
"Ish itu mah mau kamu kak, sudah bangun mandi sana."kata Lydia.
"Gak, aku gak mau bangun kalau kamu gak cium aku dulu."kata Ryan.
"Baiklah."kata Lydia.
Lydia terpaksa mencium bibir Ryan sesuai dengan keinginan suaminya itu, Lydia hanya menempelkan bibirnya ke bibir Ryan tapi saat Lydia mau melepaskan ciuman itu Ryan malah memegang tengkuknya hingga akhirnya terjadilah ciuman panas itu. Setelah terlepas ciumannya Lydia memukul dada Ryan karena kesal. Ryan yang dipukul bukannya marah tapi dia malah tersenyum membuat Lydia semakin kesal.
"Kok berhenti sayang?"kata Ryan.
"Kamu nyebelin kak, bukannya marah tapi malah keenakan."kata Lydia sambil bangun.
"Soalnya pukulan kamu membuat badanku serasa dipijit-pijit jadi nikmati saja mumpung gratis."kata Ryan sambil memeluk pinggang Lydia.
Sudah minggir aku mau bangun."kata Lydia.
"Memangnya mau kemana sih?"kata Ryan.
"Aku 'kan sudah bilang mau masak buat sarapan, biar nanti kamu gak telat."kata Lydia.
"Aku masih malas sayang, temani aku tidur bentar sayang."kata Ryan.
"Kamu ini tu liat ponselmu bunyi terus daritadi angkat gih siapa tau penting."kata Lydia.
"Biarkan saja paling juga Dayat."kata Ryan sambil menutup mata dan tetap memeluk pinggang Lydia.
"Kak..."kata Lydia.
"Baik-baik aku bangun sekarang."kata Ryan sambil bangun dari berbaringnya lalu mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
Lydia setelah Ryan melepaskan pelukkannya berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian yang akan digunakan Ryan untuk bekerja. Setlah meletakkannya diranjang Lydia berjalan keluar dari kamar untuk menuju dapur memasak sarapan yang diinginkan oleh Ryan. Ryan sendiri sepeninggalan Lydia menghela nafasnya dan mulai berkata kasar.
[Kamu bisa gak, gak ganggu aku sepagi ini?]
[Maaf tuan ini penting banget karena pagi ini klien kita mau memajukan pertemuan apakah tuan bisa?]
[Jam berapa dia minta asal gak tempuk dengan yang lain oke saja aku?]
[Gak tapi tuan harus berangkat pagi agar kita gak telat bertemu dengannya.]
[Oke, aku siap-siap setelah sarapan kamu search lock saja dimana kita ketemu.]
[Baik tuan.]
Ryan mematikan panggilannya dengan Dayat setelah itu dia masuk kedalam kamar mandi setelah selesai bersiap saat dia keluar dari kamarnya. Ryan mencium bau sedap makanan membuat perutnya keroncongan, dia berjalan menghampiri istrinya yang berada didapur. Lydia yang melihat Ryan berjalan menghampirinya tersenyum.
"Duduk gih ini nasi gorengnya sudah jadi."kata Lydia sambil menujukan dua piring nasi goreng selimut.
"Kamu bisa sayang, siapa yang ajari?"kata Ryan.
"Ada youtube jadi gampang, tapi gak tau gimana rasanya?"kata Lydia.
"Kalau buatan istri pasti enak, aku makan ya."kata Ryan.
Saat Ryan mencoba nasi goreng itu Lydia gak sabar untuk mendengarkan bagaimana rasanya makanan itu. Ryan yang diliahati Lydia tersenyum karena dia tau jika istrinya itu sedang menunggu bagaimana rasa dari makanan yang dia makan itu.
"Bagaimana kak?"kata Lydia yang gak sabar mendengar komentar dari Ryan.
"Enak sayang, kamu gak makan?"kata Ryan.
__ADS_1
"Serius enak kakak gak bohongkan?"kata Lydia yang takut jika suaminya itu bohong.
"Serius sayang lagian buat apa aku bohong sama kamu, kalau kamu mau buatin aku nasi goreng setiap pagi pasti aku akan cepat gemuk ini."kata Ryan.
