
Lydia menuju meja makan sendirian disana sudah ada Dayat yang sedang menikmati sarapannya karena menunggu Lydia dan Ryan lama. Kalau sampai dia menunggu takutnya nanti dia belum selesai makan Ryan dan Lydia mengajaknya berangkat. Lydia duduk dimeja makan lalu mengambil makanan untuknya sendiri.
"Maaf nyah, tuan kok belum turun?"kata Dayat yang penasaran dengan Ryan kok gak ikut turun.
"Kak Ryan masih didalam kamar mandi, gak tau daritadi gak keluar-keluar."kata Lydia membuat Dayat tersenyum.
"Mungkin lagi main nyonya."kata Dayat membuat Lydia mengerutkan keningnya karena gak mengerti dengan perkataan Dayat.
"Maksutnya kak?"kata Lydia.
"Masak nyonya gak tau pria itu kalau dikamar mandi lama ngapain?"kata Dayat.
"Aku gak tau memangnya kenapa?"kata Lydia.
"Biasanya..."kata Dayat tak meneruskan perkataannya saat melihat Ryan turun.
"Jangan kotori pikiran istriku kamu Yat."kata Ryan yang duduk dikursi sebelah Lydia.
"Saya hanya mengatakan fakta daripada anda bermain sendirian dikamar mandi."kata Dayat yang langsung dipelototi oleh Ryan.
"Main apa dikamar mandi kak?"kata Lydia sambil mengambilkan makanan untuk Ryan.
"Sudah gak usah dengarkan omongan Dayat, kamu makan gih habis itu kita berangkat."kata Ryan.
"Kalau nyonya mau tau apa yang dilakukan seorang pria lama dikamar mandi cari saja diinternet banyak kok urasannya."kata Dayat.
"Yat... Bisa gak kamu diam?"kata Ryan.
"Nanti aku liat kak."kata Lydia yang penasaran apa yang dilakukan suaminya dikamar mandi soalnya sudah dua kali suaminya itu lama berada dikamar mandi.
Ryan mendengar perkataan Lydia hanya menghera nafasnya, Ryan memutuskan untuk menikmati sarapannya dan mendengarkan istri dan asistennya yang sedang berbicara. Mereka selesai sarapan langsung saja berangkat bekerja, Dayat lebih dahulu menggantar Lydia menuju perusahaannya.
"Kak, nanti jadi datang ke perusahaan gak selesai meeting?"kata Lydia membuat Ryan memandang kearah istrinya.
"Nanti aku datang ke perusahaan dengan Dayat."kata Ryan membuat Lydia terkejut.
"Bukannya kak Dayat mau kembali ke Jakarta ya?"kata Lydia.
"Besok dia akan kembali ke Jakarta sekarang dia mau bantu aku buat nyelesain masalah diperusahaanmu."kata Ryan.
__ADS_1
"Memangnya masalanya rumit ya kok kak Dayat gak jadi pulang?"kata Lydia.
"Kamu gak usah pikirkan soal itu, biar kami saja yang selesaikan. Sekarang kamu fokus saja untuk menangani kekacauan berikan ide-ide yang aku bilang ke kamu semalam pada mereka."kata Ryan yang gak mau Lydia pusing memikirkan masalah lain.
"Baiklah kalau begitu, aku turun dulu kalian hati-hati dijalan."kata Lydia sambil menyalami Ryan sebelum dia keluar dari dalam mobil.
Lydia masuk ke dalam perusahaan setelah mobil yang dikendarai suaminya tak terlihat lagi. Karyawan terkejut Lydia datang tanpa memberikan kabar terlebih dahulu. Apalagi kemarin ada dua orang pria yang mengaku suruhan dari Jakarta semua orang gak percaya makanya menentang pendapat yang orang itu berikan padahal menurut mereka ide yang disampaikan itu menarik dan mereka yakin jika digunakan pasti perusahaan akan semakin berkembang. Tapi karyawan dan para direksi gak bisa apa-apa selain masih belum percaya dengan pria itu mereka juga takut dengan Edwin dan juga pak Hendra.
Lydia yang tau jika semua karyawan disana terkejut biasa saja tak memperdulikan keterkejutan mereka, Lydia memilih langsung berjalan menuju ruangannya. Saat dia baru saja sampai ruangannya Edwin datang menghampiri sepupunya itu. Edwin gak menyangka kalau Lydia akan datang kesana secepat ini apalagi kemarin ada yang mengaku sebagai utusan dari Jakarta.
"Kalau masuk bisa ketuk pintu dulu gak?"kata Lydia.
"Masak sama sepupu sendiri kamu perhitungan sekali sih Ly?"kata Edwin.
"Walaupun kamu sepupuku bukan berarti kamu seenaknya saja masuk ke dalam ruangan ini."kata Lydia.
"Kamu dari dulu perhitungan sekali denganku."kata Edwin.
"Aku gak akan perhitungan kalau kamu juga sopan bukan seenaknya sendiri."kata Lydia.
