Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia was-was dengan klien baru


__ADS_3

Lydia penasaran apa yang mau dikatakan oleh pak Hardi, apa mungkin ini tentang proposal proyek yang mereka kirimkan ke klien. Apakah klien kurang puas dengan produk yang akan mereka buat.


"Pak, jangan bikin kita penasaran ada apa sebenarnya ini?"kata Lydia yang diangguki oleh karyawan laun.


"Kalian bersiap-siaplah sebantar lagi kalau kita sudah menandatangani kontrak kerjasama kita akan sibuk banget jadi persiapkan diri kalian."kata pak Hardi membuat karyawan lain bingung dengan apa yang dimaksut oleh pak Hardi.


"Mereka setuju dengan proposal kita pak?"kata Lydia.


"Iya, tadi tuan Alex menghubungiku, dia bilang kita hanya menunggu klien kita datang dan nanti kamu yang akan menjelaskan lebih rinci pada mereka."kata pak Hardi.


"Mereka gak ada komplen sama sekali?"kata Lydia.


"Kok kayaknya kamu gak senang gitu, Di?"kata Santi.


"Gak papa kok aku hanya heran saja, ya sudah kalau kayak gitu aku kembali kedalam dulu."kata Lydia.


Lydia memutuskan untuk masuk kedalam ruangannya lagi karena Lydia heran kenapa mudah sekali perusahaan diIndonesia itu setuju dengan proposal yang dia ajukan padahal setahu dia pasti akan sulit menembus pasar Indonesia. Pak Hardi dan karyawan disana bingung dengan kepergian Lydia begitu saja.


"Lydia kenapa sih?"kata pak Hardi.


"Aku juga gak tau pak, aku akan tanya sama Lydia habis ini."kata Santi.


"Nil, aku mohon sama kamu agar bisa bekerjasama dengan kita. Kamu pasti sudah tau kalau tentang proyek yang kita kerjakan? Aku berharap supaya kamu bisa kerjasama dengan yang lainnya jika ada saran atau ide kamu bisa katakan gak usah takut."kata pak Hardi.


"Baik pak, saya akan berusaha semampu saya."kata Nila.


"Ya sudah kalau kayak gitu kalian kembali kerja lagi, aku mau kembali keruanganku dulu."kata pak Hardi.


Pak Hardi kembali keruangannya sedangkan karyawan yang lain kembali fokus dengan pekerjaannya berbeda dengan Santi yang memilih untuk masuk keruangan Lydia. Santi masuk kedalam ruangan Lydia dan melihat kalau temannya itu sedang sibuk dengan laptopnya, Santi penasaran apa yang dipikirkan oleh temannya itu bukankah seharusnya dia senang karena proyeknya disetujui oleh klien jadi mereka gak perlu memperbaikinya lagi.


"Di..."kata Santi membuat Lydia mengalihkan pandangannya dari laptop beralih memandang Santi.

__ADS_1


"Ada apa?"kata Lydia datar membuat Santi menghela nafasnya.


"Kamu gak senang ya kalau proyek kita disetujui oleh klien?"kata Santi.


"Aku senang hanya saja aku penasaran kok mudah sekali mereka setuju dengan proyek yang kita ajukan karena biasanya pasti perusahaan Indonesia itu akan bertanya macam-macam. Aku takutnya nanti saat kita bertemu dengan klien disaat itulah mereka meminta macam-macam. Kalau permintaannya masih bisa dinalar sih oke tapi kalau gak itu yang akan susah."kata Lydia.


"Kamu ini kok mikirnya jauh banget sih? Semoga saja mereka gak menutut yang aneh-aneh. Aku pikir kamu gak senang karena waktumu pasti akan berkurang kalau perusahaan kita sudah menandatangani kontrak kerjasama ini?"kata Santi membuat Lydia tersenyum.


"Sejak ada mak Masnah aku sudah gak terlalu khawatir kalau meninggalkan Raka dirumah, dulu saat Raka masih dipenitipan baru aku gak tenang."kata Lydia sambil tersenyum.


"Tapi Di, perkataan kamu itu ada benarnya juga. Selama ini kita selalu menapatkan klien yang susah dan meminta macam-macam tapi hanya perusahaan ini yang langsung setuju. Padahal yang aku tau perusahaan ini susah banget diajak kerjasama."kata Santi yang mulai curiga juga.


"Semoga saja gak bikin kita susah aku malas kalau lembur terus."kata Lydia.


