Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Ryan tau Lydia pergi dengan Kevin dan Rima


__ADS_3

"Aku gak takut."kata Lydia.


"Seriusan gak takut, sini ponselnya biar aku bicara sama Ryan."kata Kevin.


"Gak, kamu sedang nyetir gak usah macam-macam deh kak."kata Lydia.


"Oke,oke tapi nanti kalau Ryan tanya sama aku dan aku berkata jujur sama dia jangan marah."kata Kevin.


"Gak ngapain marah, sudah fokus gih aku mau cepat sampai agar kita nanti cepat pulang."kata Lydia.


"Oke oke, Yan kamu kok tahan sih punya istri yang cerewet?"kata Kevin yang bisa didengar oleh Ryan.


Ryan yang mendengar hanya tertawa saja.


"Kak Kevin bisa diam tidak?"kata Lydia.


[Kamu sama Kevin?]


[Iya aku sama kak Kevin dan Rima.]


[Kalian mau kemana?]


[Mau ke makam adiknya kak Kevin.]


[Oalah ya sudah hati-hati, eh bukannya makan adiknya Kevin ada didaerah pinggiran ya?]


[Iya, kakak beneran gak sibukkan?]


[Memangnya kenapa kok tanya kayak gitu?]


[Aku mau teleponan sama kakak sampai pulang nanti daripada aku jadi obat nyamuk.]


[Iya gak papa tapi kalau nanti aku sambil kerja gak papakan?]


[Siap pak bos, makasih ya.]


Ryan tersenyum ternyata kekhawatirannya semalam tak ada yang benar karena ternyata istrinya itu keluar dengan Kevin dan Rima bukan dengan pria lain. Sampai diperusahaan dia tetap dingin seperti biasanya, baru saja dia duduk dikursinya Sandra masuk dengan dua orang dibelakangnya.


"Maaf tuan kalau kami ganggu."kata Sandra.


"Gak papa San, ada apa?"kata Ryan.


"Ini pak kenalkan perwakilan dari perusahaan Biru Daun yang mau kerjasama dengan perusahaan kita."kata Sandra.


"Oh iya kalau begitu kita duduk disofa saja agar lebih nyaman ngobrolnya, San kamu buatkan minum untuk mereka."kata Ryan.


"Baik pak kalau begitu saya permisi dulu."kata Sandra.


Sandra keluar untuk membuatkan Ryan dan kedua tamu minum, mereka sendiri duduk disofa yang ada diruangan itu. Ternyata perempuan yang ada disamping perwakilan itu adalah putrinya bapak itu. Ryan melihat tingkah perempuan itu risih apalagi dengan pakaiannya seperti sengaja dibuka untuk mengodanya.


"Ada maksut apa bapak datang kesini bukannya kita ada janji lusa buat membahas soal kerjasama kita?"kata Ryan sambil tersenyum.


"Iya, saya datang kesini lebih awal karena mau memberitaukan kalau masalah kerjasama kita akan diwakilkan oleh putri saya agar dia bisa belajar dari tuan."kata bapak itu.


"Belajar dari saya?"kata Ryan sambil mengerutkan keningnya.


"Iya tuan saya ingin putri saya bisa mengelola perusahaan seperti anda sampai sebesar ini."kata bapak itu.


"Maaf pak perusahaan ini bukan milik saya tapi milik mertua saya."kata Ryan membuat bapak dan putrinya itu terkejut.


"Mertua jadi kamu ini bukan anaknya tuan Emirat?"kata bapak itu.


"Bukan saya menantunya, istri saya baru anaknya tuan Irwan."kata Ryan membuat kedua orang itu terdiam.


Lydia yang mendengar hanya terdiam lalu tersenyum membuat Kevin dan Rima yang melihat tersenyum karena mereka gak menyangka jika Lydia bisa bahagia hanya mendengar suara Ryan padahal mereka gak saling ngobrol satu sama lain.


"Kita sudah sampai nih."kata Kevin.


"Kak beli bunga dulu ya?"kata Lydia.


"Cie yang mau ketemu cinta pertamanya."kata Rima.


Ryan yang mendengar perkataan Rima soal cinta pertama istrinya membuat Ryan mengepalkan tangannya. Dia ingin tau siapa cinta pertama istrinya. Lydia sendiri setelah membeli bunga barulah menyusul Kevin dan Rima yang sudah pergi duluan ke makam adiknya Kevin.


