
Ryan yang sedang ingin fokus dengan kerjanya jadi tak fokus karena terus teringat dengan Lydia yang tak bisa dihubungi. Entah kenapa saat pertama kali bertemu dengan Lydia,Ryan merasakan sesuatu yang berbeda rasanya dia ingin selalu bertemu Lydia tanpa sepengetahuan perempuan itu.
Ryan memang sejak bertemu dengan Lydia saat ditaman waktu itu diam-diam terus mengikuti semua kegiatan yang dilakukan Lydia. Walaupun anak buahnyay yang selalu mengikutinya dan akan mengirimkan foto padanya.
"Yan, kamu sibuk gak hari ini?"kata Aziz.
"Aku sibuk kayak biasanya apalagi sekarang Hendru lagi cuti panjang dan semua pekerjaan diserahkan padaku. Ada apa memangnya tumben kamu kesini?"kata Ryan.
"Aku butuh bantuan kalian berdua tapi karena Hendru gak ada aku hanya bisa minta tolong kamu."kata Aziz.
"Memangnya mau minta tolong apa?"kata Ryan.
"Nih kamu pasti bisa membantuku untuk mencari tau soal ini, aku merasa ada yang salah dengan laporan ini tapi aku gak menemukan dimana yang salah."kata Aziz sambil memberikan berkasa yang dia bawa.
"Aku periksa dulu tapi aku gak janji bisa bantu kamu."kata Lydia.
"Aku yakin kamu pasti bisa membantuku."kata Aziz.
"Kamu kok yakin banget sih?"kata Ryan yang hanya mengelengkan kepalanya karena perkataan temannya ini.
Ryan setelah berkata begitu langsung saja memeriksa berkas itu dan memang ada yang salah dengan berkas yang dibawah oleh Aziz. Ryan selesai membaca berkas itu langsung saja memandang kearah Aziz dengan wajah yang kesal.
"Kamu mau ngerjain aku atau gimana?"kata Ryan kesal tapi malah membuat Aziz tersenyum karena berhasil mengerjai temannya itu.
"Kamu sih, aku panggil-panggil daritadi gak dengar memangnya kamu sedang mikirin apa sih?"kata Aziz yang penasaran dengan Ryan yang gak kayak biasanya.
"Aku sedang pusing kerjaan gak selesai-selesai belum lagi aku memeriksa laporan perusahaanku sendiri."kata Ryan berbohong padahal dia sedang memikirkan Lydia.
"Yakin hanya mikirin kerjaan bukan karena lagi mikirin Lydia?"kata Aziz.
"Apa maksutmu?"kata Ryan yang gak nyangka jika Aziz bisa tau kalau dia sedang memikirkan Lydia.
"Aku sudah dengar cerita dari Dion kalau kamu sama Lydia kemarin adalah pasangan yang paling serasi. Aku juga melihat kalau ada surat kabar yang memberitakan kamu dan Lydia tadi pagi."kata Aziz.
"Kamu gak bohongkan soal ini, ini bukan masalah sepele jadi jangan dibikin bercanda?"kata Ryan yang gak suka dengan Aziz yang suka membuat sesuatu jadi candaan.
"Serius kalau gak percaya kamu bisa buka berita diponselmu!"kata Aziz yang tau jika Ryan tak percaya dengan perkataannya.
Ryan langsung saja mengambil ponselnya setelah itu langsung saja membuka berita. Benar saja apa yang dikatakan oleh Aziz kalau berita dirinya dan Lydia semalam sudah tersebar luas. Ryan juga terkejut ada yang mengunggah foto dirinya dan juga mbak Sinta saat tadi mereka berada dicafe tadi.
"Ada apa kok kamu gusar gitu?"kata Aziz.
"Nih kamu liat saja sendiri dua berita dalam sehari."kata Ryan sambil menyerahkan ponselnya pada Aziz.
Aziz langsung saja menerima ponsel itu dan membacanya, Aziz langsung terkejut saat melihat berita itu. Dia langsung memandang kearah Ryan, Ryan sendiri langsung saja memijat keningnya. Lydia pasti tadi menghubunginya untuk menanyakan soal ini padahal mereka baru saja dekat masak hanya gara-gara ini dia harus jauh lagi.
"Apa yang akan kamu lakukan? Bukannya kamu sendiri yang gak mau jika identitasmu diketahui oleh orang lain?"kata Aziz.
"Aku akan mencaritau siapa yang sudah menyebarkan berita ini, mana ponselku biar aku minta Dayat untuk menyelidiki ini semua."kata Ryan yang langsung mengambil ponsel dari tangan Aziz untuk menghubungi Dayat. Dayat yang menerima panggilan dari atasannya langsung saja mengangkat panggilan itu.
[Hallo ada yang bisa saya bantu tuan?]
[Ada masalah yang harus kamu selesaikan sekarang juga.]
[Memangnya masalah apa yang harus saya selesaikan tuan?]
[Kamu sudah baca berita hari ini belum? Kalau belum kamu baca dan setelah itu pasti kamu tau apa yang harus kamu lakukan.]
