Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan dirumah Lydia


__ADS_3

Ryan dan Lydia fokus dengan diskusinya tentang laporan keuangan hotel. Dahlia yang sudah selesai membantu mak Masnah berjalan menghampiri suami istri itu yang sedang serius berdiskusi.


"Kalian ini sibuk banget sih?"kata Dahlia membaut Ryan tersenyum canggung.


"Maaf ya aku baru datang sudah sibuk dengan pekerjaann bukannya malah kenalan sama kamu dan mak Masnah."kata Ryan gak enak.


Dahlia yang mendengar perkataan Ryan membuat Dahlia kagum dan yakin jika Gabriel itu orang baik. Lydia yang melihat kalau Dahlia kagum dengan Ryan hanya menghela nafas. Ryan yang tau kalau istrinya menghela nafas memandang Lydia bingung kenapa istrinya itu menghera nafas.


"Kamu kenapa sayang?"kata Ryan.


"Memangnya aku kenapa kak?"kata Lydia.


"Kenapa kamu menghela nafas? Apa aku buat kesalahan?"kata Ryan.


"Kamu gak buat kesalahan kok hanya saja aku kesal ada yang pandangi kamu."kata Lydia membuat Dahlia tersenyum.


"Bilang saja masih sayang sama suami gitu kok gengsi, kalau aku tau suamimu seganteng dan sebaik Ryan sih sudah aku embat kalau kamu gak mau sama dia lagi."kata Dahlia menggoda Lydia.


Ryan hanya tersenyum saat mendengar perdebatan kedua perempuan itu semakin membuat Lydia kesal saat melihat Ryan tersenyum.


"Senang ya dipuji sama orang?"kata Lydia.


"Ya senang dong, apalagi pujiannya baik."kata Ryan semakin membuat Lydia kesal.


"Ya sudah kerjakan saja tu pekerjaanmu sendiri."kata Lydia sambil berlalu darisana.


"Mau kemana?"kata Ryan.


"Mau makan laper tapi bawa Raka ke meja makan tolong."kata Lydia.


Lydia berjalan menuju meja makan disusul oleh Dahlia, sambil perempuan itu minta maaf karena sudah membuat Lydia kesal. Lydia diam tapi setelah itu tersenyum karena Lydia gak bisa marah lama dengan temannya itu. Ryan sendiri membawa Raka dengan kasurnya menuju meja makan. Ryan meletakkan bayi kecil itu diatas meja makan, Lydia mengambilkan makanan untuk Ryan. Ryan makan dengan lahap makanan itu membuat mak Masnah tersenyum karena dia pikir jika Ryan tak akan suka dengan masakannya.


"Enak ya makanannya?"kata Lydia menyindir Ryan.


"Enak banget apalagi kalau kamu yang masak pasti akan lebih enak lagi."kata Ryan membuat Lydia hanya mengelengkan kepalanya.


"Kalau enak makannya pelan-pelan kalau tersedak nanti bagaimana?"kata Lydia.

__ADS_1


"Gak akan, aku sudah lama gak makan makanan rumahan kayak gini. Biasanya aku selalu pesan makanan diluar."kata Ryan sambil menikmati makanannya.


"Istrimu memang gak masak buatmu?"kata Lydia.


"Istriku pergi meninggalkanku sudah lama, padahal sebelum dia pergi dia berjanji akan memasakkan aku masakan dari ikan."kata Ryan membuat Lydia tersedak.


Ryan yang langsung memberikan gelas pada Lydia supaya istrinya itu bisa minum sambil mengelus punggung istrinya itu. Dahlia dan mak Masnah hanya tersenyum mereka berdua punya harapan yang sama untuk kebahagian Lydia dan Raka. Kedua perempuan itu bisa melihat kasih sayang yang tulus dari Ryan kepada Naya.


"Pelan-pelan makannya aku gak minta."kata Ryan.


"Kamu yang buat aku tersedak."kata Lydia kesal.


"Kok aku?"kata Ryan bingung.


Saat Lydia mau menjawab Raka nangis membuat Ryan memandang ke samping untuk menenangkan putranya. Raka tetap saja menangis Ryan yang gak ingin menganggu makan ketiga perempuan itu mengendong Raka. Raka yang berada digendongan daddynya mencari tempat yang nyaman setelah itu kembali tidur.


"Kalian lanjut saja makannya, aku mau menenangkan Raka dulu."kata Ryan sambil meninggalkan tempat itu.


"Mak, kalau aku punya suami siaga kayak gitu gak akan aku lepas."kata Dahlia.


"Iya, gak banyak suami yang mau membantu kita merawat Raka. Para pria biasanya akan seenaknya sendiri kalau anak nangis atau nakal pasti akan diserahkan pada istri."kata mak Masnah.


"Kenapa kok makanannya dibawa kemari?"kata Ryan lembut.