"Hai maaf ya aku sudah lama gak kesini."kata Lydia.


"Ly, maafin adikku ya."kata Kevin yang masih merasa bersalah dengan apa yang dilakukan oleh adiknya pada Lydia dulu saat dia masih hidup.


"Aku sudah maafin dia kok kak, seandainya saja dia gak menyelamatkanku waktu itu mungkin sekarang aku yang didalam sana."kata Lydia.


"Ly, makasih ya kamu masih mau dekat denganku padahal semasa hidup adikku dia selalu menyakitimu."kata Kevin.


"Sudahlah kak gak usah bahas itu lagi. Sekarang aku hanya ingin hidpu tenang dan menjalani hidupku dengan bahagia."kata Lydia.

__ADS_1


"Kalau aku boleh tau kenapa dia bisa meninggal?"kata Rima.


"Dia diam-diam mencaritau siapa yang sudah membuat Lydia trauma, adikku memang suka menjahili Lydia tapi dia melakukan itu untuk dekat dengan Lydia hanya saja cara dia yang salah mendekati Lydia. Dia mengalami kecelakaan saat pergi menemui orang yang sudah buat Tiara dan Lydia terluka."kata Kevin.


"Kak, mau bantuin aku?"kata Lydia.


"Mau bantuin apa?"kata Kevin.


"Aku sudah gak perduli lagi dengan orang itu, aku hanya mau hidup tenang. Kakak mau bantuin aku buat membuka semuanya dan membuat orang-orang itu membayar semua atas perbuatannya."kata Lydia.


"Kamu yakin dek, lalu traumamu bagaimana? Aku gak mau ambil resiko kalau kamu belum sembuh dari traumamu, sudah cukup aku melihat kamu kesakitan dan ketakutan."kata Kevin yang ingat saat Lydia menderita setelah kepergian adiknya dan juga Tiara dulu.


Ryan yang mendengar lewat panggilan hanya menghela nafasnya karena Lydia lebih percaya dengan orang lain daripada dirinya. Tapi walaupun begitu Ryan akan tetap menjaga dan melindungi istrinya dari jauh. Apalagi saat mendengar perkataan Kevin, Ryan yakin jika Kevin tau sesuatu yang gak dia tau. Nanti dia akan mengajak Kevin untuk bertemu untuk membicarakan masalah yang membuat Lydia trauma.


"Habis ini kita mau kemana?"kata Rima.


"Kita cari makan didekat sini yuk, aku lapar banget."kata Lydia.


"Kamu tadi baru makan roti habis dua lo Ly masak sekarang lapar lagi?"kata Rima.


"Aku juga gak tau mungkin karena disini dingin makanya aku cepat lapar."kata Lydia.


"Atau jangan-jangan kamu hamil dek?"kata Kevin membuat Lydia dan Ryan terkejut.


"Ya gak mungkinlah kak."kata Lydia.


"Gak mungkin bagaimana kaliankan sudah lama menikahnya, jadi gak ada yang gak mungkin."kata Rima yang bingung dengan jawaban Lydia.


"Kami memang sudah lama menikahnya tapi kami baru melakukan itu baru-baru ini, jadi mana mungkin langsung bisa hamil?"kata Lydia.


"Bisa saja kalau kalian melakukan setelah kamu habis datang bulan, sebab yan aku dengar dari dokter kandungan setelah kita datang bulan itulah masa subur kita."kata Rima.


Ryan yang mendengar perkataan Rima tersenyum dan berharap jika apa yang dikatakan oleh Rima itu benar karena Ryan berpikir kalau Lydia hamil maka itu akan mempererat hubungannya dengan Lydia.


"Ly, kamu kenapa mukanya masam gitu? Bukankah kamu seharusnya senang kalau kamu hamil?"kata Kevin.


"Aku belum mengharapkannya kak, apalagi dengan keadaanku seperti sekarang aku belum siap."kata Lydia.


Ryan yang mendengar perkataan Lydia kecewa tapi mau bagaimana dia juga gak bisa memaksa tapi kalau Lydia hamil apa istrinya itu akan mengugurkan kandungannya.


"Sudah masalah itu pikir nanti saja sekarang kita makan dulu, kamu mau makan apa?"kata Rima.


Rima ingat jika Lydia sedang melakukan panggilan sama Ryan, Rima takut jika nanti suami istri itu bertengkar pada apa yang belum tentu benar.


