Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia beli bubur ayam


__ADS_3

[Serius gak papa ini Jon?]


[Iya gak papa, mumpung aku ada rejeki kalau gak ada rejeki aku gak akan traktir kalian.]


[Ya sudah deh kalau kayak gitu, makasih tapi bensinya kami bertiga ya kan kamu sudah rentalnya?]


[Siap kalau kayak gitu. Eh sudah dulu ya aku mau main ps sama teman-temanku.]


[Iya maaf kalau aku ganggu.]


[Gak papa kayak sama siapa saja.]


Ita langsung saja menyimpan ponselnya kembali setelah mengakhiri panggilan dengan Jono. Sedangkan Lydia dan Sandra malah tersenyum mendengar pembicaraan antara Ita dan Jono.


"Eh kalian kok malah tersenyum sih?"kata Ita yang kesal karena teman-temannya tersenyum.


"Kami kan sudah bilang kamu dibilangin gak percaya sih."kata Sandra.


"Aku hanya gak enak hati saja, kita kerja sedangkan dia gak. Tapi nanti bensinnya buat pulang pergi kita bertiga yang tanggung."kata Ita.


"Siap mah kalau soal itu, aku juga sudah bilang kalau gak enak sama Jono tapi dianya tetap memaksa dia yang akan rental mobil itu."kata Sandra.


"Ya sudah mau bagaimana lagi kita juga gak bisa apa-apa orang dianya yang gak mau."kata Ita.


"Sudah sudah gak usah bicara soal itu lagi, nih minum dulu biar nanti kita bisa tidur nyenyak."kata Lydia memberikan susu yang baru saja dia bikin.


"Kamu ini sudah gede tapi minumnya susu sih?"kata Sandra.


"Kamu tau gak dengan cara minum susu kita bisa nyenyak tidurnya coba saja kalau gak percaya."kata Lydia.


"Kamu biasa kayak gini? Lah kita ada buat makan saja sudah syukur."kata Sandra.


"Kita harus tetap bersyukur bagaimanapun keadaannya masih banyak diluar sana gak bisa makan."kata Ita.


"Ita benar San, kita harus bersyukur setiap harinya karena masih bisa makan dan hidup sehat."kata Lydia.


"Iya iya, ini aku minum habis ini aku mau balik ke kamarku ngantuk banget gak tahan."kata Sandra.


"Ngantuk atau mau kirim pesan sama kak Dion?"kata Ita.


"Ta, kamu apaan sih. Aku gak pernah ya berkirim pesan sama kak Dion."kata Sandra.


"Iya juga gak papa, aku mah setuju aja kok kalau kamu sama dia. Kak Dion baik kok, iya gak Ly?"kata Ita meminta bantuan Lydia.


"Iya benar apa kata Ita, kami mah setuju-setuju saja."kata Lydia.


"Aku takut pacaran sama orang kaya, aku takut kejadian seperti kamu dan Kak Rayyan."kata Sandra.


"Kamu gak usah samain kak Dion sama kak Rayyan, aku yakin kak Dion pasti bisa diandalkan apalagi kak Dion gak seperti kak Rayyan yang gak bisa tegas."kata Lydia sedih membuat Ita langsung saja menyenggol lengan Sandra karena telah mengingatkan Lydia dengan Rayyan.


"Maaf Ly, aku gak bermaksut untuk mengingatkan kamu sama dia."kata Sandra merasa bersalah pada Lydia.


"Gak papa kok aku biasa saja tenang saja."kata Lydia yang berusaha untuk tersenyum tapi kedua temannya itu tau jika Lydia senyumnya terpaksa.


"Ya sudah kalau kayak gitu kami kembali ke kamar kami mau tidur juga dah malam."kata Ita.


Mereka berdua keluar dari kamar Lydia kembali ke kamar mereka masing-masing. Beda dengan Lydia setelah teman-temannya datang dia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru setelah itu dia akan tidur. Saat dia akan tidur dan sudah berada diatas kasurnya terdengar ponselnya berbunyi. Lydia langsung saja mengangkat panggilan itu siapa tau itu penting. Ternyata itu panggilan dari mamanya, Lydia langsung saja mengangkat panggilan itu.


