Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Karyawan penasaran dengan Ryan


__ADS_3

[Eleh eleh ternyata istriku mau dimanja juga ternyata?]


[Iyalah mana ada seorang istri yang mau didiami kalau permintaan suami ditolak sama istri, gak peka banget jadi orang harus rayu kek yakinin kalau ketakutan istrinya itu gak akan terjadi.]


[Maaf sayang, aku kan gak berpengalaman punya istri jadi harus belajar dulu.]


[Tau ah gelap, belajar belajat tu perempuan bunting bagaimana ceritanya?]


[Hais dia lagi dia lagi, sayang nyentuh dia saja gak pernah hamil darimana coba lagian kamu yang mendapatkan ciuman pertamaku dan kemungkinan kamu yang akan dapat perjakaku.]


[Kok kemungkinan apa kamu niat mau melakukan itu pada perempuan lain?]


[Ya gak gitu juga sayang, akukan cuma bercanda.]


[bercanda tapi gak tau batasnya, kakak mau kemana?]


[Aku mau ke perusahaan ayah ada yang mau aku bicarakan sama kak Anton. Ada apa kamu mau bicara sama kak Anton nanti?]


[Gak mau, eh mau deng aku mau tanya sesuatu sama dia.]


[Memangny mau tanya apa sama dia?]


[Nanti juga tau sendiri sekarang ada dimana?]


[Nih ada diparkiran mau masuk ke perusahaan.]


[Gak papa memangnya berjalan sambil melakukan panggilan nanti dikira kamu sedang pacaran lagi.]


[Emang aku sedang pacarankan sekarang ldr lagi kasiannya baru nikah beberapa hari sudah ditinggal sama istri.]


[Siapa yang ninggal duluan?]


[Hehehe maaf sayang, aku gak mau kalau sesuatu yang nantinya akan menyakitimu.]


[Memangnya apa yang menyakitiku?]


[Kamu belum tau kalau aku marah sayang.]


[Baiklah kalau nanti kamu diamin aku lagi kayak kemarin aku gak akan mau maafin kamu.]


[Iya, iya baiklah aku gak akan marah lagi sama kamu.]


[Kalau kamu marah lagi bagaimana kalau aku beri hukuman saja?]


[Memangnya apa hukumannya?]

__ADS_1


[Kata kak Aziz kakak pandai masak jadi selama aku marah kakak yang masak bagaimana?]


[Baiklah tuan putri, aku mau masuk lift nanti kalau jaringannya putus-putus jangan ngambek.]


[Iya, aku mandi bentar gerah.]


[Ya sudah tapi jangan matiin panggilannya.]


Ryan yang berkata begitu bisa didengar oleh karyawan yang satu lift dengannya, para karyawan ingin tau siapa yang beruntung bisa mendapatkan bosnya walaupun Ryan jarang datang ke perusahaan mereka tau kalau Ryan memiliki bisnis lain dan gak kalah berkembang daripada perusahaan ini. Ryan juga seorang pengusaha sukses yang susah didekati oleh para perempuan padahal kalau dilihat banyak perempuan yang mau dengannya.


Kalian kenapa ngelihatin aku sepeti itu?"kata Ryan.


"Tidak apa-apa tuan hanya penasaran siapa yang tuan hubungin?"kata salah satu karyawan sedangkan temannya yang lain menyenggol lengannya.


"Kepo kalian."kata Ryan.


Ryan terdiam karena diseberang terdengar suara istrinya yang sedang tertawa, Ryan gak bisa berbicara karena dia mendengar suara gemericik air pasti istrinya itu sedang berada didalam kamar mandi kalau gak berada didalam lift pasti dia akan melihat ponselnya. Ryan yang sudah sampai lantai yang dia tujuh berjalan cepat menuju ruangan kakaknya tapi saat dia sampai diruangan kakaknya dia melihat kalau seorang perempuan didalam ruangan itu membuat Ryan terkejut.


"Kamu siapa?"kata Ryan membuat perempuan itu memandang kearah Ryan.


"Saya yang harusnya bertanya sama kamu? Memangnya kamu siapa?"kata Dita.


"Ditanya malah tanya ngapain kamu ngapain berada diruangan kakakku?"kata Ryan.


"Oh kamu adiknya Anton ternyata, aku sedang menunggu dia."kata Dita.


"Itu bukan urusanmu."kata Dita membuat Ryan terkejut baru kali ini ada seorang perempuan yang sok banget.


"Baiklah, kalau kayak gitu tinggal disini saja aku mau liat apa yang akan dilakukan oleh kakakku."kata Ryan.


"Perduli amat."kata Dita.


[Sayang jangan didalam ruangan itu nanti dikira ngapa-ngapain lagi.]


[Jangan bilang kamu cemburu ya?]


[Ngapain aku cemburu? Kak mau makan gak?]


[Memangnya kamu masak apa hari ini?]