Mereka bertiga berjalan menuju mobil lalu mencari tempat makan yang ditunjuk oleh Kevin, Ryan sendiri setelah mendengar perkataan Lydia tadi memutuskan untuk fokus dengan pekerjaannya dan melepaskan earphonenya takut kalau semakin lama mendengar pembicaraan itu Ryan malah gak fokus kerja. Lydia sendiri lupa kalau dia sedang melakukan panggilan dengan suaminya. Sore harinya saat Lydia sampai diapartemen dia memutuskan untuk mandi setelah itu berbaring sebentar karena badannya sakit semua. Niatnya setelah istirahat dia akan masak makan malam tapi gak nyangka Lydia malah ketiduran.


Ryan yang baru pulang mengerutkan keningnya tumben jam segini apartemennya masih gelap apa mungkin istrinya belum pulang. Ryan menyalakan lampu apartemennya setelah itu masuk ke kamarnya. Ryan tersenyum saat melihat Lydia sedang tidur diranjang dengan pulasnya. Ryan mendekati istrinya lalu mencium kening Lydia membuat istrinya itu membuka matanya karena merasa tidurnya terganggu.


"Kakak sudah pulang?"kata Lydia saat membuka mata.


"Sudah, capek ya?"kata Ryan berusaha bersikap biasa saja padahal dia masih kecewa saat mendengar perkataan Lydia yang belum siap hamil.


"Iya, ini jam berapa kak?"kata Lydia.


"Ini jam 7 ada apa?"kata Ryan.


"Ah sudah jam 7 aku belum masak makan malam kak buat kita."kata Lydia yang terkejut langsung bangun.


"Sudah gak usah masak kita makan diluar saja malam ini."kata Ryan.


"Maaf ya karena aku ketiduran jadi gak masakin makan malam buatmu kak."kata Lydia.


"Sudah gak papa aku mandi dulu, kamu mau mandi atau siap-siap?"kata Ryan.


"Aku cuci muka saja boleh?"kata Lydia berkata seperti anak kecil.


"Boleh, kita kan hanya mau makan malam saja."kata Ryan.


"Makasih, aku pikir kamu akan marah kak kalau aku gak mandi."kata Lydia.


"Marah kenapa memangnya?"kata Ryan sambil menarik alisnya gak mengetrti dengan perkataan istrinya.


"Iya biasanya 'kan suami selalu ingin istrinya tampil cantik kalau dia mengajaknya jalan."kata Lydia membuat Ryan tersenyum.


"Kamu tetap cantik kok walaupun gak mandi."kata Ryan sambil mencubit hidung istrinya.


"Kak..."kata Lydia.


"Hmmmm ada apa?"kata Ryan.


"Perempuan yang kakak temui dikantor tadi cantik gak?"kata Lydia yang teringat jika tadi ada klien yang memperkenalkan putrinya pada Ryan.


"Perempuan yang mana?"kata Ryan karena hari ini banyak dia bertemu perempuan.

__ADS_1


"Ish kakak perempuan yang tadi katanya disuruh belajar sama kakak untuk mengelola perusahaan."kata Lydia kesal sedangkan Ryan tersenyum saat melihat istrinya kesal.


"Cantik tapi masih cantikan kamu luar dan dalam."kata Ryan


"Masak?"kata Lydia.


"Gak percaya ya sudah."kata Ryan.


"Kak..."kata Lydia sambil meremas jarinya.


"Ada apa lagi kalau masalah perempuan lagi kamu gak usah takut karena disini hanya ada kamu gak ada tempat buat perempuan lain."kata Ryan meyakinkan Lydia membuat istrinya itu tersenyum.


"Kak seandainya aku belum siap tapi kenyatannya aku hamil apa kakak akan menjagaku?"kata Lydia membuat Ryan terkejut.


"Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Kalau kamu belum siap kita bisa melakukan hubungan dengan memakai pengaman."kata Ryan tersenyum.


Ryan gak menyangka jika istrinya mengatakan apa yang dia khawatirkan langsung dan meminta pendapatnya.


"Aku mau hamil kak tapi aku takut."kata Lydia.


"Kamu takut kenapa? Aku gak mau kamu terpaksa hamil kalau hanya ingin buat aku dan keluargaku senang."kata Ryan.


