Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia menemui dokter Sari


__ADS_3

Keesokan paginya Lydia bangun dengan badan yang segar dia memutuskan untuk mandi setelah itu keluar kamar untuk memasak sarapan. Saat dia keluar, Lydia terkejut karena Aziz tidur disofa sambil memangku laptop. Lydia mendekatinya lalu membangunkan Aziz agar dia bangun, pagi ini dia harus pergi ke dokter Sari dan Aziz sendiri pasti akan ke Rumah Sakit menemani Ita.


"Kak, kak Aziz bangun ini sudah pagi."kata Lydia sambil mengoyangkan badan Aziz.


"Ini jam berapa dek?"kata Aziz.


"Ini sudah jam 6 ayo mandi habis itu antar aku ke terminal biar aku pergi sendiri ke tempat dokter Sari. Kamu sekalian jemput orangtuanya Ita."kata Lydia.


"Kamu gak papa berangkat kesana sendirian?"kata Aziz yang gak tega membiarkan Lydia pergi sendirian.


"Aku gak papa kok, lagian kakak harus nepati janji sama Ita. Aku mau melihat kalian berdua hidup bahagia sebagai pasangan suami istri."kata Lydia sambil tersenyum.


"Doakan ya dek. Kalau begitu aku mandi bentar kita nanti cari sarapan dijalan saja kamu sudah pesan tiket bus belum?"kata Aziz.


"Belum, kakak mandi gih biar aku tungguin sambil memesan tiket."kata Lydia.


"Baiklah tunggu sebentar aku gak lama kok."kata Aziz.


Lydia setelah kepergian Aziz mengambil ponselnya untuk memesan tiket untung saja dia dapat bus pagi jadi tak terlalu lama menunggu nanti diterminal. Tak butuh waktu lama Aziz selesai mandi setelah dia siap Aziz mengajak Lydia untuk berangkat. Aziz membawa koper milik Lydia lalu memasukkannya dibagasi mobil. Saat dia baru saja menjalankan mobilnya terdengar ponsel Aziz berbunyi, dia melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari Ita.


[Hallo Ta Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam kamu ada dimana mas?]


[Aku mau mengantar Lydia ke terminal setelah itu menjemput orangtuamu distasion ada apa?]


[Memangnya Lydia mau kemana kak?]


[Dia mau keluar kota ada pekerjaan mendadak Ryan gak bisa mengantarnya makanya sekalian aku antar dia gak papakan?]


[Gak papa kok mas, asalkan gak terjadi apa-apa sama Lydia.]


[Dia gak papa kok, ya sudah aku tutup dulu panggilannya soalnya aku sedang nyetir ini.]


[Iya kak, makasih ya sudah mau menjemput orangtuaku.]


[Sebentar lagi mereka juga akan jadi orangtuaku jadi gak usah berterimakasih segara.]


[Ya sudah kalau gitu aku tutuo dulu panggilannya. Asalamualaikum...]


[Walaikumsalam...]


Aziz menyimpan ponselnya kembali tapi saat melihat kesamping dia melihat Lydia yang tersenyum kearahnya membuat Aziz mengerutkan keningnya.


"Kenapa?"kata Aziz.


"Ciee yang sudah baikkan jadi mesra sekali sekarang."kata Lydia.


"Apa sih, kamu cepat sembuh biar nanti bisa hadir dipernikahanku."kata Aziz.


"Lamaran saja belum sudah gak sabar mau nikah."kata Lydia.


"Biarin pokoknya kamu harus cepat sembuh, oh ya aku sudah suruh temanku nanti jemput kamu diterminal."kata Aziz.


"Ish aku kan bisa ke tempat dokter Sari sendiri kak."kata Lydia kesal dengan sifat Aziz.


"Iya aku tau tapi kamu kan belum tau dimana kontrakanmu memangnya kamu mau bawa barangmu ke Rumah Sakit?"kata Aziz.


"Iya juga ya, baiklah kalau begitu terimakasih. Oh ya aku kenal sama teman kamu itu gak kak?"kata Lydia.


"Kamu sudah pernah ketemu tapi gak tau kenal pa gak, dia juga kuliah dikampus kita dulu."kata Aziz.


"Bagaimana dia tau aku nanti?"kata Lydia.

__ADS_1


"Ya jelas dia tau kamulah kan kamu waktu kuliah terkenal tu gara-gara Rayyan."kata Aziz.


"Oh iya lupa aku, makasih kak sudah nganterin aku sampai sini. Sudah sana ke station kasian bapak sama ibu pasti sudah menunggu."kata Lydia.


"Ya sudah aku tinggal ya, cari sarapan dulu kalau busnya belum berangkat."kata Aziz.


"Siap pak bos. Hati-hati bawa mobilnya."kata Lydia yang diangguki oleh Aziz.


