Takdir Cinta Lydia

Takdir Cinta Lydia
Lydia dan Ryan membeli pakaian


__ADS_3

Ryan bahagia saat melihat Lydia tersenyum bahagia juga ikut bahagia, Lydia mengajak Ryan berhenti dulu dijembatan membuat Ryan mengerutkan keningnya ada apa dengan istrinya itu.


"Ada apa?"kata Ryan.


"Aku mau menikmati angin laut disini sama kakak. Oh ya kak kakak sampai kapan mau ada disini?"kata Lydia.


"Aku akan menunggu kamu disini sampai kamu sembuh sayang."kata Ryan membuat Lydia tersenyum tapi setelah itu memasamkan wajahnya membuat Ryan bingung dengan perubahan istrinya itu.


"Kamu gak suka kalau aku ada disini?"kata Ryan.


"Aku suka tapi kalau kakak lama disini bagaimana dengan perusahaan siapa yang mau ngurus? Terus kakak gak mau menghadiri pernikahan kak Aziz dan Ita?"kata Lydia.


"Biar Dayat yang mengurusi perusahaan, kalau soal pernikahan Aziz besok kita pulang agar bisa menghadirinya lalu kalau kamu mau kesini lagi aku akan antar lagi."kata Ryan.


"Kalau aku gak mau ikut kesana bagaimana?"kata Lydia.


"Ya aku gak akan datang kesana kita liat pernikahan itu melalui panggilan videokan bisa."kata Ryan.


"Ish nyebelin banget sih, ya sudah ayo kita jalan lagi memangnya kakak gak gerah apa pakai baju itu?"kata Lydia.


"Gak nyaman sih tapi mau bagaimana lagi aku gak bawa pakaian tadi."kata Ryan.


"Kenapa gak pulang dulu ambil pakaian?"kata Lydia.


"Sudah kalut pikirannya melihat istriku tadi ketakutan."kata Ryan.


"Maaf ya, aku buat kakak panik."kata Lydia.


"Sudah gak papa ayo jalan lagi, aku sudah gak betah pakai baju ini."kata Ryan.


"Nanti bajunya harus pilihanku ya?"kata Lydia membuat Ryan menganggukan kepalanya.


Mereka berjalan kembali menuju toko pakaian, sampai disana benar saja Lydia yang memilih beberapa potong pakaian buat Ryan. Lydia banyak membelikan Ryan kaos dan celana pendek. Kemeja dan celana panjang hanya beberapa saja. Ryan sebenarnya gak biasa pakai kaos dan celana pendek tapi demi Lydia dia mau memakai apapun yang dipilihkan oleh istrinya. Saat didepan tukang cukur rambut Lydia menarik tangan Ryan untuk masuk kedalam membuat Ryan megerutkan keningnya.


"Mang, bisa rapikan rambut suami saya?"kata Lydia.


"Bisa neng, mau dirapikan saja atau dipotong sekalian?"kata tukang cukur.


"Rapikan saja, oh ya tolong bulu yang ada diwajah suami saya dibersihkan."kata Lydia.


"Baik neng, ayo a' sialahkan duduk."kata tukang cukur.

__ADS_1


Ryan duduk dikursi dan menurut saja apa yang dilakukan oleh tukang cukur itu, tak butuh waktu lama Ryan sudah selesai dirapikan rambutnya. Lydia tersenyum melihat penampilan suaminya yang semakin tampan itu dalam hatinya dia pasti akan posesif pada suaminya kalau berpenampilan kayak gini karena pasti banyak perempuan yang akan mengincarnya.


"Neng, nanti kalau keluar-keluar hati-hati ya."kata tukang cukur.


"Memangnya kenapa mang?"kata Lydia sambil tersenyum.


"Iya, kan suaminya kalau dandan kayak gini ganteng banget kami yang pria saja iri apalagi perempuan pasti berlomba-lomba buat mengodanya."kata tukang cukur.


"Iya mang aku akan iket dia nanti, berapa mang?"kata Lydia sambil tersenyum sedangkan Ryan hanya mengusap rambut istrinya itu pakai tangan yang masih kosong.


"Semuanya 30ribu aja neng."kata tukang cukur.


"Ini mang kembaliannya buat mamang saja karena sudah buat suami saya jadi ganteng gini."kata Lydia sambil memberikan satu lembar uang seratus ribuan.


"Ini gak kebanyakan neng?"kata tukang cukur.


"Gak kok mang, itu tanda terimakasih saya."kata Lydia tersenyum.


"Terimakasih juga neng, hati-hati."kata tukang cukur yang diangguki oleh Lydia dan Gabriel.