"Kakak tau emosiku yang gak stabil, aku takut kak. Tapi aku juga ingin mewujudkan keinginan kakak dan bunda."kata Lydia membuat Ryan menghela nafasnya.


"Dengerin aku, bukannya tadi aku sudah bilang aku gak akan paksa kamu jika kamu belum siap. Sekarang gak usah mikirin keturunan dulu ya sekarang fokus saja sama kesembuhanmu."kata Ryan.


"Makasih kak, aku mau minta maaf sama kakak."kata Lydia.


"Kamu mau minta maaf apa sayang? Aku gak merasa kamu buat salah sama aku."kata Ryan.


"Aku minta maaf jika aku mungkin akan buat salah satu keluarga kakak mempertanggungjawabkan perbuatannya."kata Lydia membuat Ryan terkejut.


"Apa maskutmu mempertanggungjawabkan perbuatannya?"kata Ryan.


"Sudah nanti saja aku cerita sekarang kita cari makan dulu tapi aku mau makan ditempat pertama kali kita makan dulu."kata Lydia.


"Diresto pinggir kota?"kata Ryan


"Iya aku mau makan ikan bakar disana 'kan ikannya masih segar."kata Lydia sambil tersenyum.


"Baiklah nyonya sekarang aku mandi dulu kamu siap-siap."kata Ryan.


"Aku ikut kakak masuk kamar mandi, kakak mandi biar aku cuci muka."kata Lydia.


"Iya ayo."kata Ryan.


Ryan tersenyum ternyata rasa kecewanya tak beralasan, Ryan gak menyangka kalau Lydia tak mau hamil karena rasa traumanya yang belum sembuh. Ryan tau akan lebih berat jika Lydia hamil dengan keadaan istrinya itu belum sembuh total. Lydia setelah cuci muka keluar dari kamar mandi untuk bersiap sedangkan Ryan mandi dengan perasaan yang lega setelah tau alasan istrinya tak ingin hamil dulu. Selesai bersiap mereka berdua keluar untuk menuju resto yang diinginkan Lydia, tapi saat dipertengahan jalan terdengar ponsel Ryan berbunyi.


"Sayang, kamu bisa tolong angkat panggilannya?"kata Ryan.


Lydia mengambil ponsel suaminya yang berada didasbord, Lydia mengerutkan keningnya tumben mbak iparnya itu menghubungi suaminya malam-malam begini.


[Hallo Asalamualikum mbak...]


[Walaikumsalam dek, dek Ryan ada dimana mbak mau suruh dia jemput mbak dirumah.]


[Mbak, mbak kenapa menangis?]


[Nanti mbak jelasin, tapi mbak mohon tolong kasih tau suamimu untuk jemput mbak.]


[Iya mbak aku bilang sama kak Ryan, mbak ada dirumah 'kan?]


[Iya mbak tunggu dirumah.]


Lydia mematikan panggilannya lalu memberitau Ryan, Ryan yang khawatir langsung saja membelokkan arah menuju rumah Jono menjemput Shinta. Lydia sebenarnya kecewa tapi mau bagaimana lagi masalah Shinta lebih penting.


"Nanti setelah jemput mbak Shinta dan antarkan dia ke rumah bunda kita langsung pergi ke resto ya."kata Ryan sambil mengelus rambut Lydia karena Ryan melihat jika istrinya itu kecewa.


"Kapan-kapan saja kak makan disananya yang terpenting sekarang masalah mbak Shinta."kata Lydia tersenyum tapi Ryan tau jika senyuman istrinya itu terpaksa.


"Makasih sayang."kata Ryan sambil mencium tangan istrinya membuat Lydia yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ryan tersipu malu.


"Apa sih cium tangan segala?"kata Lydia.


"Tapi istri aku suka kan?"kata Ryan.


"Gak aku gak suka?"kata Lydia.


"Kalau gak suka kenapa pipinya merah kayak tomat gitu?"kata Ryan.


"Apaan sih kak, kak aku mau minuma itu. Berhenti disini ya aku mau beli minum itu kakak lanjut saja jemput mbak Shinta aku tunggu disini 'kan nanti balik lagi."kata Lydia.


"Gak kita jemput mbak Shinta dulu baru saat pulang berhenti beli minuman sekalian pulang, aku gak tega liat kamu nyebrang sendirian."kata Ryan.

__ADS_1


"Ya sudah."kata Lydia yang gak mau membuat Ryan khawatir.


__ADS_2