Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Masalah dihotel Ryan


__ADS_3

Santi masuk kedalam ruangan Lydia untuk mencaritau ada apa dengan temannya itu. Santi penasaran kenapa pak Hardi dan Lydia kembali dengan wajah yang berbeda.


"Di, kamu kenapa?"kata Santi membuat Lydia memandang kearah temannya.


"Memangnya aku kenapa?"kata Lydia.


"Kamu kembali dengan wajah kesal sedangkan pak Hardi wajahnya senang banget ada apa?"kata Santi.


"Ada masalah sedikit tadi."kata Lydia.


"Soal proyek atau soal lain?"kata Santi..


"Soal lain, kamu ngapain masuk kesini hanya mau tanya itu sajja atau ada yang lain?"kata Lydia.


"Aku mau tanya itu saja karena kamu terlihat tertekan aku pikir kamu ditekan oleh klien baru kita?"kata Santi membuat Lydia tersenyum.


"Gak ada kok walaupun tadi sempat kesal karena klien kita benar-benar banyak banget tanyanya untung saja aku sudah menyiapkan jawaban."kata Lydia.


"Syukur deh kalau kayak gitu, lalu kamu ada masalah siapa jika aku bisa bantu akan aku bantu?"kata Santi.


"Masalah pribadi kok, tenang saja aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri."kata Lydia.


"Ya sudah kalau kayak gitu, aku kembali kerja nanti mau makan siang dimana kantin atau diluar?"kata Santi.


"Liat nanti saja."kata Lydia.


Santi meninggalkan ruangan Lydia membuat ibu anak satu menghela nafasnya. Lydia melihat kartu nama Ryan, dia penasaran apa yang mau dibicarakan oleh pria itu. Lydia rindu tapi juga takut jika suaminya itu marah pasti akan sangat susah buat dijinakkan. Lydia memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya sedangkan Ryan dan Dayat setelah keluar dari perusahaan Alex memutuskan untuk makan karena tadi mereka belum sempat sarapan. Ryan memakan makanannya sambil tersenyum membuat Dayat juga ikut tersenyum.


"Kita habis ini jadi pulang ke Jakarta?"kata Dayat.


"Kamu saja sendiri yang pulang aku masih ingin bertemu dengan istriku dan membujuknya supaya dia ikut pulang denganku."kata Ryan sambil menyuapin makanan.


"Kayaknya aku belum bisa pulang, kita harus menyelesaikan masalah yang terjadi dihotel."kata Dayat membuat Ryan mengerutkan keningnya.


"Ada apa dengan hotel apa ada masalah serius?"kata Ryan.


"Iya, katanya tadi aku bertemu dengan wakil ceo katanya ada masalah dengan laporan keuangan."kata Dayat membuat Ryan menghela nafasnya.


"Ya sudah kita selesaikan masalah disini dulu sekalian aku selesaikan masalahku dengan Lydia baru kita pulang ke Jakarta."kata Ryan.


"Aku curiga ada yang nakal dihotel kita 'kan sudah lama gak melihat kesini."kata Dayat.


"Kita pelajari saja dulu apa masalahnya sekalian menyelidiki apa benar perkiraanmu itu."kata Ryan.


"Okelah, habis ini kita langsung ke hotel atau kemana dulu?"kata Dayat.


"Langsung ke hotel saja nanti malam Lydia akan datang."kata Ryan.


"Kamu mau membuat kejutan buat Lydia?"kata Dayat.


"Gak, aku mau menghukumnya karena sudah berani meninggalkanku sendirian."kata Ryan.

__ADS_1


"Kalau dia pergi lagi dari kamu bagaimana jika kamu menghukumnya?"kata Dayat.


"Kali ini dia gak akan berani meninggalkanku, sudah gak usah bahas Lydia selesaikan makannya setelah itu kembali ke hotel selesaikan masalah."kata Ryan.


"Baiklah."kata Dayat.


Mereka menyelesaikann makannya setelah itu kembali ke hotel yang langsung menuju ruang wakil ceo. Pria itu tersenyum saat melihat kedatangan Ryan dan Dayat kesana, mereka langsung mempersilahkan kedua pria itu untuk duduk disofa. Dia tau apa yang membawa dua petinggi hotel itu datang keruangannya.