"Awas saja kalau kamu bohong, habis ini mau dibikinin minum apa?"kata Lydia.
"Gak usah, aku minum air putih saja soalnya habis sarapan aku harus segera berangkat ada klien yang memajukan meetingnya."kata Ryan.
"Tu lah makanya kalau dibilangin istri itu gak usah ngeyel."kata Lydia.
"Istri ya?"kata Ryan.
"Kalau gak istri apa teman tidurmu?"kata Lydia kesal membuat Ryan tersenyum karena istrinya itu ternyata ambekan.
"Istri sekaligus teman tidurku, sudah ya aku berangkat dulu. Ingat aku tunggu bekal makan siang darimu."kata Ryan sambil bangun lalu mencium kening Lydia.
"Nanti kalau bunda dan mbak Shinta disini aku kirim saja makan siangnya gak papakan?"kata Lydia.
"Gak papa, asal itu masakanmu akan aku makan."kata Ryan.
"Aku gak antar kedepan gak papakan?"kata Lydia.
"Gak papa aku pergi dulu ya, Asalamualikum..."kata Ryan.
"Walaikumsalam..."kata Lydia.
Lydia meneruskan sarapannya walaupun Ryan sudah pergi dari apartemen, Ryan saat berada didalam mobil melihat ponselnya ternyata Dayat sudah mengirim alamat tempat pertemuan mereka ternyata sampai sana memakan waktu 30menit dari apartemen Ryan. Ryan terpaksa mencari jalan pintas agar bisa sampai tepat waktu tadi dia mau pergi tanpa sarapan juga gak enak dengan Lydia karena istrinya sudah susah payah membuat nasi goreng itu. Ryan sampai ditempat janjian untung saja klien mereka belum datang jadi dia bisa bernapas lega.
"Mereka belum datang Yat?"kata Ryan sambil duduk disamping Dayat yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Belum tuan, sebentar lagi katanya baru saja sekertarisnya menghubungi saya. Tuan mau pesan makan atau minum, biar saya pesankan?"kata Dayat.
"Baik tuan."kata Dayat.
Dayat memanggil pelayan cafe untuk memesankan Ryan kopi, setelah pelayan itu pergi bertepatan dengan dua orang klien mereka datang. Sekertaris klien itu mencoba untuk mengoda Ryan tapi sayangnya Ryan tak perduli dia malah fokus dengan kliennya yang sedang menereangkan kerjasama mereka membuat perempuan itu kesal.
"Bagaimana tuan apa ada yang mau diubah atau ditanyakan tentang produk yang akan kita gunakan untuk kerjasama?"kata pria itu.
"Gak ada tuan karena itu sudah sesuai dengan perjanjian diawal, kalau kayak gitu saya dan Dayat permisi dulu."kata Ryan.
"Memangnya tuan gak ingin sarapan lebih dahulu?"kata pria.
"Gak usah saya masih kenyang karena tadi dirumah sudah sarapan biasa masakan istri sendiri."kata Ryan sambil tersenyum.
"Iya masakan istri memang sangat spesial kalau kayak gitu nanti saya akan kirimkan surat kontrak kita ke perusahaan."kata pria.
"Baik, kalau begitu kami permisi dulu ya."kata Ryan.
Ryan dan Dayat pergi dari cafe itu untuk kembali ke perusahaan Lydia karena yang paling banyak pekerjaan disana. Saat sampai perusahaan banyak karyawan yang memberi hormat sedangkan Ryan tak menanggapi hanya Dayat yang menanggapi dengan anggukan. Saat sampai diruangannya Sandra juga ikut masuk kedalam ruangannya, Sandra membawa beberapa berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani oleh Ryan hari ini.
"Ada apa San?"kata Ryan.
"Nih, ada berkas yang harus kamu periksa dan tandatangani."kata Sandra.
"Mana sini."kata Ryan meminta berkas yang dipegang Sandra.
"Nih, tadi sudah diperiksa sama Lydia tapi dia masih menyuruhku untuk kamu memeriksanya soalnya ada yang gak sesuai."kata Sandra.
"Tadi Lydia kesini?"kata Ryan.
