
Dayat memberikan laptopnya pada Aryo, Aryo yang menerima laptop itu langsung saja memasukkan akunnya dilaptop itu setelah terbuka dia memperlihatkan laporan pemasaran yang dia buat kemarin pada Ryan bergantian dengan kedua orang lainnya. Mereka bertiga terkejut karena data yang dibuat Aryo berbeda dengan data diakun perusahaan. Rima mengepalkan tangannya kali ini dia gak bisa terlalu santai untuk menyelesaikan masalah ini.
"Yo, kamu bisa bantu aku?"kata Rima.
"Bantu apa bu?"kata Aryo.
"Kamu bantu aku melacak no rek yang ditarnsfer dari bagian keuangan, biar aku selidiki sesuatu diruangan kita. Aku yakin jika orang yang sudah korupsi adalah orang dalam bukan hanya satu orang saja."kata Rima membuat Ryan dan Dayat saling pandang.
"Maksutmu bukan satu orang bagaimana Rim?"kata Ryan.
"Aku yakin kamu sudah tau siapa yang mendapatkan aliran dana itu tapi coba kamu liat apakah uang itu hanya berhenti direk itu saja?"kata Rima membuat Ryan tersenyum sedangkan Dayat malah terkejut pantas saja Lydia percaya banget sama Rima ternyata pikirannya tak jauh beda dengan Lydia sendiri.
"Aku gak nyangka kalau kamu berpikir seperti itu."kata Ryan sambil tersenyum.
"Sudah deh gak usah bahas itu sekarang retas bank itu dan liat uang itu mengalir kemana saja agar kita bisa mudah untuk menyelesaikannya."kata Rima.
"Kenapa kamu tadi gak berpikir seperti itu kenapa baru sekarang?"kata Dayat.
"Beda Yat."kata Rima.
"Berbeda bagaimana?"kata Dayat bingung.
"Kamu kok bisa sih punya asisten sangat-sangat..."kata Rima yang gak meneruskan perkataanya karena gak ingin membuat Dayat sakit hati sedangkan Ryan yang tau apa yang mau dikatakan oleh Rima hanya tersenyum.
"Kok ibu bisa berani bicara seperti itu sama tuan Dayat?"kata Aryo yang juga tau apa yang ingin dikatakan oleh Rima.
"Dayat yang seharusnya hormat sama Rima karena Rima adalah putri dari tuan Sahrul."kata Ryan membuat Aryo terkejut gak menyangka jika Rima adalah putri dari salah satu orang yang berjasa mendirikan perusahaan ini.
"Kamu ini kenapa buka rahasiaku?"kata Rima kesal.
"Sudah gak usah bahas soal itu, nanti mereka juga akan tau sendiri. Jadi lacak rek bank orang itu gak?"kata Dayat yang mengingatkan agar teman-temannya fokus.
"Kamu atau Ryan yang melakukannya kan kalian yang pintar IT mau aku panggil Kevin kesini juga gak mungkin bisa kamu marahin nanti dia."kata Rima membuat Ryan tersenyum.
"Yat..."kata Ryan
"Baik tuan."kata Dayat.
Dayat mengambil laptopnya dari tangan Ryan setelah Ryan menutup akunnya tapi sebelum dia tadi menutup akunnya Aryo meminta izin untuk mencetak laporan yang dia buat itu sebagai bukti jika nanti diperlukan. Dayat sendiri setelah laptopnya ada didepannya tanggannya sudah mulai menari-nari diatas laptop itu untuk meretas rek bank tadi ternyata benar yang dikatakan Rima jika aliran uang itu tidak berhenti disana tapi ada dua rek bank yang mendapatkan aliran dana setelahnya. Dayat mencaritau itu rek bank milik siapa setelah dapat dia serahkan pada Rima. Rima terkejut saat melihat nama yang ditunjukan dilaptop itu.
"Kamu tau siapa mereka Rim?"kata Dayat.
"Aku tau, kamu print saja setelah itu kamu tutup kembali aku takutnya nanti kamu ketahuan lagi."kata Rima.
Dayat segera mencetak nama-nama itu setelah itu menutup peretasannya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Dayat memberikan kertas itu pada ketiga orang itu. Ryan mengerutkan alisnya saat membaca nama dikertas itu.
"Ini kamu gak sarahkan Yat?"kata Ryan.
"Gak tuan memangnya kenapa apa tuan mengenali kedua orang itu?"kata Dayat bingung.
