Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan meminta restu orangtua Lydia


__ADS_3

Keesokan harinya benar saja saat waktu makan siang papa Irwan dan mama Intan benar-benar datang ke perushaan Hendru. Orangtua Ryan dan juga kedua kakaknya juga berada disana. Orangtua Lydia terkejut saat melihat keluarga Abimana ada disana.


"Loh kalian ada disini juga?"kata mama Intan yang sebenarnya kesal karena keluarga Abimana datang kesana duluan.


Mama Intan berpikir jika keluarga Abimana akan melamar Ryan duluan. Arini yang tau jika Intan sedang kesal hanya tersenyum saja.


"Ada apa kamu menyuruh kami kesini Yan?"kata papa Irwan yang penasaran kenapa Ryan menyuruhnya datang kesini.


"Maaf kalau aku menganggu kegitan om sama tante, saya mengundang om sama tante kesini untuk meminta restu dari kalian untuk menikahi Lydia."kata Ryan membuat mama Intan terkejut sekaligus senang.


"Kamu yakin dengan keputusanmu ini Yan? Lydia bukan gadis mandiri, dia gadis manja dan gak bisa masak lo Yan?"kata papa Irwan.


"Saya akan terima apa adanya Lydia om."kata Ryan.


"Lalu bagaimana dengan nak Sinta bukannya kalian sudah berhubungan lama?"kata mama Intan.


"Maafkan saya om, tan. Saya yang menyebarkan berita itu agar seseorang tak mendekati Sinta lagian Sinta gak mungkin menikah dengan Ryan karena kami bersaudara."kata Anto jujur.


"Jadi kamu kak yang nyebarin berita itu?"kata Sinta kesal.


"Iya maafin aku Sin, aku gak suka kamu didekati sama Jono itu."kata Anton membuat Ryan tersenyum.


"Yah..."kata Sinta.


"Lagian aku juga gak suka kalau kamu sama Jono itu mbak."kata Ryan setuju dengan perkataan Anton.


"Dek, kamu beliau tau dia."kata Shinta.


"Tunggu maksut kalian Jono dulu kuliah dikampus yang sama dengan Lydia?"kata papa Irwan.


"Iya dia om, memangnya kalian kenal?"kata Ryan.


"Kami kenal, dia pria baik kenapa kalian berdua gak setuju dengan hubungan Sinta?"kata papa Irwan.


"Kami bukannya gak setuju hubungan itu terjalin hanya saja kalau Jono masih dekat perempuan ular itu aku takut terjadi sesuatu sama mbak Shinta."kata Ryan yang dianggukin oleh Anton.


"Memangnya siapa perempuan ular itu?"kata Shinta membuat Anton menghera nafas.


"Kita disini mau membahas tentang Ryan sama Lydia bukan kamu, hubungan kamu nanti saja kami ceritakan dirumah."kata Anton.


"Ish kamu ni kak."kata Shinta yang langsung dia karena apa yang dikatakan oleh kakaknya iu benar.


"Bagaimana om sama tante setuju gak dengan lamaran Ryan?"kata Hendru yang daritadi diam.


"Aku setuju setuju saja, akhirnya keinginan tante terwujud."kata mama Intan.


"Maksut tante?"kata Hendru.


"Tante kamu ini sejak pertama kali Lydia mengenalkan Ryan pada kami sudah suka sama dia."kata papa Irwan membuat merek semu tertawa karena mama Intan mencubit pinggang suaminya membuat papa Irwan kesakitan.


"Lalu kamu mau gimana sekarang Yan, kami semua sudah setuju?"kata ayah Dany.

__ADS_1


"Sebentar lagi ulang tahun Lydiakan om tan?"kata Ryan.


"Iya lalu?"kata mama Intan.


"Aku mau langsung menikah dihari itu."kata Ryan membuat semua orang terkejut apalagi ulang tahun Lydia tinggal satu minggu lagi.


"Yan, kamu yakin ulang tahun Lydia tinggal satu minggu lagi bagaimana caranya kamu meyakinkan dia?"kata Hendru.


"Tenang kalau soal itu serahin saja sama tante tapi aku butuh bantuanmu Ton."kata mama Intan.


"Mama gak usah aneh-aneh deh."kata papa Irwan yang tau apa isi pikiran istrinya itu.


"Aku gak aneh-aneh kok, bagaimana kamu bisa bantu saya Ton?"kata mama Intan bertanya pada Anton.


"Saya siap tan, tante mau saya melakukan apa?"kata Anton penasaran.


"Nanti kita bahas saat Ryan gak ada, kalau ada Ryan gak seru nanti jadinya."kata mama Intan.


"Tan, kok gitu sih?"kata Ryan.


"Kamu mau menikah sama Lydia secepatnya gak kalau mau ikuti rencana kami."kata bunda Airin yang mendukung mama Intan karena dia juga ingin berbesan dengan teman arisannya itu.


"Ish bunda ni."kata Ryan yang akhirnya pasrah.


"Akhirnya kita jadi besan ya Rin?"kata mama Intan tersenyum.


"Iya, aku mau mengadakan pernikahan yang mewah apalagi kalau putra sulungku menikah juga dihari itu."kata bunda Airin.


"Kak, ingat umur masak aku duluan yang nikah?"kata Ryan.


