Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia memghubungi Ryan


__ADS_3

Rima sebenarnya penasaran siapa yang mengantar Lydia kalau gak dia teringat kalau ada meeting setelah ini mungkin dia akan tetap mengejar Lydia. Rima sudah berjanji pada Rayyan untuk membantunya kembali berhubungan dengan Lydia tapi kalau Lydia sudah memiliki kekasih maka Rima akan mundur dia gak mau menganggu kebahagiaan Lydia lagi. Sudah cukup dia melakukan kebodohannya yang dulu. Lydia yang tau kalau Rima melamun memilih untuk melempar bolpoin yang dia pegang membuat Rima terkejut sedangkan Sahrul memelototi putrinya itu.


"Kamu kenapa?"kata Lydia.


"Maaf aku kurang fokus, lanjutkan saja meetingnya."kata Rima gak enak paa yang lain.


"Kalau kamu ada masalah sebaiknya selesaikan dulu daripada nanti kamu kepikiran dan gak fokus sama meeting."kata Lydia.


"Gak papa lanjut saja, maaf gara-gara aku meetingnya terganggu. Silahkan lanjutkan meetingnya."kata Rima sambil menundukkan kepalanya sebagai tanda dia minta maaf.


Mereka melanjutkan lagi meeting yang tertunda karena Rima melamun tadi. Akhirnya meeting itu berjalan dengan lancar dan setelah mencapai kesepakatan Lydia membubarkan meeting itu. Lydia kembali keruangannya tapi diikuti oleh Rima membuat Lydia menghera nafasnya dia tau kalau Rima ingin tau siapa yang mengantarnya ke perusahaan tadi.


"Ada apa?"kata Lydia.


"Ly aku beneran ingin tau siapa yang mengantarkanmu tadi."kata Rima


"Kalau aku bilang dia calon suamiku apa kamu akan terus bertanya padaku?"kata Lydia membuat Rima terkejut karena selama ini Rima tak pernah mendengar jika Lydia memiliki seorang kekasih.


"Kamu gak bohongkan? Aku gak pernah mendengar kamu memiliki kekasih sebelum ini. Apa kamu dijodohkan?"kata Rima masih berusaha untuk mencari tau membuat Lydia menghera nafas.


"Kamu kenapa sih kok ingin tau banget?"kata Lydia.


"Aku mau kamu kembali bersatu dengan Rayyan, dia masih sangat mencintaimu."kata Rima.


"Maaf aku gak bisa kalau kamu menyuruhku untuk kembali bersama Rayyan karena hatiku sudah tertutup untuk pria seperti itu."kata Lydia membuat Rima menghera nafasnya.


"Maafkan aku gara-gara aku kamu harus berpisah dengan Rayyan."kata Rima.


"Ini bukan salahmu, aku malah berterimakasih padamu lagian walaupun gak ada kamu aku yakin jika tante Dahlia tak akan merestui hubungan kami karena dia sudah gak suka denganku karena aku miskin."kata Lydia.


"Kamu benar juga, ya sudah kalau kamu memang sudah ada pasangan aku akan bilang sama Rayyan agar gak usah menganggumu lagi."kata Rima.


"Makasih ya, oh ya kapan kamu akan meeting dengan perusahaan Karya grup?"kata Lydia.


"Besok doain supaya lancar aku dengar pemilik perusahaan itu dingin."kata Rima.


"Mana ada dingin orang mesum kayak gitu kamu bilang dingin."kata Lydia.


"Masak sih tuan Anton itu dingin dan kaku tau gak."kata Rima membuat Lydia terkejut dengan perkataan Rima.


"Masak sih?"kata Lydia yang tetap gak percaya dengan perkataan Rima.


"Kamu tau gak adiknya yang pria katanya lebih dingin dari tuan Anton sayangnya dia jarang mau mengurus perusahaan itu. Yang aku dengar sih dia lebih suka bekerja dengan orang lain daripada mengelola perusahaannya sendiri."kata Rima.


"Ish aku gak mau tau, kamu ada yang ditanyakan lagi gak?"kata Lydia.


"Sudah itu saja kalau kayak gitu aku kembali keruanganku dulu."kata Rima.


Lydia menghera nafasnya setelah kepergian Rima, dia harus bicara sama Ryan. Tapi saat dia melihat jam Lydia mengurungkan niatnya karena jam segini pasti Ryan sedang sibuk kerja. Lydia memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya nanti saat makan siang saja dia menghubungi Ryan.


