Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Rima melihat jika Rayyan menembak Lydia lagi


__ADS_3

Rayyan didalam kamarnya hanya menghera nafas, dia tak tau mau bicara bagaimana lagi dengan kedua orangtuanya. Rayyan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi, dia berharap setelah mandi bisa menenangkan pikirannya.


Sejak saat Lydia memaafkan Rayyan mereka sering bertemu, Rayyan benar-benar menepati janjinya untuk membuat Lydia yakin padanya. Rayyan melakukan berbagai macam cara untuk membuat Lydia kembali berhubungan padanya.


Malam ini Rayyan berjanji untuk menjemput Lydia, dia ingin mengajak Lydia kesuatu tempat. Rayyan ingin menembak Lydia kembali. Dia sudah mengatur tempat yang romatis dibantu oleh Panji dan Bagas, awalnya Bagas tak setuju tapi setelah dibujuk barulah dia mau.


"Yan, kamu yakin ini akan berhasil?"kata Panji.


"Aku yakin, lagian apapun nanti jawaban Lydia aku akan menerima dan tak akan berharap lagi."kata Rayyan.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu ini? Gak akan menyesal jika nanti kalian akan saling menjauh."kata Bagas.


"Aku akan bilang sama dia untuk tak menjauh setelah ini."kata Rayyan yakin.


"Terserah kamulah Yan?"kata Bagas yang gak yakin dengan keputusan Rayyan ini. Dia takut jika Rayyan akan menyesal seperti kemarin.


Rayyan sedang membicarakan tentang rencananya beda lagi dengan Lydia yang sedang melayani pelanggan dengan wajah yang ceria. Ita yang melihat wajah ceria sahabatnya langsung saja bertanya tentang apa yang terjadi kok sahabatnya ini bisa senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri?"kata Ita saat sudah tak melayani pembeli lagi.


"Aku mau keluar dengan kak Rayyan malam ini dia mau menjemputku."kata Lydia.


"Waw tumben dia mau ajak keluar mau kemana?"kata Ita.


"Aku gak tau dia cuma bilang mau mnjemputku saja."kata Lydia.


"Kamu yakin dia gak aneh-aneh sama kamu?"kata Ita yang takut jika kejadian kemarin terjadi lagi.


"Aku yakin gak kali ini gak akan terjadi apa-apa seperti kemarin, kali ini kak Rayyan hanya mengajak bertemu berdua saja."kata Lydia.


"Ly, aku boleh tanya sama kamu gak?"kata Ita takut jika sahabatnya itu marah.


"Kamu mau tanya apa?"kata Lydia yang penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Ita.


"Seandainya malam ini kak Rayyan nembak kamu lagi bagaimana?"kata Ita membuat Lydia kaget.


"Gak mungkinlah, lagian aku sudah bilang sama dia kalau kita hanya berteman saja."kata Lydia.


"Semua mungkin saja apalagi bukannya kamu dulu pernah bilang jika kak Rayyan ingin kembali menjalin hubungan denganmu."kata Ita..


"Kamu benar, aku senang tapi aku gak bisa menjalin hubungan dengannya."kata Lydia.


"Tapi aku yakin dia akan tetap memaksa seperti waktu dia minta maaf sama kamu dulu."kata Ita yang yakin jika Rayyan akan memaksa karena dulu saja saat meminta maaf dia keras kepala tetap untuk bertemu Lydia.


"Aku akan minta waktu tapi setelah itu aku akan tetap menolaknya. Kamu 'kan tau jika mamanya tak suka denganku. Aku tak mau bikin masalah yang nantinya akan membuatku sakit sendiri."kata Lydia.


"Terserah, aku dukung keputuasan kamu karena yang mengerti mana yang terbaik buat kamu dalah dirimu sendiri."kata Ita.

__ADS_1


"Makasih ya kalian berdua selalu ada buat aku dan selalu mengingatkan aku saat aku salah."kata Lydia bersyukur karena mendapat dua teman yang menerima apa adanya dirinya.


"Awas aja kamu bicara kayak gitu lagi, aku gak akan mau berteman dengan kamu lagi."kata Ita.


"Jangan gitu dong, kalau kamu gak berteman denganku lagi bagaimana dengan nasibku pasti akan kesepian."kata Lydia sambil memasang muka melasnya membuat Ita langsung tersenyum.


"Mulai deh."kata Ita yang akhirnya membuat mereka berdua tertawa bersama. Mereka berhenti tertawa saat datang pembeli.


Mereka berdua setelah itu disibukan dengan pembeli yang terus berdatangan sampai jam pulangg tiba. Saat mereka sedang menutup pintu toko Rayyan datang membantu membuat pekerjaan mereka sedikit ringan. Biasanya mereka selalu menutup pintu itu sendiri.


"Ta, aku antar pulang dulu baru aku ajak Lydia keluar."kata Rayyan.


"Gak usah aku pulang sendiri saja, takutnya nanti kemalaman Lydia gak bisa masuk ke kosan. Mau tidur dimana dia nanti?"kata Ita.


"Emang gak papa kamu pulang sendirian?"kata Rayyan yang gak tega jika Ita pulang sendiri apalagi ada jalan yang lampu jalannya mati.


"Gak papa aku sudah biasa, nanti kalau gak berani pulang sendiri dipersimpangan sana aku tunggu Sandra bisa kok."kata Ita.


"Ya sudah kalau gitu, aku ajak Lydia pergi dulu ya?"kata Rayyan.


"Aku pergi dulu, telepon Sandra biar ditungguin kalau gak berani!"kata Lydia.


"Siap bu bos, kak titip Lydia."kata Ita.