[Hallo Asalamualaikum ma....]


[Walaikumsalam sayang, kamu sudah tidur?]


[Ini lagi mau tidur ada apa ma?]


[Gak papa mama cuma kangen sama kamu.]


[Kangen atau ada maksut lain?]


[Apa maksut kamu sayang?]


[Mama pasti takut kalau putri mamanya ini sedihkan karena pertunangan itu?]


[Kamu sudah tau tentang pertunangan itu?]


[Sudah ma, tadi waktu aku mau berangkat ke kampus melihat surat kabar yang memberitakan pertunangan itu.]


[Kamu beneran gak papa sayang?]


[Aku gak papa ma.]


[Oh ya hari Jumat ada waktu gak kita keluar jalan-jalan gimana?]


[Maaf ma, aku sudah ada janji dengan teman-teman mau pergi ke puncak. Mama mau ikut?]


[Gak ah itu acaranya orang muda-muda nanti mama malah ganggu. Padahal mama mau jalan berdua sama kamu?]

__ADS_1


[Jumat depan kita ketemu ya ma, waktu seharian itu buat mama sama papa kalau dia mau ikut.]


[Papa kamu pasti sibuk dengan kerjaannya lupa sama kita.]


[Siapa yang lupa sih, papa benar-benar sibuk. Kapan kamu mau bantuin papa kerja diperusahaan?]


[Pa, aku masih kuliah kok disuruh bantuin ngurus perusahaan sih?]


[Liat Hendru saja kuliah tetap bantu papanya kamu malah gak mau. Lagi malah kamu nyembunyiin identitas kamu.]


[Pa, aku masih ingin bebas dan gak mau kalau berbuat sesuatu harus mengingat nama besar keluarga itu sangatlah susah.]


[Dia saja bisa menggunakan nama kita untuk berbuat yang tidak baik kenapa kamu gak bisa?]


[Karena aku putrinya papa, aku tau bagaimana usaha papa untuk mencapai kesuksesan yang sekarang.]


[Makasih sayang.]


[Ya pa, kalau kayak gitu aku pamit mau tidur dulu ya.]


[Ya sudah selamat tidur semoga mimpi indah.]


Lydia setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya langsung meletakkan ponselnya diatas meja setelah itu dia memutuskan untuk tidur. Dia tak ingin memikirkan Rayyan terus karena sekarang Rayyann benar-benar bukan miliknya lagi dan dia harus bisa mengikhlaskan semuanya.


Keesokan paginya Lydia bangun pagi langsung saja mandi dan bersiap untuk berangkat ke kampus tapi saat dia sedang bersiap ini masih terlalu awal Sandra juga belum terlihat keluar. Lydia memutuskan untuk keluar duluan untuk memberi bubur ayam yang ada didepan kosan.


Lydia


[San, aku keluar duluan perutku lapar. Aku tunggu ditukang bubur ayam.]


Lydia setelah mengirim pesan pada Sandra langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas. Setelah itu keluar dan langsung memesan bubur pada penjualnya saat sudah berada didepan penjualnya.


Saat dia sedang asik duduk sambil main ponselnya tiba-tiba ada yang duduk disebelahnya. Lydia langsung menoleh dan melihat siapa yang ada disebelahnya itu.


"Hai sudah lama gak ketemu bagaimana kabar kamu?"kata Bagas.


"Baik kak, kok kakak ada disini gak magang?"kata Lydia.


"Habis ini berangkat sekarang perut aku lapar."kata Bagas.


"Kakak pesen bubur ayam juga?"kata Lydia.


"Gak tu aku pesen pecel kalau makan bubur pagi gini nanti agak siangan dikit pasti perutku kelaparan."kata Bagas.


"Itu perut atau karet kak kok cepat kali lapar?"kata Lydia.


"Gak deh kak, soalnya aku harus nungguin Sandra. Ini juga masih kepagian kalau berangkat ke kampus. Memangnya kakak mau ngapain ke kampus?"kata Lydia penasaran buat apa Bagas ke kampus.


