Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan bertemu klien perusahaan Lydia


__ADS_3

Lydia melamun sambil menikmati suasana pantai dan dia berandai jika Ryan ada disampaingnya menikmati suasan pantai tapi itu hanya bayangannya saja karena dia tau jika sekarang Ryan sedang sibuk dengan klien perusahaannya semalam sebenarnya Cindy sudah bilang kalau Ryan yang akan mewakili mereka. Awalnya Lydia gak percaya tapi setelah mendengarnya sendiri semalam membuat dia percaya. Lydia menghera nafasnya karena dia selalu saja merepotkan orang lain kalau traumanya sudah kambuh, Lydia berharap jika traumanya cepat sembuh agar tak merepotkan orang lagi.


Beda dengan Lydia yang sedang menikmati pantai Ryan malah sedang berdiskusi alot dengan klien perusahaan papa mertuanya. Disana gak hanya Ryan sendiri tapi juga ada Cindy, Cindy kagum dengan cara Ryan menyelesaikan masalah tegas tapi tetap lembut.


"Tuan kalau perjanjiannya seperti ini lebih baik kami batalkan saja kontrak kerjasama kita."kata klien.


"Kalau bapak mau membatalkan kerjasama ini kami tak ada masalah tapi bapak pikirkan lagi bagaimana nasib perusahaan bapak."kata Ryan sambil tersenyum.


"Apa maksutmu?"kata klien.


"Saya tau niat bapak mau kerjasama dengan perusahaan kami karena perusahaan lain banyak yang gak mau kerjasama dengan perusahaan bapak kalau perusahaan kalian bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan kami maka besar kemungkinan perusahaan lain akan mau bekerjasama lagi dengan perusahaan anda."kata Ryan membuat klien itu terkejut darimana pria ini tau tentang rencananya.


Kliennya itu berpikir kalau Ryan bukan orang sembarangan yang gak bisa diremehkan, Ryan tau apa yang dipikirkan oleh orang itu hanya tersenyum lalu bangun dari duduknya.


"Tuan mau kemana?"kata klien.


"Saya masih banyak pekerjaan jika bapak mau membatalkan kerjasama ini silahkan karena saya gak ada waktu buat meladeni orang yang membuang-buang waktu saya. Ayo Cin kita pergi dari sini, nanti kamu hubungi papa kalau kita gak usah menjalin kerjasama dengan pereusahaan yang plinplan kayak gini."kata Ryan mengajak Cindy untuk pergi darisana.


"Tunggu tuan."kata klien.


"Ada apalagi pak?"kata Ryan.


"Saya setuju dengan perjanjian ini."kata klien.


"Tapi saya tidak mau maaf."kata Ryan mengajak Cindy keluar darisana.


Ryan gak akan mau menjerumuskan perusahaan mertuanya dengan perusahaan yang sudah membuat masalah dengan perusahaan Hendru. Mereka berdua keluar dari ruangan itu dengan wajah Ryan yang tenang sedangkan Cindy takut jika om Irwan marah karena tak jadi kerjasama dengan perusahaan ini.


"Kak..."kata Cindy memberanikan diri untuk bertanya saat mereka sudah ada diparkiran.


"Ada apa? Aku akan mengantarmu kembali ke perusahaan tenang saja."kata Ryan.


"Bukan itu kak, kalau kembali ke perusahaan aku bisa naik taksi lagi. Tapi pembatalan kerjasama ini aku takut kak."kata Cindy mengatakan ketakutannya.


"Kamu takut kenapa memangnya?"kata Ryan.


"Karena kita membatalkan kerjasama secara sepihak."kata Cindy.


"Memangnya disebut kerjasama kalau kita belum tandatangan kontrak?"kata Ryan sambil bersendekap dada.


"Belum sih, tapi bagaimana saya menjelaskan pada orang kantor kak?"kata Cindy.

__ADS_1


"Aku antar kamu kembali ke perusahaan nanti aku cari om Sahrul buat menjelaskan semuanya."kata Ryan membuat Cindy menghera nafasnya lega.


"Makasih kak, akhirnya aku gak bingung mau menjelaskan bagaimana dengan tuan Sharul."kata Cindy sambil tersenyum.


"Ya sudah ayo masuk."kata Ryan.


Ryan dan Cindy masuk ke dalam mobil Ryan, Ryan mengantarkan Cindy kembali ke perusahaan. Saat mereka masuk ke perusahaan banyak karyawan yang memandangnya dengan sinis membuat Ryan mengerutkan keningnya. Ryan yakin jika ada yang terjadi diperusahaan.


"Sudah gak usah perdulikan mereka ayo kita lanjut jalan saja."kata Ryan.


"Tapi kak kayaknya ada yang salah dengan tatapan karyawan disini."kata Cindy.


"Kita akan tau kalau sudah berada diruangan om Sahrul."kata Ryan.