__ADS_1
[Baik tuan akan saya liat sekarang juga, tunggu sebentar tuan.]
Dayat setelah mendapat perintah langsung saja membuka berita diponselnya. Dia langsung terkejut saat membaca ternyata itu adalah sekandal tuan dan perempuan yang tadi baru dia temui. Dayat juga terkejut saat mengulir ponselnya kebawah ternyata disitu ada juga foto mesra antara Ryan dan Sinta.
[Apa yang ingin tuan lakukan?]
[Kamu cari tau siapa yang sudah menyebarkan ini semua beri dia balasan yang membuatnya akan teringat dan gak akan pernah mau berbuat seperti itu lagi. Jangan lupa kamu tekan gosip ini, aku gak mau kalau gosip ini bikin masalah buatku.]
[Baik tuan akan saya laksanakan, oh ya tuan tadi nona Lydia bertanya kenapa anda tak mengantarkan mobilnya sendiri?]
[Lalu kamu bilang apa sama dia?]
[Saya bilang kalau tuan sedang sibuk, apalagi tuan Hendru baru saja menikah.]
[Baiklah makasih Yat, nanti biar aku hubungi dia sekalian aku mau buat janji dengannya ada yang ingin aku berikan padanya.]
[Baik tuan, apa ada lagi yang harus saya lakukan?]
[Sudah itu saja kalau kayak gitu aku tunggu kabar darimu, sekarang aku tutup dulu panggilannya.]
Revan setelah mendapat jawaban dari Dayat langsung saja menutup panggilan itu. Aziz yang melihat temannya sedang pusing langsung tersenyum karena baru kali ini dia bisa melihat Ryan pusing hanya gara-gara skandal seperti ini padahal selama ini dia gak pernah ambil pusing jika digosipkan dengan perempuan manapun tapi dengan Lydia dia beda banget.
"Kamu kenapa ngetawain aku?"kata Ryan yang kesal dengan Aziz bukannya membantu dia malah menertawainnya.
"Aku gak nyangka kalau kamu bisa pusing dengan masalah ini padahal biasanya kalau kamu diberitakan denga perempuan lain kamu biasa saja gak ambil pusing."kata Aziz membuat Ryan terkejut.
"Aku gak mau kalau Lydia salahpaham sama aku, selama ini aku digosipkan dengan siapapun pasti aku akan diam karena aku tau gosip itu sebentar saja pasti akan hilang. Tapi kalau dengan Lydia pasti ini akan sangat lama karena kamu tau sendiri siapa Lydia dan mbak Sinta mereka dua perempuan yang papanya adalah orang yang sukses."kata Ryan.
"Eh mbak Sinta itu mbakmu lo, lagian ngapain kamu tadi bertemu dengannya dicafe tumben kalian bertemu dicafe biasanya kalian gak pernah bertemu diluar?"kata Aziz.
"Tadi aku gak sengaja bertemu dengan dia dicafe saat bertemu dengan klien, setelah selesai dengan klien aku menghampirinya yang sedang sendirian. Kami cerita tentang masalah diperusahaan papa yang belum selesai."kata Ryan.
"Aku bantuin tapi kamu 'kan tau sendiri aku gak mungkin bisa terang-terangan membantu perusahaan itu."kata Ryan sambil menghera nafas.
"Aku bingung kenapa kak Anton bisa berubah seperti ini padahal dulu dia sayang banget sama kamu?"kata Aziz.
"Aku juga gak tau tapi dari yang aku dengar dari asisten kak Anton, om Damar sering datang ke perusahaan dia juga yang sekarang lebih sering memutuskan segara sesuatu."kata Ryan.
"Maksutmu dia yang berkuasa saat memutuskan segara sesuatu diperusahaan?"kata Aziz.
"Iya, aku bingung bagaimana kak Anton bisa percaya sama om Damar begitu besar."kata Ryan.
"Kamu curiga gak sama om Damar itu, aku yakin jika dia ada kaitannya dengan masalah ini apalagi tentang kerjasama dengan perusahaan bodong itu."kata Aziz.
"Aku masih menyelidiki ini Ziz."kata Ryan.
"Butuh bantuanku buat menyelidiki ini semua?"kata Aziz menawarkan diri.
Aziz yang melihat Ryan merasa kasian karena dia tidak hanya mengerjakan perusahaan ini, usahanya sendiri dan juga perusahaan papanya. Aziz juga tau kalau sejak dulu Ryan gak pernah ingin memwarisi perusahaan papanya Ryan walaupun dialah yang sebenarnya berhak penuh atas perusahaan itu.
"Memangnya kamu gak papa bantuin aku? Aku takut kalau malah ini ngerepotin kamu?"kata Ryan jujur pada Aziz jika dia gak mau buat Aziz susah karena membantunya.
"Gak ngerepotin kok mumpung aku senggang ini, lagian selama ini kamu selalu bantuin aku sekarang giliran aku yang bantuin kamu."kata Aziz.
