
Setelah menganti pakaian mereka langsung berangkat ke Rumah Sakit untuk menemani Cindy jagain Ita. Terlihat wajah khawatir Lydia membuat Ryan memegang tangan Lydia membuat Lydia menatap kearah Ryan.
"Tenang ya aku yakin Ita akan baik-baik saja."kata Ryan mencoba menenangkan Lydia.
"Aku takut terjadi apa-apa sama Ita dia tulang punggung keluarganya kak."kata Lydia.
"Aku tau tapi kita gak bisa buat apa-apa yang bisa kita lakukan hanya berdoa saja."kata Ryan.
"Iya kak, kak kita masih lama lagi ya?"kata Lydia yang gak sabar ingin cepat sampai Rumah Sakit.
"Sebentar lagi."kata Ryan.
Saat Ryan baru saja memarkirkan mobilnya ponselnya berbunyi ternyata itu panggilan dari Aziz. Ryan mengangkat panggilan itu sambil berjalan menuju ruang operasi ternyata keadaan Ita kata Cindy parah.
[Ada apa tumben menghubungiku?]
[Kamu dirumah gak? Aku mau menginap disana mau pulang capek banget badanku.]
[Memangnya kamu dari mana kok capek?]
[Aku mengurus perusahaan yang ada diluar kota dua hari ini, bolehkan aku nginap?]
[Boleh nginap tapi aku gak ada dirumah sekarang?]
[Kamu ada dimana sekarang?]
[Aku ada diRumah Sakit?]
[Siapa yang sakit?]
[Ita kecelakaan dan kami sekarang mau keruangan operasi.]
[Ita temannya Lydia?]
[Iya temannya Lydia.]
[Sekarang kalian ada diRumah Sakit mana biar aku kesana?]
[Katanya tadi kamu capek?]
[Sudah hilang capeknya tolong kirim alamat Rumah Sakitnya.]
[Baiklah, kalau gitu aku tutup dulu panggilannya habis ini aku kirim alamatnya.]
Ryan mematikan panggilannya setelah itu berjalan menyusul Lydia karena dia tadi berhenti sebentar agar panggilannya tak mengganggu kedua perempuan itu. Ryan tak lupa mengirimkan alamat Rumah Sakit pada Aziz, Lydia memandang kearah Ryan lalu berlari memeluk Ryan membuat Ryan terkejut.
"Ada apa?"kata Ryan.
"Ita kak."kata Lydia.
"Iya tenang dulu, ada apa dengan Ita?"kata Ryan.
"Kemungkinan besar dia akan lumpuh kak."kata Lydia membuat Ryan meghera nafasnya.
"Bagaimana kami bicarakan ini sama orangtuanya kak apalagi sama Ita sendiri?"kata Cindy.
"Tenanglah, nanti aku bantuin buat jelasin keadaan Ita kalian berhenti menangisnya. Satu lagi saat ada didepan Ita usahakan jangan menangis itu akan membuat dia semakin rapuh. Kalian berdua harus bisa kuat agar Ita juga tetap kuat."kata Ryan.
__ADS_1
"Iya kak, kak.."kata Lydia sambil memandang kearah Ryan tanpa melepas pelukan mereka.
"Apa?"kata Ryan.
"Siapa yang menghubungi kakak tadi?"kata Lydia.
"Hapus dulu airmatamu baru setelah itu aku akan memberitau siapa yang menghubungiku."kata Ryan.
Lydia yang penasaran langsung mengusap airmatanya tapi mengunakan kaos yang dipakai oleh Ryan membuat Ryan menghera nafas sedangkan Cindy yang melihat itu malah tersenyum.
"Gak ada tisu kok pakai kaosku buat ngusap airmata sama ingusmu?"kata Ryan.
"Malas ambil ditas."kata Lydia sambil tersenyum.
"Untung aku sayang."kata Ryan membuat Lydia tertegun dengan perkataan Ryan.
"Tadi ngomong apa kak, aku gak dengar?"kata Lydia.
"Gak ada siaran ulang."kata Ryan.
"Ih kakak aku seriusan tadi ngomong apa?"kata Lydia.
"Aku juga serius gak ada siaran ulang, tu pintu ruang operasinya dibuka."kata Ryan.
"Kali ini kakak lolos tapi nanti saat dirumah aku akan tanya lagi."kata Lydia.
"Iya tapi aku yakin kamu pasti sudah lupa."kata Ryan.
Mereka berhenti berbicara saat dua orang perawat mendorong berangkas milik Ita. Mereka bertiga mengikuti kemana perawat itu membawa Ita, Cindy terkejut saat mereka berjalan keruang vvip.
"Ly, siapa yang pesan kamar ini pasti biayanya mahal?"kata Lydia.