__ADS_1
"Gak dia gak kesini hanya saja tadi dia menyuruhku untuk mengirimi aku berkas ini kemarin lewat email."kata Sandra.
"Mana berkas yang disuruh untuk memeriksanya kembali?"kata Ryan.
"Ini coba kamu periksa."kata Sandra sambil memberikan berkas yang disuruh Lydia untuk memeriksa Ryan kembali.
Ryan mengambil berkas yang diberikan oleh Sandra lalu membacanya ada dua berkas yang diberikan oleh Sandra. Benar kedua berkas itu memang ada yang aneh, satu laporan keuangan yang banyak pengeluarannya daripada pemasukan padahal seingat dia perusahaan akhir-akhir ini berkembang.
"San, kamu panggilin Rima dan manager keuangan bisa?"kata Ryan.
"Baik, sebentar kalau kayak gitu."kata Sandra.
Sandra meninggalkan ruangan itu untuk memanggil kedua orang yang dimau Ryan. Saat kepergian Sandra, Ryan kembali fokus dengan berkas lainnya. Kedua berkas itu tak ada masalah hanya dua berkas kedua tadi yang ada masalah padahal itu tentang keuangan dan pemasaran. Ryan selesai menandatangani kedua berkas itu bertepatan dengan Rima dan manager keuangan.
"Kamu memanggil kami?"kata Rima.
"Iya, aku memanggil kalian coba kalian periksa berkas ini."kata Ryan sambil memberikan kedua berkas pada masing-masing orang.
Rima dan manager keuangan itu terkejut saat membaca berkas itu karena berkas itu tak sesuai dengan apa yang mereka periksa kemarin sebelum menyerahkannya pada Sandra.
"San, ini berkas yang aku serahkan kemarin?"kata Rima.
"Iya kedua berkas itu milik kalian aku belum menyentuhnya hanya kemarin saja saat mengirimkan email ke Lydia. Memangnya ada apa?"kata Sandra.
"Berkas ini bukan berkas yang aku serahkan ke kamu beda jauh, Yan aku boleh pinjam laptopmu?"kata Rima.
"Kok kamu panggil tuan Ryan hanya pakai nama gak sopan?"kata manager keuangan membuat Ryan tersenyum.
"Gak papa kalau yang manggil namaku Rima kalau orang lain aku akan marah, nih kamu pakai saja laptopnya. Anda juga mau pinjam laptop jika iya pakai punya Dayat saja biar dia ambilkan?"kata Ryan.
"Kalau boleh saya juga mau pinjam."kata manager keuangan.
Mereka berdua sibuk dengan laptop yang ada didepan mereka setelah menemukan apa yang dicari baru dia perlihatkan pada Ryan. Ryan juga melihat kalau laporan itu benar-benar berbeda membuat Ryan mengerutkan keningnya.
"Kayaknya ada yang mengubah laporannya, kamu bisa menyelidiki ini Rim soalnya aku besok harus ke Bogor antar Lydia?"kata Ryan.
"Biar aku selidiki dengan manager keuangan dan juga Sandra kamu mau bantu "kan San?"kata Rima.
"Aku siap buat bantu."kata Sandra.
"Maaf pak setelah ini saya mau liat rek keuangan perusahaan ini boleh?"kata Dayat.
"Boleh mau dibuka disini atau tuan mau ikut ke bawah?"kata manager keuangan.
"Kalau bisa disini buka sekarang saja gak papa!"kata Dayat.
Manager keuangan membuka rek perusahaan dilaptop Dayat, dia terkejut karena ada transferan sebesar 100juta tapi dia tak merasa mentransfer sama sekali.
"Ada apa?"kata Ryan.
"Ini tuan saya tak merasa mentransfer uang sebesar 100juta tapi kenapa ini ada transferan?"kata manager keuangan.
"Kapan transferan itu pak?"kata Rima.
"Kemarin bu."kata manager keuangan.
"Kalau aku boleh tau uang itu ditransfer ke rek siapa?"kata Ryan.
"Saya gak tau tuan, bu Rima mungkin tau atau bu Sandra?"kata manager keuangan sambil memperlihatkan laptop itu pada kedua perempuan itu.
__ADS_1