"Iya, aku akan jaga dia, kali ini akan antar pulang dia sendiri gak kayak yang kemarin."kata Rayyan yang tau jika Ita khawatir jika Rayyan akan membiarkan Lydia pulang sendirian seperti kemarin.


Rayyan dan Lydia langsung saja berjalan kearah mobil Rayyan sedangkan Ita berjalan pulang sendiri. Didalam mobil tak ada satu pun yang mulai berbicara, mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Kita mau kemana kak?"kata Lydia yang gak betah jika diam seperti kuburan.


"Ada deh nanti kamu juga akan tau, yang terpenting kita akan makan malam."kata Rayyan.


"Oh baiklah, aku gak akan tanya lagi kalau gitu, tapi aku boleh nyalakan musikkan daripada sepi kayak kuburan gak enak."kata Lydia mebuat Rayyan tertawa.


"Kamu ini ada ada saja."kata Rayyan.


Mereka berdua sampai dicafe tongkrongan Rayyan dan teman-temannya sejak mereka magang diRumah Sakit. Rayyan sudah memesan sebuah tempat disana sehingga mereka tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan tempat duduk.


"Kak, kok kakak bisa pesan tempat disini?"kata Lydia yang tau jika susah memesan tempat dicafe ini.


"Pemiliknya adalah teman sekolahku dulu."kata Rayyan.


"Oh pantas saja, aku dengar cafe ini sangat rame jadi susah dapat duduk kalau gak pesan lebih dulu, pesan lebih dulu saja juga masih susah karena banyak sekali yang ingin makan disini."kata Lydia.


"Kamu tau?"kata Rayyan.


"Iya taulah kak, ini cafe 'kan sudah terkenal."kata Lydia berbohong padahal dulu dia sering makan disini dengan orangtuanya.

__ADS_1


Mereka berhenti berbicara saat pelayan datang membawa makanan yang sudah dipesan oleh Rayyan. Rayyan juga bilang untuk makan dulu saja setelah itu dia ingin berbicara dengan Lydia. Mereka berdua makan makanan itu dengan diam.


"Kakak tadi mau bicara apa?"kata Lydia setelah mereka selesai makan malam.


"Tunggu sebentar aku mau ambil sesuatu dulu."kata Rayyan yang pergi meninggalkan Lydia.


Lydia yang ditinggal pergi Rayyan bingung mau apa tu orang sih, semoga saja pembicaraannya tadi dengan Ita tidak benar karena kalau sampai terjadi dia akan bingung sendiri bagaimana menjawabnya. Saat Lydia sedang melamun Rayyan datang dengan membawa buket bunga dan berlutut didepan Lydia.


"Ly, kamu mau gak balikan sama aku?"kata Rayyan membuat Lydia terkejut.


"Kak bangun kak jangan kayak gini."kata Lydia yang gak enak menjadi pusat perhatian.


"Aku gak akan bangun kalau kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, kamu mau gak menjadi kekasihku lagi?"kata Rayyan.


"Kak, aku minta maaf aku gak bisa jawab pertanyaan kakak sekarang."kata Lydia.


"Baiklah aku akan kasih waktu kamu, aku akan tunggu kamu sampai kamu siap."kata Rayyan walau sebenarnya dia kecewa tapi dia juga tau jika perbuatannya dulu sangat keterlaluan.


"Sekarang kakak bangun aku gak enak diliatin orang."kata Lydia.


"Kamu terima bunga ini dulu baru aku akan bangun."kata Rayyan membuat Lydia terpaksa menerima buket bunga yang ada ditangan Rayyan.


"Ya sudah kalau gitu kita langsung pulang saja ya kak, aku takut sebentar lagi aku gak boleh masuk ke kosan."kata Lydia.


Rayyan melihat jam tangannya dan benar saja sebentar lagi pintu gerbang kosan Lydia aka ditutup. Mereka berdua memutuskan untuk pulang tanpa mereka sadari jika tak jauh darisana ada dua orang yang memandang mereka yang satu terkejut yang satu kesal.


"Rim, yang kita liat itu beneran Rayyan sama Lydiakan?"kata Sisil.


"Iya kamu gak salah liat itu memang mereka."kata Rima kesal.


"Bukannya mereka sudah putus ya?"kata Sisil.


"Iya."kata Rima.


Dalam hatinya Rima tak terima jika Rayyan kembali dengan Lydia, dia akan mencari cara untuk membuat Lydia menjauh lagi dengan Rayyan karena Lydia sudah janji untuk menjauhi Rayyan. Rima akan kasih peringatan pada Lydia nanti. Rima juga akan mendesak tante Dahlia agar mempercepat pertunangan mereka berdua.


"Kamu kenapa Rim?"tanya Sisil yang melihat jika Rima sedang melamun.


"Gak papa, aku ingin pulang sekarang."kata Rima.


"Ya sudah ayo kita pulang."kata Sisil yang tau jika pasti perasaan Rima sekarang sedang tak enak.


Benar saja saat Rima berada didalam mobil dia langsung berteriak sejadi-jadinya untung saja mobilnya kedap suara jadi orang yang berada didekat mobilnya tak ada yang mendengar.


"Kamu bohong sama aku Ly, tunggu saja balasanku, aku gak perduli siapa kamu karena kamu yang sudah memulai duluan."kata Rima.


Rima setelah tenang langsung saja menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah, sedangkan Sisil yang tadi melihat keadaan Rima yang kesal dan marah tadi membuat dia khawatir hingga akhirnya dia bilang kesopirnya untuk mengikuti keman Rima pergi. Saat dia tau jika Rima sampai rumahnya dengan aman Sisil merasa tenang dan akhirnya bilang sama sopir untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2