Lydia menghampiri suaminya untuk menanyakan apa suaminya itu memesan kamar ini. Ryan sendiri sibuk membalas pesan dengan Aziz karena Aziz yang membiayai pengobatan Ita. Ryan sedang bertanya kenapa Aziz melakukan itu ternyata temannya itu sejak kuliah dulu sudah suka dengan Ita tapi tak berani mengungkapkannya. Ryan terkejut saat Lydia menepuk pundaknya membuat ponselnya hampir jatuh untung saja tangannya sigap kalau gak ponselnya bisa jadi korban.
"Hayo lagi chatan sama siapa?"kata Lydia.
"Sama kesayanganku."kata Ryan.
"Siapa kesayanganmu si Vira itu?"kata Lydia.
"Siapa Vira?"kata Ryan sambil menaik turunkn alisnya.
"Kamu ya pura-pura gak tau, itu tu mantanmu yang minta tanggungjawab sama kamu."kata Lydia dengan nada kesalnya.
"Kenapa cemburu ya?"kata Ryan.
"Ish ngpaian aku cemburu sama dia, pasti masih cantikan aku buktinya kamu nikahnya sama aku."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Kamu pede banget sih?"kata Ryan.
"Biarin, oh ya kak aku mau bicara sama kamu."kata Lydia.
"Kamu mau bicara apa?"kata Ryan.
"Apa benar kamu yang mesan kamar ini? Kalau iya kami mau ngucapin terimakasih."kata Lydia.
"Bukan aku yang memesan kamar ini tapi Aziz yang memesannya nanti sebentar lagi dia akan datang."kata Ryan.
__ADS_1
"Kak Aziz, kenapa dia yang mau membayar pengobatan Ita?"kata Lydia yang gak menyangka Aziz perduli sama orang.
"Kalau soal itu kamu tanya sendiri aku gak mau nanti malah salah bicara."kata Ryan.
"Ish kakak nyebelin."kata Lydia.
"Nyebelin tapi kamu sukakan?"kata Ryan sambil tersenyum.
"Siapa yang suka kalau gak terpaksa aku juga gak mau menikah denganmu?"kata Lydia.
"Oh gitu ya."kata Ryan memasamkan wajahnya.
"Kak..."kata Lydia yang melihat Ryan wajahnya ditekuk merasa bersalah.
"Apa?"kata Ryan dingin.
"Ish kok cuek sih?"kata Lydia.
"Lalu mau bagaimana? Bukannya kamu terpaksa menikah denganku jadi ya sudah mau apa ramah-ramah segara gak ada gunanya juga."kata Ryan.
"Kak..."kata Lydia.
"Apasih aku sedang memeriksa pekerjaan ini."kata Ryan.
"Kak..."kata Lydia sambil memeluk pinggang Ryan membuat dia terkejut.
"Kenapa peluk-peluk katanya gak mau?"kata Ryan.
"Kak aku gak mau dicueki kalau kakak cuekin aku nanti diapartemen sepi."kata Lydia.
"Nanti kita sendiri-sendiri saja ya tidurnya biar aku tidur diruang kerjaku."kata Ryan.
"Kak, aku gak mau tidur sendirian."kata Lydia membuat Ryan menghera nafasnya.
"Kalau kita tidur bersama takutnya nanti aku gak bisa nahan sesuatu bagaimana bukannya kamu gak mau dengan pernikahan ini?"kata Ryan.
"Kasih aku waktu, kalau aku sudah siap kamu bisa memiliki aku seutuhnya. Kak, aku hanya ingin meyakinkan perasaanku dulu."kata Lydia.
"Terserahmu saja, sekarang tolong lepasin aku gak enak kalau dilihat Cindy sama Aziz."kata Ryan.
Baru saja Ryan menyelesaikan perkataannya Aziz sama Dion membuk pintu ruang rawat. Mereka berdua yang melihat Ryan dan Lydia berpelukan hanya mengelengkan kepalanya saja lalu mendekati mereka berdua.
"Kalian ini bisa gak kalau bermesraan jangan disini."kata Aziz.
"Memangnya gak boleh ya kak?"kata Lydia sedangkan Ryan hanya diam saja.
"Boleh tapi gak kasian sama yang jomblo ini."kata Dion.
"Makanya cari jangan kerjaan terus yang diurusin."kata Lydia.
"Kamu itu kami belum menemukan perempuan yang tepat."kata Aziz sambil memandang kearah Ita.
"Kalian ini kok mesra sekali kapan kalian jadian kok aku gak tau sama sekali?"kata Dion.
Lydia memandang kearah Ryan, tapi Ryan terlihat tak mau menjelaskan tentagn hubungan mereka. Ryan memang sengaja diam karena dia ingin tau apa yang akan dikatakan oleh Lydia. Lydia mau jujur tentang hubungan mereka atau malah berbohong.
"Kami sudah menikah."kata Lydia.
__ADS_1
"Kapan kalian menikah kok gak kasih kabar?"kata Dion yang penasaran dengan pernikahan Ryan dan Lydia.