Lydia setelah kepergian Aziz pergi ke loket untuk menukarkan tiketnya sabil menunggu busnya datang dia membeli sarapan diwarung yang ada disana. Setelah sarapan dia masuk kedalam busnya tapi sebelum masuk ke dalam bus tak lupa dia membeli camilan dan juga air minum. Sampai ditempat tujuan Lydia turun dari bus dan melihat ada seseorang yang memegang kertas bertulisan namanya. Lydia menghampiri pria itu.


"Maaf, apa kakak ini temannya kak Aziz?"kata Lydia saat berada didepan pria itu.


"Iya aku Anton kamu Lydia kan?"kata Anton.


"Iya kak."kata Lydia sambil tersenyum.


"Syukurlah, kalau kayak gitu aku antar kamu ke kontrakan setelah itu pergi menemui dokter Sari."kata Anton.


"Memangnya kakak gak kerja kok nganterin aku?"kata Lydia.


"Aku hari ini ambil cuti, sudah ayo kita ke kontrakan pasti kamu sudah lelah."kata Anton.


"Kak, bisa gak kita bertemu dokter Sari dulu setelah itu baru kita ke kontrakan."kata Lydia.


"Baiklah, ayo lagian aku sekalian bisa jemput istriku."kata Anton.


"Istri kak kerja dimana?"kata Lydia.


"Kerja diRumah Sakit yang sama dengan dokter Sari hanya beda bidangnya saja."kata Anton.


"Kakak juga seorang dokter juga?"kata Lydia.


"Bukan aku hanya karyawan swasta yang beruntung dapat istri seorang dokter."kata Anton.


Mereka berdua langsung bisa akran karena Anton sifatnya sama seperti Aziz yang mudah dekat dengan siapa saja walaupun itu baru kenal. Sampai diRumah Sakit Lydia menemui dokter Sari sendirian sedangkan Anton mencari istrinya dikantin karena mereka sudah berjanji untuk bertemu disana.


"Sus, apa dokter Sarinya ada?"kata Lydia saat didepan ruangan dokter Sari.


"Ada apa ibu ini sudah bikin janji dengan beliau?"kata suster.


"Sudah kemarin sus."kata Lydia..


"Kalau begitu atas nama siapa biar saya bilang sama beliau?"kata Suster.


"Lydia sus."kata Lydia.


"Baik bu tunggu sebentar ya."kata Suster.


Suster setelah memberitau dokter Sari langsung saja kembali keluar untuk menyuruh Lydia masuk ke dalam. Dokter Sari yang melihat Lydia bangun dari dudukny lalu memeluk perempuan yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


"Kamu kesini sama siapa?"kata dokter Sari.


"Aku kesini sendiri tadi dijemput sama temannya kak Aziz."kata Lydia.


"Kamu apa kabar? Kata Aziz kemarin trauma kamu kambuh lagi apa yang terjadi?"kata dokter Sari.


Lydia menceritakan semua yang terjadi padanya akhir-akhir ini termasuk nikah dadakannya dengan Ryan. Dokter Sari yang mendengar curhatan Lydia tersenyum lalu mengelus rambut Lydia dengan sayang.


"Ly, coba kamu percaya sama suamimu sedikit saja."kata dokter Sari.


"Aku gak tau dok, apalagi saat aku menolak untuk dia sentuh. Mungkin dia kecewa sama aku makanya dia mendiamkanku dan disaat itulah traumaku mulai kambuh lagi."kata Lydia.


"Kamu tenangkan pikiranmu, coba kamu percaya dengan suamimu kamu hilangkan pikiran-pikiran yang membuatmu ragu akan perasannya bukannya disini sudah ada perasaan untuk suamimu itu?"kata dokter Sari sambil memegang dada Lydia.

__ADS_1


"Aku takut kecewa lagi seperti dulu, disaat aku sudah membuka hatiku dia malah meninggalkanku."kata Lydia.


"Buang jauh-jauh pikiran buruk kamu itu agar kamu bisa hidup tenang, coba terbuka dengan suamimu aku yakin dia pasti akan mengerti dengan apa yang kamu alami."kata dokter Sari.


"Terimakasih dok untuk beberapa hari ini saya akan menganggu anda apa kah tidak apa-apa karena kejadian buruk itu dari semalam berputar-putar lagi."kata Lydia.


"Aku akan siap mendengarkan keluh kesahmu, kamu tinggal dimana selama ada disini?"kata dokter Sari yang gak tega membiarkan Lydia tinggal sendirian.


"Saya tinggal dikontrakan teman kak Aziz yang mencarikannya katanya dekat dari sini jalan kaki hanya 15menit."kata Lydia.


"Syukurlah kalau begitu, kamu mau dibuatkan resep obat atau tidak?"kata dokter Sari.


"Tolong buatkan saya resep agar nanti kalau trauma itu muncul lagi saya bisa tenang."kata Lydia.