[Tadi pengen ayam geprek tapi aku bikin ayamnya sendiri.]


[Nanti aku mau kalau sudah dirumah masakin setiap hari boleh?]


[Iya sayangku, aku makan dulu.]

__ADS_1


[Aku keruanganku dulu.]


Ryan meninggalkan Dita disana sendirian tapi dia penasaran apa yang dilakukan oleh Dita diruangan kakaknya. Saat dia sudah berada diruangannya sendiri, Ryan menyalakan panggilan video lalu meletakkan ponselnya didepannya sedangkan dia mengambil laptopnya untuk meretas cctv yang ada diruangan kakaknya. Lydia sambil makan melihat wajah suaminya yang serius membuat Lydia bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


[Kak, kamu sedang apa?"kata Lydia.


[Ini sedang membuka cctv ruangan kak Anton aku penasaran dengan perempuan itu.]


[Penasaran bagaimana kak?]


[Kayak ada yang mencurigakan, kan benar.]


[Ada apa kak?]


[Nanti ya sayang aku katakan, aku liat dia sebentar.]


[Iya kak.]


Ryan fokus mengawasi perempuan itu sambil meretas komputer milik kakak Anton, dia ingin tau apa yang dicari oleh perempuan itu. Ryan terkejut karena perempuan itu sedang mencari informasi perusahaan, Ryan secara diam-diam memindahkan file itu ke emailnya dan menukar datanya. Lydia yang melihat suaminya serius hanya tersenyum lalu teringat ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Lydia bangun untuk mengambil laptopnya saat dia membuka email Lydia mengerutkan keningnya karena ada email masuk tapi dia tak mengenal siapa yang mengirim email itu. Saat dia buka ternyata itu foto-foto dirinya saat kejadian itu membuat Lydia gemetaran, Ryan yang tak sengaja melihat istrinya terkejut karena istrinya itu ketakutan.


[Sayang kamu kenapa?]


[Aku gak melakukannya, kak aku takut kak.]


[Sayang tenang ya, sayang liat aku.]


Lydia yang mendengar perkataan Ryan langsung saja memandang kearah suaminya, Ryan berbicara untuk menenangkan istrinya tak butuh waktu lama Lydia tenang saat mendengarkan perkataan Ryan. Ryan setelah istrinya tenang menyuruh istrinya masuk ke dalam kamar. Saat Lydia berbaring diranjang Ryan menceritakan sesuatu yang menyenangkan hingga istrinya tertidur. Ryan bernafas lega saat melihat Lydia tertidur, setelah Lydia tertidur Ryan tak mematikan panggilannya dia memutuskan untuk meminjam ponsel Dayat untuk menghubungi Aziz meminta no ponsel dokter Sari. Setelah mendapatkan no ponsel dokter Sari Ryan menghubungi dokter Lydia itu untung saja tak butuh waktu lama dokter Sari mengangkat panggilan itu.


[Hallo selamat siang, kalau boleh saya tau ini dengan siapa ya?]


[Hallo dok, ini saya Ryan suaminya Lydia. Maaf kalau saya menganggu waktu anda.]


[Oh tuan Ryan, ada apa menghubungi saya?]


[Maaf dok, saya mau tanya kenapa istri saya bisa tiba-tiba ketakutan padahal tak ada yang menganggunya?]


[Mungkin ada sebab misalnya ada orang yang mengingatkan tentang kejadian itu ataupun dia melihat orang yang juga mengalami perlakuan yang sama sepertinya.]


[Tapi tadi dia berada dikontrakannya dok.]


[Saya yakin kalau ada orang yang sudah mengingatkan dia entah dalam bentuk gambar ataupun dalam bentuk lainnya.]


[Makasih dok, kalau begitu saya tutup dulu.]


Ryan mematikan panggilan itu lalu mengusap wajahnya dia jadi tak tenang akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan pada Aziz lagi meminta alamatnya Lydia. Awalnya Aziz tak memberikannya tapi setelah Ryan menjelaskannya Aziz memberikan alamat kontrakan Lydia. Sebelum berangkat ke Bogor Ryan berbicara pada Dayat untuk menghendal semua pekerjaannya yang ada disini dan kalau ada yang mendesak meminta Dayat untuk menghubunginya.

__ADS_1


Saat dia keluar berpapasan dengan Anton tapi Ryan tak memperdulikan kakaknya itu, dia tetap saja jalan menuju arah Lift membuat Anton bingung ada apa dengan adiknya itu sehingga dia masuk ke dalam ruangan Ryan dan disana ada Dayat. Dayat menceritakan apa yang terjadi dengan Ryan dan Lydia membuat Anton menganggu mengerti. Dayat juga memperlihatkan perbuatan perempuan yang tadi ada didalam ruangan Anton. Anton yang melihat itu murka dia mau menemui perempuan itu tapi dicegah oleh Dayat.


__ADS_2