"Makasih Ziz, aku gak tau lagi kalau gak ada kamu."kata Ryan.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku kembali ke perusahaanku dulu. Aku tadi kesini memang mau bicarain soal ini saja."kata Aziz yang setelah berkata begitu langsung keluar dari ruangan Ryan.
__ADS_1
Ryan setelah kepergian Aziz langsung saja menghera nafas dan mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi Lydia tapi dia sudah beberapa kali mencoba menghubungi tapi tak diangkat oleh Lydia. Ryan setelah panggilannya tak diangkat memutuskan untuk kembali fokus dengan pekerjaannya.
Saat dia sedang fokus dengan pekerjaannya ponselnya berbunyi, dia mengira kalau itu panggilan dari Lydia makanya dia langsung saja mengangkat tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
[Hallo kamu darimana sih aku hubungi kok gak kamu angkat aku mau menjelaskan semua berita itu gak benar.]
[Apa yang gak benar Yan? Kekasihmu marah karena berita tentangmu dan aku?]
[Mbak maaf aku pikir temanku.]
[Siapa temanmu? Gak mungkin kalau hanya teman kamu bisa sekhawatir ini, katakan sama mbak siapa perempuan yang sudah mencuri hati adiknya mbak ini?]
[Mbak apasih gak ada kok dia hanya temanku saja gak lebih.]
[Ish kamu tu main rahasia-rahasiaan sama mbak segala sih Yan. Sebal aku sama kamu sekarang mau apa-apa gak pernah cerita sama mbak atau bunda lagi.]
[Mbak ngapain menghubungiku?]
[Mbak mau tanya soal berita tentang kita itu, apa kamu sudah tau siapa yang sudah menyebarkannya?]
[Aku belum tau mbak sekarang Dayat masih menyelidiki kasus ini. Kalau aku sudah tau nanti akan aku beritau mbak langsung.]
[Gak usah kamu kasih tau sama mbak, mbak cuma pesan sama kamu buat orang itu jera. Aku gak mau ada gosip kayak gini lagi, apalagi kalau sampai keluarga kita tau habislah aku Yan.]
[Mbak gak usah mikirin itu, aku sama papa pasti akan melindungimu. Kak Anton pasti diam-diam juga melindungimu dia itu sayang banget sama kamu mbak hanya saja cara dia menunjukan kasih sayangnya yang berbeda.]
[Aku gak perduli, ya sudah kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya.]
[Baiklah mbak coba jalin kerjasama dengan perusahaan yang aku kasih tau tadi?]
[Iya ini mbak sedang bikin proposalnya doain mbak bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan itu agar bisa membantu perusahaan papa.]
[Mbak awasi juga om Damar.]
[Siap adikku sayang kalau gitu mbak tutup dulu pengacau datang.]
Ryan menghera nafasnya karena tau siapa yang disebut pengacau oleh mbaknya. Ryan yang sedang pusing dengan pekerjaan yang gak selesai-selesai ditambah lagi dengan berita tentangnya dan kedua perempuan membuatnya semakin pusing. Beda lagi dengan Lydia yang baru bangun tidur, dia langsung mengambil ponselnya karena ponselnya berbunyi ternyata itu panggilan dari Ita.
[Hallo Asalamualikum Ta...]
[Walaikumsalam, kamu kemana sih kok daritadi aku hubungi tak kamu angkat?]
[Aku baru bangun tidur memangnya ada apa kamu menghubungiku?]
[Kamu tau gak perempuan yang aku kirim fotonya bersama kak Ryan itu ternyata mereka digosipkan menjalin hubungan?]
[La terus apa hubungannya denganku, kamu 'kan tau kalau aku sama kak Ryan hanya bersandiwara bukan serius?]
[Aku tau tapi coba kamu baca beritanya dulu, kasian kak Ryan yang difitnah mendekati kalian hanya karena kalian kaya.]
[IYa habis ini aku akan membacanya kalau kayak gitu aku tutup dulu, memangnya kamu sudah pulang kuliahnya?]
[Sudah, ya sudah kalau kayak gitu aku tutup dulu panggilannya.]
Lydia setelah mengakhiri panggilannya dengan Ita langsung saja membuka berita. Ternyata benar apa yang dikatakan Ita kalau berita tersebut menyudutka kak Ryan. Tapi Lydia tak perduli dengan itu, dia berpikir kalau kak Ryan pantas mendapatkannya. Lydia memutuskan untuk mandi setelah itu turun ke bawah untuk makan perutnya sudah berteriak mau diisi.
Saat dia turun ke bawah ternyata orangtuanya sedang berada diruang keluarga Lydia langsung saja menghampiri kedua orangtuanya itu. Dia sampai didekat papanya langsung saja memeluk papanya membuat pria kesayangannya itu terkejut.
__ADS_1
"Kamu ada dirumah?"kata papa Irwan.
"Memangnya kenapa apa aku gak boleh berada dirumah?"kata Lydia kesal dengan pertanyaan papanya.