"Apa benar yang aku dengar tentang masalah hotel?"kata Ryan.


"Benar tuan, beberapa bulan ini laporan keuangan kita kacau balau saya sudah menyuruh memperbaikinya tapi masih tetap saja kacau. Masak pengeluaran lebih besar daripada pemasukan padahal yang aku tau kita tak membangun fasilitas umum, kita hanya menjalankan kegiatan untuk menarik pengunjung menginap disini."kata wakil ceo.


"Apa kamu curiga dengan seseorang atau manager keuangan orang baru?"kata Ryan.


"Aku curiga tapi aku gak berani melakukan tindakan kalau gak ada bukti yang kuat."kata wakil ceo.


"Baiklah, antarkan laporan keuangan beberapa bulan dan aku mau tau promosi atau kegiatan apa yang kalian lakukan dihotel untuk menarik perhatian pengunjung ke kamarku."kata Ryan.


"Baik tuan saya akan mengambilkan laporan keuangan dan mengantarkan ke kamar tuan."kata wakil ceo.


"Kamu bantu dia Yat, aku tunggu dikamarku."kata Ryan yang diangguki oleh Dayat.


Ryan pergi dari ruangan itu, saat keluar dari ruangan itu banyak karyawan yang memandangnya karyawan lama mungkin tau siapa Ryan tapi yang baru tak ada yang tau. Tapi diantara karyawan itu ada yang ketar-ketir kalau sampai Ryan tau perbuatannya yang sering mengunakan uang hotel. Ryan sendiri memilih untuk tak perduli tatapan orang karena dia inngi segera sampai kamarnya. Sampai dikamarnya dia langsung saja menganti pakaian santai lalu berjalan menuju dekat kolam. Dia duduk disana sambil mengambil sebatang rokok. Sejak kepergian Lydia, Ryan memang selalu merokok untuk menghilangkan stressnya. Ryan memilih untuk menhisap rokok daripada pergi ke club malam karena dia takut jika terjadi masalah yang tak diinginkan.


Saat Ryan sedang melamun sambil menikmati rokoknya terdengar ponselnya berbunyi, Ryan mengambil ponselnya saat melihat kalau yang menghubunginya Anton, Ryan langsung saja mengerutkan keningnya.


[Hallo ada apa kak? Apa ada masalah disana?]


[Masalah apa? Kamu kirimkan saja ke email aku gak bisa pulang karena aku harus bawa seseorang pulang ke Jakarta.]


[Kamu bertemu Lydia disana Yan?]


[Iya kak, doakan supaya aku bisa membujuknya pulang.]


[Ya kakak doakan yang terbaik buatmu, sekarang kakak tutup dulu panggilannya biar aku bisa kirim email ke kamu.]


Ryan setelah mengakhiri panggilan dengan Anton masuk kedalam untuk mengambil tabletnya. Ryan membuka email dan ternyata ada banyak email yang masuk, Ryan memilih email yang terpenting dulu. Saat dia sedang fokus dengan pekerjaannya Dayat masuk dengan wakil ceo sambil membawakan laporan yang Ryan minta. Ryan berbicara sebentar dengan wakil ceo setelah itu wakil ceo kembali keruangannya sedangkan Dayat masih tetap disana sambil menyelesaikan pekerjaan yang harus mereka kerjakan. Ryan membagi pekerjaan itu agar cepat selesai tapi masalah keuangan dihotel itu masih belum mereka buka sedikitpun saat terdengar ponsel Ryan berbunyi. Ryan mengerutkan keningnya karena yang menghubunginya nomor tak dikenal tapi saat melihat jam baru dia tau siapa yang menghubunginya.


[Hallo...]


[Aku pulang dulu mandi boleh setelah itu baru datang ke hotel?]


[Baik aku tunggu dihotel atau aku jemput?]


[Aku berangkat ke hotel sendiri saja.]


[Baiklah, kalau gitu aku tunggu.]


"Maaf Yan ganggu aku butuh bantuanmu."kata Dayat tiba-tiba.


"Ada apa?"kata Ryan kesal karena diganggu oleh Ryan.

__ADS_1


"Nih, kamu liat sendiri."kata Dayat sambil menyerahkan laptopnya pada Ryan.


