
Ryan memulai perjalanannya menuju Bogor, Ryan tak perduli walaupun badannya sudah lelah baginya yang terpenting adalah bisa menemui istrinya. Saat berada dipertengahan jalan terdengar ponselnya berbunyi, Ryan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari mama Intan membuat Ryan mengangkat panggilan itu.
[Hallo Asalamualikum ma...]
[Walaikumsalam, maaf ya sayang kalau mama menghubungimu malam-malam begini. Mama hanya mau tanya apa Lydia ada sama kamu soalnya mama hubungi daritadi gak diangkat sama sekali?]
[Maaf ma, aku gak bersama dengan Lydia. Ini aku baru mau menyusulnya ke Bogor.]
[Ke Bogor ngapain Lydia ke Bogor, Yan?]
[Liburan ma, tadi dia berangkat duluan sama Aziz karena aku ada pekerjaan mendadak. Ini aku baru mau ke Bogor, memangnya ada apa mama menghubungi Lydia nanti kalau sudah sampai biar aku kasih tau dia mungkin sekarang Lydia sudah tidur?]
[Gak papa mama hanya mau bilang sama Lydia buat ngurus perusahaan lebih lama, soalnya papa disini ada kerjaan yang mendesak.]
[Iya ma nanti aku sampaikan.]
[Maafin mama sama papa ya Yan, gara-gara kami gak pulang-pulang kamu harus sibuk dengan pekerjaan diperusahaan. Kami akan berusaha untuk secepatnya pulang.]
[Gak papa kok ma, lagian ini juga agar aku belajar sebelum Lydia benar-benar mau jadi ibu rumahtangga saja.]
[Ya sudah kalau begitu mama tutup dulu panggilanya.]
Ryan menghela nafas setelah mengakhiri panggilan itu, dia menyimpan kembali ponselnya setelah itu fokus menyetir baru saja Ryan melajukan mobilnya matanya sudah mengantuk membuat dia berhenti dipom sekali membeli bahan bakar dan beristirahat sejenak sambil minum kopi. Ryan meneruskan perjalanan menuju Bogor sampai diBogor sudah jam 3pagi, Ryan memutuskan untuk tidur dimobil sambil menunggu pagi. Ryan sengaja tidur dimobil karena tak ingin menganggu Lydia tidur.
Lydia bangun pagi sekali karena dia semalam berjanji akan ikut bu Narti pergi ke pasar membeli bahan makanan. Lydia sengaja inggin ikut karena dia ingin makan jajanan pasar. Tapi saat dia keluar rumah terkejut saat melihat mobil suaminya, Lydia mendekati mobil itu untuk memastikan apa benar itu mobil Ryan. Lydia terkejut saat melihat Ryan tertidur didalam mobil terlihat sekali wajah capeknya membuat Lydia menghela nafas. Lydia mengetuk kaca mobilnya membuat Ryan terbangun, Ryan membuka kaca mobilnya saat tau kalau itu Lydia.
"Kenapa gak masuk kedalam? Datang jam berapa? Katanya gak bisa datang?"kata Lydia membuat Ryan tersenyum saat mendengar pertanyaan istrinya.
"Mau aku jawab yang mana dulu ini?"kata Ryan.
"Keluar dulu masuk kedalam istirahat saja didalam."kata Lydia.
Ryan membuka pintu mobilnya mengambil koper didalam bagasi saat mereka mau masuk kedalam rumah bu Narti memanggil mereka.
"Nak Ryan sudah datang?"kata bu Narti sambil menghampiri suami istri itu.
"Iya bu, sebentar ya saya antar kak Ryan masuk dulu setelah itu kita berangkat ibu ikut masuk saja ayo."kata Lydia mengajak bu Narti masuk kedalam rumah.
Mereka bertiga akhirnya masuk kedalam rumah, bu Narti menunggu diruang tamu sedangkan Ryan dan Lydia masuk kedalam kamar.
"Mau kemana?"kata Ryan.
"Mau ikut bu Narti ke pasar, aku mau beli jajanan pasar boleh ya?"kata Lydia.
"Aku mau ikut boleh?"kata Ryan.
"Kakak yakin mau ikut gak capek?"kata Lydia yang kasian melihat suaminya kecapekan.
