu kita akan tau apa yang sebenarnya terjadi."kata Hardi.
__ADS_1
"Jika benar Shinta anak dari om Damar dan tante Sarah berarti pernikahan ini bisa diteruskan karena orangtua Shinta hanya saudara ipar saja."kata Anton.
"Iya, tapi apa kamu mau jika Ryan tak bahagia dihidupnya bukannya kamu tau jika sekarang adikmu itu seperti mayat hidup? HIdupnya hanya untuk kerja,kerja dan mencari istrinya."kata Hardi.
"Om, ini bagaimana dengan terbuka semua rahasia ini dan apa yang dilakukan Shinta dan kedua orang itu memangnya mereka akan terbebas dari jerat hukum? Lagian memangnya ayah sama bunda mau punya menantu seperti Shinta?"kata Anton balik bertanya.
"Kamu benar, sekarang kita fokus kemana dulu?"kata Hardi.
"Om, fokus dengan perusahaan dan ini om selidiki lebih jauh lagi. Biar aku yang menyelidiki identitas Shinta yang sebenarnya."kata Anton sambil menyerahkan bukti-bukti korupsi yang dilakukan diperusahaan.
"Kamu dapat darimana semua ini,Ton?"kata Hardi membuat Anton tersenyum.
"Siapa lagi kalau bukan keponakan kesayangan om."kata Anton.
"Kalian berdua itu sudah om anggap sebagai keponakan om sendiri jadi jangan pernah bilang kalau om hanya menyayangi salah satunya."kata Hardi membuat Anton tersenyum.
"Ya sudah kalau kayak gitu pulang dulu, kalau ada apa-apa kita bicarakan lagi masalah ini."kata Hardi.
"Aku serahkan semuanya padamu om."kata Anton.
Sepeninggalan Hardi Anton kembali fokus dengan kerjaannya berbeda dengan bunda Airin yang sedang membujuk agar mama Intan untuk mengatakan keberadaan Lydia menantunya.
"Aku mohon Tan, tolong kasih tau aku dimana Lydia berada?"kata bunda Airin.
"Aku sendiri saja juga gak tau dimana putriku berada bagaimana aku bisa mengatakan dimana dia, lagian kalau pun aku tau aku gak akan kasih tau kalian. Kalian hanya bisa membuat luka pada putriku saja, bukan hanya putriku tapi aku juga harus kehilangan keponakanku karena ulah putri kesayanganmu itu."kata mama Intan yang tanpa sengaja berbicara tentanng kematian Tiara.
"Apa maksutmu jika Shinta adalah penyebab meninggalnya Tiara, Tan tolong jelaskan padaku?"kata bunda Airin.
"Kamu tanya saja sendiri pada putrimu itu tapi setelah itu berhati-hatilah karena dia bisa melakukan perbuatan yang bisa mencelakaimu. Walaupun kamu adalah ibu yang membesarkannya."kata mama Intan yang sudah gak tahan lagi dengan tingkah Shinta yang semakin menjadi. Dulu dia melepaskan Shinta karena dia memikirkan keadaan Airin yang sakit-sakitan.
"Aku akan mecaritau sendiri jika benar Shinta ada kaitannya dengan kematian Tiara aku yang akan menjebloskannya ke penjara. Dia sudah membuat kedua putraku menderita karena ulahnya. Anton yang harus kehilangan Tiara untuk selamanya sedangakan Ryan harus kehilangan Lydia yang membuat hari-harinya berwarna."kata bunda Airin.
"Sudahlah kamu gak usah janji-janji sama aku, kamu buktikan saja baru aku akan percaya padamu."kata mama Intan.
Bunda Airin tanpa banyak berbicara pergi meninggalkan mama Intan sendirian, mama Intan hanya menghela nafasnya bukan maksutnya untuk membuka semua kejahatan Shinta tapi dia gak tahan melihat Ryan yang sudah seperti mayat hidup dan lagi tetap dipaksa untuk mengurusi masalah yang ditimbulkan oleh Shinta. Mama Intan berharap semoga sahabatnya itu tak dalam bahaya jika menyelidiki masalah Shinta.
__ADS_1