"Kok kamu apalagi aku paling malas kalau disuruh lembur, aku berharap semoga nanti aku dapat suami seorang pemilik perusahaan agar nanti setelah menikah aku tinggal ongkang-ongkang kaki."kata Santi membuat Lydia tersenyum.


"Tinggi banget bu mimpimu, kenapa kamu gak sama tuan Alex saja?"kata Lydia.


"Kenapa gak mau? Dia seorang ceo nanti kalau kamu nikah sama dia bisa ongkang-ongkang kaki seperti yang kamu harapkan."kata Lydia.


"Dia mantanya Dahlia masak aku pacaran sama Dahlia gak enaklah."kata Santi.


"Kamu itu lagian Dahlia itu hanya anggap Alex sebagai temannya gak lebih, dia juga gak mau kembali sama tu orang gila."kata Lydia.


"Kamu tau kalau Alex gila kok malah berikan dia padaku?"kata Santi kesal sedangkan Lydia malah tersenyum.


Lydia hanya berharap yang terbaik buat teman-temannya, Lydia juga sebenarnya merindukan orangtuanya tapi dia gak mugkin menghubungi orangtuanya. Lydia yakin jika papa mamanya tau dia disini, Ryan pasti cepat atau lambat akan tau keberadaannya. Lydia belum siap bertemu dengan Ryan apalagi sekarang ada Raka diantara mereka pasti masalah akan bertambah. Lydia ingin Ryan menyelesaikan masalahnya dulu baru setelah itu dia akan kembali ke Indonesia entah sebagai istri Ryan atau dia akan memilih menjadi janda.


Di Indonesia


Ryan sibuk menyelesaikan kerjaannya karena akan dia tinggal ke Itali selama beberapa hari, Ryan gak mau meninggalkan pekerjaan satupun karena itu pasti akan membuat dia kepikiran dan gak fokus dengan pekerjaannya disana. Saat Ryan sedang serius memeriksa berkas Dayat masuk kedalam ruangannya sambil menghela nafasnya saat melihat atasannya masih fokus dengan berkas-berkas.

__ADS_1


"Yan..."kata Dayat membuat Ryan memandang kearah Dayat.


"Ada apa?"kata Ryan.


"Kamu gak liat ini jam berapa?"kata Dayat.


"Jam 6 memangnya kenapa?"kata Ryan santai sedangkan Dayat menepuk keningnya.


"Ya Allah Yan, jam 8 kita harus menghadiri pesta aniv orangtuamu lo apa kamu lupa?"kata Dayat.


"Bagaimana kalau kita gak usah hadir saja? Pekerjaanku masih banyak ini."kata Ryan sambil menujukan berkas yang ada dimejanya.


"Gak bisa bukannya kamu sudah janji sama tante Airin kalau kamu akan datang, sudah ayo kita pulang siap-siap."kata Dayat.


"Aku pakai setelan ini saja, nanti jam 7 kita berangkat gak papakan aku mau nyelesaiin ini? Aku mau kerjaan ini beres saat kita pergi ke Itali."kata Ryan.


"Baiklah, kalau kayak gitu aku ambil laptop dulu bentar aku temani kamu disini."kata Dayat.


Dayat meninggalkan ruangan Ryan untuk mengambil laptopnya supaya dia bisa bekerja diruangan Ryan. Ryan sendiri kembali fokus dengan berkas yang ada didepannya. Saat dia sedang fokus dengan berkasnya terdengar ponselnya berbunyi Ryan menghela nafas saat melihat siapa yang menghubunginya.


[Hallo ada apa?]


[Kamu dimana kok belum pulang? Ini pakaian seragam kita ada di aku.]


[Aku gak butuh pakaian itu kalau kamu mau pakai saja sendiri. Aku akan datang tenang saja.]


[Nanti bagaimana kalau orang-orang tanya soal kamu?]


[Bilang saja aku sedang bersenang-senang dengan istri pertamaku yang sangat aku cintai.]


Ryan setelah berkata begitu mematikan panggilan membuat Shinta kesal karena Ryan masih belum bisa melupakan Lydia. Shinta gak tau harus bagaimana lagi caranya mendaatkan Ryan karena semua cara sudah dia lakukan tapi tak berhasil juga mendapatkan hati suaminya itu membuat Shinta kesal. Tapi dia gak akan nyerah, dia yakin pasti suatu saat dia akan mendapatkan cinta Ryan.

__ADS_1


__ADS_2