"Aku hanya mengenal satu orang saja yang satu lagi gak kenal, gak tau kalau Rima bagaimana?"kata Ryan memandang kearah Rima.
"Aku mengenal mereka semua, tapi apa alasan mereka melakukan ini padahal mereka orang kepercayaan om Irwan?"kata Rima.
"Sudahlah kita sudah tau sekarang, kamu mau bagaimana langsung memasukan mereka ke penjara atau gimana?"kata Ryan.
"Kita gak bisa ambil keputusan sendiri biarkan om Irwan sama papa yang menyelesaikannya."kata Rima yang diangguki oleh Ryan dan yang lainnya.
"Baiklah kalau gitu aku hubungi papa Irwan kamu hubungi papa kamu."kata Ryan.
"Kayaknya papa ada diruangannya deh, aku suruh kesini saja kalau gitu."kata Rima.
"Kamu yakin mau suruh orangtua datang kesini?"kata Ryan yang gak enak pada om Sahrul.
"Gak papa memangnya kenapa?"kata Rima.
"Dia ayahmu loh lebih tua dari kita, masak malah dia yang datang kesini?"kata Dayat.
"Ish apaan sih kalian sudah ah aku hubungi papaku dulu, om Irwan nanti saja kalau papa sudah kesini."kata Rima.
"Oke baiklah, aku ikut kamu saja kalau kayak gitu."kata Ryan.
Rima menghubungi papanya agar dia datang keruangan Ryan, tak butuh waktu lama om Sahrul datang dengan om Doni karena Rima yang minta. Doni penasaran ada apa Sahrul mengajaknya keruangan Ryan buru-buru, Doni yakin pasti ada masalah dengan perusahaan .
__ADS_1
"Ada apa kamu memanggil kami kesini?"kata Sahrul.
"Om duduk saja dulu."kata Ryan sambil mengajak yang lain pindah duduk disofa agar mereka nyaman.
"Katakan ada apa kamu panggil kami berdua kesini? Kami yakin pasti ada masalah kalau gak ada masalah gak mungkin kalian memanggil kami kesini?"kata Doni.
"Ini om kami mau bahas soal ini?"kata Ryan sambil memberikan laporan pemasaran yang berbeda itu.
Kedua orang dewasa itu memlihat bergantian kertas yang diberikan oleh Ryan itu, mereka terkejut dengan laporan itu karena setahu mereka perusahaan akhir-akhir ini sejak dipegang oleh Ryan menjadi semakin berkembang.
"Ini mana laporan yang benar?"kata Sahrul.
"Yang ditangan kanan om itu yang benar."kata Ryan.
"Lalu laporan ini bagaimana?"kata Doni sambil menujukan laporan itu.
"Ada yang menyabotase laporan itu, bukannya om tau kalau akhir-akhir ini perusahaan kita semakin maju lalu kenapa bisa laporan kita malah semakin turun itulah yang awalnya membuat aku curiga sebenarnya bukan aku yang pertama kali melihat tapi Lydia karena dia yang pertama kali memeriksa laporan ini."kata Ryan.
"Lydia? Bukannya dia sudah lama gak datang ke perusahaan?"kata Sahrul.
"Iya, tapi om taukan kalau dia itu bagaimana walaupun kelihatanya dia tak perduli tapi diam-diam dia tetap mengurusi pekerjaannya sendiri."kata Ryan.
"Kamu benar lalu bagaimana apa kamu sudah menemukan siapa yang sudah melakukan semua ini?"kata Sahrul.
"Sudah makanya kami mengundang kalian kesini karena orang yang melakukan ini adalah orang lama."kata Ryan.
"Memangnya siapa?"kata Doni penasaran.
"Pak Toni dan pak Burhan."kata Ryan membuat kedua orang itu terkejut.
"Kalian jangan asal gak mungkin mereka melakukan itu, mereka berdua orang kepercayaan papa mertuamu Yan."kata Sahrul membuat Aryo terkejut.
"Papa mertua bagaimana maksutnya?"kata Aryo membuat kedua pria dewasa itu baru sadar jika ada orang lain disana.
"Kamu ini, kamu gak tau kalau Lydia istrinya Ryan itu pemilik perusahaan ini?"kata Rima kesal dengan kepolosan semua bawahan Ryan.
"Maaf bu saya gak tau karena biasanya taun Ryan sering mengakusisi perusahaan saya pikir perusahaan ini juga salah satu peruasahaan akusisi beliau."kata Aryo.