Ryan melihat apa yang diliatkan oleh Dayat setelah itu mengerang membuat Lydia tau jika Ryan sedang ada masalah.


[Aku tutup dulu panggilannya nanti kalau sudah sampai hotel kabari saja aku jemput dibawah.]


[Baiklah, maaf ganggu.]


[Kamu gak ganggu karena aku yang minta kamu datang.]


Ryan menghela nafasnya lalu membicarakan masalah yang diperlihatkan oleh Dayat, kedua pria itu dilema karena masalah itu juga penting. Mereka akhirnya memutuskan Dayat besok akan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan masalah diJakarta sedangkan Ryan bertahan untuk menyelesaikan masalah dihotel. Berbeda dengan Lydia yang sampai rumah dengan wajah lesunya membuat Dahlia dan mak Masnah mengerutkan keningnya ada apa dengan Lydia hari ini.


"Kamu kenapa?"kata Dahlia.


"Malam ini aku titip Raka ya."kata Lydia.


"Kamu mau kemana?"kata Dahlia.


"Aku mau ketemu Ryan, ternyata klien baruku adalah dia."kata Lydia sambil menghela nafas.


"Ryan suamimu?"kata Dahlia.


"Iya, dia ingin ketemu aku malam ini. Sebenarnya aku malas tapi dia mengancam akan membatalkan kerjasama ini kalau aku gak bertemu dengannya."kata Lydia.


"Kamu selesaikan masalahmu kasian dia kalau kamu gantung. Jika kamu mau melanjutkan lanjutkan jika gak ceraikan saja tapi sebelum mengambil keputusan pikirkan Raka. Raka juga butuh kasih sayang seorang ayah, jika kamu masih mencintai Ryan maka pertahankan jika tidak gak papa kamu cerai tapi beritau dia tentang Raka agar Raka tetap mendapatkan kasih sayang seorang ayah."kata Dahlia bicara panjang lebar.


"Makasih nasehatnya aku akan pikirkan baik-baik, ya sudah kalau gitu aku siap-siap dulu sekalin mau pompa ASI buat Raka."kata Lydia.


"Tenang saja aku sama mak yang akan jaga Raka sampai kamu pulang."kata Dahlia.


Lydia berjalan masuk ke kamarnya setelah itu menyiapkan semua yang dibutuhkan Raka lalu dia pergi mandi selesai bersiap dia keluar kamar. Dahlia yang melihat dandanan biasa Lydia hanya mengelengkan kepalanya, Lydia bermain dengan putranya sebentar.


"Kamu ketemu sama suami mau pakai kaos sama celana itu saja?"kata Dahlia.


"Iya, memangnya mau pakai apalagi?"Lydia.


"Mbok ya dandan yang cantik."kata mak Masnah.


"Gini saja mak nyaman, sayang mommy tinggal dulu ya. Nanti kalau daddymu ada waktu mommy akan pertemukan kalian berdua."kata Naya.


Padahal dalam hatinya yang paling dalam dia gak ingin Ryan tau kalau mereka memiliki seorang putra. Lydia benar-benar ingin lepas dari Ryan dan tak mau ada hubungan lagi dengan pria itu. Lydia pamit pada semua untuk ke hotel, sampai dihotel dia menghubungi Ryan lagi. Tak butuh waktu lama Ryan menjemputnya ke bawah dengan memakai baju santai, banyak pasang mata yang memandang kearah Ryan membuat Lydia kesal tapi dia berusaha untuk menahan amarahnya.


"Maaf lama ya?"kata Ryan.


"Gak kok."kata Lydia.


"Mau langsung keatas atau mau cari makan dulu?"kata Ryan.


"Makan dikamarmu saja bisakan?"kata Lydia.


"Baiklah, nanti kita pesan saat sudah ada dikamar."kata Ryan.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan masuk kedalam lift untuk menuju kamar Ryan, saat sampai dikamar Ryan ternyata masih ada Dayat disana dan masih ada setumpuk berkas dimeja. Dayat yang melihat Lydia langsung pamit kembali ke kamarnya, Ryan menyuruh Lydia duduk sambil memilih makanan apa yang dia pesan sedangkan Ryan sedang fokus dengan laporan yang diberikan oleh Dayat.


__ADS_2