Ryan dan Cindy melanjutkan perjalanannya menuju ruangan om Sahrul, saat sampai sana terlihat kalau om Sahrul sedang berbicara dengan para dewan direksi. Ryan tau apa yang terjadi hanya tersenyum lalu berjalan santai masuk ke dalam ruangan om Sahrul. Saat Ryan masuk banyak pasang mata yang memandangnya tak suka karena sudah termakan hasutan dari pak Bowo. Ryan santai duduk disofa yang kosong disebelah om Sahrul.


"Ada apa ini?"kata Ryan santai.


"Sudah gak usah pura-pura kamu."kata pak Bowo.


"Memangnya pura-pura kenapa?"kata Ryan santai.


"Kenapa kamu batalkan kerjasama dengan perusahaan Senja grup?"kata pak Bowo.


"Iyalah memangnya kamu siapa seenaknya saja membatalkan kerjasama yang sudah susah payah pak Bowo diskusikan?"kata salah satu dewan direksi.


"Kalian gak perlu tau siapa aku, aku mau tanya siapa tadi yang mengusulkan kerjasama dengan perusahaan Senja?"kata Ryan dingin membuat om Sahrul terdiam mendengar perkataan Ryan.


"Saya kenapa?"kata pak Bowo dengan percaya diri membuat Ryan tersenyum.


"Apa bapak salah satu kaki tangan pemilik perusahaan Senja?"kata Ryan membuat pak Bowo terkejut.


"Apa maksutmu?"kata pak Bowo.


"Saya hanya tanya saja kenapa wajah anda seperti itu."kata Ryan.


"Kenapa dengan wajahku?"kata pak Bowo.


"Wajah anda terlihat tegang."kata Ryan sambil tersenyum.


"Siapa yang tegang gak ada."kata pak Bowo.

__ADS_1


"Ya sudah kalau kayak gitu saya mau tanya pada anda."kata Ryan.


"Kamu mau tanya apa?"kata pak Bowo.


"Apa anda gak tau kalau pemilik perusahaan itu orang yang benar?"kata Ryan.


"Apa maksut anda?"kata pak Bowo.


"Perusahaan itu sudah mengacau perusahaan Arcana grup apa anda mau perusahaan ini dikacau juga?"kata Ryan.


"Bukannya Arcana grup itu milik Hendru, Yan?"kata om Sahrul.


"Iya om, aku tadi baru menangani masalah dipabriknya gara-gara perbuatan perusahaan Senja grup eh malah papa suruh saya bertemu langsung sama pemiliknya."kata Ryan membuat semua orang disana terdiam sedangkan pak Bowo kesal karena dia tak jadi mendapatkan keuntungan dari perusahaan Senja.


"Apa benar itu Yan?"kata salah satu dewan.


"Iya,kalau gak percaya tanya saja pada pak Bowo mungkin dia tau tentang perusahaan Senja."kata Ryan yang memandang kearah pak Bowo.


"Kenapa saya?"kata pak Bowo.


"Bapak mau bicara sendiri atau saya yang akan mengatakan apa yang anda lakukan dengan pemilik perusahaan Senja."kata Ryan.


"Saya gak melakukan apapun untuk apa saya menjelaskan?"kata pak Bowo kekeh tak melakukan sesuatu.


"Baiklah, Cin tolong bagikan kertas yang aku kasih ke kamu tadi."kata Ryan.


Cindy membagikan kertas itu lalu semua orang yang ada disana terkejut, mereka tak menyangka jika pak Bowo tega melakukan perbuatan itu hanya untuk mencari keuntungan. Pak Bowo yang membaca kertas itu memandang kearah Ryan dia ingin tau siapa Ryan bagaimana dia bisa cepat mendapatkan bukti itu pasti Ryan bukan orang sembarangan.


"Kamu siapa sebenarnya?"kata pak Bowo membuat Ryan tersenyum Ryan membuka kacamatanya membuat pak Bowo terkejut.


"Kamu asisten tuan Hendru?"kata pak Bowo.


"Lebih tepatnya mantan asistennya sekarang aku mengurus perusahaan milik ayahku Karya grup."kata Ryan membuat semua orang disana semakin terkejut dengan perkataan Ryan tak terkecuali Cindy yang tak menyangka jika suami temannya bukan orang sembarangan.


"Sekarang bisa jelaskan pak Bowo apa yang sudah kamu lakukan?"kata om Sahrul.


"Saya bisa jelaskan tuan, saya baru saja perbuatan ini kali ini karena saya kepepet."kata pak Bowo.


"Masak sih, saya gak percaya dengan perkataan anda."kata Ryan.


"Memangnya kamu tau apa?"kata pak Bowo.

__ADS_1


Sebelum Ryan berbicara pintu ruangan itu dibuka oleh sekertaris om Sahrul yang masuk dengan dua orang polisi. Om Sahrul yang meliat itu terkejut tapi tidak dengan Ryan yang malah tersenyum.


"Ada apa ini?"kata om Sahrul.


__ADS_2