"Bukan ini perusahaan milik istriku, aku hanya membantunya saja nanti kalau dia mau bekerja lagi tetap dia yang akan mengurus perusahaan."kata Ryan.
"Dia orang yang akan mengantikaku jadi manager pemasaran setelah aku mengantikan papa nanti."kata Rima.
"Oalah, apa kamu sudah mencari sekertaris Rim?"kata Sahrul.
"Memangnya kenapa dengan sekertaris papa kalau bisa dia kenapa gak dia saja?"kata Rima.
"Jangan dia cari yang lain kalau bisa."kata Doni membuat mereka mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa dengan sekertaris om Sahrul om?"kata Ryan.
"Kami takut jika Rima gak kuat nanti malah terpengaruh dengannya, kamu pasti tau maksut kami Yan?"kata Doni yang diangguki oleh Sahrul.
"Nanti biar Dayat atau Aryo yang mencarikan sekertaris untuk Rima, sekarang kita selesaikan masalah ini bagaimana?"kata Ryan.
"Kamu sudah hubungi papamu karena hanya dia yang bisa memutuskannya kami takut jika nanti salah mengambil keputusan?"kata Sahrul.
"Belum, saya sengaja menunggu kalian agar kalian membantu kami untuk menjelaskan tentang semua ini."kata Ryan.
"Baiklah kalau kayak gitu biar aku saja yang menghubunginya."kata Doni.
Doni mengambil ponselnya lalu setelah itu menghubungi papa Irwan, untung saja tak papa Irwan langsung mengangkat panggilan itu.
[Hallo ada apa kamu mengannggu liburanku?"]
[Maaf tuan ada masalah dengan perusahaan.]
[Memangnya Ryan gak bisa menyelesaikannya kok kamu menghubungiku/]
[Ryan sudah menyelesaikannya hanya saja kami memerlukan persetujuan anda untuk menyelesaikannya.]
[Kenapa harus minta izin aku sih, kan semuanya sudah aku serahkan sama Ryan. Jadi keputusannya sama dengan keputusanku.]
[Masalahnya masalah ini bukan masalah sepele pa.]
__ADS_1
[Maksutmu bagaimana Yan?]
[Gini pa, ada yang korupsi disini dan orang yang melakukannya orang kepercayaan papa gak mungkin aku bisa seenaknya bisa memutuskan begitu saja.]
[Orang kepercayaanku? Siapa Yan?]
[Pak Toni dan pak Burhan, pa.]
Papa Irwan yang mendengar dua nama kepercayaannya disebut terkejut, dia gak menyangka jika kedua orang itu berani melakukan perbuatan yang tak terpuji itu.
[Kamu ada buktinya Yan?]
[Ada tuan tapi saat kami melihat rekaman cctv bukan mereka berdua yang masuk tapi pak Harno. Makanya kami mau minta pendapat papa dulu.]
[Pak Harno? Coba kamu selidiki soal cctv itu dulu Yan, papa takutnya mereka akan mengunakan rekaman itu untuk memutar balikkan fakta kasian pak Harno jika dia gak bersalah.]
[Baik pa, kalau semua sudah jelas papa mau kami apakan orang-orang itu?]
[Terserahmu mau kamu masukkan ke penjara atau gimana yang terpenting mereka mengembalikan uang yang sudah mereka ambil itu ke perusahaan.]
[Baik pa, kalau gitu kami tutup dulu panggilannya. Maaf kalau kami ganggu acara bulan madu papa sama mama.]
[Kamu ini mana ada bulan madu, kamu tu harusnya bulan madu sama Lydia biar kami segera dapat cucu.]
[Masalahnya kalau kami tinggal bulan madu siapa yang akan mengurus masalah ini papa sama mama saja gak pulang-pulang?]
[Kamu ini bisa saja jawabannya, ya sudah salam buat yang lainnya.]
Ryan mematikan panggilan itu lalu memberikan ponselnya kembali pada om Doni, mereka yang ada disana mulai mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan. Mereka berencana untuk menjebak kedua orang itu dengan cara menyebarkan isu. Benar saja keesokan harinya isu itu sudah menyebar dan semua karyawan diperusahaan pada heboh. Pak Toni yang mengetahui isu itu langsung saja menghampiri pk Burhan yang ada diruangannya tanpa mereka sadari jika ruangan itu sudah dipasang penyadap suara.
"Kamu ngapain datang kesini?"kata pak Burhan.