Ryan sendiri diperusahaannya baru saja selesai meeting untuk membahas produk baru yang akan segera mereka luncurkan dan juga mencari model yang akan menjadi brand ambasador untuk produk tersebut. Ryan meminta Dayat untuk masuk ke dalam ruangannya untuk membahas soal ini.


"Bagaimana menurut kamu artis yang ingin dipakai oleh karyawan lain."kata Ryan.


"Menurutku kalau tuan mau memilih model yang gak naik daun itu lebih bagus sekalian menaikkan pamornya yang terpenting model itu baik tuan."kata Dayat.


"Menurutmu siapa model yang cocok jadi model brand ini?"kata Ryan.

__ADS_1


"Nanti saya akan cari tau sebentar anda bisa sabar untuk menunggukan?"kata Dayat.


"Baiklah aku akan sabar menunggu, ya sudah kamu bisa kembali ke tempatmu."kata Ryan.


"Tuan nanti mau makan diperusahaan atau keluar?"kata Dayat.


"Aku makan disini saja lagian ada berkas yang harus aku kerjakan disini setelah makan siang aku mau ke perusahaan Hendru buat interview penggantiku nanti."kata Ryan.


"Tuan jadi mau berhenti dari perusahaan tuan Hendru?"kata Dayat.


"Iya aku mau menikah sebentar lagi aku gak mau jika nanti gak ada waktu untuk istriku."kata Ryan.


"Baiklah tuan kalau kayak gitu saya permisi dulu."kata Dayat.


Ryan fokus mengerjakan tugasnya setelah Dayat keluar dari ruangannya. Saat dia sedang sibuk tiba-tiba ponselnya berbunyi, Ryan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari Shinta. Ryan takut terjadi sesuatu dengan kakaknya makanya dia langsung mengangkat panggilan itu tapi dia terkejut karena itu bukan suara kakaknya. Ternyata kakaknya mengalami kecelakaan tunggal dan dia dilarikan ke Rumah Sakit harapan bunda. Ryan setelah menutup panggilan itu menghubungi orangtuanya dan Anton untuk mengabarkan hal itu.


Ryan keluar dari ruangannya dan tak lupa memberitau pada Dayat kalau dia akan keluar. Ryan saat berada dijalan menghubungi Hendru kalau hari ini dia gak bisa daang ke perusahaan temannya itu karena kakaknya mengalami kecelakaan. Sampai diRumah Sakit ternyata Anton sudah sampai sana duluan. Ryan menghampiri kakaknya untuk menanyakan bagaimana keadaan Shinta.


"Kak bagaimana keadaan mbak Shinta?"kata Hendru saat sudah berada didekat Anton.


"Aku belum tau dokter yang menanganinya belum keluar."kata Anton.


"Siapa yang membawa mbak Shinta kemari dan bagaimana kecelakaan itu terjadi?"kata Ryan.


"Maaf saya mas yang membawa mbaknya kemari."kata bapak yang ada disebelah Anton.


"Makasih pak, bapak sudah mengantarkan mbak saya kemari. Saya mau tanya bagaimana kejadian mbak saya kecelakaan?"kata Ryan.


"Mbaknya kecelakaan tunggal karena menhindari nenek-nenek yang menyebrang jalan. Tapi untuk lebih jelasnya biar nanti pihak kepolisian yang menjelaskan."kata bapak itu yang hanya melihat sekilas saja.


"Baik pak terimakasih sekali lagi."kata Ryan.


"Terimakasih pak, nanti kalau ada pihak kepolisan yang mencari bapak mohon kerjasamanya."kata Anton.


"Iya mas, kalau begitu saya permisi dulu nanti kalau ada yang diperlukan hubungi saya saja."kata bapak yang menolong Shinta. Setelah berkata seperti itu bapak itu pergi meninggalkan Anton dan Ryan.


Ryan mengajak Anton untuk duduk, mereka berdua tak ada yang saling berbicara. Saat bunda Arina datang barulah mereka menghampiri bunda dan ayahnya terlihat sekali kalau bundanya itu sangat terpukul karena Shintalah yang paling dekat dengan bunda Arina daripada kedua putranya itu.


"Bagaimana keadaan adikmu Ton?"kata papa Dany.


"Masih belum tau yah, dokter yang menanganinya belum keluar."kata Anton.


Baru saja Anton menutup mulutnya dokter yang menangani Shinta keluar dari ruang operasi. Mereka berempat langsung saja menghampiri dokter yang menangani Shint untuk menanyakan bagaimana kabar Shinta.


"Dok, bagaimana kabar putri saya?"kata bunda Arina.


"Anda ini?"kata dokter perempuan itu.