__ADS_1
"Ya sudah deh aku dirumah saja tapi nanti buat sarapan masakin aku sup ayam sama sambel terasi ya. Oh ya beli krupuk juga ya aku pengen makan itu dari kemarin tapi aku tahan karena kamu sudah gak dirumah aku juga sibuk ngurusin perusahaan Jono."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.
"Iya nanti aku beliin ceker sama kepala ayam ya."kata Lydia mengoda suaminya.
Lydia tau jika Ryan gak suka sama kedua makanan itu membuat Ryan yang awalnya mau tidur langsung saja membuka matanya.
"Gak, aku gak mau kalau kamu belikan ceker dan kepala ayam. Kalau sampai kamu beli keduanya lebih baik aku makan diwarung saja."kata Lydia.
"Kalau kakak makan diwarung aku gak akan masakkan lagi makanan buat kakak."kata Lydia.
"Lah kok gitu kalau kamu gak mau masak aku makan apa?"kata Ryan.
"Belilah 'kan ada gojek sekarang."kata Lydia.
"Ya sudah terserahmu mau beli apa saja nanti aku makan."kata Ryan akhirnya mengalah.
"Ya sudah aku pergi dulu, kakak istirahat saja atau mandi dulu baru istirahat."kata Lydia tersenyum karena suaminya.
Lydia keluar dari kamar itu untuk menghampiri bu Narti, mereka berdua pergi ke pasar sedangkan Ryan yang ditinggal dikamar langsung tertidur karena badannya benar-benar lelah. Lydia dan bu Narti sampai pasar langsung saja membeli bahan-bahan untuk masak dia juga membeli bahan untuk membuat makanan yang dipesan Ryan tadi tak lupa juga membeli krupuk. Setelah membeli bahan makanan mereka berdua membeli jajanan pasar. Mereka setelah membeli semua yang dibutuhkan mereka langsung saja pulang ke rumah. Bu Narti tak pulang ke rumah karena Lydia yang meminta agar bu Narti memasak disana saja. Sampai dirumah Lydia mengerutkan keningnya karena tak ada tanda-tanda kehidupan. Lydia memutuskan untuk masuk kedalam kamar setelah meletakkan bahan makanan yang mereka berdua beli tadi.
"Bu, aku mau ke kamar sebentar ya."kata Lydia.
"Iya mau melihat nak Ryan ya?"kata Bu Narti.
"Iya bu kok dia gak keliatan apa tidur ya?"kata Lydia.
"Mungkin ketiduran pasti nak Ryan kecapekan itu nduk."kata bu Narti.
"Gak papa kok, biar ibu yang membereskan belanjaan ini. Kita jadi masak sup ayamnya?"kata bu Narti.
"Jadi bu soalnya itu permintaan kak Ryan."kata Lydia sambil berjalan meninggalkan bu Narti didapur sendirian.
Lydia masuk kedalam kamar dan benar saja suaminya itu sedang tertidur pulas tanpa menganti pakaiannya membuat Lydia mengelengkan kepalanya. Lydia mendekati Ryan yang sedang tidur pulas, Lydia pelan-pelan duduk disamping Ryan sambil memandangi wajah suaminya. Niatnya hari ini mau mengajak Ryan cek kandungan tapi Lydia mengurungkan niatnya saat melihat wajah kecapekan Ryan. Lydia tanpa sadar mengelus wajah suaminya membuat Ryan tidurnya terganggu.
"Kamu sudah pulang sayang?"kata Ryan berbicara sambil tetap menutup matanya karena matanya berat sekali mau dibuka.
"Sudah, bangun gih mandi ini sudah siang lo. Aku bikinin kopi biar matanya segar."kata Lydia.
"Aku capek banget sayang, hari ini aku mau istirahat seharian boleh? Kamu gak ada jadwal bertemu dengan dokter Ita kan?"kata Ryan.
"Gak ada ya sudah kamu tidur gih, aku mau bantu bu Narti masak."kata Lydia.
"Jadi masakin aku sup ayam sama bikin sambel terasikan?"kata Ryan dengan penuhh semangat.
"Iya jadi kenapa kok kayaknya pengen banget dimasakin sup ayam?"kata Lydia.