"Aku ikhlas kamu langkahi Yan."kata Anton bukannya dia gak mau menikah hanya saja dia takut menyakiti perempuan itu sudah cukup dia menyakiti seorang perempuan yang sangat mencintainya.


Bunda Airin yang tau kenapa Anton gak ingin menikah hanya menghera nafasnya. Bunda Airin berharap jika suatu saat putra sulungnya itu akan mendapatkan pendamping yang bisa menerima dan mengubah sikap anaknya yang suka emosian itu.


Mereka semua sesudah setuju dengan lamaran Ryan dan membahas rencana respsi yang diadakan pas ulang tahun Lydia memutuskan untuk makan siang disana. Selesai makan siang semua pamit kembali ke tempat mereka masing-masing. Disana hanya tinggal Ryan dan Hendru, Hendru tersenyum melihat sahabatnya akhirnya akan segera menikah.


Tok tok tok


"Masuk."kata Hendru.


"Kak, ngapain orangtuaku tadi kesini?"kata Lydia yang membuat kedua pria yang berada didalam ruangan itu tekejut.


"Kamu sejak kapan ada disini?"kata Hendru sedangkan Ryan memilih untuk memejamkan matanya.


"Baru saja, saat mama sama papa naik ke dalam mobilnya."kata Lydia sambil duduk disamping Ryan yang sedang memejamkan matanya.


"Ada masalah tentang pekerjaan makanya mereka kesini."kata Lydia.


"Oh aku pikir kenapa, lalu ini asistenmu lagi pusing apa kok santai santai disini?"kata Lydia sambil menyindir Ryan membuat Ryan membuka matanya.


"Memangnya kalau saya sedang sakit nona mau merawat saya?"kata Ryan mengoda Lydia.

__ADS_1


"Ogah, kak aku kesini mau minta izin sama kamu."kata Lydia.


"Minta izin buat apa?"kata Hendru.


"Sebentar lagikan ulang tahunku, aku mau Widya yang buatin aku gaunnya boleh ya?"kata Lydia.


"Iya, tadi tante Intan juga sudah bilang sama aku tinggal kamu saja nanti mau gaun yang bagaimana bilang saja sama Widya."kata Hendru.


"Tumben kamu izini Widya?"kata Lydia bingung.


"Kalau buatmu apasih yang gak lagian sekarang Widya mualnya sudah berkurang hanya aku gak mau dia kecapekaan saja."kata Hendru.


"Iya juga ya, ya sudah kalau gitu aku pergi dulu ada kerjaan diluar."kata Lydia.


"Nona gak jadi merawatku?"kata Ryan yang melihat Lydia bangun dari duduknya.


"Ogah, kurang kerjaan banget aku merawatmu."kata Lydia membuat kedua pria itu tersenyum.


"Ya sudah hati-hati, jaga hatimu nona jangan sampai diambil oleh orang lain selain aku."kata Ryan yang langsung dilempar botol yang Lydia bawa untung saja Ryan berhasil menghindar sedangkan Hendru hanya mengelengkan kepalanya mendengar kejahilan sahabatnya itu.


"Kamu itu Yan, kayaknya sebentar lagi aku harus cari asisten baru ini."kata Hendru.


"Memangnya kenapa harus cari asisten yang baru aku masih bisa jadi asistenmu?"kata Ryan.


"Kamu itu memangnya kamu mau waktumu sama Lydia berkurang karena kamu jadi asistenku?"kata Hendru.


"Kamu benar juga, nanti aku suruh Dayat buat cariin temannya yang bisa dipercaya."kata Ryan.


"Oke aku serahin semua ke kamu, kamu harus dapat gantimu sebelum kamu menikah."kata Hendru.


"Siap pak bos."kata Ryan sambil tersenyum.


Lydia yang berada didalam mobil tersenyum senang mendengar gombalan Ryan tadi tapi saat mengingat Sinta dia menjadi benci sama Ryan. Lydia menjalankan mobilnya untuk menemui klien disebuah cafe. Saat dia sedang menunggu dicafe tak sengaja Rayyan juga datang kesana. Rayyan menghampiri Lydia saat melihat Lydia sedang sendirian.


"Boleh aku duduk disini?"kata Rayyan sambil tersenyum.


"Silahkan, tapi jangan lam-lama karena aku sedang menunggu klienku."kata Lydia dingin.


"Ly, aku mau kamu putusin Ryan. Dia bukan laki-laki baik, dia dibelakangmu bermain api."kata Rayyan.


"Lalu menurutmu pria seperti apa yang baik buatku?"kata Lydia.


"Aku, aku pria yang baik buatmu.Aku akan menyayangimu dengan setulus hatiku."kata Rayyan.


"Maaf Yan, aku gak bisa berhubungan sama pria yang gak punya pendirian kayak kamu."kata Lydia.


"Ly, aku bisa mengubah sifat itu tolong kasih kesempatan aku buat menunjukannya padamu."kata Rayyan.


"Maaf Yan kamu bisa pergi gak itu klienku sudah datang."kata Lydia sambil menujuk pada kliennya yang menghampirinya.


Rayyan menghera nafasnya, dia terpaksa meninggalkan Lydia membuat Lydia menghera nafasnya lega. Lydia sendiri gak tau harus berkata apalagi karena beberapa hari ini Rayyan terus saja menganggunya.

__ADS_1


__ADS_2