Anton yang mendengar perkataan lembut Ryan terdiam karena adiknya itu jarang sekali bersikap lembut jika bukan dengan bunda ataupun Lydia. Tapi Anton tersenyum saat mendengar suara Lydia membuat dia bisa tenang berarti bayi yang ada digendongan Ryan itu adalah anak mereka.


"Makan dulu, biar Raka aku yang pangku."kata Lydia.


"Nanti dulu makannya aku masih meeting tapi kalau kamu mau memangku Raka ini."kata Ryan.


Ryan menyerahkan Raka pada bundanya tapi baru saja sebentar bayi laki-laki itu dipangku Lydia, Raka sudah menangis membuat mau tak mau Ryan mengambil alih Raka kembali.


"Nyaman kalau dipangku daddy ya sayang?"kata Ryan sambil mencium pipi putranya.


"Ish kalau gak ada kamu dia akan lengket sama aku, mungkin kangen saja makanya dia mau sama kamu terus."kata Lydia kesal.


Ryan hanya tersenyum saat meeting itu membahas masalah yang penting tentang pak Darso. Lydia yang tau jika suaminya itu sedang serius mendengarkan meeting menghela nafasnya. Lydia mengambil makanan lalu menyuapi Ryan membuat pria itu memandang kearah Lydia tapi diberi senyuman dan anggukan sambil Lydia memberi kode pada Ryan untuk fokus dengan meetingnya. Ryan fokus dengan meetingnya dengan disuapi oleh Lydia. Sebenarnya Dahlia selesai makan mau mendekati mereka berdua tapi diurungkan, dia memberikan kesempatan untuk keluarga kecil itu berbicara satu sama lain.

__ADS_1


Ryan geram tapi dia mencoba berbicara tenang karena tak ingin jika putranya ketakutan. Lydia yang tau jika suaminya sedang menahan amarah memberikan air minum untuk Ryan agar pria itu tenang. Ryan tersenyum pada Lydia setelah meminum air yang diberikan oleh Lydia.


"Makasih."kata Ryan.


"Gak gratis ya?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Kamu mau apa? Apapun yang kamu inginkan akan aku turuti."kata Ryan.


"Apapun ya? Sudah sana fokus sama kerjaanmu."kata Lydia.


Ryan kembali fokus karena kali ini meeting itu membahas tentang langkah apa yang akan mereka gunakan untuk menganti rugi yang disebabkan oleh Darso dan juga Shinta. Ryan tersenyum karena semua karyawan mempunya ide-ide yang bagus tapi diantara ide itu harus dipilih satu yang paling bagus dan menguntungkan bagi perusahaan. Pak Darso sudah diamankan oleh pihak yang berwajib.


[Bagaimana menurutmu Van?]


[Ide mereka sih bagus semua tapi kita hanya bisa memilih satu kecuali ide-ide itu bisa disatukan jadi satu produk tapi liat dulu karangan mana yang akan jadi sasaran produk itu.]


Anton setuju dengan pendapat Ryan sehingga dia berkata pada karyawan lainnya.


"Bagaimana kalian sudah dengarkan apa yang dikatakan oleh Ryan?"kata Anton membuat para karyawan itu menganggukan kepalanya.


Anton mengkahiri meeting itu sedangkan para karyawan yang mengutarakan ide tadi memutuskan untuk berdiskusi. Mereka akan mencoba menyatukan ide mereka siapa tau bisa membuat produk baru. Setelah mendapatkan produk baru, barulah mereka akan menyodorkan ke atasan. Ryan yang mengakhiri panggilan itu tersenyum lalu menghela nafas walaupun masih ada yang harus dia pikirkan setidaknya sedikit banyak perusahaan Karya grup bisa diselesaikan.


"Sudah selesai?"kata Lydia.


"Sudah, oh ya kamu mau minta apa dariku?"kata Ryan yang ingat jika istrinya tadi meminta sesuatu.


"Aku mau jalan-jalan."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Mau jalan-jalan kemana?"kata Ryan.


"Aku mau ke mall, mau belanja yang banyak bolehkan?"kata Lydia.


Ryan yang melihat istrinya berkata dengan penuh semangat langsung saja menganggukan kepalanya.


"Kamu siapkan perlengkapan Raka setelah itu kita berangkat."kata Ryan.


"Aku boleh ajak Dahlia dan mak Masnah gak?"kata Lydia.

__ADS_1


"Boleh ajak mereka dan belanja apa saja yang kalian mau aku yang akan bayar."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.


Lydia pergi meninggalkan Ryan untuk memberitau pada Dahlia dan mak Masnah kalau mereka akan pergi ke mall untuk berbelanja sepuasnya. Lydia juga mengatakan pada kedua perempuan itu kalau Ryan yang akan mentraktir belanjaanya. Awalnya kedua perempuan itu keberatan tapi setelah dibujuk oleh Lydia akhirnya mereka setuju. Mereka bersiap setelah itu mengajak Ryan berangkat kali ini Raka sudah bangun dan dipangku oleh Lydia karena Ryan harus mengemudi.


__ADS_2