"Gak tau kayaknya aku nyidam deh."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.
__ADS_1
"Kalau kamu nyidam memangnya gak papa kamu gak akan marah?"kata Lydia bertanya membuat Ryan yang berharap jika istrinya itu hamil langsung membuka matanya.
"Kamu hamil sayang? Jika benar aku orang pertama yang paling bahagia."kata Ryan.
"Ngarep."kata Lydia sebenarnya dia gak enak bilang begitu apalagi saat dia melihat wajah kecewa Ryan membuat Lydia lebih tak enak lagi tapi dia belum siap mengatakan kehamilannya.
Ryan yang melihat istrinya diam saja menghela nafasnya Ryan tau jika keinginannya itu pasti membebani istrinya. Ryan memeluk istrinya sambil menciumi perut Lydia entah mengapa Ryan merasakan ketenangan saat mencium perut istrinya itu.
"Papa berharap kamu cepat hadir sayang."kata Ryan membuat Lydia tersenyum lalu mengelus rambut Ryan.
"Kamu beneran ingin sekali ya punya anak sayang?"kata Lydia.
"Pengen banget sayang, apalagi kalau anaknya perempuan pasti dia akan seperti kamu nantinya."kata Ryan.
"Doa saja ya."kata Lydia.
"Iya sayang, aku mau tidur lagi tapi sambil kamu elus rambutku kayak gini boleh?"kata Ryan memohon.
"Boleh tapi bagaimana dengan bu Narti kasian kalau dia masak sendiri didapur?"kata Lydia yang gak enak dengan bu Narti tapi dia gak bisa menolak keinginan suaminya.
"Ya sudah kamu temani bu Narti masak tapi nanti bangunin aku ya kalau sudah matang aku mau tidur lagi."kata Ryan.
"Ya sudah kalau kayak gitu aku kebelakang dulu."kata Lydia.
Ryan kembali tidur setelah Lydia pergi dari kamarnya, entah mengapa saat Ryan tertidur dia bermimpi mengendong bayi cantik dan imut. Saat dia sedang tersenyum senang tiba-tiba ada yang menguncang tubuhnya membuat Ryan terbangun dari tidurnya. Awalnya Ryan kesal tapi saat melihat Lydia yang membangunkannya membuat Ryan tersenyum tak jadi marah.
"Ada apa sayang?"kata Ryan.
"Bangun mandi, itu ponselmu berbunyi terus kak daritadi."kata Lydia.
Ryan mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya ternyata itu panggilan dari Jono dan Anton membuat Ryan menghela nafasnya.
"Biarkan saja aku mau istirahat tanpa ada yang mengangguku."kata Ryan membuat Lydia mengelengkan kepalanya.
"Kak, angkat bilang sama mereka kalau kakak ada diBogor kalau ada masalah suruh mereka selesaikan sendiri dulu. Kalau kakak gak angkat takutnya nanti mereka kecewa sama kakak."kata Lydia membuat Ryan memandang istrinya.
"Tapi sayang, aku benar-benar ingin istirahat dan selama disini waktuku hanya untukmu. Mereka saja bisa mengutamakan masalah pribadinya masak aku gak boleh?"kata Ryan.
"Dengerin aku, mereka itu saudara kakak gak baik kalau kakak menolak mereka."kata Lydia.
"Memangnya gak papa kalau aku terus bagi waktuku dan hanya sedikit saja waktuku buatmu?"kata Ryan membuat Lydia tersenyum.
"Aku gak papa kok asal itu perbuatan yang baik tapi kalau sampai main belakang aku gak akan maafin kamu kak."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.
"Ya sudah baiklah kalau kayak aku angkat dulu panggilan kak Anton."kata Ryan.
"Ya sudah habis itu mandi terus sarapan aku tunggu didapur sambil ngemil."kata Lydia.
__ADS_1
"Oke, tapi cium dulu."kata Ryan.
Lydia mencium suaminya setelah itu keluar dari kamar sedangkan Ryan mengangkat panggilan itu. Sebenarnya dia juga ingin tau ada apa kedua pria itu menghubunginya tapi Ryan juga ingin menikmati waktu bersama dengan istrinya tanpa ganggu pekerjaan ataupun masalah dari keluarganya yang lain.