"Saya bundanya Shinta dok, bagaimana keadaan putri saya?"kata bunda Arina.


"Bun sabar."kata Anton.


"Bagimana bunda bisa sabar kalau kalau bunda belum tau keadaan putri bunda, memangnya kamu gak khawatir apa dengan keadaan adikmu?"kata bunda Arina membat Anton menghera nafasnya sedangkan Ryan mengelus lengan Anton agar kakaknya itu tenang. Papa Dany juga mengelus punggung istrinya agar istrinya itu tenang.


"Maaf bu kalau saya menyela, mbak Shinta alhamdulialh lukanya gak terlalu parah hanya saja kakinya harus digift untuk sementara waktu."kata dokter.


"Apa kami boleh melihatnya dok?"kata Ryan.

__ADS_1


"Nanti kalau mbak Shinta sudah dipindah ke ruang rawat kalian bisa menjenguknya."kata dokter.


"Adik saya benar-benar gak parah hanya kakinya sajakan dok?"kata Anton yang masih khawatir.


"Iya hanya kakinya saja tuan, apa ada lagi yang mau ditanyakan?"kata dokter.


"Sudah tidak ada dok terimakasih, oh ya dok saya mau ruang perawatan adik saya diruang vvip bisa?"kata Anton.


"Kalau soal ruangan silahkan bicarakan dengan pihak administrasi."kata dokter.


"Terimakasih dok."kata Anton.


"Kalau begitu saya permisi dulu."kata dokter.


Mereka berempat lega karena tak ada luka serius yang terjadi pada Shinta, saat Shinta sudah dipindahkan keruang rawat bunda Arina langsung saja mendekati putrinya itu. Dia tak mau jauh dari putri satu-satunya itu, hanya Shinta yang dekat dengannya kedua putranya itu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing apalagi Ryan yang sudah gak tinggal bersamanya.


Saat Ryan sedang berbicara dengan kakak dan ayahnya tentang kecelakaan yang dialami oleh Shinta. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Ryan mengambil ponselnya dan melihat ternyata yang menghubunginya Lydia. Ryan meminta izin ayah dan kakaknya untuk keluar mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualaikum....]


[Walaikumsalam, maaf kalau aku ganggu kamu, kamu gak sibukkan sekarang?]


[Gak aku gak sibuk kok ada apa tumben jam segini menghubungiku?]


[Aku mau minta bantuanmu bisa gak?]


[Mau minta bantuan apa dulu nih? Kalau aku bisa insayaallah aku bantu.]


[Kamu bisa gak pura-pura jadi kekasihku buat yakinin temanku? Aku gak mau kalau dia berusaha untuk menyatukan kembali aku sama Rayyan.]


[Aku sih mau mau saja asal ada imbalannya.]


[Memangnya apa imbalannya?]


[Nanti deh aku pikirin dulu apa imbalannya.]


Saat Ryan sedang berbicara dengan Lydia, Hendru memanggilnya membuat Ryan berbalik dan gak sengaja Lydia mendengar nama Shinta disebut membuat Lydia terdiam.


"Masuk saja tuan orangtuaku ada didalam."kata Ryan


"Oke, aku masuk dulu."kata Hendru.


Ryan menghera nafasnya karena Lydia sudah mematikan panggilan itu pasti gadis itu salah sangka dengannya. Ryan memutuskan untuk menjelaskan pada Lydia nanti saat dia mejemputnya. Lydia sendiri menjadi uring-uringan sendiri setelah mematikan panggilan itu. Lydia merasa kalau apa yang dia lakukan tadi salah, tak semestinya dia minta bantuan pria yang sudah punya kekasih. Saat dia sedang uring-uringan Rima masuk ke dalam ruangannya.


"Eh kamu kenapa kok uring-uringan gitu?"kata Rima.


"Mau makan siang dimana?"kata Lydia.


"Cafe depan perusahaan saja yuk."kata Rima.


"Ya sudah ayo tumben kamu gak makan siang sama kak Kevin?"kata Lydia.


"Dia sedang sibuk gak bisa makan siang diluar, oh ya aku dengar besok Sandra bakal kembali ke Jakarta benar?"kata Rima.


"Iya, soalnya om Donikan sudah mau pensiun sama anaknya gak boleh kerja lagi katanya."kata Lydia.


"Terus siapa yang mengelola perusaaan yang ada diSurabaya?"kata Rima.

__ADS_1


"Sepupu jauh mamaku katanya, aku juga gak terlalu perduli karena papa yang mencari."kata Lydia.


__ADS_2