"Mana ada aku seenaknya sendiri aku selalu membantumu untuk menjaga perusahaan ini. Apalagi kemarin ada dua orang yang datang kesini dan mengaku sebagai utusan dari Jakarta untung saja aku bergerak cepat kalau gak bukannya perusahaan kita akan rugi besar?"kata Edwin yang percaya diri dengan kemampuannya.
"Yakinlah, orang itu kenyatanya."kata Edwin.
"Kamu tau dua orang pria itu memang orang suruhanku dan kamu liat ini apa keputusan yang kamu ambil itu benar atau salah."kata Lydia sambil melempar berkas kearah Edwin.
"Apa ini?"kata Edwin.
"Buka saja kalau kamu penasaran."kata Lydia.
Edwin membuka berkas itu dan terkejut saat mengetahui kalau itu berkas tentang kerugian perusahaan yang semakin besar. Edwin terdiam sesaat dan meremas berkas itu.
"Kamu bohongkan ini Ly."kata Edwin.
"Bohong bagaimana itu kenyataannya, memangnya kamu pikir sudah bisa menyelesaikan masalah?"kata Lydia.
"Tapi kata pak Hendra semua sudah beres. Aku liat laporannya sudah normal tapi kenapa ini bisa jadi kayak begini."kata Edwin.
"Memangnya pak Hendra itu siapa kok sampai kamu percaya banget sama dia?"kata Lydia.
__ADS_1
"Dia itu baik orangnya dan mengajari aku saat aku pertama kali disini gak seperti pak Purnomo yang diam saja saat orang ada masalah. Kalau kita tanya baru pak Purnomo akan menjawab beda dengan pak Hendra yang langsung cekatan menolong saat ada masalah."kata Edwin.
"Kamu bisa gak sih liat orang yang tulus atau gak sama kamu, pak Purnomo memang diam tapi dia berpikir lebih dulu karena dia tak mau gegabah dalam menyelesaikan masalah. Dia lebih dahulu bertanya padaku atau papa dalam memutuskan sesuatu baru setelah itu dia akan mengatakan keputusannya pada kalian. Sekarang kamu bisa pikir mana yang baik dan gak. Orang yang langsung memberikan pendapat tanpa persetujuan dari yang lain dan selalu merasa benar sendiri itu baik atau gak?"kata Lydia.
"Jadi aku salah sudah percaya sama orang?"kata Edwin.
"Kamu gak salah, pak Hendra juga mengajarkan kita memang harus bisa berpikir cepat tapi salahnya kita gak perduli dengan pendapat orang lain. Seharusnya kita menyaring pendapat orang lain juga siapa tau jika ide kita dan ide mereka disatukan bisa jadi inovasi baru. Setelah ini bisa kamu ubah sikapmu yang gak bisa mendengarkan pendapat dan nasehat orang lain?"kata Lydia menasehati Edwin membuat Edwin menghera nafasnya.
"Pantas saja papaku selalu menyanjungmu memang kamu pemimpin yang hebat yang gak mentingkan diri sendiri."kata Edwin.
"Aku juga gak sempurna, aku hanya mau yang terbaik buat semuanya. Apalagi kita gak hanya mikirkan nasib kita saja tapi juga nasib karyawan yang bekerja diperusahaan ini. Setelah ini aku harap kamu bisa berpikir terlebih dahulu baru bertindak."kata Lydia.
"Iya lalu apa yang akan kamu lakukan dengan masalah ini?"kata Edwin.
"Kita adakan meeting setelah dua pria yang kemarin kesini datang."kata Lydia.
"Baiklah, kalau kayak gitu aku kembali keruanganku dulu."kata Edwin.
Saat Edwin keluar bertepatan dengan pak Purnomo yang ingin masuk kedalam ruangan Lydia. Pak Purnomo tersenyum sambil membawa sebuah berkas. Edwin yang gak enak hati juga tersenyum, dia tak menyangka jika pak Purnomo adalah karyawan yang setia pada om Irwan dan keluarganya. Saat Edwin masuk ke dalam ruangannya sendiri ternyata disana ada pak Hendra membuat Edwin menghera nafasnya.
"Bapak sudah lama berada disini?"kata Edwin yang pura-pura biasa saja padahal yang sebenarnya hatinya sedang kesal.
"Baru saja, kamu darimana?"kata pak Hendra.
"Saya baru saja dari ruangan Lydia."kata Edwin sambil duduk dikursinya.
"Nona Lydia datang kesini kok saya gak tau?"kata pak Hendra.
"Saya pikir anda sudah tau, biasanya anda yang paling duluan tau."kata Edwin.
"Saya tadi baru saja datang langsung kesini, ada masalah yang harus saya selesaikan terlebih dahulu."kata pak Hendra.
"Memangnya masalah apa pak?"kata Edwin.
"Soal perusahaan."kata pak Hendra.
"Memangnya kenapa dengan perusahaan?"kata Edwin yang pura-pura gak tau.
"Ini anda liat sendiri saya sudah menyelesaikan masalah perusahaan, kita juga mendapatkan keuntungan 2kali lipat."kata pak Hendra percaya diri.
__ADS_1