Suami istri itu keluar dari tukang cukur untuk mencari makan untuk mereka berdua saat masuk warung makan banyak mata perempuan yang memandang Ryan membuat Lydia menjadi kesal sendiri. Untung saja mereka dapat tempat duduk lesehan dan berada diujung jadi Lydia dan Ryan bisa berbicara dengan bebas.


"Kakak mau pesan apa?"kata Lydia mengalihkan pembicaraan padahal matanya memandang kearah perempuan yang sedang melihat kearah Ryan.


"Aku mau bebek goreng saja sama es jeruk, kamu mau apa?"kata Ryan memandang kearah Lydia tapi dia melihat kalau istrinya itu sedang memandang kearah lain membuat dia memandang kearah yang dipandang Lydia.


Saat Ryan memandang kearah yang dipandang Lydia membuatnya mengerti kenapa istrinya itu terdiam dan memandang para perempuan itu. Saat perempuan-perempuan itu melihat Ryan sedang memandang mereka para perempuan itu memandang kearah Ryan sambil tersenyum-senyum. Lydia memandang kesamping dan melihat suaminya sedang memandang kearah perempuan itu menjadi semakin kesal lalu mencubit pinggang suaminya membuat Ryan kesakitan.


"Sakit sayang..."kata Ryan sambil mengelus pinggangnya.


"Siapa suruh matanya jelalatan."kata Lydia kesal membuat Ryan tersenyum.


"Kamu mau makan apa? Gak usah pikirin mereka deh."kata Ryan.


"Kakak yang panggil orangnya aku mau ayam bakar saja."kata Lydia.


"Kang, kang..."kata Ryan memanggil penjual disana.


"Iya a' mau pesan apa?"kata Karyawan.


Ryan memesan makanan dan minuman sambil menunggu karena Lydia mendiamkannya memutuskan untuk memeriksa ponselnya. Ryan terkejut karena ada sebuah email masuk dari Dayat, Ryan membuka email itu lalu lebih terkejut saat membaca email itu. Lydia yang melihat wajah suaminya khawatir dan kesal memegang tangan Ryan membuat Ryan memandang kearah istrinya.

__ADS_1


"Ada apa?"kata Ryan.


"Kakak kenapa lagi ada masalah?"kata Lydia bertanya sambil takut-takut karena suaminya berkata dengan dingin. Ryan yang sadar kalau istrinya ketakutan mengusap wajahnya kasar.


"Aku gak papa kok."kata Ryan.


"Kita makan dirumah saja ya kalau kakak ada masalah."kata Lydia.


"Gak papa memangnya kalau kita bawa pulang makananya?"kata Ryan.


"Gak papa, nanti lain kalikan bisa makan diluar lagi."kata Lydia sambil tersenyum.


"Ya sudah tunggu sebentar aku bilang suruh makanan kita dibungkus saja."kata Ryan.


Ryan bangun lalu bertanya pada penjual ternyata pesanan mereka sudah jadi, untung saja makanannya bisa dibungkus. Ryan mengajak Lydia pulang setelah makanan mereka jadi dan dibayar oleh Ryan. Saat sampai rumah Ryan masuk ke kamar mandi untuk mandi sedangkan Lydia menyiapkan makanan yang mereka beli tadi. Ryan selesai mandi keluar kamar dan duduk dimeja makan. Mereka makan dengan diam hingga makanan itu hampir habis barulah Ryan berbicara.


"Sayang..."kata Ryan.


"Ada apa?"kata Lydia memandang kearah Ryan.


"Kamu bawa laptop gak kemari?"kata Ryan.


"Ada itu dikamar memangnya kenapa?"kata Lydia.


"Aku mau pinjam buat menyelesaikan pekerjaan yang mendesak, besok soalnya ada meeting."kata Ryan.


"Kalau ada meeting bagaimana kakak menghadirinya?"kata Lydia.


"Aku bisa ikut meeting lewat zoom, besok hanya meeting perusahaan ada masalah dengan perusahaan."kata Ryan membuat Lydia menghera nafas.


"Maaf ya kak, kalau aku ngerepotin kakak."kata Lydia yang ga enak hati.


"Aku gak papa kok, asal aku bisa buat istriku nyaman."kata Ryan membuat Lydia tersenyum.


"Tapi kak aku gak enak hati."kata Lydia.


"Kamu bikinin aku kopi bisa?"kata Ryan.


"Sekali ini saja ya, aku mau kakak mengurangi minum kopi."kata Lydia.


"Memangnya kenapa kalau aku minum kopi?"kata Ryan.

__ADS_1


__ADS_2