Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Orangtua Rima datang ke kampus


__ADS_3

Kesokan paginya mungkin karena masih kelelahan kedua gadis itu kesiagan bangun. Lydia kalau gak ponselnya berbunyi mungkin tak akan bangun pagi ini. Saat dia melihat jam ternyata sudah jam 7 dia langsung bangun dan masuk ke kamar mandi hari ini ada kuliah jam 8. Sandra sendiri pun sama kalau gak ada panggilan dari managernya mungkin dia juga belum bangun.


Mereka berdua saat baru saja membuka pintu kamarnya juga sama-sama terkejut tapi setelah itu mereka tertawa bersama. Mereka berdua berlari untuk mencari angkutan umum. Saat mereka sedang berlari ada sebuah mobil berhenti disebelah mereka.


"Siapa Ly?"kata Sandra.


"Mana aku tau."kata Lydia yang juga gak kenal siapa yang ada didalam mobil itu.


Saat mereka sedang bingung, seseorang yang ada didalam mobil itu membuka kaca mobilnya. Ternyta itu Aziz.


"Hai, kalian bareng aku saja daripada lari-lari kayak gitu."kata Aziz.


"Gak usah kak, kami naik angkutan umum saja kak."kata Lydia.


"Kalian yakin, ini sudah 7.45 lo.."kata Aziz sambil melihat jam yang ada dimobilnya.


"Baiklah kak, kami berdua bareng kakak saja daripada telat."kata Lydia.


"Memang ada kuliah pagi apa?"kata Aziz.


"Iya kak, jam 8."kata Lydia saat sudah duduk didalam mobil Aziz.


"Ya sudah kalau kayak gitu kalian pegangannya.."kata Aziz.


Mereka berdua langsung berpegangan erat karena Aziz melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lydia sih sudah terbiasa karena dia suka bangun kesiangan saat sekolah dulu. Tapi tidak untuk Sandra dia benar-benar lemas saat sudah berada diparkiran.


"Kamu gak papa San?"tanya Lydia khawatir karena sahabatnya itu wajahnya pucat.


"Aku lemas dan pusing Ly."kata Sandra membuat kedua orang itu panik.


"Maaf kalau aku bawa mobilnya terlalu cepat."kata Aziz.


"Gak papa kak, makasih sudah ngasih tumpangan kami. Mungkin aku kayak gini karena gak terbiasa."kata Sandra.


"Maaf banget sekali lagi, aku anterin ke UKS aja gimana?"kata Aziz.


"Gak usah kak."kata Sandra yang menyusul Lydia keluar. Tapi saat dia mau berjalan badannya sudah limbung. Untung saja Aziz ada dibelakangnya kalau gak mungkin Sandra sudah terjatuh ke tanah.


"San... Sandra bangun."kata Aziz sambil menepuk pipi gadis itu.


"Bagaimana ini kak?"kata Lydia.


"Kamu pergi ke kelas saja, biar Sandra aku bawa ke uks."kata Aziz


"Kuliah kakak gimana?"kata Lydia.


"Gampang itu, sudah sana daripada gak boleh mengikuti kelas."kata Aziz.


"Nitip Sandra kak."kata Lydia.


"Iya tuan putri."kata Aziz.


"Kak, gak usah ikut-ikutan kak Hendru deh."kata Lydia.


"Ya sudah kalau gak mau dipanggil kayak gitu cepat masuk sana."kata Aziz.


Lydia langsung berlari menuju kelasnya, untung saja dosen mereka belum masuk. Rani yang melihat kalau Lydia sendirian datang langsung saja mendekat.


"Sandra mana Ly?"kata Rani.


"Dia pingsan sekarang diuks."kata Lydia setelah bisa menormalkan nafasnya.


"Siapa yang pingsan?"tanya Jono yang mendengar ada yang pingsan.


"Sandra yang pingsan."kata Lydia.