"Aku diterima disalah satu Rumah Sakit diBandung jadi harus minta data-data dari kampus."kata Bagas.


"Kak bukannya harus selesaiin skripsi dulu ya baru bisa test kerja?"kata Lydia.


"Gak kok kalau ada test kita bisa mengikuti test dan kalau ke terima kita selesai magang langsung bisa kerja jadi gak perlu nganggur deh dirumah."kata Bagas.


"Wah enak banget kalau kayak gitu, nanti kayaknya aku mau kayak gitu deh kak."kata Lydia.


"Aku yakin kamu bisa, kalau kayak gitu aku berangkat dulu. Nasiku sudah datang nih."kata Bagas.


"Ya sudah kalau kayak gitu hati-hati kak."kata Lydia.


Saat Bagas baru saja pergi Sandra dan Ita datang menghampiri Lydia. Mereka berdua langsung memesan bubur ayam dan duduk disamping Lydia.


"Tadi bukannya kak Bagas ya?"kata Sandra.


"Iya memangnya kenapa?"kata Lydia sambil makan buburnya yang tinggal sedikit.


"Ngapain dia kesini? Bukannya kosannya disebelah sana ya?"kata Sandra.


"Orang mau cari makan disini apa salahnya sih?"kata Ita.


"Iya kata Ita benar lagian dia mau pindah ke Bandung setelah ini."kata Lydia.


"Ngapain pindah kesana?"kata Sandra.


"Dia dapat kerja disana, disalah satu Rumah Sakit yang ada disana."kata Lydia.


"Kok bisa sih?"kata Sandra.


"Iya bisalah kalau sudah resekinya disana, kenapa kamu takut kalau gak bertemu dengannya lagi?"kata Lydia.


"ihh apaan sih kamu Ly ada ada saja, aku cuma tanya saja apalagi kalau kak Rayyan juga ikut dia bukannya itu malah lebih bagus ya?"kata Sandra.


"Lah kok nyangkut pautin ini sama kak Rayyan sih, padahal kita bicarain kak Bagas lo."kata Lydia sambil tersenyum.


"Jangan-jangan kamu diam-diam suka lagi pada kak Bagas?"kata Ita.

__ADS_1


"Ta gak usah aneh-aneh deh kemarin malam kak Dion sekarang kak Bagas nanti siapa lagi?"kata Sandra kesal membuat kedua temannya senang.


Mereka bertiga setelah menyelesaikan makan buburnya langsung saja berangkat menuju tempat mereka masing-masing. Ita yang langsung berjalan ke toko sedangkan Lydia dan Sandra pergi ke halte untuk menunggu bus.


Mereka naik ke dalam bus saat bus yang mereka tunggu datang, sampai dikampus mereka berdua langsung pergi ke dalam kelasnya. Saat berjalan menuju ruang kelasnya mereka berdua berpapasan dengan Rima.


"Hai Ly, sudah lama kita gak ketemu ya?"kata Rima sambil tersenyum.


"Iya, bagaimana kabar kamu?"kata Lydia sambil tersenyum sedangkan Sandra malah kesal.


"Aku baik apalagi setelah aku bertunangan dengan Rayyan, padahal waktu itu aku berharap kamu datang tapi ternyata kamu gak datang?"kata Rima.


"Maaf aku waktu itu gak dapat izin cuti kerja jadi gak bisa datang deh."kata Lydia sambil tersenyum.


"Kamu gak dapat cuti kerja atau gak terima karena Rayyan bertunangan denganku?"kata Rima.


"Sayang, kamu dicariin kok ada disini sih? Loh ada kamu juga Rim? Kamu bukannya harusnya magang diperusahaan Emirat ya?"kata Hendru sambil mengejek Rima.


"Ada apa kak?"kata Lydia.


"Kamu gak lupakan kalau kita nanti cari kebaya buat nikahan kita."kat Hendru sambil mengedipkan matanya.


Lydia hanya tersenyum sedangkan Rima dan Sandra terkejut. Bukan hanya mereka berdua yang terkejut ternyata dibelakang tembok ada Rayyan dan Bagas.