Dokter Sari memberikan resep obat untuk Lydia setelah menerima resep obat itu Lydia pergi menukarkan resep itu ke apotik setelah itu menemui Anton dan istrinya yang ada dikantin. Lydia saat dikantin mencari keberadaan Anton saat tau dimana Anton duduk dia menghampiri suami istri itu.


"Maaf kalau kalian nunggu aku lama."kata Lydia saat sudah ada didekat suami istri itu.


"Gak papa kok Ly, oh ya kenalin ini istri aku Asih dan Sih kenalin ini Lydia adiknya Aziz."kata Anton.


Kedua perempuan itu berkenalan setelah Lydia memesan makanan untuk dibungkus mereka mengajak Lydia untuk pergi ke kontrakannya ternyata kontrakan itu sederhana seperti yang Lydia mau. Setelah berbasa-basi sebentar kedua pasangan itu berpamitan pulang. Lydia yang ditinggal sendiri memutuskan untuk membersihkan diri setelah itu menata pakaian yang dia bawa ke dalam lemari. Saat dia melihat kotak jam yang mau diberikan pada Ryan dia duduk terdiam sambil membuka kotak itu didalamnya ada jam untuk Ryan dan juga kalung yang diberikan oleh Ryan sebelum dia pergi berlibur keluar negeri. Mengingat liburan keluar negeri Lydia jadi teringat jika dulu punya janji sama Cindy dan Ita kalau mereka akan pergi ke korea untuk liburan bersama-sama.


Lydia yang mengingat kenangan masalalunya berbeda dengan Ryan yang hari ini disibukkan dengan pekerjaannya. Bukan hanya perusahaannya sendiri tapi dia harus mengurus perusahaan milik Hendru dan Anton. Saat sedang makan siang dia memilih makan dicafe dekat perusahaan Anton. Saat dia duduk sambil menunggu makanannya ada seorang perempuan yang mendekatinya.


"Hai boleh aku duduk disini?"kata Clara membuat Dayat memandang kearah Clara tapi Ryan hanya sibuk dengan pikirannya entah apa yang dia pikirkan.


"Duduklah."kata Dayat dingin.


"Makasih, oh ya kamu ini Ryan ya adiknya Anton?"kata Clara mencoba mencari perhatian Ryan tapi Ryan hanya diam saja.


Saat Clara sedang mencoba mencari perhatian Ryan, Anton datang dan langsung duduk disamping Ryan. Clara yang melihat Anton diam padahal tadi dia cerewet banget merasa dicueki Clara memutuskan untuk pergi darisana membuat Dayat tersenyum.


"Kamu kok senyum ada apa Yat?"kata Anton.


"Hehehe liat perempuan itu dicuekin oleh tuan makanya aku tertawa, kayaknya aku pernah liat perempuan itu tapi dimana ya?"kata Dayat.


"Mana aku tau orang kita dari dulu gak pernah bareng."kata Anton.


"Zen mana tuan?"kata Dayat yang tak melihat Zen bersama dengan Anton.


"Dia bawa bekal maklumlah dia mau menikah katanya mau berhemat.'kata Anton membuat Dayat tersenyum.


"Ya aku ingat perempuan tadi yang menolok-olok Nyonya Lydia saat masih bekerja ditoserba milik tuan Ryan."kata Dayat membuat Ryan memandang kearah asisten pribadinya.


"Kamu yakin kalau dia yang membully Lydia?"kata Ryan.


"Iya tuan, dia dan temannya satu lagi yang suka membully nyonya untung saja ada nona Ita dan bu ros yang sering membantu nyonya."kata Dayat.


"Kak dia kerja diperusahaankan?"kata Ryan.


"Iya dia karyawan diperusahaan kita ada apa?"kata Anton.


"Aku boleh minta tolong sama kakak?"kata Ryan.


"Minta tolong apa katakan?"kata Anton.


"Coba kakak cari tau bagaimana dia kinerja dia diperusahaan lalu kalau kinerjanya buruk terserah mau apakan dia asal bisa membalas apa yang dia lakukan pada Lydia."kata Ryan.


"Baiklah, kamu yakin mau membalas dia padahal Lydia saja diam gak mau membalas."kata Anton.


"Aku yakin kak."kata Ryan.


Setelah makan siang mereka kembali ke perusahaan Ryan kembali fokus dengan pekerjaannya sampai-sampai waktunya pulang kalau tak dikasih tau Dayat pasti dia tak akan ingat jika sudah waktunya pulang. Ryan saat diapartemennya baru teringat tentang Lydia, Ryan menghubungi Lydia tapi ponsel istrinya itu tak aktif. Ryan yang bingung kenapa ponsel istrinya tak aktif memutuskan untuk mandi setelah itu dia mau menghubungi Aziz untuk menagih janjinya Aziz yang semalam mau menceritakan tentang Lydia.

__ADS_1


__ADS_2