"Eh kok bisa, sakit apa?"kata Jono yang juga ikut khawatir.


"Mabuk mobil tadi kita berangkat bareng kak Aziz.'kata Lydia.

__ADS_1


"Kak Aziz, kok bisa sih?"kata Rani.


"Memangnya kenapa Ran?"kata Lydia.


"Kamu gak tau ya, gang mereka itu terkenal cuek sama orang disekitar."kata Rani.


"Masak sih?"kata Lydia yang gak percaya dengan ucapan Rani.


"Iya mereka memang cuek sama perempuan-perempuan yang ganjen kayak kamu."kata Roni membuat Rani kesal tapi ketiga temannya itu malah tertawa.


Mereka berempat tak lagi berbicara setelah dosen yang akan mengajar masuk kelas, setelah satu jam lamanya akhirnya mata kuliah kali ini selesai. Nanti adalagi mata kuliah tapi masih ada waktu 30 menit untuk beristirahat.


"Kita ke uks yuk! Liat Sandra."kata Rani.


"Ayo, kalian berdua ikut gak?"kata Lydia bertanya dengan Roni dan Jono.


"Ikutlah, tapi kita berdua hanya sebentar ya, mau ke kantin perutku lapar."kata Roni.


"Oke."kata Lydia.


Saat mereka berempat keluar dari ruang kelas banyak pasang mata yang memandang kearah mereka. Mereka berempat bingung dan saling pandang.


"Ada apa kok liatin kita?"tanya Jono.


"Gak papa kok."kata mereka takut-takut.


"Katakan saja ada apa? Kok kayaknya kalian ketakutan gitu?"kata Lydia.


"Kalian berempat pasti akan terkena masalah."kata salah satu mahasiswa.


"Ada apa memangnya?"kata Lydia.


"Emang kita buat masalah apa?"kata Rani.


Saat mereka sedang berbicara orangtua Rima datang dengan mama Intan. Para mahasiswa itu langsung tertunduk tak berani melihat kearah mereka.


"Saya tan, ada apa ya?"kata Lydia.


"Kamu tau siapa kami?"kata Tina.


"Sudah ma, ini semua memang salah Rima."kata Sahrul.


"Aku gak terima pa, lagian dia gak papa tapi malah putri kita yang dihukum."kata Tina.


Mama Intan sebenarnya kesal dan ingin membela putrinya karena disini yang salah adalah Rima. Untung saja dia membantu agar anak itu tak di Do dari kampus. Kalau tidak karena Lydia yang memberi isyarat agar dirinya diam mungkin sudah dia robek mulut bawahan suaminya ini.


"Bukannya itu hukuman sudah setimpal ya."kata Lydia.


"Eh kamu tu gak sederajat sama kami, tapi berani-beraninya kamu ngelawan kami."kata Tina.


Rima yang melihat mamanya sedang melabrak Lydia hanya tersenyum senang. Lagian dia gak akan bisa di Do karena tante Intan agak selalu memberi perlindungan.


"Saya memang miskin tante tapi saya masih punya mata untuk melihat mana yang benar dan salah."kata Lydia. Dalam hati mama Intan tersenyum bangga pada putrinya.


"Kamu..."kata Tina mau menampar Lydia tapi tangan itu ditahan oleh Aziz.


"Maaf tan ini kampus bukan ring tinju."kata Aziz dingin.


"Siapa kamu sok sokan ikut campur, kamu gak tau siapa kami?"kata Tina dengan sombongnya.


"Memangnya anda siapa, keluarga yang hanya bisa berdiri dibawah nama Emirat grup."kata Aziz meremehkan.


"Kamu, kamu tu hanya anak bau kencur saja berani melawanku."kata Tina.


"Memang kalau aku berani melawan, tante mau apa?"kata Aziz memang gak ada yang tau identitas yang asli digangs Hendru.


"Kak..."kata Lydia.


