
"Pantas saja bunda diam saja, tapi gak papa sih kalau mereka lama berarti sebentar lagi aku punya keponakan. Kira-kira nanti mirip sama siapa ya?"kata Shinta membayangkan kalau Ryan dan Lydia memiliki anak.
"Kamu ini Lydia hamil saja belum sudah penasarn bagaimana wajah anaknya."kata ayah Danny yang gak habis pikir dengan pemikiran putrinya.
"Sudah gak usah dipikirkan, lagian doain saja yang terbaik buat mereka dan trauma Lydia sembuh dengan begitu mereka kapan saja bisa melakukan hubungan suami istri."kata bunda Airin yang dianggukin oleh yang lain.
"Memangnya Lydia punya dokter khusus untuk traumanya?"kata Anton jika belum ada dia akan mencarikan dokter untuk Lydia kalau dia mau.
"Sudah katanya ada diBogor sebenarnya dia masih harus konsultasi tapi karena kemarin mereka harus datang ke acara nikahan temannya makanya mereka kembali ke Jakarta. Awalnya Lydia mau pulang ke Bogor sendirian tapi Ryan yang gak tega membiarkan Lydia pergi sendirian."kata bunda Airin.
"Aku gak nyangka Ryan bisa sebucin itu pada Lydia padahal dulu dia sama Vira dia gak sebucin itu."kata Shinta.
"Ya bedalah, Vira itu terlalu manja bikin Ryan ilfeel lama-lama sedangkan Lydia mandiri banget anaknya."kata Anton.
"Iya, Lydia memang terlalu mandiri makanya banyak pria yang suka tapi sayangnya adikmu yang mendapatkannya."kata bunda Airin.
"Sudah gak usah bahas lagi kayaknya mereka sebentar lagi turun."kata ayah Danny.
Ayah Danny mendengar ada suara langkah kaki turun kebawah, benar saja tak menunggu lama Ryan dan Lydia turun kebawah. Mereka berdua menuju meja makan setelah itu duduk dimeja makan.
"Kalian lama sekali memangnya sedang apa?"kata Shinta sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kami tadi mandi maaf ya, soalnya Lydia tadi mandi sambil tidur."kata Ryan.
"Tidur apa tidur dek?"kata Shinta sambil tersenyum membuat pipi Lydia memerah.
"Sudah mbak, kita makan saja memangnya kalian gak lapar apa?"kata Ryan yang tau kalau istrinya sedang malu saat melihat pipinya merah.
"Lapar sih, tapi kamu tau gak tadi bunda sama ayah ingin segera punya cucu dari kalian."kata Shinta.
"Kalau soal itu buka hanya kami saja yang bisa membuatnya, bukannya kalian juga bisa kalau mau lagian kalian yang menikah lebih dulu daripada kami berdua."kata Ryan membuat Shinta terdiam.
"Aku memang belum ingin memilik momongan dulu, aku mau Shinta sembuh dulu baru setelah itu punya momongan agar nanti Shinta bisa merawat anak kami sendiri."kata Jono membuat Anton dan Ryan tersenyum karena Jono lebih mementingkan keadaan Shinta daripada keinginannya.
"Sudah-sudah ayo makan."kata bunda Airin.
"Aku habis ini isi kembali ke kamar gak papa kan?"kata Lydia.
"Kamu gak mau gabung sama kita dulu habis ini diruang tengah dek?"kata Shinta.
"Maaf mbak, kapan-kapan saja aku ikut ngumpul soalnya hari ini badanku capek banget dan luka sayatannya tadi masih nyeri."kata Lydia membuat Ryan panik.
"Mana yang nyeri biar aku obati nanti?"kata Ryan.
__ADS_1
"Kamu ini gak biar aku saja sendiri yang mengobati lukaku."kata Lydia.
"Aku tau kenapa Lydia gak mau kamu obati, mungkin karena dia takut kalau kamu khilaf."kata shinta.
"Sudah deh gak usah aneh-aneh mbak."kata Ryan.
"Sudah-sudah selesaikan makannya setelah itu biar Lydia cepat istirahat."kata ayah Danny.
"Makasih yah."kata Lydia sambil tersenyum pada ayah mertuanya.
Lydia selesai makan malam langsung naik keatas menuju kamarnya sedangkan Ryan masih berkumpul dengan keluarganya diruang keluarga.
"Yan, kamu gak papa gak nyusul Lydia?"kata Anton yang khawatir dengan Lydia.
"Gak papa, biar dia beristirahat dulu."kata Ryan.
"Yan, kapan kamu kembali ke Bogor?"kata Anton.
"Memangnya kenapa kak?"kata Ryan.
"Ada yang mau aku diskusikan sama kamu soal kerjaan, aku tau sekarang kamu masih mengurusi perusahaan mertuamu tapi aku masih butuh bantuanmu buat ngambil keputusan ini aku gak bisa memutuskannya sendiri."kata Anton.
__ADS_1
"Kak, kami percaya sama kakak tapi sebelum memutuskan sesuatu selidiki dulu agar gak terjadi kesalahan lagi."kata Ryan yang tau jika Anton khawatir seperti kemarin ditipu oleh rekan kerjanya.