"Ton, kamu sudah taukan gosip perusahaan ini bagaimana kalau mereka tau kalau itu perbuatan kita?kata pak Toni.
"Sudah gak usah banyak bicara kamu, lagian mereka gak akan tau kalau itu perbuatan kita. Kita sudah menghapus rekaman cctv itu dan lagi anggota direksi yang lain gak akan mudah percaya dengan anak bau kecur kayak Ryan itu."kata pak Bahrun.
"Kamu yakin, aku dengar Ryan itu saat menjadi asisten Hendru sangat kejam dan tegas."kata pak Toni.
"Kamu itu gak perlu takut karena kekuasaan tertinggi disini masih tuan Irwan, bukannya kamu tau kalau tuan Irwan sangat percaya denganku? Kita bisa manfaatkan itu untuk memutar balikan fakta dengan begitu aku yakin Ryan itu akan didepak dari perusahaan ini dan kita bisa bebas melakukan kecurangan kita lagi seperti sebelumnya."kata pak Bahrun.
Semua dewan direksi yang mendengar perkataan kedua orang itu terkejut karena ternyata sudah lama mereka melakukan tindakan korupsi itu tapi tak ketahuan oleh yang lain. Mereka semua ingin langsung menangkap kedua orang itu dan menyerahkannya ke pihak berwajib tapi Ryan tak mengizinkannya sebab Ryan yakin jika masih ada oranglain dibelakang mereka. Rima yang tau jika Ryan memberi kode pada Dayat dan Aryo untuk mencari sesuatu hanya tersenyum ternyata gak salah kedua pria itu menjadi orang kepercayaan Ryan. Tak butuh waktu lama Dayat dan Aryo menemukan bukti yang mereka cari lalu mereka menunjukan bukti itu lewat layar ployektor. Semua orang yang ada disana lebih terkejut lagi karena ada nama pak Sam sekertaris om Sahrul.
"Apa-apaan ini kalian sudah memfitnahku?"kata pak Sam yang gak mau mengaku.
"Sudahlah Sam, mengaku saja maka hukuman kamu hanya ringan kok jika kamu mengakui perbuatanmu."kata Sahrul.
"Tuan kenapa bisa percaya sama mereka? Tuan tau sendiri kalau aku sudah lama ikut dengan kalian."kata pak Sam.
"Aku tau tapi aku juga tau kalau kamu selama ini berusaha untuk mengadu domba diriku dengan Irwan untung saja aku tau kalau tidak mungkin sudah lama perusahaan ini hancur. Aku tau kamu sebenarnya ingin menguasai perusahaan inikan?"kata Sahrul membuat semua yang ada disana semakin terkejut.
"Bagaimana bisa dia mau menguasai perusahaan memangnya dia siapa?"kata salah satu dewan direksi.
"Dia dendam sama Irwan karena usaha Irwan lebih maju daripada usahanya."kata Sahrul.
"Iya aku memang dendam dengan kalian berdua karena kalianlah usahaku hancur."kata pak Sam.
"Kami gak melakukan apa-apa kamu saja yang gak bisa membuat inovasi produkmu sehingga klien memilih untuk bekerjasama dengan kami."kata Sahrul.
"Aku gak perduli yang aku tau kalianlah yang sudah buat perusahaanku hancur."kata pak Sam.
"Sudah tuan, bawa pak Sam dan kedua orang itu ke kantor polisi agar semuanya selesai."kata saah satu direksi.
"Baiklah. Don, Yat kamu tau apa yang harus lakukan tapi sebelum itu kamu ambil kembali semua harta yang sudah meraka ambil."kata Sahrul.
"Baik tuan."kata Doni yang diangguki oleh Dayat.
Doni membawa pak Sam keluar dari ruangan itu sedangkan Dayat dan Aryo pergi menemui pak Toni dan pak Burhan untuk menangkap kedua orang itu. Kedua orang itu terkejut saat Dayat dan Toni tiba-tiba masuk dengan membawa polisi.
"Ada apa kalian masuk tanpa ketuk pintu duluan?"kata pak Bahrun yang gak ada hormat pada keduanya.
"Pak, tangkap mereka."kata Dayat membuat kedua orang itu terkejut.
"Apa salah kami hingga kalian menangkap kami?"kata pak Toni.
__ADS_1
"Kalian jelaskan saja nanti dikantor polisi."kata Dayat.
"Memangnya ada surat penangkapan kalau gak ada kami gak mau ikut?"kata pak Bahrun.