"Apa?"kata Aziz membuat Lydia diam.

__ADS_1


"Serahin semua sama aku, aku janji buat jagain kamu selama dia gak ada."kata Aziz yang hanya dianggukin oleh Lydia.


"Melindungi diri kamu sendiri saja gak bisa, mau melindungi orang."kata Tina.


Rayyan dan kedua temannya juga ada disana tapi mereka tak sedikitpun memmbantu. Sandra yang melihat sebenarnya kesal tapi mau bagaimana lagi Lydia sudah memilih si pengecut itu.


"San kamu sudah sembuh?"tanya Rani.


"Agak pusing tapi masih kuat buat nyumpal mulut combelan."kata Sandra.


"Eh kamu ya."kata Tina.


"Emangnya ada apa tan? Memangnya saya ngomongin anda?"kata Sandra.


"Sudah San, biar aku saja."kata Aziz yang gak mau gadis itu terkena masalah.


"Kenapa kamu takut kalau perempuan kesayangan kamu ini terkena masalah."kata Tina.


"Baikllah, mau tante apa sekarang?"kata Aziz.


"Eh kalian panggil rektor kesini cepat!"kata Tina menunjuk salah satu mahasiswa.


Mahasiswa itu langsung berlari memanggil rektor dan tak lama rektor itu datang. Dia langsung menghera nafasnya, saat tau siapa yang memanggil.


"Ada apa ya bu?"tanya rektor.


"Bapak tau siapa saya kan?"kata Tina.


"Iya saya tau, lalu ada apa ya bu?"tanya rektor.


"Saya mau anda Do pemuda ini."kata Tina sambil menunjuk kearah Aziz.


"Maaf bu saya tidak berani."kata rektor yang membuat semua orang termasuk Tina juga terkejut. Sedangkan Aziz hanya tersenyum.


"Kenapa anda tidak berani? Dia hanya pemuda biasa saja."kata Tina.


"Keluarganya bisa membuat kampus ini rata dengan tanah."kata rektor.


"Apa kamu tak tau Emirat grup bisa mendanai ini semua, iya 'kan mbak?"kata Tina meminta bantuan istri bosnya.


"Maaf aku tidak bisa menyinggung salah satu keluarga Arcana grup."kata Intan membuat mereka semua terdiam.


"Apa kamu tau siapa yang membantu gadis ini dan apa kamu tau siapa yang membuat Rima terkena hukuman?"kata Intan.


"Maksut mbak apa?"kata Tina.


"Tanya sama pak rektor, apa gadis yang bernama Lydia yang melapor? Aku yakin jika dia yang melapor maka pihak kampus lebih memilih tutup mata. Benarkan pak apa yang saya katakan?"kata mama Intan.


Rektor itu hanya diam menunduk karena apa yang dikatakan oleh bu Intan memang semua benar adanya. Aziz yang tau langsung menjadi geram.


"Apa yang diakatakan tante Intan semuanya benar pak?"kata Aziz.


"Maaf kak saya."kata rektor.


"Oke,bukan hanya Rima yang akan di DO dari kampus ini, tapi anda juga yang akan dipecat dari kampus ini."kata Aziz.


"Jangan saya mohon jangan."kata rektor.


"Pak kenapa anda takut, dia hanya bisa mengertak dan aku yakin kalau dia bukan bagian dari keluarga Arcana."kata Tina.


"Siapa yang bukan dari keluarga Arcana?"kata kakek Hasan.


"Tuan besar."kata mereka terkejut.


"Ada apa Zi?"kata kakek Hasan.


Kakek Hasan langsung mendekati Lydia dan mengelus rambutnya dengan sayang. Seandainya dia tak ingat Lydia sedang menutupi identitasnya pasti dia akan memeluk gadis cantik didepannya ini.


"Nih, kakek liat sendiri."kata Aziz sambil menyerahkan bukti korupsi.

__ADS_1


__ADS_2