"Aku masih ingat kak, masak aku lupa sih soal itu. Oh ya Rim, gak ada yang mau kamu omongin lagikan?"kata Lydia.


"Sudah gak ada."kata Rima kesal.


"Aku mau ngucapin selamat atas pertunangan kamu, sekalian aku mau permisi ada yang harus aku bicarakan sama kak Hendru. Permisi."kata Lydia sambil mengajak Hendru dan Sandra pergi darisana.


Mereka bertiga langsung berjalan menjauh dari Rima. Saat sudah jauh dari Rima, Lydia langsung saja menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?"kata Hendru dan dianggukin oleh Sandra.


"Kakak ngapain bilang kayak gitu sih tadi?"kata Lydia.


"Bilang apasih dek?"kata Hendru.


"Kenapa kakak bilang kalau kita mau nikah? Kalau sampai papa sama om tau bagaimana?"kata Lydia.


"Tenang aku akan jelaskan sama mereka kalau ini hanya sandiwara. Lagian apa kamu gak tau kalau dibalik tembok tadi ada pria bodoh yang sudah menyakiti kamu?"kata Hendru.


"Maksut kakak kak Rayyan?"tanya Sandra.


"Kalau bukan dia siapa lagi?"kata Hendru dengan wajah kesalnya.


"Kamu tu kak, tapi bukan berarti bilang sama gitu sama dia."kata Lydia.


"Kenapa kamu takut kalau Rayyan tak mencari kamu lagi? Bukannya dengan dia tau kalau kamu sudah jadi milikku dia tak akan menganggu kamu? Apa kamu belum bisa melepaskan dia?"kata Hendru menyelidiki adiknya itu.


"Kak aku sudah ikhlas jadi sudah ya gak usah ungkit itu lagi, kakak bukannya diluar kota ngapain sekarang ada disini?"kata Lydia.


"Ada yang harus aku kerjakan dikampus dan saat sampai kampus melihat perempuan gila itu sedang bicara sama kamu."kata Hendru.


"Kak sudah dong, aku mau masuk kelas kakak tadi katanya mau ngurus sesuatu."kata Lydia.


"Iya aku pergi dulu, oh ya aku lupa memangnya benar hari jumat mau pergi ke puncak?"kata Hendru.


"Iya memangnya kenapa? Kakak mau kasih aku uang saku?"kata Lydia.


"Memangnya mau kalau aku kasih?"kata Hendru.


"Maulah, buat tambah-tambah jajan."kata Lydia sambil tersenyum.


Hendru yang mendengar langsung saja mengambil dompetnya. Dia mengambil beberapa uang berwarna merah dan langsung saja memberikannya pada Lydia.


"Nih, kalau kurang minta kak Risa. Dia yang sudah kerja?"kata Hendru.


"Makasih kak."kata Lydia sambil tersenyum sedangkan Sandra malah terbengong karena Hendru memberikan uang sebanyak itu ke Lydia dengan mudahnya.


"Ya sudah aku pergi dulu, kuliah yang benar sekarang gak usah lagi mikirin cinta-cintaan."kata Hendru sambil mengelus rambut adiknya.


"Makasih kak."kata Lydia.


Hendru langsung pergi darisana dan Lydia juga langsung memasukkan uang itu ke dalam dompetnya dan setelah itu langsung saja mengajak Sandra masuk. Saat mereka berdua masuk banyak para perempuan yang memandang kearah mereka.


"Mereka kenapa sih?"kata Lydia.


"Kamu siapanya kak Hendru?"kata Rani.


"Memangnya kenapa?"kata Lydia.


"Kok dia ngasih uang ke kamu?"kata Rani.


"Dia kakakku. Dia ngasih uang tadi buat kita hari jumat pergi ke puncak. Kan lumayan dapat tambahan."kata Lydia.

__ADS_1


"Seriusan uang itu buat tambahan kita pergi ke puncak?"kata Rani.


"Iyalah memangnya apalagi?"kata Sandra.


__ADS_2